Ketika Mars BELUM Butuh Ibu Dari Bumi

Sudah pernah nonton film Mars Needs Moms (2011)? Kalau belum, saya rekomendasikan untuk nonton film animasi 3D ini. Film yang menggunakan teknik animasi motion-capture ini cocok ditonton oleh semua umur. Dan bersiaplah berlinang airmata saat menyaksikannya. 😉

Di film ini diceritakan makhluk Mars menculik para ibu “ideal” dari Bumi setiap 25 tahun sekali (periode kelahiran bayi-bayi Mars) untuk diambil memorinya dan diaplikasikan pada robot-robot pengasuh, Nannybots. Namun sebagai konsekwensinya, nyawa si ibu juga ikut dikorbankan. 😦

Milo, 10 tahun, berusaha menyelamatkan ibunya dari tradisi Mars yang kejam itu. Dibantu oleh Gribble dan Ki, cewek Mars yang berpihak pada manusia, Milo harus membebaskan ibunya sebelum matahari terbit.

Mars sebenarnya tidak selalu didominasi oleh para wanita. Dulu mereka juga berkeluarga seperti layaknya manusia, ada ayah dan ibu yang mengasuh anak-anak. Namun the supervisor dan para tetua menutupi kebenaran ini selama sekian lama dari sedoyo rakyat Mars.

Latar belakang sejarah dalam cerita film itu mungkin sejalan dengan sejarah yang ada di dunia nyata. Jaman dulu (abad 19 kebelakang) seakan-akan hampir segalanya memiliki aturan dan tradisi yang ketat, termasuk dalam urusan keluarga dan parenting. Sehingga rasanya belum ada istilah ibu yang ideal ataupun kurang ideal sehingga menjadi alasan makhluk semacam penghuni Mars menculik para ibu Bumi.

Seperti apakah model pengasuhan di masa lalu? Berikut beberapa contohnya yang aku kutip dari situs neatorama.

Dari Romawi hingga Viking

Dalam masyarakat Romawi kuno, hukum pengasuhan diikat oleh prinsip patria potestas, yaitu kekuasaan sang ayah. Ayah berhak melakukan apapun terhadap anak, termasuk menjual mereka sebagai budak, bahkan membunuhnya. 😯

image: italophiles.com

Setiap anak diberikan semacam jimat sejak 9 hari setelah kelahirannya. Jimat itu disebut bulla yang bentuknya seperti kantong berisi benda-benda yang dianggap membawa keberuntungan dan dijadikan mata kalung. Seperti jimat-nya anak-anak di Indonesia yang terbuat dari kain hitam itu lho. Bedanya, bulla terbuat dari bahan kulit hingga emas.

Sementara di era Yunani kuno, anak-anak diberi berbagai mainan seperti boneka dan mainan kereta perang, yang dipercaya akan menjadi petunjuk tentang jalan hidup mereka kelak.

Sementara anak-anak perempuan dibesarkan di rumah hingga mereka menikah, anak-anak lelaki bisa memperoleh pendidikan. Mereka diperbolehkan bergabung bersama para pria dewasa dalam diskusi politik, dan diperbolehkan melontarkan candaan tapi tidak boleh marah kalo dicandain. (Serius amat peraturannya.) Gak bisa kebayang kalo anak-anak kecil jaman sekarang ngobrol-ngobrol soal politik sama temen-temen bapaknya. 😕

Dalam budaya Mesopotamia, anak-anak dirawat selama dua hingga tiga tahun. Para ibu menyanyikan nina-bobo yang berisikan doa-doa atau semacam mantra dengan tujuan supaya para dewa tidak marah mendengar tangisan bayi mereka. Anak-anak diberikan mainan berupa senjata-senjataan dan permainan yang kalo sekarang disebutnya “rumah-rumahan.”

Hubungan orangtua dan anak memiliki aturan yang jelas. Anak laki-laki sangat diutamakan dalam keluarga. Namun jika anak itu membangkang, orangtua memiliki hak untuk melakukan suatu tindakan sebagai konsekwensinya.

Jika anak mengatakan pada ayahnya, “Kau bukan ayahku.” Maka sang ayah berhak memotong rambutnya kemudian menjualnya sebagai budak. Jika anak mengatakan pada ibunya, “Kau bukan ibuku.” Maka sang ibu berhak memotong rambutnya dan mengusirnya dari rumah atau kota itu.

Sementara jika ayah mengatakan pada putranya, “Kau bukan anakku.” Maka sang anak harus meninggalkan rumah itu tanpa memiliki apapun. Jika sang ibu mengatakan hal yang sama, maka sang anak harus meninggalkan rumah tersebut.

Para viking di Skandinavia abad pertengahan juga memiliki tradisi yang unik. Mereka biasa mengirimkan anak mereka untuk diasuh oleh keluarga lain. Hal itu bisa mengindikasikan sebuah penghormatan, ataupun menunjukkan kekuasaan/dominasi.

Dari semua bentuk pengasuhan masa lalu ini setidaknya ada satu kesamaan yang cukup kentara. Yaitu anak laki-laki dianggap lebih bernilai dibandingkan anak perempuan dalam keluarga. Anak-anak perempuan hanya diberikan pendidikan untuk mengurus rumah, sementara anak laki-laki, terutama yang berasal dari keluarga kaya, dapat memiliki pendidikan dan hak sosial tertentu.

