The Good Thief oleh Hannah Tinti

goodthief

gambar cover: kaifa.mizan.com

The Good Thief
Penulis: Hannah Tinti
Penerbit: Qanita (Mizan Grup)
444 halaman
ISBN 978-602-8579-25-4
Cet I: 2010

DSC00915

“Jika seseorang bisa menulis buku yang lebih bagus,
menyampaikan khutbah yang lebih bagus,
atau membuat perangkap tikus yang lebih bagus
daripada tetangganya, meskipun ia membangun rumah
di dalam hutan, orang-orang akan rami mengunjunginya.”
– Ralph Waldo Emerson

Novel karya Hannah Tinti ini dibuka dengan kutipan diatas.

Novel bergaya klasik ini bercerita tentang Ren anak yatim piatu berusia 11 tahun di panti asuhan Santo Antonius.

Salah satu tangannya puntung sejak lahir dan itu yang membuatnya tidak pernah dipilih ketika ada orang datang untuk mengasuh salah satu anak. Dan jika anak-anak yang tidak dipilih sudah agak besar mereka akan dikirim ke kesatuan militer.

Biara Santo Antonius hidup dengan membuat minuman anggur dan anak-anak disana bekerja dibawah asuhan para bruder.

Ren dikenal sebagai pencuri dan pembuat onar sehingga bruder Joseph bersyukur ketika suatu hari ada seorang pria muda yang memilihnya untuk diasuh.

Dia adalah Benjamin Nab, pria berambut gondrong dan memakai kacamata, yang terungkap kemudian sebagai penipu dan pencuri ulung.

Perjalanan mereka dimulai dengan mencuri kereta kuda milik seorang petani. Lalu Ren berkenalan, tidak secara resmi, dengan Tom, pria berjenggot rekan Benjamin dalam “beraksi.”

Ren segera belajar bahwa ia dimanfaatkan oleh Benjamin untuk mendapatkan uang.

“Aku tahu kau dibesarkan dengan serangkaian aturan,” kata Benjamin, “tapi kalau kau ingin tetap hidup di luar sini kau harus melanggar semua aturan itu. Pastikan apa yang kau butuhkan, dan ambil, apa pun caranya.” – Benjamin Nab

Namun diantara semua pencurian dan penipuan kecilnya, Benjamin dan Tom mengenal istilah “memancing” untuk mengisyaratkan “pencurian makam” yang kerap mereka lakukan jika ingin mendapatkan kekayaan instan. Beberapa orang menyimpan harta benda mendiang di dalam peti atau mereka bisa menjual gigi mayat.

Sampai suatu ketika mereka bertemu Mister Bowers seorang tukang gigi yang memberitahu mereka penawaran menarik.
Ada seorang dokter rumahsakit yang mau membeli mayat untuk praktek mahasiswa-mahasiswanya dan ia berani membayar tinggi.

Benjamin kelihatan terkejut ketika Mister Bowers menyebutkan North Umbrage, tempat dimana rumahsakit itu berada.

Awalnya Benjamin menolak tapi setelah mempertimbangkan akhirnya ia menyetujui dan mereka bertiga bertolak ke North Umbrage.

Kota kecil ini agak aneh dan sepi. Dulu pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan para penambang, dan janda-janda mereka terobsesi mendengarkan suara-suara suaminya yang terjebak di dalam tanah. Termasuk pemilik pondokan dimana trio Ren, Benjamin dan Tom menginap, yaitu Mrs. (Mary) Sands, yang kerap menempelkan telinganya ke tanah untuk mendengarkan suara mendiang suaminya.

Mrs. Sands memiliki masalah pendengaran, ia mampu membaca gerakan bibir orang, tapi ia sulit mendengar suaranya sendiri sehingga kalau dia bicara seperti berteriak. Pokoknya, kalo di novelnya ada tulisan yang banyak all caps alias huruf gede semua, dialog Mrs. Sands-lah itu…

Di kota itu juga ada pabrik pembuatan jebakan tikus milik Silas McGinty. Pria antagonis penguasa pasar North Umbrage.

