[Dongeng] Salim Dan Bola-Bola Ajaib

Jaman dahulu ketika manusia dan hewan saling berbicara, hiduplah seorang anak laki-laki kecil bernama Salim. Ia tinggal di rumah kecil bersama ibunya di dekat hutan.

Salah satu kegiatan Salim setiap hari adalah mengambil air di sungai yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.

Pada suatu malam, ibu Salim sakit keras. Anak itu sangat takut akan terjadi apa-apa pada ibunya.

“Maukah kau merebuskan rempah-rempah untuk ibu, Salim?” pinta ibunya.

Salim bergegas pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah ibu yang ia sayangi. Tapi ada satu masalah, air dalam kendi hampir tandas, tidak cukup untuk merebus selembar daun ara sekalipun.

Salim menengok keluar jendela. Malam sudah hampir larut dan bulan purnama bersinar terang.

“Bu, aku mau mengambil air dari sungai dulu,” Salim pamit pada ibunya.

“Tidak! Kau tidak boleh keluar di malam bulan purnama. Kau bisa tertimpa musibah dan tak ada seorangpun yang bisa menolongmu,” ibunya memperingatkan.

“Aku tetap akan pergi. Aku mau menyembuhkan ibu.” Airmata mengurai dari kedua mata kecilnya.

“Baiklah,” jawab sang ibu, memegang tangan puteranya. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam gulungan ikatan sarungnya. Sebuah kantong berwarna hitam. “Di dalam kantong ini ada dua buah bola. Keduanya berguna saat kau menghadapi bahaya. Lemparkan yang merah ke arah musuhumu agar ia menjadi lumpuh selama beberapa saat. Yang satunya lagi, bola yang biru, kau harus menelannya untuk membuat tubuhmu menghilang dari pandangan musuh. Apa kau mengerti, Salim?”

Salim mengangguk sambil menerima kantong hitam itu dari tangan ibunya. Ia memeluk ibunya lagi sebelum pergi meninggalkan rumah.

Di perjalanan, tiba-tiba Salim mendengar suara keras dari kejauhan.

Buumm… Buumm…

Salim menghentikan langkahnya sambil mendengarkan.

Bummm… Bumm…

Kemudian suara itu menghilang. Salim meneruskan langkahnya.

Ketika sadar, kaki Salim menginjak tanah yang lembek dan licin. Ia mengucek-ngucek matanya. Sekonyong-konyong, ia mengenali suara aliran sungai yang dikenalinya. Hatinya begitu gembira. Ia meraup segenggaman air dan minum beberapa kali.

Salim mulai mengisi kendinya dengan air ketika suara berdebum itu terdengar lagi, tapi kali ini lebih keras dan terasa lebih dekat.

BUUMM!

Salim menegakkan badan, berusaha melihat ke seberang sungai. Dia nyaris tidak bisa melihat apa-apa. Urat-urat lehernya menegang. Ia bersiap lari atau bersembunyi.

“Psstt!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Secara naluriah Salim menjauhi sisi kirinya. Ada makhluk hidup dibalik batu besar itu. Manusia atau hewan kah?

Suara berkecipak beberapa kali membuat Salim mengerutkan dahi karena penasaran. Ia mengangkat lenteranya dari tanah dan mengarahkannya ke balik batu besar. Ada genangan air, dan seekor ikan berwarna hitam berenang-renang gelisah.

“Psstt! Anak kecil. Tolong. Tolong aku,” ujar ikan berkumis itu.

“Ikan lele…,” bisik Salim. “Kenapa kau bisa disini? Kau mau aku kembalikan ke sungai?”

“Tunggu! Kita harus sembunyi,” ujarnya tergesa-gesa.”Situasinya sangat berbahaya.”

“Bahaya apa?” Salim memandang ke kegelapan di seberang sungai. “Suara yang tadi? Apa itu bahayanya?”

Ikan lele itu mengeluarkan mulutnya dari permukaan air, membuka dan menutup seperti kehabisan nafas. “Buto Abang. Hap-… Hop-…”

“Kau kekurangan air?”

“Bi-..bisakah kau memasukkanku kedalam kendimu? Tolong.”

Salim melirik kendinya. “Ibuku butuh air di kendi ini. Dia sedang sakit. Maafkan aku.”

“Tolonglah. Jika kau tidak membantuku, bahaya bisa mengancam seluruh negeri.”

BUMM!!

Salim menoleh dengan wajah ketakutan.

“Cepat, sembunyikan aku didalam kendimu!” perintah ikan lele itu.

Salim mendengar suara pepohonan di seberang sungai diterobos oleh sesuatu yang besar. Dengan cepat, ia memindahkan ikan lele itu kedalam kendinya.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Salim, panik.

“Larilah sekencang yang kau bisa!” jawab ikan lele itu.

