Halte

Kemarin saya duduk di sebuah halte. Halte ini deket sama sekolah saya dulu. Tapi walaupun siang suasana sepi tanpa anak sekolah. Mungkin karena udah memasuki liburan.

Di sudut halte itu ada lapak yang menjual tabloid dan majalah. Awalnya nggak ada siapa-siapa disitu, bahkan penjualnya tak kelihatan. Lalu saya lihat-lihat sebentar majalah-majalah yang dipajang.

Seorang bapak berkulit putih, kurus dan berkumis tipis muncul ketika saya hendak duduk. Dia menanyakan dimana penjualnya. Saya bilang nggak tahu, lalu bapak itu bilang mungkin orangnya lagi shalat.

Bapak itu mengambil satu eksemplar tabloid dari pajangan dan membuka-buka isinya. Dia menunjukkan pada saya halaman tabloid yang menampilkan gambar-gambar seronok gadis-gadis barat dan Asia dalam balutan pakaian dalam yang seksi dan erotis.

Berita-berita dalam tabloid itu juga bernuansa seksual dengan judul-judul yang menarik perhatian seperti “Gairah Tiga ABG” dan semacamnya.

Sang Penjual yang memakai lobe rajutan datang dari arah yang sama dengan bapak kurus berkumis tipis. Kayaknya sih kedua bapak ini sudah saling kenal alias langganan. Mereka bertukar kata sebentar.

Lalu datang seorang ibu membonceng anak lelakinya diatas sepeda motor. Ibu itu meminta kepada penjual diambilkan “buku” gitar alias majalah mini yang biasanya berisi lirik dan kord gitar lagu-lagu populer. Sementara untuk dia sendiri ibu itu minta tabloid resep/memasak.

Halte penuh orang yang membaca tabloid dan makan, ditambah satu lagi pemuda yang menepikan sepeda motornya dan duduk di ujung.
Saya melirik pada bungkus plastik berisi kue “ongol-ongol” (kue yang berkulit dari ubi dengan isi gula merah) yang sedang dicemilin ibu tadi.

“Bu, itu beli disana, ya?” kata saya sambil menunjuk kearah penjual cak kwe nggak jauh dari halte.

“Oh, bukan. Mau, bang? Ambil aja, nih…” kata ibu itu.

Awalnya sok-sok nolak ya kan…, *pret* tapi akhirnya ngambil juga saya, sambil bilang makasih tentunya.

Setelah makan, saya pamit dan melanjutkan jalan kaki.

Di sebuah grosir saya beli minuman jus kemasan dengan harga promosi; goceng dapet tiga, yang rasanya itu maniiiis minta ampun. Kemudian saya naik angkot dan pulang.

16 pemikiran pada “Halte

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s