Good Brother

zathura-a-space-adventure-original

Kemarin dulu saya pernah cerita tentang Mamak saya yang ngajarin ngaji si Bagus dan Dimas. Ya, ngaji mereka masih kontinu sampe sekarang.

Dimas masih belajar Iqra’, tapi dua-duanya ditugasi Mamak saya untuk menghapal bacaan-bacaan penting seperti doa Qunut dan ayat Kursi. Mereka juga masih rutin baca Yaasin setiap malam Jum’at.

Dari yang saya tangkap selama ini, (kemungkinan) mereka ini adalah tipikal abang-beradik seperti yang mungkin banyak kita temui. Si adik memang agak manja dan bergantung pada abangnya, sementara si abang berusaha memberikan contoh yang baik melalui tindakan dan teguran.

Menurut saya Bagus itu sosok anak yang senang menantang dirinya sendiri dan pemberani. Dia juga termasuk cerdas, tahun ini saja dia juara 4 tuh dikelasnya. Hehe. Saya sebut dia pemberani karena pernah dulu ada kejadian dimana si Bagus terlibat perkelahian di sekolahnya. Rupanya dia berkelahi karena membela temannya yang dijahati anak lain.

Kami kenal Bagus sejak dia masih bayi. Mamak saya pernah beberapa kali menjaga anak itu ketika orangtuanya sedang pergi. Kalau melihat tingkahnya dulu itu menggemaskan sekali. Dengan badannya yang monthok (bukan gemuk), cuma pake singlet sama celana dalem doang, Mamak dan mendiang Nenek saya puas menonton aksinya, kata-katanya yang meluncur bebas dari mulutnya mengomentari hal-hal yang ada di sekitar, dengan usianya yang waktu itu mungkin belum genap 3 tahun. Saya sendiri terheran-heran melihat ada anak sebijak itu.

Setiap datang mengaji, Bagus lah yang selalu pertama memulai dengan membaca lantunan “Astagfirullah robbal baroya…” Dia juga nggak mau menuruti tingkah adeknya kalau si Dimas moodnya lagi cekikikan. Soalnya Mamak saya juga bisa serem lho, kalau anak-anak itu asik cekikikan terus, ngajinya langsung dibatalkan dan anak-anak disuruh pulang. 😯

Karena saya nggak punya saudara kandung, saya kurang tahu apakah pola hubungan dan sifat abang-beradik seperti ini memang umum dan banyak ditemukan di sekitar. Si abang yang bold dan menjadi teladan, si adik yang agak nakal tapi sangat lengket dengan abangnya. Saya membayangkan betapa mengharukannya ketika mereka sudah besar dan mengenang masa kecil mereka. Pasti jadi kayak film-film drama keluarga tuh. 😛

Apakah kamu punya pengalaman dengan kakak yang menjadi panutan? Sosok kakak seperti apa yang menurut kamu baik dan ideal?

gambar: 1337x.org

Iklan

20 pemikiran pada “Good Brother

  1. Sang kakak betul2 anak yang bijak.. dan sang adik pun bisa lekat dengan kakak. Good sibling relationship ka 🙂 … kalau aku sih jg nggak punya saudara kandung, tapi hubungan kaya kisah diatas ya… ada jg.. setuju dg kaka, kalau sudah besar…
    Kalau tentang “kakak” yang jadi panutan itu banyak… bisa kakak kelas yang berprestasi, anak muda yang berguna untuk sekitar, dsb…
    sosok kakak yg menurutku baik…. kakak yang bisa memberi contoh baik ke semua.. 🙂

  2. saya punya 2 kaka 1 perempuan dan 1 lagi laki2… ke 2nya panutan saya. ke 2nya juga cenderung pendiam tapi banyak banget temenya…. sayang kaka laki laki saya telah berpulang…

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s