Salim bangkit dan berlari menuju hutan. Nafasnya terengah-engah, kakinya sakit, beberapa kali ia nyaris terjatuh. Sampai akhirnya ia benar-benar jatuh karena tersandung batang kayu tua besar. Kendinya melayang dan jatuh di depannya. “Oh, Tidak!”

Ia buru-buru menegakkan kendinya yang terguling. Sebagian air di dalamnya tumpah, tapi masih cukup bagi ikan lele itu untuk bergerak leluasa dan bernafas. “Kau tidak apa-apa, Anak Kecil?”

“Namaku Salim, bukan Anak Kecil,” ia mengoreksi dengan kesal.

BUM!! “Graaahhh…!!!”

Salim berbalik. Di depannya, pepohonan tampak bergoyang, sebagian terdengar jatuh atau patah. Kemudian muncul di hadapan Salim, sosok setinggi pohon-pohon di sekitarnya, berkulit merah dan berbadan besar. Bahunya sebesar kepala manusia. Kepalanya sendiri seperti tertutupi rambut hitam panjang dengan sebuah tanduk mencut di depan dahi. Mata bulat merah menyala, seperti beruang yang kelaparan. Bibirnya hitam dan tebal. Ketika ia membuka mulutnya, barisan gigi kekuningan yang semuanya adalah taring berkilat-kilat tajam. “Gandha! Gandha!!” geramnya.

Salim buru-buru mengeluarkan kantong hitamnya. Ia mengeluarkan bola seukuran batu sungai kecil berwarna merah lalu melemparkannya ke arah Buto Abang. Ketika bola itu mengenai perutnya, raksasa itu mengaduh kesakitan dan seketika jatuh berlutut di tanah.

“Ayo!” teriak si ikan lele.

Salim bangkit dan mulai berlari lagi. “Bola merah itu tidak akan bertahan lama. Bagaimana jika dia mengejar kita lagi?”

“Sebenarnya dia mengejarku. Aku Pangeran Gandha dari kerajaan seberang. Ketika berburu sendirian di hutan, aku bertemu Buto Abang. Dia ingin menculikku untuk meminta tebusan berupa kekayaan. Buto Abang bukanlah pemangsa manusia. Dia hanya tertarik pada harta dan barang-barang berharga. Aku mengubah diriku menjadi ikan untuk bersembunyi darinya, tapi makhluk itu tetap bisa mengenaliku.”

Bum…! BUM…!

“Dia sudah memulihkan kekuatannya.” Salim berusaha mempercepat larinya. Tapi ia malah berhenti karena kelelahan. “Aku tidak sanggup… lagi…”

“Gandha…!” seruan makhluk itu semakin terdengar keras. Sampai akirnya ia muncul lagi di hadapan sang bocah.

“Pangeran, telanlah bola ini,” bisik Salim kedalam kendi sambil memasukkan bola berwarna biru.

“Dimana Gandha? Serahkan ia padaku,” kata Buto Abang. “Aku tahu dia ada bersamamu, manusia kecil!”

“Dia tidak ada bersamaku,” ujar Salim, taku-takut.

Buto Abang merampas kendi dari sisi tubuh Salim dan membuka tutupnya.

Makhluk itu menunjukkan gigi-giginya yang tajam saat menatap air jernih yang kosong. Dengan marah ia melemparkan kendi itu. Salim berhasil menangkap kendi itu tepat sebelum menyentuh tanah. Ia langsung lari meninggalkan Buto Abang.

“Terimakasih, Salim,” ujar Pangeran Gandha ketika ia telah kembali ke wujud manusianya. Pangeran itu adalah seorang pemuda yang gagah. Usianya pastilah belum 30 tahun. “Ini, aku membawa kantung air bersamaku ketika malih wujud saat menghindari kejaran Buto Abang. Semoga ibumu sehat kembali. Besok, aku akan menjemput kalian untuk tinggal bersamaku di istana.”

Salim dan ibunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik semenjak tinggal di lingkungan istana. Seluruh negeri mengenang Salim sebagai pahlawan muda yang menyelamatkan putra mahkota serta kerjaan mereka.

—————————————-

Judulnya kayak dongeng-dongeng di tipi aja ya, haha. Tapi nggak apa-apalah namanya juga dongeng. <- ngeles

Semoga bisa meramaikan tantangan #7HariMendongeng.

About these ads

8 pemikiran pada “[Dongeng] Salim Dan Bola-Bola Ajaib

  1. Dan semoga ini bukan dongeng pertama atau terakhir yang akan kamu buat, Ilham. Hihi.
    Cuma satu yang bikin kurang nyaman tadi, ada di bagian ‘mengucek-ngucek’, :P

    Overall, tulisannya keren Ham. Tetap menulis untuk 6 hari selanjutnya ya. Di #7HariMendongeng. ;)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s