Goody Two-Shoes

Salah satu cerita klasik yang kalo nggak salah nih frasanya (“Goody Two-Shoes”) masih sering digunakan untuk merujuk seseorang yang “baik-baik”, biasanya dengan tujuan mengejek atau sarkasme. Misalnya, “Gue ngaku gue emang urakan, beda banget sama adek gue, Budi si Goody Two-Shoes yang anak mami dan kamarnya selalu rapi.” ya kira-kira gitu deh… :}

Saya nyimpen ebooknya udah agak lama tapi belum pernah baca sampe selesai. Padahal halamannya sih cuma 16, dibagi dua dengan ilustrasi jadinya cuma 8 halaman teks. Tapi entah karena malas atau bahasa Inggris-nya yang agak-agak jadul/advanced, jadinya selalu gagal baca sampe selesai.

Akhirnya saya pikir sekalian aja coba menerjemahkannya supaya termotivasi membaca sampai habis. Dengan bantuan kamus, semoga hasil terjemahan saya berikut ini nggak terlalu rancu atau mengecewakan yah (ohya maaf saya nggak upload semua gambar ilustrasinya takut jadi berat dibuka). Selamat membaca dan semoga ceritanya menghibur.😉

gtscover

GOODY TWO-SHOES

◊ ◊ ◊ ◊ ◊ ◊ ◊  ♦  ◊ ◊ ◊ ◊ ◊ ◊ ◊

Pak Tani Meanwell dulunya pria yang sangat kaya. Dia memiliki ladang-ladang luas, dan sekawanan domba yang bagus, serta banyak uang. Tapi tiba-tiba saja semua keberuntungannya pergi meninggalkannya. Tahun demi tahun panennya gagal, dombanya bermatian, dan dia harus berhutang untuk membayar sewa dan gaji pada pekerjanya di ladang.

Akhirnya ia pun harus menjual ladangnya, tapi bahkan ini tidak memberinya cukup uang untuk membayar hutang-hutangnya, dan keadaannya menjadi sangat buruk dari kapanpun.

Diantara orang yang meminjamkan uang kepada Pak Tani Meanwell adalah Sir Thomas Gripe, dan seorang petani bernama Graspall.

Sir Thomas memang sangat kaya, dan Pak Tani Graspall memiliki uang lebih dari yang bisa ia gunakan. Tapi mereka berdua sangat serakah dan pengiri, dan khususnya sangat keras pada orang yang berhutang pada mereka. Petani Graspall mengkasari Pak Tani Meanwell dan menghinanya dengan semua sebutan yang buruk; tapi Sir Thomas Gripe yang kaya lebih kejam lagi, dan dia ingin penghutang miskin itu didekam di penjara.

Maka Pak Tani Meanwell harus berpindah-pindah tempat tinggal selama bertahun-tahun, demi melarikan diri dari pria-pria rakus ini.

Dia pergi ke desa sebelah, membawa istri dan dua anaknya yang masih kecil bersamanya. Namun meski ia terbebas dari Gripe dan Graspall dia belum bebas dari masalah dan kesulitan.

Dia kemudian jatuh sakit, dan ketika ia tidak dapat memberikan makanan dan pakaian bagi keluarganya, kondisinya semakin memburuk dan memburuk dan tak lama ia meninggal dunia.

Istrinya tidak sanggup menanggung kehilangan atas suaminya, yang sangat ia cintai, dan dalam beberapa hari ia pun meninggal.

Tinggallah dua anak yatim piatu itu sendirian di dunia, tanpa siapapun yang menjaga mereka, atau merawat mereka, kecuali Tuhan.

Mereka berjalan beriringan, dan semakin miskin mereka semakin mereka bergantung satu sama lain. Betapa miskin, kumal, dan laparnya mereka!

