To Grow Up And To Give In?

Benarkah hidup hanya untuk menyerah pada kenyataan?

Benarkah bahwa hidup seperti “air” berarti hidup untuk mengalir ke tempat yang lebih rendah? Mungkin itulah sebabnya orang-orang besar adalah orang-orang yang menghabiskan sebagian hidupnya berjuang menentang arus. Tak ada yang tahu pasti apa motivasi mereka. Mungkin mereka hanya salah satu dari kawanan semut yang kebetulan menemukan sumber makanan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang tergelitik oleh ide bahwa mereka bisa melakukan lebih. Dan mereka mencari-carinya, meski itu berarti harus terpisah dari koloni yang menganggapnya gila dan bahwa apa yang dilakukannya adalah mustahil.

Tapi, beberapa tahun kemudian, kita membaca biografi mereka di berbagai media; Bill Gates, Steve Jobs, Mario Teguh… Apakah mereka masih salah satu dari kawanan semut? Ya, secara teknis. Tapi mereka telah berubah menjadi semut yang lebih dipenuhi kebijaksanaan dan ilmu tentang menghadapi berbagai soal.

Aku sering mendengar bahwa kesuksesan dan hal-hal besar itu bukan ditentukan oleh takdir atau nasib, tapi merupakan buah dari kemauan seseorang. Bagiku pribadi, jangan marah jika aku mengatakan ini, itu tidak sepenuhnya benar.

Menurutku ada beberapa individu yang memang ditakdirkan untuk menjadi besar dan hebat. Mereka hanya butuh sedikit bekal, keadaan terdesak dan selebihnya berasal dari diri mereka sendiri. Orang-orang hebat mungkin memang ditakdirkan untuk ada, muncul dan berbicara didepan banyak orang tentang bagaimana meraih kesuksesan yang sama.

Mereka lahir untuk hidup di kondisi yang membuat mereka berusaha, dan ketika mereka sadar, mereka telah menjadi “sesuatu”. (Lalu, Alhamdulillah ya, mereka punya acara TV sendiri atau menulis buku tentang perjalanan sukses mereka.)

Tapi setidaknya aku percaya ada cara untuk “mencurangi” takdir kita sendiri. Yaitu dengan melacak bekal atau pemicu apa yang menjadikan seseorang besar. Seperti copy-paste, atau menapak-tilas perjalanan seorang sukses. Hanya saja kita bebas memilih bagian mana yang lebih mudah untuk dilakukan. (Meski mungkin dalam prosesnya kita akan belajar mengambil resiko-resiko yang lebih besar.)

Mario Teguh bilang dulu dia adalah pemuda badung dan bengal sampai keadaan membuatnya sadar, dan itu mengantarkannya mendapatkan beasiswa pendidikan di luar negeri.

Kenyataannya, tak semua orang yang bahkan memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan karena berbagai alasan. Jangankan kuliah, tak semua teman-teman kita para remaja dan pemuda di Indonesia mampu mendapatkan pendidikan SMA ataupun SMP.

Lalu bagaimana mencurangi hal ini dan mengenyampingkan kondisi apapun yang kita hadapi? Ini peristiwa kuncinya: Mario Teguh bilang dulu beliau dan istrinya pernah terpaksa tinggal di garasi teman mereka karena masalah ekonomi, sementara itu Mario tak pernah lepas dari buku ketika ia terus belajar dan belajar di ruang hidup yang sempit itu.

Dengan mengambil model ini, kita memahami bahwa, orang tak berpendidikan sekalipun pun, jika terus belajar dan melakukan seperti apa yang dilakukan seorang sukses, (yang bisa berarti termasuk tinggal di garasi dan lain-lainnya) akan punya kesempatan yang nyata untuk menjadi hebat bahkan sebelum ia sendiri menyadarinya.

Ide ini mungkin sedikit berbeda dari “meneladani” atau menyerap ilmu-ilmu dari orang sukses. Disini kita melacak detil-detil tertentu dan menyelidiki kemana hal itu pernah membawa seseorang menjadi besar dan sukses. Seorang anak gelandangan mungkin tidak punya alasan (atau kesempatan) untuk tinggal di garasi seseorang. Tapi dia bisa diam-diam mengumpulkan uang dari hasil mengamen atau bekerja sambilan untuk membeli buku-buku, mempelajarinya dengan tekun sambil terus membayangkan wajah berkilau Mario Teguh.

Jadi, ini tidak ‘se-gila’ kedengarannya. Ide yang kuajukan disini hanya dimaksudkan untuk memotivasi agar kita tidak ragu untuk memilih hal-hal dan jalan tertentu, yang kita yakin akan membawa kita pada kebaikan-yang-lebih-baik, sebab fokus kita dalam berusaha bukanlah apa yang “mungkin bisa kita capai”, melainkan apa yang telah dihasilkan cara-cara itu terhadap seseorang yang saat ini sudah menjadi orang sukses. Tentu saja ide ini bukan untuk membuat usaha yang harus kita lakukan menjadi lebih sedikit. Melainkan mengarahkan fokus kita kepada pemikiran yang lebih positif dan motivatif.

Kesimpulannya, mungkin ketika kita dewasa, pilihan-pilihan memang menjadi lebih sempit dan memaksa kita menyerah pada kenyataan hidup. Tapi kita selalu bisa menciptakan pilihan dan merancang kenyataan hidup seperti apa yang dapat membesarkan kita. Sulit itu pasti. Namun ketika kita meng-copy-paste sosok hebat yang kita kagumi akan mengubah fokus kita dari “berusaha menanggulangi tekanan” menjadi “menciptakan jalan untuk setiap rintangan baru” yang muncul di perjalanan kita menuju kesuksesan.

Yakinlah bahwa kita mampu menciptakan pilihan dan kekuatan itu sendiri. Semoga kita semua dapat hidup bahagia dan sukses. Dan memahami bagaimana mewujudkannya. Ammiin.πŸ™‚

23 pemikiran pada “To Grow Up And To Give In?

  1. wahhhh tulisan yang keren bang – betul tuch ” Konsep ATM – Amati Tiru Modifikasi ” juga beawal dari kata copy paste, saat kita mencoba menjadi besar maka kita harus belajar dari orang besar

    d(^o^”) usaha dan doa adalah 2 kuncinya bang

    Allah tidak akan merubah kaum kecuali kaum itu yang merubah diri mereka sendiri – USAHA
    tiadalah yang bisa merubah takdir kecuali doa – DOA

    mantaps bang ilham

    salam kenal

  2. “Aku sering mendengar bahwa kesuksesan dan hal-hal besar itu bukan ditentukan oleh takdir atau nasib, tapi merupakan buah dari kemauan seseorang. Bagiku pribadi, jangan marah jika aku mengatakan ini, itu tidak sepenuhnya benar” ……. suka sekali dgn paragraf ini

  3. Motivasi yang bermanfaat, mas Ilham. Memang kita semestinya meneladani dan menapak tilas kesuksesan orang-orang besar kalau mau sukses. Ah, jadi semangat lagi nieh…. Terima kasih mas Ilham.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s