Child, Imaginative

Saat ini aku sedang berusaha nyicil baca buku-bukuku yang belum kebaca. Yah itung-itung biar bisa segera beli buku baru lagi. Hehe.

Aku ambil satu buku untuk dibaca secara intensif (ceila), yaitu buku pengarang Dunia Sophie, Jostein Gaarder yang berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng. Aku akan bahas sedikit tentang buku ini. Tapi sedikit aja, karena aku juga baru baca belum setengahnya.

Awalnya aku agak bingung. Aku kira pembukaan cerita itu menceritakan si Jostein sendiri, karena dia membicarakan tentang “berhasil kabur” dari semacam acara pameran buku gitu. Trus dia nyewa kamar losmen di tepi pantai. Tapi ternyata tokoh “Aku/Saya” disini adalah Petter, sang karakter utama.

Isinya sebagian besar berbentuk prosa yang menceritakan tentang masa kecil Petter. Bagaimana dia lebih suka bermain sendiri dengan imajinasinya ketimbang bermain dengan teman-temannya, dan bagaimana dia menangkap apa yang ada di sekitarnya dengan pikiran kritis tidak seperti anak kecil lainnya. Petter memiliki semacam ‘teman imajinasi’ dengan wujud pria kecil yang tingginya tak lebih dari semeter yang memakai topi laken dan memegang tongkat bambu. Pria Semeter ini sering mondar-mandir dan mengayun-ayunkan atau menusuk-nusuk dengan tongkat bambunya dengan kesal, persis seperti pria tua yang tempramen.

Setelah ibunya meninggal, ia tinggal sendiri di flat dan sejak itu mulai mengencani banyak gadis dan mengajaknya ke rumahnya untuk kencan “one night stand”. Sampai ia bertemu wanita yang lebih tua darinya, yaitu Maria. Secara mengejutkan, setelah hubungan mereka sempat break, tiba-tiba Maria meminta Petter untuk menghamilinya! Dia ingin punya anak dari Petter tapi tidak ingin menikahinya, karena perempuan itu akan segera pindah ke Stockholm untuk bekerja.

Kelanjutannya belum tahu, karena aku baru baca sampai bagian itu. Hehe.

Dari uraian yang menggambarkan masa kecil Petter, sesekali aku tersenyum sekaligus mengernyitkan dahi, karena teringat dengan diriku sendiri saat masih kecil. Aku tidak yakin untuk menyebut diri sendiri sebagai anak yang memiliki imajinasi tinggi, tapi setidaknya, sesekali teman-temanku mengatakan seperti itu. Namun sebenarnya aku tidak begitu merasa begitu imajinatif untuk dinilai demikian. Aku memang senang berkhayal, tapi aku jarang mengerjakan atau menyelesaikan apa yang kurancang dalam imajinasiku. Aku tidak bertindak atau bersikap yang menunjukkan bahwa aku kreatif dalam artian produktif. Aku punya cara-cara alternatif sendiri untuk mengerjakan sesuatu, tapi kebanyakan itu semua hanya pemikiran dan teori. Makanya, pada titik tertentu, aku kesal ketika orang tidak bisa memahami cara berpikirku.

Sebenarnya, aku tidak pernah punya khayalan yang kusebut ‘cerdas’. Aku tidak setuju jika orang berpikir bahwa imajinasiku adalah jenis imajinasi yang bisa menghasilkan sesuatu yang bisa diapresiasi dengan cara pikir orang kebanyakan. Imajinasi dan ‘kreatifitas’-ku bukan dalam artian bagus, tapi justru sulit dinikmati dalam sekali tangkap. Contohnya, aku memiliki selera humor yang aneh dalam artian ‘ugly’ dan mungkin ‘kasar’, sehingga mungkin butuh menanggalkan sebagian harga diri untuk bisa menertawai lelucon-lelucon yang kulontarkan. Haiyahaha.๐Ÿ˜€ Intinya, aku tidak bisa menjadi pelawak yang lucu atau penggagas ide yang inovatif. Cakupan imajinasiku bukan jenis yang bisa digunakan “ketika aku dewasa”.

