(FIKSI) Dansa Nona Angsa

Terinspirasi oleh lagu daerah Timor Timur “Potong Bebek Angsa” oleh NN.

Suatu hari aku pulang membawa seekor bebek dan dua ekor angsa besar-besar yang aku tangkap di tepi hutan. Angsa-angsa itu tangguh. Sampai aku harus turun ke sungai untuk menangkap mereka. Sementara bebeknya, hanya bebek liar yang tersesat di pinggir hutan karet.

Jadi, aku membawa unggas-unggas mati ini pulang, melalui pintu dapur, memasuki ruangan gelap yang berbau asap.

Asmiannur berjalan mendahuluiku untuk membantuku dengan bebek dan angsa-angsa. Aku meletakkannya di dekat dimana ia kemudian duduk, diatas dingklik kayu kecil. “Mau dimasak apa ini?” tanyanya, tanpa melihatku.

“Terserah saja. Yang penting gampang dikunyah. Aku tahu kau pandai memasak daging yang lembut,” jelasku, sambil melepaskan peralatan berburu dari tubuhku.

Gadis ini sekitar 4 atau 6 tahun lalu aku pikir hanyalah salah satu dari sepupu jauhku. Lalu suatu malam, bibiku bilang seakan tiba-tiba tersadar bahwa sebenarnya Asmiannur adalah pariban-ku, istilah dalam adat Batak untuk sepupu jauh yang bisa dinikahi. Aku tidak pernah akrab dengan anggota keluar besarku. Jadi mudah bagiku ketika mulai mendekati Asmiannur untuk mewujudkan harapan keluargaku, yang cekikikan di belakang seperti gadis-gadis remaja, membayangkan aku menikah dengan gadis ayu yang tinggi semampai itu.

Satu-satunya hal yang tidak kusukai dari Asmiannur adalah dia bisa menulikan dirinya dari dari omongan orang lain. Jika menurutnya aku harus pergi ke acara pernikahan pemuda kampung yang sedang bertikai denganku, maka aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Dia tidak dapat menerima penjelasanku. Dia berbisik di kamar bahwa silaturahmi tetap harus dijaga, bermusuhan tak boleh berlama-lama. Mudah baginya mengatakan demikian, karena dia tidak pernah saling meninju batang hidung dengan pemuda congkak itu.

Sesekali aku memerhatikan Asmiannur memasak. Bagaimana dia bisa membuat daging – semua daging; sapi, ayam, enthok, angsa, kelinci – menjadi begitu lembut seperti bolu mentega yang pernah dibuatnya untuk acara khitanan Nando Hoei, anak tionghwa muslim di kampung kami sini.

“Masaknya mesti empat kali, baru dibumbui,” jelasnya, masih tak melihat wajahku, berkonsentrasi pada potongan daging yang beberapa saat lalu kusembelih di belakang rumah.

image: inkity.com

Aku bersandar di ambang dapur sambil menghisap rokok. Kuperhatikan tiap gerak-gerik Asmiannur yang sedang bekerja. Dia menunduk, duduk, merogoh, menekan kebawah… Bagiku dia tampak seperti sedang menari. Dia melakukan tarian itu berulang-ulang, ke bagian kanan dan kiri dapur seperti penyanyi profesional yang melakukan penguasaan panggung; seakan tanpa lelah. Empat set tarian untuk setiap proses memasak; sebuah ritual demi tekstur daging terbaik. Isteriku dan tariannya yang mencolok.

Malam harinya, aku duduk di ruang santai, menonton TV yang kecil. Rokok diantara jemariku hampir habis. Aku mengetuk abunya di bibir asbak ketika menyadari Asmiannur berjalan masuk. Masakannya sudah selesai. Kuhisap rokok untuk terakhir kalinya lalu menekannya di tengah-tengah asbak.

Aku duduk di depan meja makan seperti anak kecil. Lalu mengambil piring, menumpahkan dua sendok nasi ke atasnya, dan mulai makan tanpa suara. Begitu juga Asmiannur yang melahap nasinya dengan kuah kuning kental tanpa daging.

“Sawi pahit mau? Biar aku masak sebentar.”

“Ya, ya. Masakkanlah.”

Asmiannur pergi ke dapur. Merebus sawi pahit tidaklah lama. Tapi aku sudah selesai makan dengan cepat. Dan aku harus minum. Aku pergi ke dapur untuk mengambil gelas dan sisa teh manis di ceret. Sepintas, kusentuh pinggul isteriku dengan kedua tangan. Ia menoleh. Wajahnya malu tapi dia berusaha menyembunyikannya.

“Gak apa-apa, tho,” kataku, seolah mengingatkan diriku sendiri bahwa orangtuaku adalah orang Jawa. “Ibumu juga udah minta-minta cucu.”

Asmiannur tertawa kecil sambil mendorong bahuku. Aku menyambung tawa kecilnya seusai mereguk minumanku. Lalu kudekati dia dan berkata, “Mi, cium, Mi.”

Asmiannur menurunkan sudut-sudut bibirnya, melawan keinginan untuk tertawa malu. Dia memejamkan matanya seperti takut ketika aku mendekatkan wajah. Dia tertawa di bibirku ketika kuputar-putar bibirku di bawah hidungnya, supaya dia tergelitik.

Romansa orang desa.

Memalukan tapi dapat dimaafkan.

Diluar, anak-anak perempuan kecil bergerombol menuju mesjid untuk mengaji bersama Pak Ustadz. Mereka menyanyi-nyanyi dibawah sinar bulan. Potongan terakhir nyanyiannya terdengar seperti ini, “Sorong ke kiri, sorong ke kanan. La la la la la la la la la la la.”

Iklan

12 pemikiran pada “(FIKSI) Dansa Nona Angsa

      • hehe … iyain aja deh.
        Tapi, kok yang saya tangkap Asmianur bukan sosok yang “kuat” ya, cenderung lembut, patuh, dan nakal <— karakter yang saya suka πŸ˜€

      • ndak tadi aku ngomentari yang gambaran mas El tentang nona angsa. hehe.
        kalo asmiannur saya sendiri malah gada gambaran pasti. πŸ˜• saya cuma ngebayanginnya kayak kakak sepupu saya yang di kampung, terutama waktu jaman2nya dia masih baru pacaran (sama sepupu saya juga dari pihak bapak). :mrgreen:

      • ya seperti yang saya bilang, saya nggak punya penggambaran yang pasti tentang Asmiannur. dan judul ceritanya sendiri lebih saya dedikasikan kepada lagunya. saya suka jika judulnya sedikit absurd. saya juga lebih suka mengarang karakter yang lebih mendekati orang nyata, jika mungkin. jadi tokoh2nya gak begitu teridentifikasi oleh dialog2 yang dalam kehidupan nyata mungkin canggung untuk diucapkan. 😳

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s