Novel Multi Sudut Pandang

Memang nggak salah kalo penggunaan multi sudut pandang itu disebut sebagai salah satu formula penulisan yang menunjang kesuksesan sebuah novel. Karena bisa bikin ceritanya jadi makin rame. Walau jadi agak susah dipahami, apalagi kalau hanya satu atau dua karakter aja yang menarik bagi pembaca.

Sudut pandang yang berbeda-beda ini biasanya dibuat per bab atau per bagian. Kadang diberi sudut pandang orang pertama atau “Aku”, dan kadang dengan sudut pandang orang ketiga.

Layang-Layang Putus

Salah satu contohnya adalah novel yang sedang kubaca, yaitu Layang-Layang Putus karya Masharto Alfathi. Cerita ini diceritakan dengan multi sudut pandang yang dituliskan menggunakan sudut pandang orang pertama atau “Aku” yang mewakili tiap tokohnya. Tiap tokoh menceritakan masalah yang sedang terjadi dan menanggapinya sesuai dengan krakter dan sifatnya masing-masing. Ada Yoyok, Marto Klowor, dan sebagainya.

Menurutku, cerita novel ini sangat sederhana dan mudah dicerna. Karena mengangkat masalah kehidupan penduduk desa di jaman modern dengan berbagai tingkah polahnya, yang sebagian masih kolot, sebagian lagi terjebak dalam kekolotan para orangtua mereka.

Sebenernya agak sedikit susah membedakan sudut pandang yang berbeda-beda ini, karena bahasa yang digunakan hampir sama. Tapi justru karena kesederhanaan bahasanya, kita nggak perlu susah-susah mikir tokoh siapa yang sedang diceritakan. Karena cukup terbantu dengan petunjuk judul bab-nya. Dan tetap membuat ceritanya mengalir dengan lancar.

The Legend of Cairo

Satu lagi contoh yang novel yang menggunakan multi sudut pandang adalah The Legend of Cairo karya penulis Jamal Al-Ghitani. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novel ini lumayan agak susah dicerna. Terutama karena kita nggak bisa langsung hafal nama-nama karakternya yang menggunakan nama-nama Arab. Tapi sebenarnya setiap sudut pandangnya punya isi yang penuh dan keunikan tersendiri seputar kehidupan karakter yang diceritakan.

Karakter utamanya adalah Zayni Barakat, tokoh sejarah yang terkenal tegas dan anti-korupsi selama menjabat sebagai Pengawas Pasar atau muhtasib Mesir pada masa Kesultanan Tuman Bey (sultan terakhir dalam dinasti Mamluk).

Tapi karakter yang menurutku paling menarik dan mungkin bisa dibilang favoritku untuk disimak justru adalah rivalnya, yaitu Zakariya Bin Radi. Karakter Zakariya antagonis. Tapi digambarkan dengan realistis, jadi nggak tampil sejahat dan sejelas si Jafar dalam kartun Aladin. Hehe.

Zakariya berusaha menjatuhkan Zayni dengan cara sembunyi-sembunyi, menggunakan keahlian anak buahnya serta menyebarkan rumor. Tapi pada akhirnya dia frustasi sendiri dengan kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan Zayni padanya, termasuk rasa percaya yang begitu besar padanya sebagai wakil Pengawas Pasar. Zayni malah curhat sama Zakariya saat gosip-gosip miring (yang didalangi oleh Zakariya sendiri) melanda dirinya. Wew.

Secara keseluruhan, cerita ini termasuk berat dibaca, bagiku. Tapi akhirnya cukup sangat meninggalkan kesan yang kuat. Kita bisa bayangin gimana suasana Mesir jaman dulu yang penuh intrik, politik dan korupsi. Belum lagi hukuman-hukumannya yang sadis-sadis beud…😦

Oh dan sedikit peringatan, novel ini juga mengandung unsur-unsur sensual yang lumayan frontal.😳

What The Dead Know

Dan akhirnya, novel dengan multi sudut pandang yang menurutku terbaik yang pernah kubaca (karena memang adanya cuma tiga novel itu hahaha) adalah novel misteri detektif yang judulnya What The Dead Know karya penulis laris Laura Lippman.

Kalau kalian suka dan sering baca novel-novel detektif yang bikin muter otak, dan pengen baca cerita detektif yang lebih ringan sebagai penyegaran, novel ini sangat aku rekomendasikan. Dalam novel ini kita nggak begitu disuguhkan dengan misteri yang njelimet ataupun penuh twist. Tapi lebih kepada drama yang menurutku, berhasil bikin kita bersimpati sama karakter-karakternya.

Novel ini menggunakan alur maju-mundur. Karena menceritakan dua masa, yaitu masa kini (sekitar tahun 2005, saat bukunya dirilis) dan masa lalu pada tahun 1975-an. Ceritanya tentang kasus penculikan yang dialami oleh dua anak perempuan bersaudara Sunny dan Heather Bethany. Mereka kemudian dikenal dengan gadis-gadis Bethany, merujuk pada kasus penculikan mereka yang terselesaikan.

Kehebohan terjadi di masa kini ketika seorang gadis muncul dan mengaku sebagai Heather. Meski dengan usaha yang keras, detektif, pengacara dan seorang petugas sosial, akhirnya mereka berhasil mengorek informasi dan pengakuan dari perempuan tersebut. Walaupun keterangan dari Heather cocok dengan apa yang mungkin terjadi pada 30 tahun lalu, mereka tetap ingin memastikan bahwa dia memang Heather Bethany. Dan satu-satunya orang yang bisa memastikan hal itu tak lain adalah ibu anak-anak itu sendiri, yaitu Miriam, yang pindah ke Selatan setelah bercerai dengan suaminya.

Ceritanya sangat sarat akan drama yang mengaduk-aduk emosi. Dan juga bikin penasaran karena di akhir-akhir cerita, tahu-tahu Heather berusaha kabur setelah mengetahui bahwa Miriam akan dipanggil untuk memastikan apakah perempuan itu memang anak bungsunya. Lho, kenapa? Apakah dia palsu? Nah, disitulah twist yang mengasyikkan.πŸ˜€

Jujur, sejak awal-awal aku udah agak bisa nebak akhir ceritanya karena pernah menyaksikan kisah yang mirip tapi dengan genre yang sedikit berbeda. Tapi tetep, meski novel ini adalah novel detektif yang dibawakan dengan gaya santai, tapi punya isi yang ‘penuh’ dan memuaskan. Kalau penasaran, silahkan cari dan baca bukunya.πŸ™‚

Setelah selesai baca, bisa kukatakan novel bikin kita merasakan semacam perasaan ringan dan hangat, seolah-olah unsur-unsur masa lalu dalam ceritanya itu adalah bagian dari kenangan kita sendiri. Novel ini bikin kita sedih, senang dan terkejut, tapi dengan pembawaan yang santai dan khas. I love it lah pokoknya.

Novel apa aja yang memiliki multi sudut pandang yang menurutmu bagus dan menarik?

9 pemikiran pada “Novel Multi Sudut Pandang

  1. coba baca milan kundera…ia ahli presisi dan sudut pandang…
    The Unbereable Lightness of Being bisa jadi contoh. Fresh book udah bikin versi indonesianya kalo gak salah…

    Tulisan ini ngingetin saya ama Kundera. itu aja.
    but, pram di tetralogi gak kalah deh ya?

  2. Ping balik: Sejuta Kisah Para Malaikat | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s