Dulu dan Sekarang Antara Kucing dan Kita

Seperti yang pernah saya sebutkan, tetangga saya lagi bikin sumur bor di halaman belakangnya. Habisnya sampai detik ini kami masih mengalami krisis air. Dan saat didatangi perusahaan air tampak tutup.

Beberapa anak kecil bermain-main di sekitar pengerjaan sumur. Lalu salah satunya berseru menemukan anak kucing di belakang rumah saya. Mereka menemukan dua ekor.

“Yang ini udah agak gede. Abang kan udah gede, abang megang yang ini lha…” kata satu anak.

“Kasian kali, kau ceng… Mamakmu mana, ceng?” kata yang lain.

Anak-anak kucing itu udah mereka bawa pergi sekarang.

Saya duga kucing-kucing itu anak-anaknya Big Mama, walau saya nggak yakin juga. Habisnya banyak kucing liar di sekitar sini, beberapa familiar, sebagian besar lainnya asing bagi saya. Saya jarang negor juga sih.

Tapi saya nggak mencegah ketika anak-anak membawa bayi-bayi kucing itu pergi. Cuma berharap mereka merawat kucing-kucing kecil itu dengan baik.

Saya memerhatikan adegan ini dari jendela kamar saya di belakang. Membayangkan kalau kita yang udah lajang-lajang dan dewasa ini, mungkin nggak lagi kepikiran buat memungut anak kucing liar di pinggir jalan, atau ketika melakukannya bakal disebut iseng banget atau kurang kerjaan sama orang yang ngeliat.๐Ÿ˜€ Kecuali pecinta kucing kali ya.

Saya berpikir kemana “energi mencintai sesuatu dengan begitu antusias” kita yang dulu… Kita sering mengeluh kehidupan dewasa tidak sehidup dan semenyenangkan saat masih kanak-kanak. Tapi kita lupa mengembangkan rasa cinta itu lagi, yang jika diaplikasikan pada kegiatan-kegiatan orang dewasa saat ini mungkin hasilnya akan sangat besar dan mengagumkan.

So, are you ready to explore once again?

ADVENTCHA

12 pemikiran pada “Dulu dan Sekarang Antara Kucing dan Kita

  1. Saat kecil saya tumbuh di lingkungan yang keras. Akibatnya, saya punya masalah dengan diri sendiri. Belasam dokter, psikolog, psikiater suda saya kunjungi, tapi gak ngaruh. Bahkan kemudian kesehatan saya ikut terganggu.

    Nyaris putus asa dengan karakter saya yang semakin tidak nggenah, sayapun berobat ke paranormal. Gak dikasih obat atau jampi-jampi, tapi cuma disuruh merawat binatang apapun yang saya temui terlantar, kurang makan, sakit atau sekarat. .

    Sebenarnya saya gak suka binatang, tapi saran itu saya turuti. Saya pilih kucing dan burung karena gak nampak galak.. ALhamdulillah, gak sampai setengah tahun problem saya teratasi. Dan sekarang, sudah 20 tahun lewat, kondisi saya semakin baik. Dan meskipun tetap gak suka binatang, tapi saya masih merawat kucing-kucing terlantar. Burungnya tidak, karena disekitar rumah saya sudah gak ada burung lagi.. .

    • wow keren. mungkin biar belajar bertanggungjawab dan “ngasihi” kali ya, bukannya “butuh” atau minta. fokusnya jadi buat orang/makhluk lain. kalo saya dulu pernah ke pak haji “orang pinter”. fokusnya sih disuruh kurus๐Ÿ˜† dikasih jamu, dll. dan akhirnya kembali lagi ke dokter.
      jadi sampai sekarang masih suka ngerawat kucing yo pak. mantaf.๐Ÿ˜€ boleh minta satu ndak haha

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s