(FIKSI) “Orang Di Perahu”

Orang Di Perahu

Hampir seminggu aku berada dalam situasi yang sulit kupercaya ini. Berasumsi bahwa entah bagaimana aku akan mati dalam kondisi ini, aku harus menulis sesuatu sebagai satu-satunya peninggalanku. Mungkin bukan orang; seorang nelayan atau seorang anak di tepi sungai, hanyut lewat fjord di negeri asing atau siapapun yang akan membaca surat ini, tapi setidaknya Tuhan tahu dan mendengar apa yang kukatakan disini.

Aku tidak tahu apakah harus menyesal karena tiba-tiba pergi. Bahkan dalam situasi seperti ini, hatiku masih terlalu enggan untuk mengakui bahwa kasih sayang kalian senyata biji beras, berbanding terbalik dengan sikapku yang delusif dan liat seperti segumpal minyak kotor di kehidupan luas kalian.

Tentang apa yang sebenernya terjadi sebelum ini, mungkin kalian telah/sedang mengikuti beritanya meskipun itu hanya mendapat sedikit sorotan; potongan kecil di koran atau artikel dua-paragraf di Internet. Jangan membenci kenyataan itu (jika memang itu yang terjadi). Sejujurnya aku cukup lega karena tidak tewas dengan nahas seperti penumpang-penumpang lain, yang mana aku saksikan sendiri dengan kedua mataku. Beberapa dari mereka sudah sempat kukenal diatas kapal. Aku tidak sanggup melihat sisa pemandangan itu ketika seorang bayi terlempar dari dalam ledakan menuju permukaan air. Aku tak tahu dimana ibunya saat itu, atau apakah bayi itu sudah meninggal dunia dalam ledakan, atau ketika ia tenggelam setelah beberapa lama tercekik dibawah air. Langit tampak sama; secara menyakitkan, indah dengan bintang-bintang dan warna biru seakan baru saja petang, seolah tidak menghiraukan bencana yang menimpa kami semua malam itu.

Ketika itu semua berlangsung, yang muncul di pikiranku adalah kamarku di rumah. Aku mungkin sedang ada disana jika aku tidak mengambil perjalanan itu dengan gegabah. Seharusnya aku sadar bahwa aku sedang membuat keputusan yang tak menguntungkan. Tapi tidak ada artinya, apapun yang kulakukan. Mungkin ini yang mereka bilang relativitas. Apapun jalan yang ditempuh, kau tetap menunju hasil yang sama. Meskipun, itu juga terdengar seperti Catch-22.

Lalu, mengetahui bahwa aku akan mati dalam situasi ini, apa yang akan kualami jika aku tidak mengambil perjalanan ini dua minggu yang lalu? Bagaimana aku akan mati? Aku tidak begitu tertarik pada bagaimana aku akan mati dalam situasi yang sedang kujalani. Itu terlalu terang-terangan, seperti memohon sesuatu yang kurang dari apa yang Tuhan sudah janjikan.

Surat ini mungkin terkesan, sebagiannya, seperti wasiat. Tapi kalian tahu bahwa aku tidak punya apapun (atau siapapun) untuk melakukannya. Aku hanya harus menitipkan pesan bahwa, maaf, aku tidak pernah bisa menempatkan diriku di kehidupan yang kalian berikan padaku. Pahamilah bahwa inilah hidupku yang selama ini kujalani. Ketika ada kesempatan, aku bisa melakukan hal-hal yang mungkin tidak rasional dalam pandangan kehidupan nyata yang penuh persoalan otak-kiri. Cobalah untuk memahami bagaimana seseorang bisa berpikir sepertiku. Aku tidak meminta kalian minum dari tanganku. Aku hanya ingin kalian melihat capung yang kutemukan di taman, dan menghargai hewan itu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang pemberani meski terasa rapuh di jemari kita.

Ibu, aku tahu kita menyimpan semua emosi itu. Mungkin kita yang terbaik jika diperintahkan menceritakannya dalam urutan yang tepat. Sulit untuk memilih antara aku dan engkau. Karena kita berdua mengetahui hal yang sama, mengerjakan pekerjaan yang sama. Ketika engkau bersusah payah mengasuhku, aku bersusah payah untuk menemukan nilai diriku dengan cara-cara yang menyusahkanmu. Ketika engkau bangga padaku dan tidak mengungkapkannya, aku kebingungan oleh kasih sayang yang mencampuri dunia khayalku dan bersikap defensif oleh perhatian-perhatian kecilmu.

