Antara Perhatian Dan Menghargai

Ada seorang gadis berusia 17 tahun yang baru diputusin pacarnya. Sebut saja namanya Susi. Karena sudah jalan sejak lama,  Susi sulit melepas mantan pacarnya itu sampai ia menderita depresi. Sampai pada satu titik dimana ia akhirnya nekad minum racun serangga. Tapi ketahuan oleh ibunya dan ia segera dilarikan ke puskesmas. Beberapa hari kemudian ia sudah bisa pulang meski dengan kondisi kejiwaan yang masih agak terguncang.

Mengetahui hal ini ayahnya pergi ke ‘orang pintar’, meminta agar putrinya bisa melupakan mantan pacarnya dan kembali ceria seperti dulu.

Esoknya, si ayah bertanya pada Susi, “Apa kamu ada mimpi, Nak? Apakah tidurmu gelisah semalam?” Susi balik bertanya, “Memangnya kenapa, Yah?”

Ayahnya pun menjelaskan bahwa jika ia merasakannya, itu adalah efek dari si dukun yang sedang ‘mengerjai’ si Susi dari jarak jauh, dengan tujuan agar ia bisa melupakan pacarnya dan jiwanya kembali sehat.

Mendengar itu Susi justru merasa kecewa sekali pada ayahnya. Dia merasa ayahnya itu terlalu gampang percaya sama orang, apalagi menyerahkan masalah anaknya sendiri kepada dukun yang Susi sendiri belum pernah temui.

Terkadang Susi merasa ayah hanya terlalu malas dan canggung untuk terlibat secara emosional dengan anaknya sendiri, lalu sembarangan bertindak yang aneh-aneh tanpa mendiskusikannya lebih dulu.

Namun akhirnya Susi sadar bahwa semua itu karena ayah perhatian dan sayang padanya, meskipun caranya kurang membuat Susi berkenan.

Bagaimana penilaianmu terhadap kasus diatas? Apakah menurutmu tindakan ayah Susi bisa dibenarkan? Apakah ketidak-berkenanan Susi bisa dimaklumi? Atau pernahkan kamu mengalami atau mendengar kejadian serupa?

24 pemikiran pada “Antara Perhatian Dan Menghargai

  1. Tindakan ayahnya jelas salah total.
    Sang ayah seharusnya masuk ke dalam kehidupan sang anak, sehingga bisa menyemangatinya dari dalam. Fokus membangun komunikasi yang sehat. Adakan program-program atau acara-acara keluarga, sehingga sang anak dibikin sibuk dan ceria dengan kegiatan/acara keluarga. Lama-lama tidak ada lagi tempat di hatinya untuk sang mantan.

  2. Yang tepat pastinya kalau akar permasalahannya sama-sama dicari. Keterbukaan itu penting. Anak harus terbuka dengan orang tuanya, dan orang tua pun harus bisa menerima keterbukaan si anak. Dan ya menyikapinya dengan bijaksana pula.

    Sikap ke dukun itu juga salah besar, karena ya memang tidak pada tempatnya. Sikap anaknya pun sangat tidak bijak. Andai saja dia bisa lebih terbuka dan mau berusaha mendapatkan kondisi emosi yang lebih normal, semua keadaan akan membaik.😀

    Begitu dek Ilham. :p

  3. menurutku sih.. cara mereka saja yang salah..
    susi terlalu tertutup dan mengurung dirinya dengan segudang kekalutan tanpa mencari dukungan dari orang-orang sekitarnya. nggak salah juga sih, karena bisa jadi itu memang karakter dari dek Susi sendiri.
    si ayah saking bingungnya tak mau susi kembali melakukan hal yang tidak2. kalau dimarahi, nanti susi makin terpuruk. tapi gimana cara mengembalikan senyum anaknya lagi? akhirnya si ayah mengambil langkah tersebut.

    namun percaya apa nggak, terkadang untuk menyelesaikan beberapa masalah itu, butuh bantuan “orang pintar”. percaya atau tidak, itu terserah masing2 individu..

    btw salam kenal ya mas ilham ^^

    • sebenernya kan bisa diambil cara medis seperti pergi ke psikolog atau psikiater. tapi karena nggak dibicarakan dulu dan gak saling memahami akhirnya mengambil kebijakan sendiri-sendiri.
      terimakasih salam kenal juga mbak tutut.

  4. cara yang paling gampang aja lah. Mengubah diri sendiri lebih sulit, lebih baik mengubah orang lain. kalau tidak berhasil, tinggal menyalahkan orang lain, kok tidak mau berubah

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s