Aku tidak punya dasar rasionalitas untuk menciptakan sesuatu keluar dari ‘kotak’, karena sesungguhnya, aku selalu hidup ‘diluar kotak’ itu sebagai seseorang dengan cara berpikir yang less-realistic. Semua khayalanku adalah tentang diriku. Tema khayalan favoritku adalah “Seandainya aku punya kemampuan yang berbeda/kekuatan super/kehidupan yang berbeda…” dan semacamnya.๐Ÿ˜† Mungkin itu adalah bentuk ketidakpuasanku pada kehidupan yang terlalu sederhana bagi khayalan-khayalanku. Dan satu-satunya alasan mengapa khayalan-khayalan itu tidak bisa diaplikasikan ke dunia nyata adalah karena imajinasiku terlalu berbeda secara dimensional, dan akan membutuhkan sebuah dunia baru yang utuh untuk mewujudkannya. Itu agak membuat depresi lebih dari yang bisa dibayangkan, dalam cara aku tahu apa yang tidak bisa kucapai dengan kemampuan otakku selama 23 tahun belakangan.

Tapi aku juga tidak pernah benar-benar punya khayalan khusus tentang dunia khayalanku sendiri. Aku pernah menciptakan sebuah “pasar dengan pemandangan bukit dan istana di kejauhan” di dinding kamar. Tapi kemudian, aku tidak ‘merawatnya’ karena kupikir itu gagasan yang terlampau stereotip, terutama ketika aku terlanjur membaca ide itu di novel-novel remaja yang aku baca saat itu. Tampaknya aku lebih suka jika bisa ‘mengacau’ dunia yang ada pada saat ini. Aku memimpikan sebuah dunia yang dipenuhi ledakan emosional tanpa penyesalan di akhirnya. Dimana semua orang mampu menghargai mengapa seseorang lainnya memberontak untuk alasan sepele. Jika dipikirkan sekarang, mungkin saja itu hanyalah bentuk hasratku yang naif bahwa agar dunia lah yang menyesuaikan diri dengan sifatku (dulu) yang meledak-ledak, bukan sebaliknya.

Sekarang aku melihat diriku sendiri telah berlaku sangat konyol karena berusaha tanpa mencapai hasil yang kuinginkan untuk menjadi orang yang realistis dan rasional. Dan setelah membaca buku Jostein Gaarder ini, aku menggali beberapa inspirasi besar yang mungkin dapat membebaskan diriku sejenak dari tuntutan diriku sendiri untuk berusaha keras agar lebih dapat diterima dalam sosial.

Imajinasi yang kukenal adalah yang tidak membutuhkan komitmen. Karena itu akan sangat membuang-buang waktu jika aku menginginkan sesuatu dan (berpura-pura tertarik untuk) bersungguh-sungguh mendapatkan/mewujudkannya. Petter memiliki arsip khusus yang menampung potongan-potongan idenya, yang dengan kata lain bukan merupakan sebuah karya yang utuh.

Ini semacam pembebasan untuk berimajinasi tanpa batasan bentuk dan format. Seperti saat aku masih kecil dulu. Hanya saja kini aku ingin/harus lebih menaruh perhatian dan peduli pada kegiatan berkhayal itu sendiri.

Aku akan kembali ke ‘selokan’ tempat asalku, dengan pengamatan yang lebih luas terhadap sekitarku, dengan sudut pandang ‘selokan’ asliku itu; dengan diriku sendiri. Karena, bagaimanapun, berimajinasi tidak pernah menuntut kita menjadi orang lain yang tidak kita kenal hanya untuk menemukan bentuk hiburan/pertunjukan yang ‘benar’ bagi semua orang. Dalam berimajinasi, hanya ada diri kita sendiri: kita lah sang penghibur, kita juga audiensnya.

Terkadang, cara untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja adalah ketika kita masih bisa membayangkan hal-hal yang tidak ada di dunia nyata.

Bagaimana denganmu, apakah kamu seseorang yang pengkhayal?๐Ÿ˜€

4 pemikiran pada “Child, Imaginative

  1. Imajinasi adalah alat penciptaan.

    karena imajinasi manusia bisa mengukur besarnya matahari, padahal belum satupun manusia yang hinggap disana.

    lewat imajinasi manusia bisa membuat beraneka hal yang tidak pernah ada sebelumnya

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s