Magick

Demi menghidupi dirinya dan adik laki-lakinya, alih-alih menjalankan bisnis atau bekerja di kantor, Bagus bekerja sebagai peramal dan praktisi spiritual.

Pekerjaan yang tak ‘wajar’ itu setidaknya dapat memberi mereka makan. Dan membiayai sekolah Taura yang masih duduk di kelas VIII.

Masalahnya hanya satu, atau dua. Bagus sering meninggalkan adiknya sendirian untuk berkumpul bersama teman-teman komunitasnya. Ketika kakaknya pulang, mereka akan bertengkar atau tidak saling bicara sama sekali.

“Jangan pikir aku yang egois,” Bagus berkata, dengan sikap meremehkan. “Kamulah yang lebih egois. Menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri. Bukannya bersosial seperti anak-anak normal!”

“Normal?! Tidak ada yang pernah mengajariku hidup normal! Kakak sendiri berteman dengan dukun dan hantu!”

Kejadian setereotipikal selanjutnya adalah mereka selalu berbaikan jika sudah waktunya…

“Makan malam,” kata Bagus di depan pintu kamar adiknya.

Untuk yang ke-seratus-sekian kalinya, menu makan malamnya adalah nasi goreng yang biasa dijual di persimpangan. Seperti biasa pula, Bagus membeli nasi goreng kambing untuk dirinya dan nasi goreng seafood untuk Taura.

Bagus tahu adiknya suka potongan tomat, timun atau lalapan selada. Maka dia memindahkan potongan-potongan sayuran itu dari bungkus nasi gorengnya ke pinggir nasi goreng Taura. Si adik memandang sekilas sebagai isyarat berterimakasih.

“Lama-lama kamu bisa jadi kelinci,” kata kakaknya.

“Aku suka jadi kelinci,” ujar Taura pelan. Kemudian senyumannya mengembang, malu-malu sembari menyuap makanannya. Bagus mendorong pelan kepala adiknya.

“Aku tidak ingat sejak kapan kakak mulai…” Taura tidak menyelesaikan kata-katanya.

Ia duduk dengan kaki menyilang diatas kursi di depan meja kerja kakaknya yang penuh dengan barang. Buku-buku, dek kartu Tarot, lilin, benda-benda yang Taura tidak kenal, dan sebuah laptop hitam yang sedang digunakan si empunya.

“Kamu masih terlalu kecil waktu itu,” jawab kakaknya. “Kamu sudah tahu Ayah dan Ibu juga kerjaannya sama seperti kakak sekarang. Mereka bahkan lebih hebat lagi.”

Bagus melanjutkan, “Orangtua kita adalah orang-orang yang sangat dihormati di komunitas kami. Orang bilang Ayah kita orang yang baik, humoris, dan bijaksana tutur-katanya. Ibu, selalu ikut kemanapun suaminya pergi, tapi juga tak jarang ikut memberi kontribusi dalam diskusi ataupun arahan. Khususnya kepada yang muda-muda.” Ia melirik sekilas pada Taura yang mendengarkan sambil mencoret-coret kertas. “Setidaknya itu yang diceritakan temen-temenku yang lebih senior.”

Taura memandang kakaknya. “Jadi sepertinya cuma aku yang nggak-…” ia berhenti sejenak. “…Begitu-begitu.”

Bagus menjawab, “Mungkin belum.”

“Aku setahun lebih tua dari usia kamu sekarang ketika pertama kali menyadari bakatku,” lanjutnya. “Aku bisa melihat mimpi orang lain, lalu pikiran mereka, sampai apa yang mereka lakukan meski berada di tempat yang jauh. Clairvoyance istilahnya.”

Taura mendengarkan tanpa berkomentar.

Lalu ia memungut sebuah buku dari meja. Alisnya berkerut. “Buku ini salah cetak atau apa? How To Do Magick. Ada huruf k-nya di…’magic’-nya.”

