Ketika Di Bukit Gembala

Mereka masih sangat muda waktu itu. Heron Jacobs 14 tahun, Juni Loki 15 tahun menjelang 16. Mereka akan duduk berdua di bukit penggembalaan domba, dibawah desiran angin dan sengatan matahari. Bicara lucu tentang bagaimana hidup mereka berjalan.

Sekolahku lumayan, kata Heron. Aku belajar menyajikan kudapan hari ini, kata Juni membalas cerita.

Dua tahun kemudian, Heron lulus dari sekolahnya. Dia tidak melanjutkan ke sekolah ke tingkat atas. Malah, dia mengikuti ayahnya bekerja di pelabuhan. Mengumpulkan ikan, mendorong perahu, bahkan sesekali ikut berlayar di malam hari. Heron terkena flu parah hari berikutnya. Tapi itu layak, anggapnya. Dia ingin menabung untuk menikahi Juni suatu hari nanti.

Sekarang giliran hidup yang bercerita lucu pada diri mereka. Juni akan pindah bersama keluarganya ke kota yang jauh. Gadis berambut ikal disanggul itu telah lebih dari siap untuk menjadi seorang lady. Agak aneh karena kenyataannya, itu lebih bisa dikatakan bahwa ia telah siap menjadi pelayan tamu-tamu kaya orangtuanya.

Heron baru saja menyelesaikan tes kesehatannya. Ia sudah memiliki modal yang cukup untuk bekerja di tempat lain, seperti kantor pajak atau penyortir surat di kantor pos.

Lalu tiba-tiba Anwar Busta, sahabatnya, menyampaikan berita tentang lowongan pekerjaan di sebuah kapal besar.

“Kapal penangkap ikan milik Rusia,” jelas Anwar penuh antusias.

Heron berkerut dahi pada temannya sejak kecil. “Aku sudah bosan berurusan dengan ikan,” katanya. Usianya sudah 17 saat itu.

“Yang kau butuhkan hanya dua bulan bekerja. Setelah itu kau bebas pergi, atau menetap dan mengumpulkan lebih banyak uang. Kita akan bersenang-senang!”

“Akan kupikirkan,” Heron berkata sambil berjalan menadahului Anwar.

~

“Kau pernah bekerja di pelabuhan?” kata Ivan Yugorvsky pada Heron. “Kau sepucat telur angsa.”

Dua laki-laki muda itu berdiri gelisah.

“Baiklah, kalian masuk. Dan jaga teman Jamaika-mu ini agar tidak berulah,” kata Ivan sambil melotot pada Anwar.

Anwar Busta melangkah masuk sambil melenggang dengan cengiran lebar kepada si pria bertubuh besar.

~

Anwar mungkin berkata benar, bahwa mereka akan bersenang-senang. Nyatanya, Heron menikmati pekerjaannya. Dia melalui banyak hal. Sebagian besar hidupnya terjadi di kapal ini, dan dua kapal lain yang pernah dilayarinya.

Limabelas tahun berselang, sebuah kecelakaan terjadi di kapal tempat mereka bekerja. Se-barel minyak bumi terbakar di sisi kapal. Heron sedang beristirahat di dekat tempat kejadian. Ia melompat dari jaring tidurnya, sebagian karena terlempar oleh ledakan.

Tapi bukan itu yang paling dikhawatirkannya saat itu. Tubuhnya bergetar menatap ke arah ledakan, dimana Anwar, sahabatnya terbakar oleh api menyala di satu sisi tubuhnya.

Lelaki itu berguling di lantai sesaat kemudian bangkit dan menjatuhkan diri ke air. Heron lah yang pertama kali melompat untuk menyelamatkan sahabat karibnya.

~

Mereka mengendarai kereta menuju kota tempat tinggal mereka dulu.

“Kita sudah bersenang-senang,” Heron berkata pada Anwar.

Anwar Busta tersenyum. Sekujur tangan kanannya berbalut perban, dan sebuah tongkat bersandar di sebelahnya. “Kita sudah melakukan lebih dari itu,” balasnya.

Mereka berhenti dari pekerjaan di kapal. Memulai hidup baru di kota kelahiran mereka.

“Kau mau menemui Juni?” tanya Anwar.

Heron tidak menjawab. Ia menatap gelisah keluar jendela kereta.

