Rumah Mutiara

Segerombolan anak perempuan berlari menyeberangi lapangan. Dua diantaranya tiba lebih dulu di ujung garis finish, memungut pakaian dalam keranjang yang disediakan, kemudian berlari lagi kembali ke garis awal.

Mereka masih harus memakaikan pakaian-pakaian itu kepada teman mereka yang menunggu di belakang garis start. Yang paling cepat selesai memakaikan pakaian dialah yang menang.

Bu Nuryatin dan guru-guru lainnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat menyemangati anak-anak. Panas matahari membuat semua orang berkeringat, termasuk yang tidak ikut pertandingan. Tiara berteduh dibawah payung penjual esksrim sambil mengipas-ngipas dagunya dengan beberapa lembar daun pandan. Dia mendapatkan daun-daun itu dari dapur, sisa dari bahan pembuatan kue.

Acara 17-an di panti asuhan Mutiara Bunda tidak pernah semeriah sekaligus sepanas hari ini.

Anggi kecil mendekati Tiara untuk memegangi kipas dari daun pandan di tangannya. Dia tidak berkata apa-apa, cuma nyengir-nyengir senang memamerkan gusi depannya yang tak bergigi.

“Apa? Apa?” gertak Tiara. Anggi berhenti mencoba memegang kipas nyentrik itu. Tapi dia tetap menempel pada rok Tiara sambil kembali mengawasi perlombaan.

Gadis yang lebih besar melirik ke bawah sikunya, kemudian menyerahkan kipas daun pandan itu pada Anggi. “Nih.”

Anggi mendongk dan menerimanya dengan wajah sumringah.

“Ambilin kakak minuman lah dek,” pinta Tiara. “Sirup markisa yang di meja situ. Sana.”

Gadis kecil itu berlari dengan rasa kesetiaan terhadap orang yang juga menyayanginya.

Semua anak-anak disini bertingkah nakal, aneh, dan hidup seperti pelangi yang berkibar-kibar di punggung mereka. Kau mencintai mereka, mereka mencintaimu lebih. Itu yang orang cari dari diri mereka.

Orangtua-orangtua datang untuk mengadopsi adalah pemandangan yang jarang. Tapi ketika seorang anak diadopsi dan keluar dari panti, tiba-tiba semua orang menjadi sangat diam. Lorong-lorong panti menjadi sedingin malam-malam hujan badai. Anak-anak bermain di struktur-struktur permainan dari logam di halaman depan. Dengan aura mereka menjadi hitam-putih. Mungkin satu atau sepuluh diantara mereka berusaha merespon pikiran-pikiran yang bercampur-aduk; kemungkinan bahwa hal itu bisa terjadi di tempat ini, pada orang yang mereka kenal, dan mungkin pada diri mereka sendiri nanti.

Semua guru dan pembimbing di panti selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa setiap dari mereka punya masa depan yang baik meskipun mereka tidak punya orangtua. “Kalian bisa kok jadi apapun yang kalian mau,” kata Bu Nuryatin. “Apapun yang kalian capai kalau sudah besar nanti, itu bukan cuma buat diri kalian sendiri. Tapi juga merupakan balasan kepada Tuhan, untuk anak-cucu, serta orang-orang lain yang membutuhkan.”

Merupakan kebiasaan sesuai pelajaran anak-anak mencium tangan sebelum meninggalkan kelas. Tiara lah yang paling tidak sabar mencium tangan guru, karena ia ingin segera bermain lagi bersama teman-temannya.

~

Tiga anak perempuan duduk di lantai, bersandar di meja lobi pada suatu malam.

“Kalau kamu udah besar mau jadi apa, In?” tanya Tiara pada Intan.

Anak di sebelah kanannya menjawab, “Dokter di rumahsakit. Kamu?”

“Aku mau jadi penari Bali. Eh, tapi jadi dokter mau juga deh.” Tiara beralih ke gadis mungil di sebelah kirinya. “Kalau kamu, dek?”

“Anggi mau punya rumah yang besar!” jawabnya sambil cengengesan.

Tiara senang mendengar jawaban anak itu. Ia tersenyum dan mendorong tubuh Anggi.

“Eh, anak-anak udah malem… Ngapain disitu?? Ayo masuk!” suara serak dan tepukan tangan Bu Ratmi bergema di lorong. Anak-anak peremuan itu bergegas bangkit sambil saling menggandeng tangan. Sendal jepit mereka berkepak-kepak dengan semarak saat ketiganya berlari menuju Bu Ratmi.

~

20 tahun kemudian.

“Ma, Ma, lihat aku, Ma!” seru Ariel, anak kedua Tiara yang berusia 6 tahun. Ia melakukan salto ke belakang ketika ombak setinggi setengah meter menerpanya.

Tiara cuma melambaikan tangan. “Hati-hati,” ujarnya.

Usianya 30 tahun. Karirnya sebagai desain interior berujung pada pernikahan yang berkah dan bahagia. Pada titik ini, ia seperti berjalan lebih lambat setelah sekian lama berlari. Dan ia mulai memikirkan awal kehidupannya.