Tommy memiliki dua sepatu, tapi Margery bertelanjang kaki. Mereka tak punya apapun untuk dimakan kecuali buah beri yang tumbuh di hutan, dan makanan sisa yang mereka dapat dari orang miskin di desa, dan malamnya mereka tidur di peternakan atau dibawah tumpukan jerami.

Saudara-saudara kaya mereka terlalu sombong untuk mengenali mereka. Tapi Mr. Smith, pendeta desa dimana anak-anak itu lahir, bukan jenis pria seperti itu. Seorang saudara kaya mengunjungi mereka–seorang pria berhati baik–dan si pendeta mengatakan padanya semua tentang Tommy dan Margery. Pria baik itu kasihan pada mereka, dan memesan sepasang sepatu untuk Margery dan memberikan Mr. Smith uang untuk membelikan mereka beberapa pakaian, yang Margery sangat butuhkan. Sementara untuk Tommu dia bilang dia akan membawanya ke lautan bersamanya dan menjadikannya pelaut. Setelah beberapa hari, pria baik itu berkata dia harus pergi ke London dan ingin membawa Tommy bersamanya, yang sedihnya harus memisahkan kedua anak tersebut.

Margery yang malang sangat kesepian, tanpa abangnya, dan dia menangis mengharu biru tapi dia senang dengan sepatu yang ia bawa pulang.

Sepatu itu menggembirakan pikirannya dari kesedihan; begitu ia mengenakannya dia berlari ke Mrs. Smith dan berteriak, “Dua sepatu, ma’am, dua sepatu!” Kata-kata ini dia ulang pada siapapun yang ia temui, sehingga ia disebut dengan nama Goody Two Shoes.

Margery kecil kini telah melihat kebaikan dan kebijaksanaan Mr. Smith, dan menurutnya itu karena ia rajin belajar; dan Margery ingin, diatas semuanya, untuk belajar membaca. Akhirnya dia membuat keputusan meminta Mr. Smith untuk mengajarinya saat dia punya waktu luang. Mr. Smith langsung bersedia melakukannya, dan Margery membaca untuknya sejam perhari, dan menghabiskan banyak waktu dengan buku-buku.

Kemudian dia membuat rencana untuk mengajari mereka yang lebih kurang paham darinya. Dia memotong potongan-potongan tipis kayu menjadi sepuluh set huruf besar dan kecil dari alfabet, dan membawanya dari rumah ke rumah. Ketika dia datang ke rumah Billy Wilson dia melemparkan huruf-huruf itu kedalam tumpukan kayu dan Billy mengutpinya dan menyusunnya dalam baris-baris, menjadi:

A B C D E F G H I J K,

a b c d e f g h i j k,

dan seterusnya hingga semua huruf berada di tempat yang benar.

Dari situ Goody Two Shoes bergegas ke pondok lainnya, dan disini ada beberapa anak menunggunya. Begitu gadis kecil itu datang mereka semua mengelilinginya, dan tak sabar memulai pelajarannya saat itu juga.

Kemudian Goody Two Shoes melempar huruf-huruf itu dan berkata pada anak lelaki di sebelahnya, “Apa yang kau makan untuk makan malam hari ini?” “Roti,” jawab anak lelaki kecil itu. “Nah, letakkan huruf pertamanya,” kata Goody Two Shoes. Kemudian anak lelaki itu meletakkan huruf R, dan selanjutnya O, dan selanjutnya T, dan selanjutnya I, dan jadilan seluruh kata–ROTI.

“Apa yang kau makan untuk makan malam, Polly Driggs?”

“Pai apel,” kata Polly; kemudian dia meletakkan huruf pertama, P, dan selanjutnya meletakkan A, dan selanjutnya I, dan seterusnya hingga kata Pai dan Apel disatukan, menjadi: PAI APEL.

