Trust

Trust – Dulu saya pernah juga cerita tentang membangun kepercayaan. Tapi kali ini ceritanya mungkin lebih ke keluarga. Sekedar analisa dan motivasi sotoy…😛 Tapi mudah-mudahan ada manfaatnya.

trust

Si Mamak bersiap belanja menunggang “Sepeda Onta”-nya.

Sejak kecil saya menyaksikan lumayan beragam “drama” kehidupan😛 yang dialami keluarga dan sepupu saya. Dulu saya bertanya-tanya mengapa orang bisa begitu stuck up sama satu kondisi dan situasi nggak menyenangkan dengan orang lain/keluarga/anak/orangtua, seolah ‘nggak berusaha lebih keras’ untuk bikin hubungan jadi netral lagi. Saya pikir karena sebagai anak tunggal saya terbiasa berusaha ngatasin semuanya sendiri.

Ketika lebih besar saya sadar memang nggak semua orang punya motivasi untuk mengkonfrontasi egonya sendiri dan segera menyelesaikan situasi emosional dengan orang lain. Dan bahwa setiap orang dalam keluarga punya perannya sendiri-sendiri bagi anggota keluarga yang lain.

Harus ada yang cukup netral dan tenang untuk jadi tempat curhat para bibi, ipar dan sepupu yang galau dalam krisis kepercayaan dengan saudara kandung atau orangtuanya sendiri.

Dari cerita-cerita itu saya belajar bahwa seringkali masalah kepercayaan itu bisa datang dari trauma masa lalu, keserakahan, egoisme, dan lain-lain. Serem kata-katanya, tapi memang itu yang terjadi dan mungkin sangat umum di banyak keluarga. “Para korban” jadi menumbuhkan rasa insekuritas atau tidak aman/nyaman pada diri karena telah dikhianati, dikecewakan, ditipu, mengalami perpisahan, menyaksikan perceraian…

Isu tak selesai seperti ini bakal mengendap di bawah sadar, jadi ganjalan yang secara teori bisa mencegah hal-hal positif yang mungkin kita dapatkan dalam kehidupan.

Kita akan terus memperpanjang tuntutan seolah nggak ada orang yang bisa memenuhi dan memperbaiki. Terus menciptakan syarat dan standar yang membatasi cara-cara orang dalam memperlakukan kita. Kita nggak akan pernah mampu mencintai jika terus butuh dicintai dan membenci orang lain yang tidak memberi kita keuntungan.

Percayalah bahwa orang mampu menerima masalah dan kekuranganmu secara terbuka tanpa mengharap perlakuan apapun sebagai balasan. Dengan sendirinya orang akan menghargai dan menyayangimu.

Dalam keluarga dan kehidupan nggak semua orang punya peran dan potensi yang sama. Perjuangan dan goal kamu mungkin berbeda hasilnya dengan orang lain yang melakukan hal sama. Tapi percayalah bahwa tidak ada yang sia-sia.

7 pemikiran pada “Trust

  1. once it broke, trust will never be the same again.
    itu kalimat yang sering saya gunakan untuk pegangan. dan saya merasakan seperti itulah. bukan berarti kita tak bisa percaya orang itu lagi, tapi mungkin dengan kadar berbeda.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s