“Itu bukan salah cetak, memang seperti itu,” kata Bagus menjelaskan. Ia minum kopi dari cangkir di sebelahnya lalu kembali pada laptopnya sambil bicara, “Magic dan magick yang pake ‘k’ itu berbeda, Taura. Magic itu seperti sulap yang sering kamu lihat di TV. Magic yang pakai trik. Kalau magick dengan ‘k’…”

Bagus berhenti sejenak karena berkonsentrasi pada layar laptopnya. “Magick adalah hasil dari pikiran dan keinginan yang kuat. Orang yang melepaskan mantra kemudian mengikuti kehendak alam hingga ia mencapai tujuannya.”

“Kedengarannya mudah.”

“Tapi nyatanya, tidak semua orang bisa mendapatkan keinginannya. Biasanya, karena ada terlalu banyak pengalihan dan gangguan. Godaan, rintangan, pikiran takut gagal… Itu membuat orang jadi tidak fokus. Tapi kalau berlatih, sebenarnya setiap orang pasti bisa melakukan magick. Dari yang sederhana hingga yang membutuhkan energi besar.”

Taura mengangkat aliasnya. “Oke, kedengarannya sulit.”

Bagus tersenyum sekilas pada adiknya.

~

Taura terbangun di malam hari oleh teriakan dari kamar kakaknya.

“Kak! Ada apa??” ia buru-buru menjenguk Bagus di tempat tidurnya.

Sang kakak terbaring diam seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu tiba-tiba dia membelalakkan mata seolah menahan sakit yang amat sangat.

Bagus berguling dari tempatnya dan menjatuhkan diri ke lantai.

“Kak!” Taura mencoba mengangkat tubuh kakaknya.

“Ada klien yang mencelakaiku,” kata Bagus diantara pekikan tertahan.

“Apa?? Bagaimana bisa?” Taura sangat takut dengan apa yang ada di pikirannya.

Jress! Listrik tiba-tiba padam.

Taura hendak beranjak untuk menyalakan lilin, tapi Bagus mencegahnya. “Jangan. Tunggu. Dia datang.”

Dalam keheningan yang mengerikan, di ruangan itu muncul sesosok bayangan hitam yang memancarkan pendar kemerahan seperti api yang menyala. Taura mendelik menyaksikan pemandangan di depan matanya.

“Dia ingin memerangkap jiwaku,” bisik Bagus, masih kesakitan. “AAAHHH…!!!”

“Kak…!” Taura menarik-narik kaos kakaknya.

Dia mulai menangis ketika tiba-tiba sebuah tangan dingin mencengkeram lengannya. Nafas Taura tercekat.

“Taura, pakai ini, cepat,” Bagus menyerahkan sebuah benda, sebuah kalung dengan mata berbentuk prisma sepanjang dua senti.

“Apa ini?” tanya Taura sambil buru-buru mengalungkannya ke leher.

Bagus tidak menjawab. Taura melihat ketika bayangan hitam itu bergerak mendekati. “Kak…! Apa yang harus kulakukan??”

Taura menyaksikan bayangan itu mendekat hingga hanya berjarak satu meter darinya. Tiba-tiba dia melihatnya.

Lapisan dimensi yang lain, di mata batinnya. Semuanya terhubung. Semuanya… Taura menunduk untuk menatap dadanya. Kemudian ia mendongak dan memejamkan mata.

Magick. Benaknya.

Pertama dia harus tahu apa yang dia inginkan. Kedua…

Taura bangkit berdiri. Di tengah kegelapan yang hening, ia dapat melihat jiwa kakaknya ditarik keluar oleh bayangan hitam itu, yang perlahan mulai tampak sebuah wajah padanya. Wajah manusia biasa. Laki-laki, berwajah bulat, lebih tua dari kakaknya. Dengan mata mendelik ke arah calon korbannya.

Dada Taura mengembang saat ia menghirup nafas dalam-dalam. Kemudian dengan satu gerakan cepat, ia membuka jari-jari tangannya dan menhantarkan sebuah pukulan tepat ke wajah bayangan hitam itu. Gelombang kejut berwarna putih terang berpijar sekejap ketika pukulan Taura mengenainya.