Suatu malam Goody Two Shoes pulang agak terlambat. Dia berkeliling lebih lama dari biasanya, dan semua orang menunggunya, sehingga malam datang sebelum pekerjaan hariannya selesai. Senang betul dia saat pulang ke rumahnya, dan dia berjalan dengan gembira di sepanjang ladang-ladang, dan lapangan, dan jalanan, menikmati malam yang sunyi. Malam itu tidak dingin, namun pengap, dan meramalkan akan ada badai. Lalu setetes air jatuh di wajah Goody. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia tidak buru-buru dia akan basah kuyup.

Untungnya ada sebuah rumah peternakan tua di ujung jalan, dimana ia bisa berlindung, dan Goody Two Shoes menaikkan roknya dan melepas sepatunya, dan berlari seakan ada yang mengejarnya. Pemilik peternakan sudah meninggal baru-baru ini, dan properti itu sudah dijual, dan ada banyak jerami di lantai yang belum diambil.

Goody Two Shoes menekuk dirinya didalam jerami halus, senang karena berkesempatan mengistirahatkan tungkai-tungkainya yang kelelahan, dan cukup kehabisan nafas karena berlari; dan kemudian turunlah hujan, petir bergemuruh, dan kilat menyambar, dan peternakan tua itu bergetar, begitu juga Goody Two Shoes.

Dia belum lama ada disana ketika ia mendengar langkah kaki, dan tiga pria masuk ke dalam peternakan untuk berteduh. Jerami ditumpuk diantara dirinya dan pria-pria itu, sehingga mereka tidak bisa melihatnya, dan, karena berpikir mereka sendirian, mereka bicara dengan suara keras.

plotting

Mereka sedang merencanakan untuk merampok Squire Trueman, yang tinggal di rumah besar di desa Margery, dan ingin membobol masuk serta mencuri apapun yang mereka bisa malam itu juga. Ini sudah cukup bagi Goody Two Shoes. Dia tidak menunggu dan bergegas keluar peternakan, dan lari menembus hujan dan lumpur hingga dia tiba di rumah Squire.

Pria itu sedang makan malam dengan beberapa rekan, dan semuanya kecuali Goody sulit untuk mendapat izin masuk menemuinya. Tapi Goody dikenal baik oleh para pelayan, dan begitu baik dan membantu, lalu pergi memberitahu sang squire (gelar pria terhormat) bahwa Goody Two Shoes sangat ingin bertemu dengannya.

Maka sang squire meminta permisi pada teman-temannya sebentar, dan datang dan berkata, “Nah, Goody Two Shoes, gadisku yang baik, ada apa?” “Oh, tuan,” jawabnya, “jika Anda tidak hati-hati Anda akan dirampok dan dibunuh malam ini juga!”

Kemudian dia menceritakan semua yang didengarnya dari perkataan para pria ketika di peternakan tadi.

Sang squire tidak menyia-nyiakan waktu, maka dia kembali dan memberitahu teman-temannya kabar yang ia dengar. Mereka semua berkata mereka akan tinggal dan membantunya menangkap para pencuri itu. Maka lampu-lampu dipadamkan, untuk mengesankan seolah semua orang di rumah itu sudah tidur, dan para pelayan dan semua orang mengawasi lekat-lekat baik didalam dan diluar.

Tentu saja, sekita jam satu dini hari ketiga pria tadi datang mengendap-endap ke rumah dengan lentera redup, dan alat-alat untuk membobol masuk. Sebelum mereka sadar, enam pria melompat kearah mereka, dan memegang mereka dengan cepat. Para pencuri berjuang keras untuk meloloskan diri. Mereka dikunci di pondok luar hingga siang hari, ketika sebuah kereta datang dan membawa mereka ke penjara.

Mereka kemudian dikirim keluar negara, dimana mereka haru bekerja dengan dirantai di jalanan; dan dikatakan bahwa salah satu dari mereka bersikap begitu baik sehingga diampuni, dan pergi menetap di Autralia, dimana ia menjadi seorang pria yang kaya.

Dua lainnya justru semakin buruk, dan tampaknya mereka akan memiliki akhir yang mengerikan. Karena dosa tidak pernah lolos dari hukuman.

