Menulis Dengan Teka-Teki

Dari awal aku mulai hobi nulis sampai sekarang, mungkin seperti banyak orang lainnya, aku udah mempraktekkan berbagai cara dan metode supaya diri ini bisa menulis dengan lebih optimal. Ibaratnya, berenang dengan berbagai gaya. Kadang-kadang ada yang bikin kita tetap ngapung, ada yang bikin kita bergerak maju lebih cepat, dan tak jarang pula yang membuat kita tenggelam alias tulisannya nggak jadi. Masalahnya, gaya-gaya itu cenderung terus berubah seiring pemahaman yang kita serap, dari berbagai bacaan yang makin beragam. Sehingga sulit rasanya punya satu cara yang paling kasep yang bikin kita nulis lebih lancar dan nggak terbebani oleh stres berlebihan.

Sampai akhirnya aku sadar, bahwa mungkin semua cara yang kulakukan itu nggak menghasilkan perlakuan yang menunjang bagi otak. Kalau aku tak salah, pada dasarnya otak kita ini dirancang untuk menyelesaikan masalah.

Kebanyakan kita pasti udah sering liat catatan mengenai fenomena ilmiah yang satu ini:

Murenut sautu pelneitian di Uinervtisas Cmabridge, utruan hruuf dlaam ktaa tiadk penitng. Ckuup huurf petrama dan trekahhir ynag ada pdaa tepmatyna. Siasyna bsia dtiluis bernataakn, teatp ktia daapt mebmacayna. Ini dsieabbkan kaerna oatk ktia tdiak mebmcaa huurf per hruuf, nmaun ktaa perktaa.

Meski huruf-hurufnya dibuat acak, kita tetap bisa membacanya dengan cukup baik. Ini karena otak kita secara otomatis menyusunnya sesuai urutan yang benar seperti yang diajarkan pada kita sejak kecil. Itu pula yang mungkin menyebabkan kita agak mudah bosan pada sesuatu yang polanya terlalu monoton. Baik dalam kegiatan, rutinitas ataupun tugas-tugas akademis.

Sejarah dunia juga menyimpan banyak misteri yang belum terpecah dalam bentuk kode-kode rahasia. Seperti surat yang dilayangkan oleh pembunuh berantai legendaris, Zodiac. Dan betapa banyak orang, baik yang memiliki otoritas hukum maupun para penggemar teka-teki tertantang untuk memecahkan dan mengajukan solusi versinya masing-masing.

Karena itu aku berpikir, mungkin otakku yang lumayan bebal ini bakal bisa bekerja lebih baik jika aku tidak menuliskan semua ide tulisanku sejak awal. Karena kebiasaanku adalah menyusun ide-ide dan bahan-bahan yang ingin kugunakan dalam cerita fiksi dalam file notepad ataupun MsOneNote. Mungkin itu membuatku makin lama makin merasa dibatasi oleh ide-ide baku yang ‘kuramu’ sendiri. Dengan demikian, mulai sekarang aku harus lebih berani nulis dengan mengandalkan ingatan dan kekuatan ‘asosiasi’ atau menghubungkan cerita dengan elemen-elemen yang ingin kumasukkan. Jadi seperti membuat teka-teki bagi diri sendiri untuk dipecahkan. Mungkin dengan begitu otak akan merasa lebih tertantang dan ‘merasa berguna’ karena bahan-bahan yang diperlukan nggak langsung tersedia secara gamblang.

Maklumlah, otakku nggak setajam Bill Gates. Jadi perlu ‘perlakuan khusus’. Haha. Kalau istilah temen sekolahku dulu, “Si bodoh yang malang.” Udah nyadar kemampuan terbatas tapi tetep aja maksa. Hehe. Yang penting kan berusaha. Setuju tho…?

Let’s write! Let’s riddle up! πŸ˜€

Iklan

12 pemikiran pada “Menulis Dengan Teka-Teki

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s