Di mata hatinya tergambar kaki-kaki anak perempuan dan laki-laki yang berlarian kesana-kemari. Ibu-ibu berjilbab yang bersorak-sorak tanpa lelah, mendorong anak-anak asuh mereka untuk berani menghadapi hidup dan untuk menyingkirkan kesendirian karena tidak memiliki orangtua.

Lorong-lorong yang bergema; Pak Reza yang sibuk dengan barang-barang donasi; Anggi… Intan… Bu Nuryatin… Orang-orang itu. Ya, terutama mereka.

Tiara bangkit dari pasir dan berjalan mendekati putranya. “Ayok, udah sore.” Ia kembali ke pondok sambil menggendong Ariel di punggung. Namira, si sulung sedang asyik memainkan ponsel ibunya di sofa.

“Aku masih mau main di pantai…” rengek Ariel.

“Kamu udah bau cumi-cumi. Mandi sana sama kakak.” Ariel terkikik geli mendengar dirinya disebut berbau cumi-cumi. Tiara mengambil ponsel dari putrinya yang berusia 9 tahun. “Kak, bawa adek mandi.”

Saat itulah ia melihat halaman Facebook-nya terbuka dan ada sebuah notifikasi permintaan pertemanan. Permintaan itu datang dari orang bernama Ranggita Shihab. Mata Tiara mendelik, ia menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya segera berkaca-kaca karena menyadari siapa pemilik nama tersebut.

Anggi kecil dari masa kanak-kanaknya berhasil menemukannya di jejaring sosial. Anggi! Anggi yang tak bergigi…

Tiara tidak bisa menggambarkan kegembiraan yang ia rasakan.

Beberapa minggu kemudian, mereka akhirnya dapat bertemu muka. Tiara memperkenalkan keluarganya, suami dan anak-anaknya, meski hanya lewat foto-foto di ponselnya.

Anggi yang sudah berusia 25 tahun adalah sarjana Ekonomi yang cantik, bertubuh mungil, tapi kali ini bergigi lengkap. Kuciran rambutnya mempermanis karakternya yang dewasa-muda.

“Kamu manis sekali, Nggi…!” pekik Tiara. “Ya ampun, aku nggak nyangka kita bisa ketemu.”

“Iya, Kak. Dan momennya pas sekali sebenernya,” jawab Anggi.

“Hah?” Tiara berpikir sejenak. “Kamu mau nikah??”

Anggi tertawa. “Kak Tiara ini nggak berubah. Tetap blak-blakan seperti dulu. Bukan, aku ada rencana yang berkaitan dengan cita-cita masa kecilku dulu.”

Tiara mengerutkan dahi. “Cita-cita masa kecil dulu…? Apa ya?”

~

Tiara meletakkan kedua tangannya di depan mulut ketika Range Rover itu berhenti di depan kompleks yang keduanya kenali. “Nggi…” ujar Tiara, tak sanggup berkata-kata. “Kamu merenovasi panti asuhan kita??”

“Kakak ingat nggak cita-citaku waktu masih kecil yang pengen punya rumah besar?” kata Anggi ketika mereka berdua duduk diatas bangku di bawah pohon, menyaksikan para tukang melakukan pekerjaan mereka.

Tiara memandang Anggi dengan tatapan kagum. “Kamu dapet uang darimana?”

“Saat ini aku kerja sebagai akuntan di firma hukum pamanku. Yah, paman dari pihak ayah angkatku. Dia bilang aku boleh menggantinya kapanpun aku bisa. Jadi yah…aku rasa ini saat yang tepat untuk mewujudkan impianku.” Anggi tersenyum. “Bagiku, rumah terbesar dan terindah itu adalah panti yang dulu aku tinggali. Dengan anak-anaknya. Dan Kakak.”

“Ini lebih dari itu, Nggi!” ujar Tiara, tak berhenti merasa kagum.

Anggi bergeser untuk memandang Tiara lebih lekat. “Ini semua juga karena Kakak. Kak Tiara selalu baik sama aku, selalu berbagi sama aku.” Senyum di wajahnya mengembang. “Karena itu aku mau menamai panti asuhan yang baru ini dengan nama Rumah Mutiara. Kakak setuju?”

Tiara memandang Anggi. Matanya berkaca-kaca karena haru. Kemudian airmatanya pun menetes.

Tiara memberikan Anggi pelukan paling hangat lalu berkata, “Inilah warisan kita untuk anak-anak lain dengan kehidupan yang sama seperti kita dulu. Inilah bentuk balasan kita pada kehidupan, seperti yang dikatakan Bu Nuryatin. Apa kamu ingat?”

Anggi tersenyum. “Ya. Aku ingat.”

——————————————————–

Warisan tidak (selalu) tentang membagikan harta dan kekayaan; namun tentang memberikan kembali kepada kehidupan yang sudah mengantarmu pada pencapaian-pencapaian hingga titik ini.

#7HariMendongeng

About these ads

4 pemikiran pada “Rumah Mutiara

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s