Perjalanan Ngeblog: Sebelum & Sesudah

ngeblog

Baca postingan mbak Nella ini bikin saya melintas-balik ke masa lalu sebelum saya ngeblog di The Moon Head.

komentarku (FILEminimizer)

Saya akui saya adalah salah satu blogger yang pernah punya kebiasaan nebar komentar ala kadarnya seperti:

Nice info. Ditunggu kunjungan baliknya. http://linksaya.platformblog.com

Tapi percayalah, saya aslinya nggak suka nulis komen seperti itu kok. 😛

Dulu nampaknya saya berusaha masuk dalam komunitas blogger-blogger logis-strategis (istilah yang saya karang sekenanya). You know, blogger-blogger yang biasanya ngeblog soal teknologi, Internet; hobi menantang diri untuk mencapai goal-goal seperti mendapatkan dolar, trafik tinggi, page rank, Alexa rank; mencoba berbagai teknik SEO dari yang “halal” hingga yang disebut “black hat.”

Saya kagum pada beberapa blogger yang memang benar-benar sukses mencapai semua goal mereka itu. Pelan-pelan saya pun ikut belajar, walau sadar saya payah di sektor logika dan strategi; berusaha mencari pengetahuan baru dan menyimak diskusi di grup-grup facebook.

Grup-grup ini sangat membantu menjalin komunikasi antar blogger. Ada masanya saat grup-grup itu hidup dengan diskusi-diskusi panjang, namun sayangnya setelah itu dinding grup hanya dipenuhi blogger-blogger yang spamming/nebar link secara liar.

Aksi saling follow dan bertukar kunjungan serta komentar adalah ritual yang biasa. Widget chatbox yang dimodifikasi khusus sudah menjadi ornamen wajib di hampir semua blog. Tentu saja, karena lebih mudah dan cepat meninggalkan pesan dan link blog di chatbox ketimbang lewat komentar. 😛

Berbagai tutorial untuk memodifikasi blog dengan kode-kode HTML dan CSS bisa didapatkan dengan mudah melalui pencarian Google, atau langsung nanya ke grup, hampir pasti ada yang bakal ngasih link yang berguna.

Saya telah mempraktekkan berbagai hal itu, termasuk gaya berkomentar seperti yang disebutkan. Tapi dalam perjalanannya, saya sadar bahwa hobi saya yang sebenarnya dalam menulis  seolah terabaikan dengan usaha putus asa saya untuk meningkatkan trafik atau memonetisasi blog seperti blogger lain yang lebih mahir. Saya kasihan sama diri sendiri yang maksa nulis topik-topik yang nggak bener-bener saya kuasai hanya untuk menjaga blog tetap jalan.

Akhirnya saya memutuskan berhenti ngeblog sama sekali, dengan pemikiran bahwa usaha saya untuk bisa sukses ngeblog seperti orang lain benar-benar konyol dan sia-sia. Ini dikarenakan saking pengennya saya bisa ngeblog seperti orang lain, tapi belum menemukan cara yang benar.

Sampai beberapa bulan kemudian saya kembali memeriksa akun WordPress yang sudah pernah saya buat sebelumnya, dan berpikir mungkin saya bisa mencoba ngeblog lagi.

Sejujurnya saya merasa kerdil dengan kapasitas otak dan kreativitas yang seadanya, karena menurut pengamatan saya, blog-blog di wp itu khas akan konten yang menarik, unik dan berisi. Meski demikian motivasi saya masih selalu kuat untuk ngeblog. Akhirnya saya memulai blog The Moon Head, mengambil kesempatan ketika saya mulai ngobat lagi untuk Bipolar sebagai bahan cerita di blog.

Saya pun masih sering gugup dengan cerita-cerita pribadi yang saya terbitkan, tapi saya juga semakin terbawa dengan suasana dan lingkungan ngeblog yang hidup dan kaya akan cerita yang ditulis para blogger. Meski sadar kemampuan berkomunikasi saya nggak semulus orang lain, saya belajar berkomentar seperti “yang seharusnya.” Bukan semata untuk menyampaikan opini atau sekedar meninggalkan jejak, tapi karena tumbuhnya sense dan kesadaran bahwa komentar yang relevan itu sangat berarti bagi blogger yang menulis postingan, seperti juga bagi saya sebagai seorang pemilik blog.

