Lumping

untitledEntah kenapa saya merasa sangat ‘kesal’ melihat beberapa anak di sekitar lingkungan saya ikut-ikutan belajar kuda lumping. Entah siapa pengajarnya, tapi mereka latihan rutin di dekat sungai (Deli), katanya.

Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi jujur saya sangat amat terganggu melihat kenyataan seperti ini.

Saya kira pertunjukan semacam ini adalah tradisi yang harusnya diteruskan kepada generasi di sekitar orang-orang yang telah lama mempraktekkannya dan ingin mengajari generasi penerus, entah itu keturunan atau kerabat dekat yang sudah kenal baik dengan pengajarnya, tapi bukannya asal menggaet anak-anak orang.

Karena yang namanya anak-anak apalagi yang memasuki remaja itu sangat gampang terpengaruh, mereka senang karena merasa “melakukan sesuatu yang hebat”.

Beberapa hari sebelumnya guru SMP saya datang sambil menangis dan bercerita kepada Mamak saya tentang anaknya yang rupanya juga ikut-ikutan belajar kuda kepang/lumping itu. Beliau ini adalah guru agama Islam, jadi bisa dibayangkan betapa sedihnya seorang ibu yang mengajar agama melihat anaknya berdekatan dengan aktivitas yang melibatkan “kesurupan” dan bersekutu dengan makhluk gaib.

Saya sangat terganggu melihat anak-anak yang cenderung masih gampang dimanipulasi itu begitu antusias mengikuti kegiatan yang ‘tidak lazim’ seperti ini. Dan saya benar-benar berharap tokoh masyarakat sekitar ini ada yang segera menghimbau atau paling tidak meluruskan apakah kegiatan seperti ini layak dibiarkan.

Bisa dimaklumii jika sebagian masyarakat kita di jaman sekarang pun masih banyak yang beranggapan bahwa “ngelmu” dan bersekutu dengan makhluk gaib adalah cara instan agar dirinya menjadi powerful dan dikagumi/dihormati orang lain. Namun yang terbaik adalah jika kita bersikap senantiasa percaya kepada Yang Maha Kuasa dan jangan langsung tergiur dengan kekuatan dan kekuasaan yang instan.

Masih percayakah kamu dengan pertunjukan bernuansa gaib seperti kuda lumping? Bagaimana reaksi dan tindakamu seandainya adik atau anakmu mengikuti kegiatan seperti ini?

22 pemikiran pada “Lumping

  1. Wah .. aku sdh lama nggak nonton atau dengar ttg kuda lumping ya Ilham

    rasanya dilema juga ya, mungkin di satu pihak ingin melestarikan budaya, di lain pihak spt yg kamu uraiakan di atas itu, adakah kemungkinan utk menghilangkan hal kesurupannya itu dan menjadikan kuda lumping itu semacam tarian spt tarian tradisional pada umumnya tanpa hrs dibumbui dgn makan beling dsb ?

    • iya mbak bener harapannya sih gitu.
      saya rasa kelompok kuda lumping itu takut gak ada penerusnya jadinya sembarang mengajak anak2. ya gak tau juga alasannya. dan gak tau juga apakah mereka bakal dikenalkan dengan yang gaib2 seperti itu.

  2. bukannya dalam kuda lumping itu cuma trik ya ilham??
    mungkin makan beling, bara api dkk ada trik yg bsa di jelasin pke logika gitu,..

    jadi g ada hubungannya dengan fenomena kesurupan dkk,..
    soalnya g sebegitu percaya

    • iya memang ada yang pake trik tapi saya juga kurang tahu. yang membuat saya kurang nyaman sebenernya karena anak2 itu ikut2an kegiatan seperti itu. saya jadi mendapat kesan seolah mereka tanpa sadar ditanamkan penedekatan sama yang gaib2, jadi ya kurang baik aja menurut saya kalo hal itu kebawa sampe gede. lagipula prioritas anak2 itu juga kan harusnya sekolah dan main mainan yang lebih ‘wajar’, ngembangin wawasan, dsb. tapi mungkin ini hanya masalah persepsi aja sih.

      • kalo menurut persepsi aku si msi lebih baik gitu (tapi selama yg diajarin cuma gerak tarinya aja) cz kuda lumping buat anak2 biasanya yg diajarin cm tariannya,.. gx sampe ke tahap yg ‘kesurup2annya’,.. itu sih yg aku tonton,..

        menurutku itu lebih baik (karena lebih aktif ‘sekalian olah raga) dari pada anak2 main game di rumah yg cuma duduk n’ makan
        😀

  3. Kuda lumping itu khas nya Indonesia,, menurutku sih gapapa kalok di ajarin narinya aja,, buat di tampilkan seni nya aja,, tapi yang namanya kudalumping sih kurang seru kalok gag ada yang ‘mendem’, nah bagian yang kesurupan itu mending di kasihken ke orang yang masih keturunan aja deh, kayak yang di bilang dirimu tadi.

    • lha ini mbak anak tetangga saya dan anak guru saya yang disebut diatas itu dibekali cambuknya segala. kan kesannya jadi gimana gitu. tapi ya sekali lagi mungkin ini hanya persepsi saya aja yang kurang paham dengan prosedur kegiatannya sendiri jadi bikin kurang merasa nyaman ngeliatnya. tapi ya tentu saya tetap mendukung agar kesenian kuda lumping ini terus dilestarikan.

  4. Ah, saya dulu juga pernah ikut kuda lumping waktu SMP. Saat itu latihannya nari-nari saja, nggak ada yang kesurupannya… setahu saya yang namanya lumping itu juga ada semacam aliran-alirannya, jadi ada yang aliran mendem gitu dan ada yang aliran nari saja, dan banyak lagi. Kalau anak saya, atau saudara saya, ikut kegiatan seperti ini, saya akan cari tahu dulu latihannya seperti apa. Selama masih baik-baik saja, saya akan mendukung. Bagaimanapun, lumping adalah bagian dari budaya bangsa kita🙂

    Mungkin ada baiknya juga kita tidak men-judge seseorang begitu saja hanya karena mereka main lumping… atau ikut lumping… atau mengajak orang lain untuk berlatih kuda lumping. Karena mungkin prasangka-prasangka buruk kita tidak benar-benar terjadi. Lebih baik berpikir positif, caritahu dulu kebenarannya. Karena kalau kitanya terlalu cepat menilai sesuatu, apalah bedanya kita dengan orang-orang yang men-judge para rohis SMA sebagai bakal teroris (ya, saya masih ingat yang satu itu, dan saya merasa sakit hati juga, rasanya jleb banget waktu itu -,-)

    • oh gitu toh banyak alirannya. iya saya memang agak judgemental mas. saya memang kurang suka aja ngeliat orang2 yang terlalu fanatik dengan hal2 gaib seperti itu, gampang kagum dengan orang2 yang “ngelmu” dsb, contohnya seperti bapak saya sendiri. walau saya percaya dia gak akan ikut2an, tapi sejak temen2nya banyak yang begituan, kalo pas misalnya saya sakit dikit bapak saya ngadunya ke “orang pinter” makanya saya gak suka. sayang aja rasanya, saya mikir jangan sampe lah mental generasi muda malah mundur kembali kayak nenek moyang yang belum kenal Tuhan. iya saya akan coba berfikir positif aja deh. mudah2an yang diajarin ke anak2 itu yang positif2nya aja.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s