Menyikapi Writer’s Block

writer's block

Sebagian orang percaya bahwa Writer’s Block itu sebenarnya tidak ada, hanya mitos, atau alasan supaya kita nggak (berusaha) nulis. Saya mulai percaya teori itu, dalam arti, kita mengalami yang namanya WB ketika kondisi kita memang nggak mendukung tapi kita terus mencoba hingga memaksa untuk menulis.

Ada kalanya saya percaya ketika dilanda WB saya tetap harus bisa menghasilkan postingan walau seremeh apapun bentuknya, entah gambar doang, review atau tulisan singkat. Walau ada kalanya untuk ngusahain hal sekecil itu pun rasanya berat dan super males, nggak mood, seolah otak kehabisan tenaga.

Kadang pula saya menyikapinya bahwa WB itu ya sekedar indikasi bahwa otak memang perlu istirahat, atau kondisi tubuh lagi nggak fit karena banyak faktor yang mungkin nggak kita sadari, entah stres, kecapekan, dan sebagainya. Dan saya pun nggak bakal maksa bikin konten karena selain ngerjainnya nggak bisa enjoy, hasilnya juga nggak signifikan. Tulisan saat saya rajin nulis aja banyak yang nggak penting dan nggak jauh-jauh dari remeh-temeh yang kurang berbobot, gimana pula kalo pas dilanda WB.

Kembali pada setiap penulis dalam menyikapinya. Saya yakin banyak juga orang yang sudah terbiasa menulis setiap hari tidak masalah sedang terkena WB atau tidak.

Saya sendiri nampaknya cenderung nurutin pendapat kedua. Ketika WB, ya sebaiknya kita nggak perlu maksa jika memang nggak ada yang mau dibicarakan lewat tulisan. Karena ngeblog itu selain media mencurahkan isi hati, juga merupakan proses menggali dan mengolah ide, kadang perlu diusahain supaya dapet ide tulisan dan mencapai narasi yang benar-benar berasal dari hati serta pemahaman mengenai hal yang kita bicarakan. Sesuatu yang masih belum bisa dikuasai otak saya yang rada tumpul ini hihi.

Meski demikian banyak hal yang bisa kita lakukan, bukan untuk menghilangkan Writer’s Block dalam sekejap karena rasanya itu adalah hal yang mustahil, tapi untuk tune-up tubuh dan mental kita supaya bisa menangkap ide-ide tulisan lagi.

Habiskan waktu beberapa hari untuk berolahraga, jalan-jalan, mengerjakan hobi lain, memanjat gunung, apapun yang bisa mengalihkan pikiran kita sejenak dari kepenulisan. Setelah mendapat penyegaran mudah-mudahan kita bisa mendapatkan kembali flow dan ide-ide baru untuk menulis.

Tapi kalau bisa membiasakan menulis setiap hari juga lebih bagus. Ketika mengalami Writer’s Block saya biasanya break selama dua-tiga hari, tapi sembari menyimpan ide-ide kecil yang muncul di hape untuk digunakan nanti.

Bagaimana cara kamu menghadapi Writer’s Block?

eating kitten

25 pemikiran pada “Menyikapi Writer’s Block

  1. Kalau aku ya wis, ndak nulis2 sama sekali kalau kena WB. Nanti kalau mood, baru nulis lagi. Biarpun tulisanku selalu remeh-temeh tentang kegiatan sehari-hari…🙂

  2. Aduh.. kasian kittynya.
    Kalau lg WB mending BW dulu hehehe.
    Trs pas gak lagi WB, tulis sebanyak2nya postingan. Taro di draft. Jadi pas dpt WB bisa baca n sapa tahu dpt lanjutin idenya itu.

  3. Sebenarnya menulis di blog harus konsisten ya🙂
    Dalam aktivitas saya, menulis postingan di blog berada dalam kategori ‘Tidak Penting, tapi Mendesak.’ Karena untuk sekarang ini, ada banyak aktivitas penting yang harus saya utamakan. Makanya kadang saya jarang blogwalking😦
    Namun, saya selalu usahakan bertanggungjawab terhadap blog yang saya buat itu. Dengan cara memberi nafkah berupa tulisan😀 . Jadi, wajib nulis. Jangan banyak alasan hahaha

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s