Kembali pada Goody Two Shoes. Suatu hari ketika dia berjalan melalui desa dia melihat beberapa anak lelaki nakal dengan seekor gagak, yang hendak mereka lempari dengan batu. Untuk menghentikan tindakan kejam ini Goody memberikan anak-anak lelaki itu satu penny untuk membeli si gagak, dan membawa burung itu pulang bersamanya. DIa memberinya nama “Ralph,” dan burung itu ternyata makhluk yang sangat pintar. Goody mengajarinya membaca, dan Ralph sangat senang bermain dengan huruf-huruf besar, sehingga anak-anak menyebutnya, “Alfabet Ralph.”

Beberapa hari setelah Goody bertemu sang gagak, dia melewati sebuah ladang, ketika dia melihat beberapa anak lelaki nakal menangkap seekor merpati, dan mengikatkan tali di kakinya agar bisa membiarkannya terbang dan menariknya kembali sesuka hati mereka.

Goody tidak sanggup melihat sesuatu disiksa seperti itu, maka dia membeli merpati itu dari anak-anak lelaki tersebut dan mengajarinya mengeja dan membaca. Tapi anak lelaki itu tidak bisa bicara. Dan ketika Ralph, si gagak, mengambil huruf-huruf yang besar, Peter, si merpati, mengambil huruf-huruf yang kecil.

Mrs. Williams, yang tinggal di desa Margery, memiliki sekolah, dan mengajari anak-anak kecil A B C. Kini dia sudah tua dan lemah, dan ingin berhenti dari kepercayaan penting ini untuk mengajar. Hal ini diketahui oleh Sir William Dove, ia meminta Mrs. Williams untuk menguji Goody Two Shoes dan melihat apakah dia tidak cukup pintar untuk pekerjaan itu. Ini pun dilakukan, dan Mrs. Williams melaporkan bahwa Margery kecil adalah lulusan terbaik, dan memiliki hati paling baik dari semua yang ia uji. Seluruh negeri sangat menghormati Mrs. Williams, dan laporannya ini membuat mereka juga memuji MISS MARGERY, sebagaimana kini kita harus memanggilnya.

Maka Margery Meanwell kini seorang nona guru sekolah, dan dia menjadi guru yang baik sekali. Anak-anak menyayanginya, karena dia tidak pernah lelah membuat rencana demi kesenangan mereka.

Ruangan dimana dia mengajar luas dan tinggi, dan ada banyak udara segar didalamnya; dan karena dia tahu anak-anak suka bergerak, dia menempatkan set-set huruf di sekeliling sekolah, lalu semua anak harus bangkit dan menemukan sebuah huruf, atau mengeja sebuah kata, ketika tiba giliran mereka.

Latihan ini tidak hanya menjaga kesehatan anak-anak, tapi melekatkan huruf-huruf itu lebih kuat di dalam pikiran mereka.

Para tetangga sangat baik padanya, dan salah satu dari mereka memberinya hadiah seekor burung skylark, yang nyanyian paginya memberitahukan anak-anak lelaki dan perempuan yang malas bahwa sudah waktunya mereka bangun tidur.

Tak lama setelah itu ada seekor anak domba yang menjadi liar, dan si petani hendak membunuhnya, Miss Margery membelinya, dan membawanya pulang untuk bermain bersama anak-anak.

Segera setelahnya sebuah hadiah diberikan untuk Miss Margery berupa seekor anjing, dan dia selalu ceria, dan selalu melompat kesana-kemari, anak-anak memberinya nama Jumper. Menjadi tugasnya menjaga pintu, dan tidak ada yang bisa keluar atau masuk tanpa ketahuan nona guru.

bronsisMargery begitu bijaksana dan baik sehingga beberapa orang konyol menuduhnya sebagai penyihir, dan dia dibawa ke pengadilan dan diadili di depan hakim. Ia segera terbukti sebagai wanita yang paling bijak, dan Sir Charles Jones sangat menyukainya, sehingga ia menawarinya sejumlah besar uang untuk merawat keluarganya, dan mendidik putrinya. Awalnya dia menolak, tapi setelahnya dia pergi bersikap demikian baik, dan begitu baik hati dan lembut, sehingga Sir Charles tidak ingin dia pergi dari rumahnya, dan segera setelahnya menawarkan untuk menikahinya.