Ia mempertahankan pukulan dan tenaganya selama beberapa saat. Dalam pikirannya, Taura sedang membayangkan dirinya sendiri ketika kecil bersama kakaknya, yang mungkin tak bisa diingatnya dengan jelas saat sadar. Jadi apakah ini? Apa yang terjadi pada dirinya? Kekuatan apa yang merasukinya?

Apakah ini magick? White atau dark? Haruskah ia tahu?

Senyuman terkembang di wajah Taura ketika ia mencapai puncak kebahagiaan yang ia rasakan ketika membayangkan kakaknya, Bagus, dalam keadaan normalnya, sehat, jauh dari bahaya; dengan wajah melankoli yang sangat kentara terutama ketika ia sedang khawatir; sangat mirip foto Ayah yang sering dipandanginya setiap malam.

“Hei!” Taura berkata pada bayangan hitam yang berpendar merah itu. “Jauhi kakakku!”

Gelombang kejut yang lebih besar berpijar terang memenuhi ruangan ketika Taura melompat dan menerjang raga sukma orang jahat itu dengan bahunya.

Lampu berkedip-kedip sebelum menyala seluruhnya.

Bagus menatap wajah adiknya yang menatap balik sambil berbaring di dekat kakinya.

“Taura, maafkan kakak. Kamu…baik-baik aja kan?”

Dengan nafas terputus-putus, Taura menjawab, “Sekarang? Ya.”

~

“Apa karena kalung ini?” tanya Taura keesokan harinya.

Bagus berkerut dahi. “Pastinya bukan. Ini cuma kristal quartz. Bentuk perlindungan yang terbilang sangat minimal mengingat peristiwa semalam.” Ia kemudian menatap adiknya. “Kamu memang punya bakat, Taura. Tapi kakak tidak mengharapkan sebesar itu. Itu…”

Taura menggeleng. “Apa?”

“Yang kamu lakukan semalam adalah…the real magick,” Bagus mengisyaratkan tanda kutip dengan jarinya. “Magick yang menggunakan prinsip kunonya. Sesuatu yang sangat sulit dilakukan tanpa menggunakan medium atau ritual.”

“Yang jelas,” Bagus melanjutkan, “kamu punya bakat yang sangat besar, Taura. Lebih besar dari kakak dan semua orang yang kakak kenal di komunitas spiritual.”

“Aku takut terjadi apa-apa pada kakak.”

“Hei, itu sudah lewat. Dan berkat kamu, kakak masih bisa ada disini.”

Taura menelan ludah. “Jadi, kenapa seorang klien yang kakak bantu mau mencelakai kakak seperti itu?”

Bagus menghela nafas. “Tidak semua klien kakak orang awam, Taura. Sebagian dari mereka adalah praktisi spiritual juga…yang membeli jasa orang lain hanya untuk membanding-bandingkan kemampuan dengan dirinya sendiri.”

“Wah,” Taura berkomentar singkat.

~

Di kelasnya, Taura sedang melamun memikirkan kata-kata kakaknya dan kejadian semalam.

Ia melirik pada pena diatas bukunya yang terbuka. Sebuah ide yang ‘lucu’ hinggap di pikirannya.

Taura terus menatap benda itu, mengangkat dua buah jarinya, dan pena itu pun bergerak hingga bergulir turun keatas meja.

Anak itu tersenyum simpul.

#7HariMendongeng

Tema hari ke-5: Sihir

“The strongest magick is in your WILL.

————————-

Saya baru sadar kalau cerita saya makin melenceng dari konsep ‘dongeng’. Malah lebih mirip cerpen yang random kayaknya… πŸ˜• Semoga dapat dimaafkan… 😦

Iklan

4 pemikiran pada “Magick

    • ceritanya itu raga sukma alias jiwa orang yang dilepaskan dari raga, tapi ini ceritanya buat menyerang orang lain.. hehe. <- gara2 baca2 forsup kaskus πŸ˜† tengkyu mas tapi sebenernya ini melenceng dari dongeng

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s