10 Tahun Yang Lalu…

Mungkin nggak ada yang bener-bener spesial tentang apa yang terjadi 10 tahun lalu. Cuma yah ‘sesuatu’ aja nginget apa aja yang kulakukan dulu sewaktu masih kecil. Well, umur 12-13 tahun bukan kecil juga sih. Malah itu adalah satu hal yang agak menarik.

Ketika aku bersiap menjelang usia 13, aku ngerasa excited karena nggak sabar pengen disebut ‘remaja’. Hahay… Aku berpikir akan terjadi semacam perubahan besar. Tapi nyatanya, nggak ada perubahan yang siginifikan kecuali yang bersifat alami dan biologis. You know what I mean. πŸ˜‰

Dulu aku hampir selalu bawa kunci rumah karena sering sendirian. Aku juga sering naik angkot kemana-mana. Aku senang ketika orang menyebutku ‘berani’ karena naik angkot sendiri. Wakak. Dan aku sama temen dulu suka beli tabloid Fantasi. :mrgreen: Trus kalau ada uang jajan lebih, kadang pergi ke swalayan yang letaknya nggak jauh dari tempat les. :mrgreen: Biasanya buat beli-beli jajanan atau buku notes/diary baru buat coret-coretan. Yang pasti bukan ‘buku diary yang pake gembok’. Hehe. :mrgreen:

Kelas 6 SD, aku pertama kali pakai kacamata. Waktu itu minus setengah. Lalu berubah jadi plus setengah, dan sekarang berubah lagi jadi minus satu. Kok nggak konsisten gitu ya. πŸ˜•

Dan yang nggak bisa dilupain juga, di tahun keenam sekolah dasar itu juga aku mengalami yang namanya first love ama temen sekelas… Cuit cuit… 😳 But, sadly, it turned out she didn’t go to high shcool, to be married at teen age. 😳 Miris? Pasti. Patah hatiku jadi dobel karena pertama dia nggak ngelanjutin sekolah dan kedua karena dia harus nikah di usia semuda itu. 😦

Dan fakta historis lainnya tentang diriku sendiri adalah waktu itu (kelas 6 SD) aku akhirnya bener-bener berhenti ngompol! 😳 😳 😳

Selain sekolah nasional, sorenya aku juga ngaji di madrasah ibtidaiyyah. Tingkatanku di sekolah dan madrasah berselisih satu tahun. Jadi ketika aku duduk di kelas 6 SD, di madrasah aku masih kelas 5.

Ada satu lagi peristiwa yang sebenernya kurang penting apalagi seru atau menyenangkan. Tapi aku nggak bisa lupain karena mengingat reaksiku waktu itu. Selama bertahun-tahun (ceila lebay) aku sendirian di rumah, aku nggak pernah ngerasa takut. Tapi tiba-tiba suatu hari, menjelang maghrib, aku ngerasa parno gak jelas dan akhirnya mutusin keluar rumah karena ngerasa nggak nyaman banget dan ‘takut’. Aku berniat nungguin ortu pulang kerja sambil nongkrong di jembatan kecil depan rumah kayak anak kodok kehilangan jati diri. πŸ˜† Tapi nggak lama kemudian, karena ortuku nggak pulang-pulang juga, aku memberanikan diri masuk lagi ke rumah untuk shalat maghrib. Sejak itu aku mulai sering memikirkan kata-kata Emakku, “Di semua tempat/rumah pasti ada. Cuma, kita minta perlindungan aja sama Allah…” Itu tidak cukup menghibur, Mak.

Mungkin waktu itu ‘penghuni’ di rumahku sekedar mau kenalan sama aku. Tapi akunya takut. 😦

Ohya, 10 tahun lalu aku masih berlangganan majalah yang namanya Aku Anak Saleh. (Tapi kok gedenya nggak saleh ya…?? :lol:) Bahkan sebuah suratku pernah dimuat di majalah itu. Nggak cuma itu, bahkan satu eksemplar majalah yang kuminta lewat surat itu juga bener-bener dikirim ke aku. Gratis! πŸ˜€ Haha, itu sungguh sebuah pencapaian yang luarbiasa bagiku pribadi, karena aku sangat menyenangi majalah tersebut dan udah jadi bagian dari kehidupan masa kecilku. πŸ˜€

Tapi ketika aku masuk SMP, aku harus berpisah dengan majalah itu karena bagaimanapun aku harus grow up, move on atau apalah istilahnya… Sempet sedih selama beberapa lama. πŸ˜₯ Emakku sempet nawarin majalah-majalah remaja seperti Hai untuk di-langganan-in, tapi aku nggak tertarik dan nggak pernah langganan majalah lagi sejak itu, kecuali mungkin tabloid Fantasi yang sekedar beli rutin.

