De Schat van Zwart Groef*

Pindah rumah bukan hal yang mudah bagi Robin. Terlebih jika pindah rumah sehari sebelum ulangtahunnya yang ke-11.

Ibu bilang ini hanya sementara. Mereka bisa kembali ke rumah yang lama jika Robin dan adiknya tidak betah. Tapi Kartika kan baru 8 tahun, gerutu Robin, dia akan ikut kemanapun orangtua mereka pergi tanpa mengeluh.

Dua tahun lalu, Paman dan Bibinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mereka meninggalkan rumah ini tanpa ada yang mengurusnya. Mereka tidak punya anak, jadi rumah itu diserahkan pada satu-satunya keluarga Paman Rudi yang tersisa, yaitu ibu Robin, adik perempuannya.

Robin tahu mengapa mereka pindah kesini. Mereka sedang mengalami masalah keuangan. Ayah mengelola produksi makanan beku. Sekitar dua minggu lalu, ada pencuri yang membobol rumah tempat produksi dan mencuri bahan-bahan mentah serta mesin pengolah makanan. Mereka tidak bisa lagi menutupi kerugian, dan terpaksa menggadaikan rumah untuk berusaha mengembalikan keadaan.

Keadaan rumah yang ini masih sangat baik, tapi sangat berdebu. Rumah ini adalah tempat dimana dulu ibunya menghabiskan masa kecil. Orangtua mereka adalah campuran Belanda dan Jawa. Sang ayah, kakek Robin adalah seorang mantan insinyur sistem pengairan.

Meskipun agak kecil, ada dua lantai dengan empat ruangan pada lantai atas. Robin dan Kartika mendapatkan dua kamar di lantai atas, bersama satu kamar mandi dan sebuah ruangan kecil lain yang tampaknya adalah sebuah gudang.

“Hei,” ibu mendekati Robin yang sedang duduk di anak tangga didepan teras, mendengarkan musik dari pemutar mp3. “Kamu suka kamar barunya?”

“Lumayan,” jawab anak itu sambil mengangkat bahu. Ia mencopot earpiece dari telinganya.

Ibu merangkul bahu putranya. “Kamu akan betah disini.”

Robin menatap ibunya yang tersenyum lebar. “Aku tidak akan bilang kalau aku tidak betah, jika itu yang Ibu mau.”

“Robin, bukan seperti-…”

Robin bangkit berdiri dan meninggalkan ibunya.

Dari jendela manapun, yang terlihat diluar hanyalah pepohonan dan beberapa bagian rumah-rumah lain. Tidak ada suara anak-anak kecil yang bermain atau kegiatan apapun.

“Mas, temenini aku ke kamar mandi, dong… Tika takut…” pinta adiknya.

Robin menuruti permintaan adiknya. “Mas tunggu diluar, oke?”

“Jangan tutup pintunya…”

“Iya, ya.”

Ketika Robin bersandar di dinding luar kamar mandi, ia memerhatikan ruangan di sebelah kamar adiknya.

Penasaran, ia melangkah mendekati pintu dan memutar kenopnya. Terkunci. Tapi ketika ia berbalik, tiba-tiba terdengar bunyi ceklek! Dan di hadapannya, pintu itu berderat terbuka. Sesaat ia hanya memandangi sambil berpikir. Kemudian ia mendorong pintunya hingga terbuka seluruhnya.

“Sudah kuduga,” pikirnya. “Gudang.”

“Mas Bobo…” Kartika lari mendekatinya.

“Tika! Jangan panggil aku seperti itu lagi! Itu nama kecilku, dan cuma Ayah dan Ibu yang boleh menyebutku…”

“…Bobo?”

Robin memandang adiknya dengan tatapan kesal.

“Mas, ini apa?” Kartika melongok kedalam gudang yang gelap gulita itu.

“Gudang. Udah sana,” Robin mendorong adiknya menjauh. Kemudian ia menutup pintu gudang itu dan meninggalkannya.

