Desperado

Aku desperate, bingung mikirin jalan masa depan.

Dokterku meyakinkan bahwa aku masih bisa berkuliah kalau mau. Dia menyarankan untuk mengambil program D1, jangan langsung S1. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi bisa menyusul jika sudah lulus dan masih mau, dan kalau ada biaya juga pastinya. Sementara Emakku mengharapkan agar aku langsung mencari kerja saja.

Tentu saja kedua hal itu berat untuk dilakukan, setidaknya bagiku. Tapi, kalau mungkin, aku justru mau dua-duanya. Plus, sekali lagi berkesempatan hijrah ke luar kota agar lebih mandiri. Jujur, aku bener-bener butuh sendirian saat ini. Aku butuh ruang untuk diriku sendiri.

Aku tahu tidak ada yang suka kabar buruk, tapi akhir-akhir ini aku semakin menyadari bahwa aku justru berpotensi untuk mengalami episode lebih besar ketika berada di kawasan yang menjamin kesejahteraanku ketimbang ketika aku diharuskan lebih bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan dalam pekerjaan lain. Yang artinya, aku lebih tenteram ketika merasa berguna dan dipekerjakan, bukan karena diawasi atau tahu aku akan menerima imbalan, tapi sekedar keharusan demi memenuhi kebutuhan.

Dan menjalani hidup yang mandiri adalah jalan yang aku rasa akan dapat mengoptimalkan langkahku selanjutnya.

Baru-baru ini aku mendapat sebuah nasehat yang berharga. Bahwa meskipun sekarang aku sudah belajar lebih banyak tentang diriku sendiri, aku tetap tidak boleh terlalu terpaut pada apa yang “sudah kupahami”. Jika aku memang merasa siap untuk melangkah demi masa depanku, aku harus lebih siap terhadap hal-hal yang tidak pernah kupahami sebelumnya. Dan itu mungkin saja berarti aku akan mendapatkan pengalaman pertama menjadi pekerja untuk orang lain, atau berada dalam bimbingan dibawah asuhan seorang mentor/guru/atasan. Aku tidak tahu. Tapi aku harus siap untuk hal-hal yang berbeda itu.

Aku tidak tahu bagaimana membicarakan keinginanku ini dengan orangtuaku. Sumber dana kami tak semenjamin dulu untu membiayai kehidupanku di kota lain. Dan sejujurnya, sifat orangtuaku yang selalu mengedepankanku dalam segala hal justru membuatku merasa sedih dan menyadari betapa aku tak memiliki modal untuk membangun diriku sendiri.

Sebenarnya salah seorang sepupuku menawari untuk ‘main’ ke lokasi tinggalnya di Bandung, dimana dia menjalankan usaha laundry. Tapi aku tak yakin. Aku sudah punya pengalaman berada di luar kota bersama saudara. Saat itu aku seperti dodol yang dicubitin ke segala arah. Karena di satu sisi aku diarahkan kepada segala hal yang umum tentang kehidupan calon mahasiswa yang ngekos jauh dari rumah, tapi di sisi lain, well, dengan segala kekuranganku, dan kenyataan bahwa aku tidak pernah benar-benar belajar tentang life skill dasar, aku runtuh di awal perjalanan.

Mungkin, kali ini, aku harus benar-benar menghentikan khayalan tentang ‘kehidupan sendirian yang nyaman dan aman di kota lain’. Aku ingin mengetahuinya ketika aku sedang benar-benar menjalaninya. Bisa saja kenyataan lebih sederhana dari yang dibayangkan, bisa jadi lebih rumit dan rame.

Namun jika bisa meninggalkan kegalauan itu sejenak, aku dan Emak sedang bertanya-tanya apakah ada cara agar aku bisa segera menyelesaikan pengobatanku. Mungkin dengan suatu jenis obat-obatan yang berfungsi sebagai ‘closing’ atau penawar-penstabil. Aku tidak paham tentang hal itu kalaupun ada obat semacam itu untuk Bipolar. Aku dan Emak memang kadang-kadang suka ‘merencanakan’ pertanyaan ataupun laporan yang akan kami bicarakan dengan dokter untuk konsultasi berikutnya. Hehe. Dan biasanya kami selalu mendapat jawaban yang, mungkin tidak sesuai dengan bayangan (dan pengetahuan) kami, tapi memberikan kejelasan yang mencerahkan.

Sebetulnya Emak sudah menyuruhku untuk jangan terlalu memikirkan tentang rencana masa depanku. Tapi aku justru merasa sifat bawaannya yang selalu mencoba menyelamatkanku itu membuatku semakin tertekan untuk segera keluar dari tempat ini. Lagipula dia sudah janji untuk mendiskusikan hal ini setelah ia pulang dari ibadah hajinya.

Saat ini aku tidak bisa menikmati buku-buku yang sedang kubaca. Dadaku terasa sesak. Aku tahu aku bisa termakan episode kapan saja. Aku mengandalkan mp3 brainwave untuk menenangkan diri. Tapi kuharap aku bisa menemukan solusi secepatnya.

Image credit: Shadowscapes Tarot by Stephanie Pui-Mun Law; newey1399@flickr

6 pemikiran pada “Desperado

  1. kamu masih muda, masih banyak jalan yang panjang. Kalau berumur 20 belum ke 25 itu saat yang banyak peluang.

    aku senyum sendiri waktu baca kalimat : Saat itu aku seperti dodol yang dicubitin ke segala arah.. gimana coba dicubitin segala arah๐Ÿ˜€

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s