Mission Lady Bloomfire: Accomplished

Fiuh akhirnya sukses menjemput Emakku di asrama haji. Maklum, ini haji pertama bagi beliau secara pribadi dan bagi keluarga kecil kami, jadi aku juga nervous-nya lumayan pol-polan selama beliau nggak ada untuk beribadah di tanah suci. Tapi Alhamdulillah, Emakku udah sampai di tanah air selamat dan sehat.

Penjemputan didalangi oleh tri masgetir yaitu aku, Bapakku dan Bang Haryono, karyawan sakti dan salah satu kesayangan bos di kantor Pakdeku, jadi udah dianggap kerabat sejak lama. Aku sama Bapakku mulai bergerak dari rumah sekitar jam setengah tiga pagi buta. Trus ke rumah Bang Haryono di gang sebelah karena kendaraannya ada di doi.

Waktu memasuki kawasan asrama haji, sempet sangsi karena agaknya kendaraan dibatasi untuk parkir di dalam kompleknya. Agak aneh, karena ternyata di dalem masih banyak ruang untuk parkir. Tapi mungkin itu dilakukan karena alasan keamanan. Untungnya kita udah pegang kartu ijin penjemputan jemaah. Setelah mbujuk-bujuk aparat yang berjaga di gerbang, akhirnya kita bisa masuk dan parkir dengan indah permai. πŸ˜€

Tapi setelah itu kita masih harus nunggu. Dan nunggunya itu lumayan lama, walau nggak begitu kerasa sebenernya, karena suasananya masih gelap gulita. Begitu jemaah tiba di asrama, mereka menunaikan shalat Shubuh di mesjid plus beberapa patah kata pidato ringan dari entah siapa di ruangan aula. Barulah akhirnya kami bisa menjemput jemaah langsung di pintu aula. Aku berjaga-jaga di salah satu pintu keluar, karena aku yakin Emakku bakal keluar dari situ. Dan akhirnya, ketemu juga. πŸ˜€

Seperti instruksi Emakku sebelum berangkat, begitu ketemu aku langsung nyium kening Emakku karena katanya, keningnya dan pakaiannya masih ‘bekas-bekas’ dari mesjid Nabawi di Madinah. Hwehehe. Walau rasanya campur asem keringet, tapi yang penting aku seneng udah ketemu. πŸ˜†

Begitu sampai di rumah, temen-temen kelompok Marhaban Emakku langsung menyambut dengan lantunan khas Marhaban. Yang di-Marhaban-in ngerasa malu sekaligus terharu ngeliat sambutan temen-temennya, para ‘cewek-cewek’ tetangga dan sekitar rumah. Hehe. πŸ˜€

Setelah melakukan ritual ‘tepung tawar’, aku dan Emak bongkar-bongkar tas bawaannya di kamar. Tak ayal lagi, aku langsung menyelundupkan sejumlah snack dan meluncur bersembunyi di kamar. Nunggu tamu-tamu udah sepi, baru makan lagi. Hwehehe.

Aku sangat bersyukur sekali… Alhamdulillahirabbil ‘alamin…. karena Emakku udah pulang dengan selamat dan sehat. Plus bawa banyak makanan. Xixixi. :mrgreen:

Mental note: Hmmm… Karena Emakku udah pulang, apakah aku harus tetap jadi upik abu, bantu-bantu kerjaan rumah? Nampaknya keberangkatan Emakku ke tanah suci ada hikmahnya juga bagiku, yaitu jadi belajar ngerjain kerjaan rumah, walau cuma nyuci baju doang tiap dua hari sekali.

Iklan

5 pemikiran pada “Mission Lady Bloomfire: Accomplished

  1. wah wah.. rame banget, waktu nenek saya dulu saya masih kecil sih jadi gak tau apa2
    pas om saya juga saya gak tau apa2 tinggal duduk doang parah ya *nepok jidat*

  2. Ping balik: Keringetan: Ngilangin Ngantuk « The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s