Jam 12 malam, Robin belum juga bisa tidur. Ia mencoba memainkan PSP-nya. Saat itulah ia mendengar suara berisik dari dalam rumah. Suaranya mirip serangga, yang disusul suara benturan teredam.

Robin nekad keluar dari kamar untuk mencari tahu asal suara berisik itu. Suaranya datang dari arah kamar Kartika. Ia berjalan mendekati kamar adiknya sambil agak berjinjit.

Robin menempelkan telinganya di pintu.

Rrrrr…. Duk! Duk!

Tidak, suara itu bukan berasal dari kamar Kartika. Tapi dari ruangan di sebelahnya.

Robin memutar kenop gudang itu dengan jantung berdebar. Haruskah dia membangunkan Ibu? Tidak, dia tidak takut. Sejak malam ini, dia kan sudah 11 tahun, benaknya.

Dengan ujung-ujung jemarinya, Robin mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ya, sudah pasti suara itu berasal dari sini.

Ketika melangkah masuk, tangan Robin menyentuh saklar lampu model lama yang berwarna hitam dan berbentuk seperti benjolan. Ia menjentikannya keatas. Cahaya kuning kemerahan memenuhi ruangan.

Ada sebuah meja besar tua, foto-foto tua, dan cermin yang juga tua, ditandai dengan permukaannya yang sudah kekuningan dan sulit memantulkan bayangan.

Robin berlutut di depan tumpukan kardus, memeriksa satu yang menimbulkan suara berisik itu. Ia menariknya sedikit keluar. Kemudian membuka dan memasukkan tangannya ke dasar kardus, sampai ia menemukan benda yang menimbulkan suara berisik itu: sebuah mainan bebek.

Ia meletakkannya di lantai, menyaksikan ketika bebek itu mencoba berjalan dengan satu kakinya yang sudah tidak dapat bergerak sempurna. Kunci putar di punggungnya pun sudah berkarat. Robin mengusapnya dengan jari, lalu tiba-tiba kunci itu lepas dari lubangnya. Anehnya, ujung kunci itu berbentuk seperti kunci pintu. Robin mengamati kunci itu di depan wajahnya.

Dari sudut matanya, ia menangkap sebuah kotak kayu yang terhimpit oleh tumpukan kardus lainnya.

Robin mencoba menariknya keluar, tapi tidak berhasil. Ia mencoba sekali lagi dengan mengangkat sedikit tubuhnya, hingga kotak itu terbebas. Benar saja, ada lubang kunci di tengah kotak itu. Ia membuka kotak kayu kehitaman itu dengan kunci dari mainan bebek, dan menemukan isinya kosong. Kecuali…

Sebaris tulisan dalam bahasa asing, tercetak di dasar kotak, dalam tinta emas yang mulai pudar.

“Vephar, laat de…duisternis vallen optwijfels en verdriet…**” Robin membaca dengan patah-patah.

Tiba-tiba muncul hembusan angin yang menerpa dirinya. Robin menjatuhkan kotak itu ke lantai karena takut.

Lalu entah dari mana datanganya, seekor burung gagak hitam bertengger diatas sebuah lemari tua.

Kekagetan Robin belum pulih ketika di tengah-tengah ruangan itu muncul bercak hitam yang secara ajaib melebar dengan cepat. Hingga akhirnya lutut anak itu menyentuh kekosongan dari permukaan lubang hitam itu, dan ia pun terjatuh kedalamnya.

“…Bobo…!” suara kecil Kartika membangunkannya.

Robin membuka mata. Di sekelilingnya hanya kegelapan. Tidak ada apapun kecuali sebuah kursi, di hadapannya. Kursi berbantal keperakan dan berkerlip-kerlip seperti sisik ular. “Duduklah, dan kau akan menerima banyak uang untuk mengganti kerugian orangtuamu,” sebuah suara parau muncul dari kegelapan dan dari dalam kepalanya secara bersamaan.

“Tapi aku tidak mau itu,” ujar Robin dalam hati. “Aku hanya ingin bersama orangtuaku, dan adikku.”

Dengan sekuat tenaga, Robin menghempaskan kursi itu ke samping. Kilatan cahaya membutakan matanya. Tubuhnya serasa melayang.

