Hari Buruk [Itu Nggak Ada]

Apa yang kalian pikirkan jika membaca ayat-ayat ini:

“Kami menghembuskan badai dalam beberapa hari yang
nahas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang
menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan di akhirat lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat/41: 16)

“Sesungguhnya Kami menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (Al-Qamar/54: 19).

Saya sempat browsing sedikit tentang topik ini dan akhirnya menemukan jawaban yang mencerahkan disini. Sementara ironisnya, saya mencopas kutipan ayat diatas dari artikel ini.

Walau artikel dalam link pertama membahas tentang kaitan hari baik/buruk dengan pernikahan, saya mencari pembahasan dalam kaitannya yang lebih umum.

Karena saya sering mengalami semacam pola-pola seperti ini dimana pada hari tertentu saya seolah mendapatkan ujian yang lebih dari hari-hari lainnya. Entah itu bertemu dengan orang-orang yang bikin saya keder, emosional, atau orang-orang di sekitar saya jadi lebih ‘menyebalkan’ dari biasanya.

Tapi yang kemudian mengubah pemikiran itu sebenarnya adalah saya sendiri.

Bahkan sebelum saya mulai intensif menjalani pengobatan untuk Bipolar, hari-hari saya nggak jauh-jauh dari masalah mengontrol emosi. Biasanya dalam satu minggu hanya satu atau dua hari adalah hari tenang bagi kondisi emosional saya, biasanya hari tenang itu dimulai dari hari Senin. Selasa hingga Kamis adalah hari ‘penumpukan pemicu’, dengan Kamis sebagai puncaknya. Sementara tiga hari sisanya, terutama Jum’at dan Sabtu adalah penentu hasil akumulasi selama hari-hari yang penuh gonjang-ganjing. (Haha memang sangat koplak tapi begitulah yang terjadi.)

Satu hal yang bisa disimpulkan adalah: hasil dari pola mingguan ini benar-benar tergantung pada bagaimana saya menanganinya.

Karena itulah dalam beberapa kesempatan kemudian, saya mencoba menguatkan diri saya lebih dari biasanya untuk tidak menuruti pola tersebut. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa melawan apa yang dulu saya sebut “kutukan rutin” setiap minggu.

Dan saya pun berhasil melewati akhir pekan tanpa meledak ataupun self-destruction. Walau dalam sebagian besar kesempatan itu, polanya jadi bergeser, sehingga saya tetap kebablasan justru di hari-hari tenang seperti Senin dan Selasa. (Semoga pembaca yang menyimak tulisan ini nggak bingung membayangkannya.😀 ) Tapi yang penting saya jadi tahu bahwa itu bukan kutukan ataupun hukuman dari Allah terhadap saya.😕

Sampai sekarang ini pun tampaknya saya masih mengalami pola-pola seperti itu. Dan saya ungkapkan bahwa “hari buruk” itu adalah hari Kamis, dan hari ‘pengumuman hasil’-nya adalah Jum’at hingga  beberapa hari setelahnya. Bentuk ujian itu biasanya datang dari kehadiran orang-orang yang memicu stres saya atau perilaku orang-orang di sekitar saya.

Karena kita nggak boleh percaya pada hari buruk, saya pun kembali pada pemahaman yang lebih sederhana yang selama ini agak-agak saya acuhkan dari hati kecil saya. Bahwa “ujian rutin di hari Kamis” ini sekedar untuk mengingatkan saya, lagi dan lagi, bahwa inilah pekerjaan utama yang mesti saya kerjakan, dengan kondisi mental saya, sebagai berkah positif dan negatif kehidupan.

Saya cenderung berkhayal bahwa saya bisa punya kehidupan seperti orang lain, dan akhirnya mengabaikan apa yang ada di tangan saya sendiri. Sepertinya kesalahan seperti ini sepele, tapi akibatnya bisa menjauhkan kita dari petunjuk-petunjuk yang udah dikasih Allah untuk hidupmu.

Terkadang masalah yang kita hindari justru bisa mengajarkan hal-hal terbesar tentang anugerah yang ingin/sudah Allah berikan kepada kita.

Yang kedua, alasan mengapa ujian-yang-agak-lebih-berat ini diberikan pada saya di hari Kamis adalah sebagai teguran dan himbauan untuk membaca Al Qur’an walau sedikit di malam Jum’at yang berkah. Karena saya memang udah nggak pernah lagi ngaji (walau hanya satu ‘ain) di malam Jum’at.

Mungkin sebagian besar dari pemikiran tenang hari buruk atau pola hari buruk yang datang secara rutin ini kedengaran konyol. Tapi saya inget dulu kakak kelas saya di SMA juga cerita kalo dia ngerasa hari sial-nya itu adalah hari Kamis.

Apapun penjelasannya, saya yakin alasan semua itu cuma satu: yaitu supaya kita mengamati petunjuk yang sedang coba ditunjukkan Allah kepada kita tentang apa yang kurang kita kerjakan dan apa yang harus kita perbaiki.

Inti yang bisa saya sampaikan disini adalah: apapun bentuk cobaan dan seberat apapun cobaan itu, sejatinya itu adalah fasilitas untuk kita naik ke level yang tinggi dalam pemahaman dan kehidupan, asal kita mau coba menghadapinya dengan sabar.

Tentang ayat-ayat yang saya sebutkan di awal, saya pribadi berpemahaman bahwa “hari yang nahas” yang disebutkan itu bukan bermakna bahwa ada hari-hari yang sengaja di-nahas-kan oleh Allah SWT. Tapi lebih sebagai keterangan pelengkap terhadap ‘beberapa hari’ yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. Penjelasan lebih jelasnya mungkin butuh pengkajian lebih lanjut. Hehe. Silahkan jika ada yang mau membantu.

29 pemikiran pada “Hari Buruk [Itu Nggak Ada]

  1. hari buruk ??? di dalam hidup saya pun sepertinya tidak ada !! malah hari hari saya semakin hari semakin menyenangkan😀 hidup itu bukan untuk di cari tapi untuk di nikmati😉 nice artikel gun !!!! salam kenal juga😀

  2. semua hari itu baik, dn hari yg pling baik adalah hri jumat. krn itu adalah hri raya mingguan’a tuk umat Islam. dmna d waktu itulah kita bsa brsilaturhmi dngn saudra2 yg lain. tp syng’a d Indo hri libur’a adalah hr minggu.😦

  3. saya juga pernah berkhayal bisa merasakan kehidupan seperti orang lain….
    yang lebih baik tentunya,,,,saat2 hari saya berkelabut masalah.

    lamz knal ya maz….
    knjungi jg di dloen.malhikdua.com

  4. dengan tekad yang kuat, pasti bisa ko ngerubah pandangan tentang hari buruk🙂
    u/ ngga emosi, harus dikontrol reaksinya. supaya ngga berlebihan.
    kadang, saya juga suka meledak kalo lagi kesel, tapi akhirnya pasti nyesel.
    makanya akan mikir 2x kalo mau marah🙂

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s