Maafkan aku karena tak bisa menjadi anak yang kau harapkan, Bapak. Aku tahu, terkadang apa yang engkau inginkan dariku begitu jelas, tapi aku selalu bertingkah memiliki urusan sendiri yang tidak ada hubungannya dengan harapan-harapan sederhanamu tentangku, sebagai anak. Engkau adalah surga harapan. Di matamu, kejatuhan dan keputusasaanku adalah kebutuhanku akan harapan yang engkau miliki dengan kaya. Engkau menunjukkan bahwa kita hanya bisa menertawakan apa yang terjadi pada kita dengan batasan-batasan yang kita miliki. Tapi perjalanan tetap hanya bisa ditempuh dengan melaluinya, apapun caranya, kapanpun kita mau meneruskannya. Aku bertanya-tanya apakah perjalananku tidak terlalu singkat jika aku akan mati sekarang?

Dalam dua hari, mungkin, jika Tuhan mengijinkan perahu penyelamat ini bergoyang tanpa dayungnya yang hilang sejak aku temukan, aku mungkin akan mencapai pulau kecil yang ada di kejauhan. Yang bisa kulihat hanya gundukan hijau, kecil, tinggi. Semalam pulau itu terlihat lebih besar karena bercampur dengan hitamnya langit mendung. Mungkin itu hanya pulau karang yang tak bisa kusinggahi kecuali dengan memanjatnya. Tapi setidaknya aku punya sesuatu untuk kupikirkan saat ini seputar pulau karang itu.

Diatas perahu ini aku tidak punya peralatan apa-apa kecuali dua jerigen plastik kecil yang salah satunya berisi minyak tanah (aku tidak tahu untuk apa). Aku lupa menyebutkan bahwa aku sempat pingsan selama, mungkin, seharian setelah terjadi ledakan. Karena itu aku tidak tahu aku terombang-ambing kearah mana dari lokasi kapal yang mungkin sekarang sudah tenggelam. Pakaianku masih cukup lengkap untuk membantuku bertahan dari udara dingin. Aku mengenakan kaos oranye dan jaket hitam, celana jeans, dan satu sepatu kiri. Jaket dan sepatunya bukanlah kepunyaanku. Aku memungutnya dari permukaan air sebelum kapal meledak dan aku shock hingga pingsan. Lebih sulit menggambarkannya ketimbang kenyataannya.

Karena aku tidak bisa selalu mendapatkan ikan untuk dimakan (mentah-mentah), aku semakin ragu aku bisa bertahan lebih lama. Karena itu aku memutuskan untuk mengalihkan pikiranku pada pulau di depanku. Siapa tahu ada sumber makanan, walau sedikit, di bukit karang itu.

OK, hanya ada sedikit sisa lagi pada kertas koran ini, sementara tinta pulpen yang kubawa masih penuh karena aku baru membelinya di kapal. Aku bersyukur jika aku bisa ditemukan, hidup atau mati. Tapi aku akan cukup bahagia jika pesan dalam jerigen ini ditemukan seseorang.

Aku sudah memutuskan. Aku akan berhenti di pulau karang itu jika sudah sampai disana. Aku tidak peduli kemana pesan ini akan sampai. Aku hanya percaya Tuhan pasti menghubungkan kita melalui surat terakhirku ini. Percayalah, ketika hidup berada pada ujungnya, kau berharap bisa melakukan segalanya sekali lagi dengan lebih sederhana dan tanpa kebingungan oleh ketidakpastian. Karena kau tahu, SEHARUSNYA kau tahu, Tuhan selalu membimbing jalanmu. Bahkan ketika kau tersesat di tengah lautan yang sunyi.

Iklan

10 pemikiran pada “(FIKSI) “Orang Di Perahu”

  1. Ping balik: [touring] gowes tasik pangandaran « komuter jakarta raya

  2. Perjuangan dalam ketidakpastian pasti dapat dilalui dengan keyakinan

    ” SEHARUSNYA kau tahu, Tuhan selalu membimbing jalanmu. Bahkan ketika kau tersesat di tengah lautan yang sunyi. ”

    yakinlah
    d(^o^”)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s