Dulu aku suka banget serial TV “Vlad” yang ditayangin di Indosiar. Tentang anak jenius yang menemukan remot ajaib yang bisa mengontrol apa saja. Dan aku berusaha mirip-miripin penampilan mirip Vlad karena waktu itu kebetulan aku udah mulai pakai kacamata. Wakakak.

Sebenernya dari dulu sampai sekarang aku selalu jadi anak/orang yang payah. Tapi akan terlalu menyedihkan jika aku sendiri pun menyorot sisi diriku yang itu. Jadi aku berusaha nginget detil-detil menyenangkan atau lucunya aja.

Oh ya aku juga inget waktu ikut lomba menggambar antar sekolah. Guru-guruku ngakak ngeliat gambarku yang bertema ”kebersihan”. Kenapa diketawain? Karena aku nggambar tukang sapu yang lagi ngedipin mata di pinggir pantai. Trus kata guruku, “Ini matanya kenapa? Kok kayak Gus Dur…???” πŸ˜† Sebenernya waktu itu aku sebel karena gambarku diketawain sama guru. Tapi aku agak merasa tertampar dan berpikir bahwa pandanganku tentang realitas memang perlu dipertanyakan, atau ditertawakan. Dan nyatanya, aku nggak menang dalam lomba itu. Tapi aku jadi punya pengalaman ngeliat sekolah-sekolah SD lain dan ketemu anak-anak baru dari sekolah asing. Cukup menyenangkan ketika merasa jadi utusan sekolah dan terlibat dengan sebuah rangkaian kegiatan yang diaransemen oleh orang-orang dewasa. Halah apa sih. πŸ˜€

Oke, aku nggak mau membuat pembaca bosan. Jadi lebih baik kuakhiri aja post ini.

Apa aja hal-hal yang terjadi/kamu lakukan 10 tahun yang lalu?

Iklan

15 pemikiran pada “10 Tahun Yang Lalu…

  1. Wah, menarik banget pengalaman mas Ilham 10 tahun yang lalu. Terutama waktu menulis surat ke majalah Aku Anak Saleh itu. Fotonya mas Ilham lucu dan imut.

    10 tahun yang lalu…. saya masih berdinas di Denpasar. Lagi sulit2nya hidup di kota metropolitannya Bali itu. Akhirnya ya nyerah hidup di sana dan pulang kampung ke Bali Barat, he he.

  2. Itu majalahnya baik banget sih Ilham mau ngasih gratisan buat dirimu, kebayang itu senangnya πŸ˜€

    Dan bisa yah anakanak sempet PLUS kacamatanya, setau saya hanya orangtua yg pake kacamata berlensa plus πŸ˜€

    Hmm…10 tahun lalu saya masih SMA, lagi pusingpusingnya ujian akhir dan bersiap masuk dunia perkuliahan. Sial.. ketahuan deh tuanya -___-

    • hehe iya mbak. seneng banget. majalah gratisan itu masih aku simpen di amplopnya. πŸ˜€
      kalo kacamata yang berubah2 itu maksute perubahan dari masih kecil sampe skrg. yang plus itu waktu udah gede juga sih.
      wehehe aku juga kadang ngerasa tua kalo nginget terakhir kali duduk di bangku SMA. mungkin karena sampe sekarang aku belum bisa ngerjain sesuatu yang berguna dan membanggakan orangtua. πŸ˜•

    • iya sebenernya topik ini lumayan cocok dijadiin PR-PR-an hehehe. tulis aja ngga. aku tunggu postingannya tentang kenangan 10 tahun yang lalu sosok angga.. hehe πŸ˜€

  3. 10 tahun yang lalu….itu artinya umurku baru 13 thn (kelas 1 smp)
    ah, aku inget dulu punya rival di sekolah
    tiap hari ngerjain aku, bikin sebel banget
    pokoknya benci banget ngeliat dia
    eh…tapi setelah kelas 3 smp, dia justru jadi temen yang lumayan deket
    bahkan sampai aku kuliah dia masih sering sms
    hahaha…lucu juga ya πŸ˜€

  4. Ping balik: Kejadian & Pengalaman Unik Semasa Sekolah | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s