Ketika sadar, Robin sedang terbaring diluar gudang.

Kartika berlutut di sampingnya dengan wajah basah oleh airmata. “Mas Bobo…”

“Jangan panggil aku Bobo…”

Kartika membelalakkan mata, ia segera memeluk kakaknya.

Derap langkah di tangga terdengar menyusul kemunculan Ayah dan Ibu yang mendengar teriakan Kartika. Mereka datang dan memeluk kedua buah hatinya. “Ada apa, sayang?” tanya ibu khawatir.

Robin memeluk ibunya erat.

“Hei,” bisik sang ibu. “Happy birthday. Ini hari ulangtahunmu…”

“Aku tidak ingin hadiah apapun,” kata Robin. “Aku sudah menemukan harta karun. Di rumah ini. Bersama kalian.”

“Robin…” Anne memeluk putranya lebih erat.

————————————————-

Ditulis untuk meramaikan hajatan #7HariMendongeng

Cerita ini ditulis 1000 kata lebih sedikit, soalnya lumayan susah kalo mau bikin pas seribu.

Semoga bisa menghibur anak-anak di seluruh negeri (hoyoooh…). >.<‘

————————————————

*The Treasure of Black Pit (Harta Karun Lubang Hitam)

**“Vephar, let the darkness fall on doubts and sadness…” (“Vephar, jatuhkanlah kegelapan diatas keraguan dan kesedihan…”) Mantra ini cuma karangan semata (menggunakan Google Translate). Sementara Vapar/Separ/Vephar dikenal dalam sejarah, khususnya demonologi, sebagai nama Iblis ke 42 dari 72 Iblis yang disegel oleh Raja Sulaiman di masa lalu. Wew.😯

17 pemikiran pada “De Schat van Zwart Groef*

  1. Menarik, Ilham. Keren, seperti biasanya.😉
    Benar-benar punya bakat luar biasa nih kamu.

    Dan benar, harta karun paling berharga adalah keluarga. What a word!

  2. Ide cerita ini sangat bagus Mas Ilham, namun maaf, jika dikirim ke media massa akan kurang pas. Apa sebab? Sebab aku baru saja membaca teori dan kritik cerpen dari seorang editor koran terkenal. Wehehe..🙂

    Maaf ya Mas Ilham, saya agak lain komentarnya. Biar panjenengan nulis lagi, yang lebih bagus. wahahaha….

    Salam.

      • he.he..
        maaf banget lho Mas Ilham, tapi nampaknya cerita Panjenengan meloncat-loncat. Cerpen itu, katanya😦 , harus sudah meledak sejak awal paragraf. Keterangan latar bisa dijelaskan dalam dialog, dsb. wehehe…

        Tapi, kalau saya disuruh mbikin kaya cerpen Mas Ilham itu nampaknya juga akan kesulitan. hiks.

        Selamat pagi Mas..

      • memang ada beberapa bagian yang saya potong karena targetnya (kalo bisa) 1000 kata, tapi saya seringnya nulis kelebihan.🙂

        disini pd dasarnya saya memang berusaha nulisnya se-dongeng mungkin, dalam pengertian ‘cerita anak’. jadi saya berusaha mengurangi cara penyampaian yang terlalu abstrak.😀 itu juga saya dapet dari buku mungil tentang menulis cerita anak yang pernah saya baca.

        selebihnya saya yakin itu semua kembali pada kapasitas menulis saya. saya seneng kok dapet banyak masukan dari mas guru. gak salah saya ikut hajatan mendongeng ini, jadi dapet pengalaman baru dan masukan dalam hal nulis fiksi.😀
        sekali lagi terimakasih mas guru atas kontribusinya. pastinya jadi ilmu juga buat yang lainnya… eseh..

        selamat dini hari..

    • hahay itu gambarnya saya potong2 dari Mars Needs Moms sama Despicable Me. iya sih sebenernya rada nanggung mas, tapi ceritanya kemaren nulis sepanjang 1000 kata.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s