~

Heron meninggalkan kota setelah memastikan Anwar memiliki tempat bernaung. Keluarganya masih ada disana dan menyambut Anwar dengan haru setelah sekian lama tak mendengar kabarnya.

Dalam dua hari, Heron tiba di sebuah kota yang lebih besar dari tempat tinggalnya. Ia memberanikan diri melangkah masuk ke sebuah rumah yang besar dimana ia mendengar keluarga Juni tinggal.

Setelah memasuki aula rumah yang mewah, ia disambut oleh kakak laki-laki Juni, Kendrick.

“Jadi kau Heron?” tanyanya heran. “Aku kira kau lebih muda.”

Heron cuma tersenyum. “Waktu berlalu begitu cepat, kurasa.”

“Ini waktu yang bagus untuk memanen anggur, kau tahu,” ujar Kendrick dengan sedikit pongah. “Aku duga kau belum memiliki pekerjaan selepas meninggalkan kapal-yang-terbakar-mu itu?”

“Tepat seperti yang kau katakan,” jawab Heron, berusaha tabah.

“Kami punya ladang anggur di pinggir kota, siapa tahu kau mau bekerja disana. Bayarannya bagus. Ada makanan gratis di siang hari.”

Heron tersenyum pahit. “Terimakasih untuk tawarannya. Tapi aku kesini hanya untuk menemui Juni.”

“Ah, sayang sekali, Tuan Jacobs. Tapi Juni sudah tidak tinggal bersama kami.”

“Dia pindah? Kemana?”

“Bersama suaminya, tentu saja. Rumah besar Laurent.”

“Jackie Laurent? Pengusaha karpet itu?”

“Senang kau mengetahui siapa Jackie Laurent,” ujar Kendrick sambil mengangkat cangkir tehnya. “Sekarang jika kau tidak memiliki kepentingan lagi, sebenarnya aku punya banyak sekali pekerjaan.”

Heron mengangguk. “Terimakasih, Tn. Loki.”

~

Heron tidak bisa tidur di kamar penginapan kecilnya. Ia minum dan menulis surat sepanjang malam. Ia baru dapat tidur ketika matahari telah lama terbit.

Ketika bangun sore harinya, ia memutuskan untuk pergi.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah Laurent, bayangan wajah Juni semakin tajam berputar-putar di kepalanya. Rasanya ia ingin sekali menangis memikirkan apa yang sudah ia lewatkan.

Dia telah bertemu banyak wanita selama perjalanannya. Tapi ia tidak dapat berpaling dari Juni Loki yang sejak kecil dikenal dan dikasihinya.

Mengenang Juni sama saja dengan mengenang dirinya sendiri. Mereka adalah satu jiwa dalam dua tubuh yang terpisah.

Ketika tiba di rumah besar Laurent, jantung Heron berdegupan seakan ingin meledak.

Seorang pelayan yang masih muda mempersilahkannya menunggu di ruang tamu.

Ketika Juni muncul, semua keraguan dan permukaan yang tidak rata yang menyakiti perasaan Heron sekaligus lenyap. Berganti dengan kebahagiaan yang meledak-ledak seperti kembang api pada perayaan negara. “Juni…”

Ia tidak percaya akan dapat menyebut nama itu lagi di depan pemiliknya. Heron dapat merasakan lagi kaki-kaki kecil dirinya sendiri, berlari mendekati Juni diatas bukit gembala, yang telah menunggu dengan sepiring biskuit dan dua gelas susu.

“Heron,” wanita itu tersenyum, kemudian menjabat tangannya. Heron mengecup punggung tangan Juni dengan lembut. Dia sangat ingin memeluk pujaan hatinya, tapi terhalang oleh cincin berlian hitam yang melingkari jari manis wanita itu.

Juni telah berubah menjadi ratu angsa yang anggun nan mempesona. Rambutnya yang ikal ditata dengan gaya rambut yang dewasa serta keibuan. Dia seperti lukisan di dinding aula istana.

“Kau ada disini, artinya kau tahu bahwa aku sudah menikah,” kata Juni.

Heron hanya diam sambil tersenyum.

“Mengapa?” wajah Juni berubah sedih.

“Aku hanya ingin menemuimu,” jawab Heron.

Tiba-tiba tangisan Juni meledak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Mengapa kau melakukan ini? Aku sudah menikah, Heron.”

“Kau mengatakannya seolah kau melakukan sebuah dosa,” kata Heron. “Tapi…”

“Apa?!”

