Nasi Berkat

DSC00878

Setiap Kamis sudah jadi kebiasaan Mamak saya mengikuti wiridan. Kalau nggak sakit atau ada keperluan penting, Insya Allah selalu diusahakan Mamak saya untuk datang walau harus melawan kantuk di siang hari. “Bude marah tuh, kalo Mamak nggak wirid…” katanya. Yang dimaksud adalah Bude Ijah salah satu kerabat dekat kami. Maklum, dua cewek ini memang deket banget. Sekali-kali Bude dateng ke rumah buat ngobrol dan curhat-curhatan.

Mereka berdua dan ‘cewek-cewek’ lainnya tergabung dalam sebuah girlband kelompok Marhaban. Nggak jarang setiap hari Sabtu atau Minggu mereka diminta mengisi marhabanan untuk acara hajatan seperti pernikahan.

Jadi, setiap minggu paling nggak kami bisa dapet 2-4 bungkus nasi berkat. Kok banyak amat? Soalnya, sekali “manggung” si Mamak saya biasanya suka dikasih dua paket sama yang punya hajatan. Entah apa alasannya tapi pokoknya ya Alhamdulillah aja ya. Belum lagi terkadang masih dianterin nasi berkat lagi dari hajatan yang sama. Memang rejeki nggak kemana…

Waktu kecil dulu kalo nerima nasi berkat itu rasanya kayak dianterin makanan mewah. Dulu saya nyebutnya “nasi gunung” karena bentuknya. Makannya juga suka bebagi sama Mamak atau siapapun yang mau. Pedesnya tauco nggak kerasa lagi saking serunya ngacak-ngacak nasi dengan lauknya.

Tapi kalo sekarang makan nasi berkat harus dengan  ‘manner yang lebih dewasa.’ Pertama-tama nasinya pindahkan dulu ke rice cooker dan sisakan secukupnya buat dimakan. Lauknya juga begitu, ambil secukupnya, kalo mau tambah bisa nanti, mau dihabiskan juga nggak masalah.

Soal lauk nasi berkat bervariasi. Tapi kalo disini yang khasnya selalu ada mi goreng atau bihun goreng, tauco yang pedesnya kayak iblis, dan daging sapi/ayam/kambing, direndang, gulai atau kari. Alternatif lain terkadang ada telor rebus dan kepingan kentang goreng pedas yang biasanya sudah melempem. Dan, yang selalu jadi incaran pertama yaitu adalah kue-kueannya.

Kalo saya sendiri sebetulnya kurang suka rendang atau daging sapi. Saya lebih berselera kalo lauknya pake ayam, digoreng atau gulai. Kalo kambing wis karuannya, tapi biasanya ya dimakan juga.😀

Kalau di tempatmu masih ada nggak tradisi seperti ini? Bagaimana ciri khas nasi berkat di daerahmu?

25 pemikiran pada “Nasi Berkat

    • kalo di kampung pinggir kota kayak lingkungan saya ibu2nya masih suka ‘lagan’ atau masak bersama2 buat acara hajatan. yang ikut bantu biasanya dikasih upah.🙂

  1. Malah baru tahu kalau ada yang namanya nasi berkat, hehe…😀
    Di tempat saya kalau hajatan sudah jarang yang manggil kelompok marhaban… Biasanya malah dangdutan😦

  2. Nasi berkat adalah salah satu paket nasi yang saya sukaiii…. Entah mengapa rasanya tidak pernah mengecewakan walau menunya terkadang sederhana.
    Dulu nasi berkat ini dibungkus dalam kotak besek, sekarang bermetamorfosis dalam kotak kardus bahkan ada yang dibungkus kotak dari plastik dengan penutupnya yang memperlihatkan isinya. Tapi saya paling suka nasi berkat yang disajikan dalam besek, lebih ramah lingkungan🙂

    • wah saya malah baru tahu ada yang pake besek.🙂 di daerah sini dari dulu kebanyakan ya pake daun pisang atau kertas pembungkus nasi seperti diatas. kadang2 aja yang pake kotak.

  3. Ping balik: Suvenir | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s