Ia mempekerjakan “orang-orang bertopi” yang tersebar di seluruh kota untuk memantau dan mengeksekusi orang-orang yang tidak membeli barang darinya.

Eksekusi yang dilakukan begitu sadis, memotong dan mengubur hidup-hidup, seperti yang terjadi pada Dolly, seorang pembunuh bayaran yang menaruh dedndam para McGinty.

Dolly ditemukan ketika kru Benjamin pertama kali merampok makam untuk dijual tubuhnya. Ren begitu ketakukan ketika salah satu mayat galian mereka tiba-tiba bangkit duduk dan menoleh-noleh. Serem tapi lucu deh adegan ini…😀

Kemudian Dolly masuk dalam tim walau Benjamin dan Tom tidak mau menerimanya dan menyebutnya pembunuh. Tapi Ren menyukai Dolly dan mereka menjadi sahabat.

Sisa ceritanya adalah perampokan makam yang berujung tim Benjamin ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang bertopi yang sadis. Dan pengungkapan masa lalu Ren, mengapa dia menjadi yatim piatu dan siapa orangtuanya.

Karakter-karakter lain ada Brom dan Ichy, sahabat-sahabat Ren di panti, orang kerdil adik Mrs. Sands yang tinggal di atap, Jenny alias Si Sumbing gadis remaja pembuat jebakan tikus, tak lupa juga Mr. Jefferson pemilik toko buku…

Kesimpulan

Novel ini dibandingkan dan dipuji padananannya dengan novel-novel petualangan lawas ala Charles Dickens dan Robert Louis Stevenson. Jadi bisa dibayangkan bagaimana latar dan aroma ceritanya.

Walau bagi saya, entah kenapa novel ini agak kurang ‘menggigit’.

(Yak, komentar-komentar berikut ini mungkin agak negatif. Tapi semua kembali ke selera masing-masing ya…)

DSC00914Pertama-tama, sebagai ‘penggemar desain cover buku’, saya harus mengatakan cover versi Indonesia ini rada-rada “nggak banget”… Mendingan sih nggak usah pake gambar orang secara gamblang seperti itu. Sepertinya yang buat cover nggak baca atau dikasih penjelasan detil tentang usia dan ciri-ciri Ren dan Benjamin yang dia coba ilustrasikan. (Dan agak ironis, gambar cover versi luar negeri-nya dibuat menjadi desain layout di tiap awal bab dan disitu tergambar postur tubuh Ren dan Benjamin yang lebih proporsional lewat gambar siluet yang artistik.)

Ceritanya sendiri, secara ‘agak sinis’, diawali dengan petualangan yang tidak terlalu seru atau menegangkan, dan tiba-tiba semua orang kesal dan berdarah-darah dan bengkak di wajah…😯

100-150 halaman terakhir mungkin adalah bagian yang paling menarik dan membuat penasaran. Dan sayangnya plot utamanya agak bisa ditebak ketika mendekati klimaks.

Endingnya dibuat menggantung dan tidak genap. Tapi pembaca (harus) cukup puas dengan ‘jaminan kebahagiaan’ yang sudah didapatkan tokoh utamanya.

Karakter-karakter favorit saya antara lain Ren, Mrs. Sands, Dolly.

Jika boleh memberi rating, saya akan beri 3/5 yang artinya cukup bagus.🙂 Dan seandainya ada kelanjutannya, walau kayaknya nggak bakal dibikin sekuel, saya pasti mau baca.

12 pemikiran pada “The Good Thief oleh Hannah Tinti

  1. Mantab! Review yang lengkap. Saya ngga bisa bikin review begini (lha wong baca buku aja jarang, apa yg mau direview ya, Ham). Hehehe

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s