Internet-less & Pengembangan Diri

princess aardenDari pengalaman satu setengah bulan tanpa Internet kemarin, sejujurnya saya pikir hidup tanpa Internet itu enak lho. Mungkin saya memang harus mulai memikirkan dan menerapkan porsi online yang baik untuk diri saya.

Secara singkat, sejak bisa online dari komputer sendiri lagi kemarin, saya langsung ngerasa perbedaannya dengan ketika nggak bisa online. Dalam satu setengah bulan tanpa Internet saya merasa mengembangkan hal-hal baik dalam diri saya sendiri. Saya memang masih belum bisa mengejar pencapaian konkret di kehidupan nyata seperti peningkatan usaha di rumah ataupun pekerjaan dan penghasilan. Tapi secara pribadi saya jadi lebih fokus, lebih menikmati diri dan hobi nulis fiksi, bahkan ngerasa lebih percaya diri.

Episode-episode Bipolar juga nyaris nggak terasa ketika datang silih-berganti. Ketika suasana hati galau, saya curahkan itu untuk nulis fiksi dan membiarkan diri saya mengekspresikan perasaan sebebas mungkin. Dan itu rasanya enak dan melegakan sekali. Ketika manik saya manfaatkan itu untuk membentuk pola pikir yang positif dan membangun kepercayaan diri. Saya senang bisa mengekspresikan rasa gembira untuk hal-hal kecil yang dilakukan orang lain untuk saya.

Seperti waktu ulangtahun saya bulan lalu Mamak saya ngasih saya kue dong dengan romantisnya.😀 Rasa coklat-pisang dengan choco chips menggemaskan ditabur diatasnya. Dan saya langsung makan sepotong besar dengan lahapnya. Tapi si Mamak langsung protes tuh karena katanya harusnya doi duluan yang disuapin, cekakakak.😆

Rasanya bener-bener menyenangkan. Saat itu saya makin sadar saya sudah melewatkan banyak hal dalam hidup sejak kecil. (Tapi jangan ikutan galau ya bacanya. :P) Saya mungkin ingin bilang, saya memang orang yang agak kacau dan emosional dan nggak praktis. Dan saya rasa bukan cuma satu atau dua alasan yang menyebabkan itu. Tapi setidaknya sekarang saya ingin menerima diri saya dengan lebih nyaman. Karena kita nggak bisa melihat kesempatan untuk menolong hidup kita sendiri kalau terlalu sibuk cemas dan tertekan dengan usaha menutupi dan nggak mau nerima fakta-fakta yang ada.

Ini mungkin yang bisa saya sampaikan untuk siapapun yang merasa bisa menghubungkannya dengan situasi kamu saat ini. Memang agak menakutkan ketika menyadari diri kita sendiri bukan orang paling praktis dan agak sulit diprediksi, punya kecenderungan destruktif dan kehadiran kita nggak langsung membuat orang lain nyaman. But you know what? Screw that!😆

Maksud saya, jangan halangi energimu dengan mencoba terlalu keras membuat dirimu terlihat lebih baik. Itu cuma bakal bikin kamu jadi orang yang kaku, canggung dan semakin kehilangan fokus. Kamu bisa coba menyayangi setiap orang, terlebih keluarga dan orang dekat yang lebih mungkin untuk membantu situasimu. Dan biarkan mereka mencintaimu balik sebagai apa adanya dirimu.

Jangan takut dinilai buruk, apalagi kalau kamu tahu bahwa tindakan-tindakanmu memang nggak sempurna. Sebaliknya, kamu harusnya merasa terlindungi dan diarahkan karena orang memerhatikan dan peduli pada cara-cara dan perkembanganmu. Pahami sudut pandang orang lain terhadap suatu tujuan secara sederhana, sisanya ikhlaskan saja dan cukup fokus pada tujuan tadi dan hubungan yang kamu miliki bersama mereka.