“Mungkin…mungkin aku telah bersikap berlebihan.”

“Kau pria bodoh! Mengapa kau berpikir dirimu pantas untukku?!” Juni bangkit berdiri dan berlari meninggalkan ruangan.

“Juni! Tunggu! Cintaku padamu tidak akan pernah berakhir seperti ini. Ingatlah itu!” Heron berkata canggung sambil menyaksikan Juni berlari di lorong. Kemudian ia berbisik, “Aku doakan semoga yang terbaik bagimu. Selalu.”

Ia pun meninggalkan tempat itu. Hatinya menjadi terlampau gusar. Tapi dia tidak juga kehilangan rasa cintanya yang justru semakim bertambah setelah menemui Juni yang kini sudah menjadi wanita dewasa.

Sesuatu dalam hatinya mengatakan agar ia bertahan dalam kesabaran. Hanya itu kunci agar ia tidak jatuh dan hancur. Bersabar, untuk waktu yang tanpa batas.

~

Dan limapuluh tahun bukanlah waktu yang lama.

Heron tinggal sendirian bersama tiga anaknya yang belum juga remaja. Janda kecil yang dinikahinya kabur tak lama setelah ia beri uang jaminan, meninggalkan ketiga anak hasil hubungan gelapnya dengan sejumlah pemuda kepada Heron.

Heron berjalan-jalan di kota ketika ia tidak tahan lagi dengan ingatan-ingatannya mengenai Juni. Matahari yang ia tatap hari ini sama dengan matahari yang menatap balik dirinya dan Juni hampir 70 tahun yang lalu. Setidaknya ia masih punya rambut di kepala, pikirnya dengan jenaka.

Pemikiran pun mengembang di benaknya ketika memandangi roda-roda kereta dan mobil motor berklakson terompet kecil.

Dia mengajak ketiga anaknya, dua putri dan satu putra, untuk pergi ke rumah besar Laurent pada hari Minggu pagi.

Ia kembali disambut oleh seorang perempuan muda yang cantik. Dan ia jelas bukan pelayan. Gadis berambut ikal panjang itu memperkenalkan dirinya sebagai, “Steffanie Laurent.” Anak satu-satunya pasangan Jackie dan Juni Laurent.

“Dimana ayah dan ibumu?” tanya Heron.

Steffanie menundukkan kepala sejenak. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum berat, “Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

Hati Heron mencelos. Ia serasa berdiri di tepi jurang.

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Um…dia di kamar. Ibuku sakit keras sejak lima bulan lalu.”

Heron duduk di sisi ranjang besar. Ditatapnya wanita yang hampir asing di matanya. Tapi ketika ia menatap balik, dua bola mata itu adalah cahaya yang sama yang menyinari hatinya puluhan tahun yang lalu.

Juni meneteskan airmata. Dia langsung mengenali siapa pria tua yang duduk di sebelah tempatnya berbaring.

“Kau berbau rosemary,” ujarnya dengan suara bergetar.

Heron tertawa ringan. “Usiaku 83 tahun dan kau mengomentari bauku?”

“Baiklah, kau juga tua,” jawab wanita itu.

Heron tersenyum sambil menggenggam erat tangan Juni yang berkeriput.

“Aku menjual mesin-mesin kapal,” Heron bercerita.

Juni menangkupkan satu tangannya lagi diatas tangan Heron. “Apa yang kaupikirkan, Heron sayang? Aku sudah tua. Kita sudah tua.”

“Kita hanya butuh sedikit sinar matahari,” balas Heron, lalu mengecup kening kekasih hatinya.

Juni menangis di bantalnya. Kemudian mengangguk-angguk sambil berurai airmata. “Ya. Aku menjawab ya.”

Setelah sembuh dari sakitnya, Juni masih memiliki sedikit waktu untuk kemudian menikah dengan Heron Jacobs. Mereka dan keempat anak mereka pindah ke rumah lama keluarga Loki yang dulu ditinggali Juni saat masih kecil.

Heron berjalan sambil menyokong pundak istrinya menaiki bukit gembala. Dimana mereka duduk, dengan sepiring biskuit dan dua gelas susu.

Bicara lucu tentang bagaimana hidup mereka berjalan.

#7HariMendongeng

Tema hari ke-7: Everlasting Love Story

—————————————————————

gambar: eganandita.blogspot.com

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s