Para tetangga berkerumun di pernikahan itu, dan semua orang senang bahwa anak yang tadinya seorang gadis baik, dan tumbuh menjadi wanita yang baik, akan menjadi nona besar.

Tepat ketika pendeta membuka kitabnya, seorang pria, yang berpakaian mewah, berlari ke gereja dan berteriak, “Berhenti! Berhenti!”

Kegelisahan besar terasa, terutama oleh pengantin pria dan wanita, yang dengan mereka pria itu ingin bicara secara pribadi.

Sir Charles berdiri tak bergeming karena terkejut, dan sang pengantin wanita pingsan di lengan seorang asing. Sebab pria berpakaian mewah ini ternyata adalah Tommy Meanwell kecil, yang baru saja datang dari lautan, dimana ia mendapatkan keberuntungan besar.

Sir Charles dan Lady Jones hidup sangat bahagia bersama, dan sang nona besar tidak lupa pada anak-anak, sebaik sebagaimana ia biasanya. DIa selalu baik hati dan ramah pada orang miskin, dan orang sakit, dan menjadi teman bagi semua orang yang berada dalam kesusahan. Hidupnya adalah keberkahan besar, dan kematiannya adalah malapetaka besar yang terjadi di lingkungan dimana dia tinggal, dan dikenal sebagai

GOODY TWO SHOES.

Sejarah

Goody Two-Shoes pertama kali diterbitkan pada April 1756 di London oleh perusahaan John Newbery, penerbit buku-buku anak populer.

Sejak itu telah diterbitkan dengan versi yang berbeda-beda di seluruh Inggris dan Amerika. (Seperti yang terjadi pada edisi 1888 diatas, jika kamu download ebooknya, akan terlihat perbedaan antara salah satu bagian cerita dan ilustrasinya. Disebutkan Tommy memiliki dua sepatu, dan Margery bertelanjang kaki, sementara pada ilustrasinya digambarkan Tommy tidak memakai sepatu dan Margery hanya memakai satu sepatu. Bagaimanapun kelihatannya versi yang disebutkan terakhir yang lebih populer.)

Tidak jelas siapa penulisnya, tapi kemudian hak tersebut diberikan kepada Oliver Goldsmith, meskipun belum pasti. Sebab Goldsmith sering dibayar untuk menulis fiksi jiplakan. Selain dirinya buku ini juga diatributkan kepada John Newbery sendiri, dan Giles Jones, teman Newbery.

Penerbit-penerbit seperti Newbery memang kerap membayar penulis untuk membuat karya secara anonim, sehingga tidak bisa dipastikan siapa penulis aslinya.

Istilah “Goody Two-Shoes” sendiri tidak begitu jelas asal muasalnya namun sudah ada pada satu abad sebelumnya dalam Voyage to Ireland in Burleaque karya Charles Cotton pada tahun 1670:

Mistress mayoress complained that the pottage was cold;
‘And all long of your fiddle-faddle,’ quoth she.
‘Why, then, Goody Two-shoes, what if it be?
Hold you, if you can, your tittle-tattle,’ quoth he.

Wikipedia

Download (versi asli Bahasa Inggris):

PDF (1.4MB)
PFD (B&W) (1.6MB)
EPUB (513.2KB)
Kindle (~20pg)
Full Text (12.6KB)
DjVu (1MB)

Download (versi ebook dari terjemahan diatas + ilustrasi lengkap):

PDF (1.2MB)

4 pemikiran pada “Goody Two-Shoes

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s