Disini saya nggak bermaksud mengesankan blogger di platform atau niche tertentu itu buruk. Toh tiap orang punya bakat dan minat yang berbeda-beda. Dan itulah yang justru memperkaya blogosphere hingga saat ini. Dan saya juga nggak bisa maksa orang lain untuk mengubah cara berkomentar. Namun pelajaran yang mungkin bisa saya sampaikan adalah:

  • Jangan sampai kamu berjuang di medan perang yang salah.
  • Passion adalah sesuatu yang layak diusahakan, dan akan lebih awet karena kamu akan selalu tertarik dengan cara-cara baru untuk melakukannya.
  • Prestasi orang lain mungkin bisa membuat kamu termotivasi untuk mencoba meraihnya juga. Tapi sebelum kamu yakin kamu benar-benar berminat di bidang tersebut secara umum, pandanglah usahamu itu sebagai proses belajar dan mendapatkan pengetahuan baru, tapi jangan terlalu dibutakan oleh goal-goal orang lain. (Jangan sampai kamu melewatkan kesempatan untuk mengembangkan passion-mu yang sebenarnya.)

Kesimpulan (tl;dr): Kamu bisa mencoba dan berusaha sangat keras dalam hal apapun, tapi tiap orang pasti punya potensi dan passion khusus. Teruslah kembangkan dirimu untuk mengisi hidup dengan kreativitas.

Saya yakin perjalanan ngeblogmu nggak kalah seru dan menyenangkan. Apa pelajaran yang paling berkesan bagimu selama ngeblog hingga saat ini?

Iklan

17 pemikiran pada “Perjalanan Ngeblog: Sebelum & Sesudah

  1. blogging emang urusan passion. kalo sekedar komentar normatif, keluar dari topik, apalagi sekedar salam ah saya pikir itu blogging yg dipaksakan saja. parahnya, ada blogger yg kerjaanya copas, bener2 parah neh. ada blogger yg ngejer trafik pake kata kunci sex dan berbau porno, ini kebablasan cara nyari duit. walau itu sah2 saja, hak mereka, karena ada pakem blog “blog itu adalah rumah” jadi sah2 saja mau dipake jadi buat apa, mau caranya gimana.
    kalo saya, sampe sekarang cuman pura2 blogging buat temenin kopi yang lamat lamat semakin dingin.

    • iya sampe beberapa tahun belakangan masih ada aja blogger yang nyumpelin bejibun keyword yang campur aduk, termasuk yang berbau porno.

      haha jargonnya keren mas. jadi bloggingnya cuma sampingan aja ya buat nemenin kopi.

      • nah, pas gitu. soalnya ngopi gak cukup kalo gak ngerokok, ngemil, biar gak kepikiran ngrokok, ngemil, mending blogging saja.
        kalo komentar yang keluar topik, normatif, biasanya gak bales, kalo ada komentar yg gak pantes, porno, biasa saya hapus.

  2. Pelajaran yg berkesan bagiku jadi punya banyak sahabat blogget. Masuk tahun ketiga jauh dari tanah air saya tidak mengira tetap bisa punya banyak teman setanah air, teman-teman blogger terbaikku 🙂 .

  3. semakin lama saya semakin paham bahwa tujuan pertama saya membuat blog adalah untuk menulis, bukan untuk trafik. sekarang saya tidak lagi memperhatikan siapa yang membaca tulisan saya; intinya adalah saya masih bisa menulis 🙂

  4. la saya pertama nge blog karena pas galau,ha,,ha,,ha,,curhat ceritanya,la disini jauuuh dr teman ama saudara,la…-lama2,,kok jadi tempat saya untuk menyiman informasi biar nggk lupa aja,contohnya; resep masakan,,,,ha,,ha,,ha,,ha,,maklum Ibu Rumah Tangga,,,malah saya itu nggk peduli dgn trafik kunjungan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s