Anak Kemarin Sore, Pribadi Hebat Esok Hari

Aku telah salah memaknai gagasan “hidup/lembaran baru”. Dan aku menyadari hal itu dengan cara yang tidak membuat diriku sendiri puas. Aku merasa kesal ketika seorang sahabat mengajukan pertanyaan-pertanyaan ‘galau’ seputar kehidupan. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan atau rasakan, tapi mau tidak mau aku langsung merelasikan pertanyaan itu dengan hal-hal buruk yang telah kulalui dalam hidup bersama Bipolar. Setelah itu aku langsung meyakinkannya untuk berhenti meminta nasehatku.

Hal itu kemudian membuatku merenungkan kembali, mengapa aku kewalahan menghadapi semua emosi yang tiba-tiba berkumpul karena dipicu aksi galau orang lain? Aku pikir, sejauh ini, aku sudah punya cukup cara untuk mengatasi segala situasi emosional yang melibatkan diriku dan orang lain. Tapi seolah ada yang mengganjal, ada yang kurang, yang harus segera kuatasi jika tidak ingin terganjal kasus yang sama di kemudian hari. Mengapa aku masih bisa jadi emosi jika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan galau yang biasanya bisa kumaklumi dari orang lain?

Akhirnya, seperti mata rantai yang terungkap, aku pun menyadari, bahwa ‘kekurangan’ itu berasal dari pemahamanku yang salah mengenai sebuah konsep yang disebut “kehidupan kedua”. Aku berpikir, ketika aku mulai menjalani pengobatan secara optimal, aku menanggapi itu sebagai kehidupanku yang kedua, sebuah kesempatan baru dimana aku tidak lagi berpikir tentang hal-hal buruk, ketika aku sadar bahwa satu-satunya cara adalah membangun diriku kedepan secara positif, sekecil/seremeh apapun bentuk dan hasilnya, terutama dalam hal ibadah. Namun, tanpa sadar, pola pikir itu justru membebaniku. Karena dengan demikian, ketika dipicu oleh bentuk-bentuk ketidaktahuan orang lain tentang apa yang kualami, aku merasa dipaksa untuk menelan semua keburukan yang telah terjadi selama hidupku, bahwa tidak ada gunanya berpura-pura bahwa aku menjalani kesempatan kedua.

Pada akhirnya, yang sebenarnya dan seharusnya aku pahami adalah, bahwa aku tidak bisa membuang masa laluku begitu saja. Sama sekali, seolah-olah masa lalu itu adalah file yang bisa di-delete dengan mudah. Aku adalah bagian dari masa laluku, dan itu tidak apa-apa. Aku tidak harus bertanggungjawab atas DUA kehidupan, seperti anggapanku sebelumnya. Tapi aku hanya harus memastikan masa depanku sedikit lebih berfaedah, tanpa harus merisaukan masa lalu jika aku tidak ingin, serta kenyataan bahwa itu tidak perlu dikhawatirkan.

Aku jadi agak menyesal karena bersikap lumayan kasar pada sahabatku, dengan memintanya untuk tidak lagi berpikir aku memiliki nasehat-nasehat yang bisa digunakannya. Tapi kenyataannya sekarang, aku justru melihat sahabatku itu telah memutuskan untuk maju, meski harus sendirian. Aku bahkan sempat bermimpi, aku melihat sahabatku itu menaiki sebuah tangga yang tinggi sekali. Aku mencoba menyusulnya, tapi aku terlalu takut pada ketinggian, jadi akhirnya aku memutuskan untuk kembali turun. Aku mencoba mengajaknya bicara, tapi dia hanya menoleh dan tersenyum. Membuatku berasumsi bahwa, kini dia sudah lebih mandiri. Meski kami berdua tahu bahwa aku pernah membuat hatinya sakit dan kecewa.

Tapi, kurasa setidaknya pemahamanku ini bisa berguna buat semua orang, termasuk sahabatku. Bahwa tidak apa-apa jika kita dianggap atau menganggap diri sendiri “anak kemarin sore”, karena kita toh adalah bagian dari masa lalu yang menjadikan kita seperti hari ini. Tapi kita juga milik masa depan, ketika kita menjadi pribadi hebat yang telah belajar melalui pengalaman, termasuk kegagalan dan kekecewaan.

Jika kita ingin bertanggungjawab terhadap diri sendiri, kita bisa mulai dengan menerima masa lalu, dan bersiaga menyongsong masa depan yang gemilang. Ceila. Haha. πŸ˜€

Iklan

13 pemikiran pada “Anak Kemarin Sore, Pribadi Hebat Esok Hari

  1. Keadaan masa kini adalah hasil masa lalu. Masa depan juga ditentukan masa kini. Orang arif berkata ‘hari ini hendaknya lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini’. Tentu tidak mudah untuk mewujudkannya. Namun banyak orang-orang sukses yang dahulunya serba ‘kekurangan’. Perjuangan yang gigih dan ulet serta karunia Tuhan telah membawa mereka kepada keberuntungan. Trims sharingnya yang menarik. Salam sukses.

    • ya, betul mbak. terkadang saya, kita, terlalu khawatir tidak cukup baik untuk semua orang, sehingga melupakan apa yang benar-benar bisa kita lakukan. trims kunjungan dan komennya. πŸ™‚

  2. Masa lalu adalah kenangan yang bisa kita jadikan sebagai pengalaman hidup πŸ˜€
    Untuk menyongsong masa depan, bagaimanapun juga masa lalu turut andil.
    Jadi, masa lalu baiknya gak dilupakan πŸ˜€
    Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Merdeka! :mrgreen:

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s