Jangan berpikir mereka terlalu membencimu untuk memaafkanmu. Ketimbang itu, selalu lah senangi kehadiran mereka untuk kamu cintai dan mungkin mempermudah sesuatu untuk mereka (bukan untuk membantu situasimu atau memahami semua hal tentangmu sekaligus). Ini akan sangat berarti kalau kita bisa melakukannya terhadap orangtua, keluarga dan teman-teman dekat kita. Dan mungkin bisa juga membantu membangun sikap menghargai terhadap setiap orang lain yang kamu temui sehari-hari. Situasi dan kondisi di dalam dirimu akan membaik sebelum kamu menyadarinya.

Kembali pada soal porsi ber-Internet, memang sebaiknya perhatikan seberapa banyak waktu yang paling pas buat kamu online. Jangan paksa diri kalau mulai lelah. Akibatnya kita bisa kurang enjoy dan fokus melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Ingat lho, Internet itu juga seperti kehidupan nyata. Ada bagian dimana kita bisa menikmati keajaiban yang sudah dikreasikan dengan mengagumkan oleh orang lain, tapi ada juga bagian dimana kita bisa menciptakan keajaiban dengan ikut menulis dan berkarya.

Seimbangkan itu dan terus nikmati apa yang kamu kerjakan. Karena bagaimanapun akhirnya itu akan jadi bagian dari diri saya dan orang lain yang melihat dan menikmatinya. Kita semua terhubung dengan cara itu.

Selamat berkarya.

16 pemikiran pada “Internet-less & Pengembangan Diri

    • iya kira2 gitu. misalnya kita baca gejala2nya dan ngerasa cocok, biar di kroscek ke psikiater. psikiater juga beda2 sih, ada yang mau ngasih diagnosa dan jelasin tentang diagnosanya, ada yang mesti ditanya dulu apa diagnosanya.

      • Kalau konsul ke psikiater tuh berapa ya bang? Sama harganya kaya dokter spesialis ga?

        Di kuliah juga kebeneran lagi belajar neurobehaviour, tapi emang udah dari dulu tertarik sama kesehatan mental. Dan setelah baca sana sini, kalau self-diagnose, saya tuh antara BPD atau bipolar.

      • kalo harga mungkin beda2. biaya konsultasi tergantung dokternya yang nentuin. ada yang gratis, ada yg 50rb, 100rb, dll. harga obatnya juga beda2, tergantung diagnosa dan keputusan dokter.

        kalo dirasa udah mengganggu aktivitas boleh2 aja ke psikiater. tapi boleh dipertimbangkan juga efek obat itu biasanya bikin lemes dan ngantuk banget. mesti diatur biar gak malah ganggu kegiatan apalagi yg butuh proses kreatif.

      • Emang moody-an saya tuh, tapi kalau lagi semangat gila-gilaan. Tapi ke sini-sini si depresi itu makin sering dateng, parahnya kemarin bolos kuliah selama 2 minggu. Alhamdulillah, sekarang baterainya lagi penuh. Haha, maaf curcol nih.:mrgreen:

      • hehe iya dari sekarang coba dicari cara buat ngatasin yg negatif2 itu. yakinkan diri kalo kondisi jelek itu diakibatkan gangguan kimiawi di otak dan bisa kita kendalikan, maksudnya supaya jangan gampang ‘tersesat’ sama keyakinan dan dorongan2 yang salah. coba lakukan hal2 yang bisa bikin seneng dan menghibur.

      • Bener juga ya, psikiater mah orientasinya lebih ke obat. Dan saya paling anti pake pengobatan farmako.
        Meski sarjana aja belum jadi, tapi lagi iseng-iseng neliti. Dan baru tau kalau kreativitas tuh ada hubungannya sama gangguan mental, biasanya antara skizofrenia sama bipolar ini. Kalau pake obat, berarti mematikan kreativitas tadi.

      • ya mungkin gak mematikan kreativitas tapi melemahkan. karena selama ngobat tubuh kita bener2 diatur sama obatnya.
        pokoknya gimana baiknya aja supaya gak ganggu aktivitas.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s