Orangtua bahkan tega membunuh anak-anak yang tidak diinginkan untuk menekan jumlah kelahiran. Pada masa lalu hal itu sudah dianggap sebagai pembunuhan dan tindak kriminal yang tidak sah, kecuali dalam masyarakat-masyarakat lain seperti Yunani kuno. Akan tetapi hukum semacam itu belum begitu dikenal atau populer.

Abad 19

Model pengasuhan di abad 19, terutama di Amerika, cenderung diatur oleh status ekonomi keluarga. Semakin tinggi status sosialnya, semakin sedikit keterlibatan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Semuanya ditinggalkan pada para pengasuh atau pelayan yang diatur untuk tinggal di sisi lain rumah. Kemudian pada umur 8 tahun si anak langsung dimasukkan ke sekolah asrama. (Sedih. 😕 )

Bagi keluarga menengah kebawah, pengasuhan anak-anak biasanya dibantu oleh saudara atau kerabat sang ibu. Sejak dini, anak-anak sudah dibiasakan untuk membantu pekerjaan rumah hingga membantu mencari uang bagi keluarga.

Sekarang…

Anak-anak jaman dulu diajarkan untuk selalu bersikap dan bicara sopan kepada orang dewasa.

Kalo anak-anak jaman sekarang sih justru kerap merepotkan hingga mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kepada orangtua. Termasuk saya sendiri pastinya. 😳 Saya dan generasi saya, lebih tepatnya (nggak mau disalahin sendirian).

Pengantin muda di Madras, India. (image: lurvely.com)

Mungkin kita bisa bersyukur bahwa model pengasuhan jaman sekarang tidak sekonservatif dan se-‘sadis’ jaman dulu. Namun kita juga harus mengingat bahwa masih banyak anak-anak di belahan dunia berbeda, atau mungkin masih di Indonesia juga, yang menjadi korban tradisi atau perlakukan tidak layak dari keluarganya.

Masih ada masyarakat-masyarakat tertentu yang buta akan kepentingan anak-anak perempuan sehingga banyak anak perempuan yang tidak memiliki pendidikan yang layak, bahkan harus menikah pada usia yang sangat muda.

Juga orangtua-orangtua tidak bertanggungjawab yang melakukan penganiayaan terhadap anak-anaknya sendiri serta mengeksploitasi mereka demi kebutuhan pribadi.

Kita, dan saya sebagai anak, pastinya telah sering, dengan banyak cara, membuat orangtua kita sedih dan kecewa. Tapi pengasuhan bukan hanya persoalan kontrol orangtua terhadap anak, dan orangtua tidak pernah bermaksud menyakiti kita dalam usahanya mendidik dan mengajarkan yang benar. Semua yang terjadi dalam pengasuhan bertujuan agar kita menyadari nilai dari tiap anggotanya—ayah, ibu dan anak-anak—dalam sebuah proses untuk mengembangkan sikap kasih sayang yang meningkatkan kualitas dalam keluarga. Terutama pada setiap level kesulitan yang harus dilalui bersama.

Dalam Mars Needs Moms, Milo sangat menyesal atas ucapannya yang membuat ibunya sedih. Keduanya belajar melihat nilai dari hubungan orangtua-anak pada diri mereka masing-masing, melalui bentuk tindakan saling menyelamatkan nyawa satu sama lain, di planet Mars.

“I’m sorry…for what I said before,” kata Milo. “My life wouldn’t be better without you.” 😥

Setiap kesempatan dalam kehidupan bersama orangtua/anak adalah satu langkah menuju pemahaman yang lebih baik tentang kekuatan cinta dan kasih sayang. Love works on so many level. So let’s not give up on just one.

Iklan

13 pemikiran pada “Ketika Mars BELUM Butuh Ibu Dari Bumi

  1. What a complete description from you, Ilham. 🙂

    Kalau mau, coba baca masalah kritik sastra. Classical Theory Since Plato. Aku mendapatkan banyak hal menarik dari apa yang kubaca di buku itu.

      • Memang bahasa Inggris. 😀

        Wah, masa? Nanti dishare filenya deh kalo memang mau. Atau mau baca hard-covernya. Sedikit kok. Cuma 1500 halaman. 😀

      • Hehe, memang sedikit kok. :))

        Well, seperti yang Ilham tuliskan di post yang sekarang. Ada bagian menarik masalah patriarki yang juga di dalam buku ini dibahas oleh Mary Wollstonecraft, yang sekarang sering disebut-sebut sebagai feminis liberal. Bukunya The Vindication of Women Right itu keren abis lho. 😀

        Ah, kalau memang selain menonton film, Ilham suka membaca juga. Ini buku yang menarik. Menambah wawasan. 😉

      • aku baca sekilas katanya buku itu memang sangat dihargai. tapi mungkin aku cuma sanggup baca ulasannya aja di situs2 atau blog lain. mas teguh bikin aku penasaran sama isi buku itu.. maklum, biasanya aku cuma baca novel.. :mrgreen:

  2. Ping balik: Beauty | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s