[Fiksi] Tentakel

TENTAKEL

Aku ingin menghilangkan halusinasiku. Kecemasanku. Rasa sedih ini. Amarah ini. Rasa tak terkendali yang putus asa. Aku ingin keluar dari ruang gelap ini dan berpindah selamanya ke keluasan yang ringan dan berbau aroma segar yang tipis. Kesejukan dan keliaran alam.

Akar-akar yang menonjol dan kasar menemaniku saat aku berjalan menuruni bukit. Mereka menjulur dari tubuh-tubuh pohon yang gelap dan lembab. Dedaunannya bergoyang lambat oleh bobotnya, berkumpul seperti seikat mesin oksigen. Aku menatap ke sela pohon yang lebih lebar di depan dan melihat cahaya dari kejauhan. Rumah-rumah kecil beratap seng dan laut.

Aku pergi ke pohon itu dan mengintip kebawah. Landaian yang cukup tinggi, tapi aku akan selamat jika merosot kebawahnya. Dibawah ada jalan setapak yang tampak aus oleh langkah dan roda kendaraan.

Aku kemudian duduk diatas sebuah akar dan memeluk lutut memandangi laut yang berkilauan. Pasti membosankan terjebak di salah satu rumah-rumah itu, melakukan interaksi tanpa arti yang melelahkan dengan anak dan tetangga,  tak menyaksikan keindahan ini dari tempat ini.

Sesuatu terjadi di laut. Benda besar, sangat besar, membuat permukaan terangkat. Diameter benda itu pastilah mencapai 50 meter. Benda itu kemudian menampakkan bentuknya diantara deburan air laut yang menghujani permukaan di sekitarnya. Makhluk itu berwarna merah muda. Dia pastilah semacam gurita, meski bentuknya lebih mirip hantu dalam permainan Pac Man.

Matanya besar, bagian putihnya lebar dan berkilat menggemaskan. Bagian hitamnya berwarna kehijauan dibawah sinar matahari. Tentakel-tentakelnya gemuk dan berjumlah enam saja. Makhluk itu melirik lambat ke arah perumahan, lalu kearahku.

Dia kemudian mengangkat satu tentakelnya dan menggunakannya untuk menunjuk padaku. Suara itu kemudian bergema layaknya klakson kapal. “Aku akan memakanmu…”

“Kenapa?” kataku pelan.

“Karena kau sudah mati.”

“Bagaimana jika aku ingin tinggal?”

“Aku akan mengijinkan. Bagian burukmu ikut bersamaku.”

“Bagaimana kau melakukannya? Kau bisa menolongku?”

“Jangan beritahu aku apa yang harus kulakukan.”

Aku diam berpikir sebentar. “Boleh aku ikut bersamamu saja?”

“Aku akan menelanmu bulat-bulat.”

“Tidak apa-apa. Aku bisa duduk-duduk di rongga kepalamu.”

“Baiklah, jika itu yang kau pikirkan.”

Tentakel makhluk itu menjulur lambat. Rumah-rumah di pinggir pantai dihujani air laut yang menetes dari tentakel raksasa diatasnya.

Tentakel itu sangat berat, lembut dan sebenarnya cukup menggemaskan. Mengingkatkanku pada boneka ular yang kumiliki. Tubuhku terasa diremas dan sedikit nyeri ketika tentakel itu membungkus dan mengangkatku dari tanah. Bau amis yang tipis menguar dari air laut yang menempel pada tentakel di sekitarku. Makhluk itu menarikku dengan kecepatan yang sedikit menakutkan, sebenarnya. Seperti naik wahana yang agak terlalu cepat.

Tapi aku senang saat berhadapan dengan makhluk merah muda itu.

Aku tersenyum dan berkata, “Hai.”

Makhluk itu tak menunggu atau menawab dan langsung menceburkanku kedalam air. Aku merasakan tekanan air laut di wajah dan tungkaiku saat aku ditenggelamkan dan membuatku agak panik. Tapi kemudian aku bisa menghirup udara lagi setelah makhluk itu mendorongku melewati lubang dibawah tubuhnya.

Aku menyaksikan saat tentakel yang membungkus tubuhku mengendur dan menarik dirinya keluar melewati lubang seperti anus yang merah muda dan mengerikan. Aku menendang pelan tonjolan lubang itu dan menekannya dengan ujung kakiku. Agak keras. Aku memandang ke sekeliling. Bagian dalam makhluk ini mirip ruangan besar yang agak redup. Seperti ruangan yang seluruhnya dibungkus bahan kulit hijau pucat.

Aku nyaris gembira ketika menemukan meja dan sebuah kursi di sudut ruangan. Secara refleks aku menengadah saat makhluk itu bergerak turun. Dia sedang kembali masuk kedalam air. Aku berlari sambil mencoba menjaga keseimbangan tubuhku dan meraih kursi. Aku duduk lalu berpegangan pada meja. Dalam ketegangan aku memerhatikan ada sebuah buku dan pena diatas meja itu.

Dari luar aku mendengar suara gemuruh, tapi saat itu aku sudah menaruh perhatian pada buku bersampul kulit coklat keemasan itu. Aku merasakan makhluk itu bergerak maju melawan tekanan air. Terasa berat dan besar, sekaligus protektif dan membuat nyaman.

Aku menyentuh sampul buku itu, lalu membukanya. Itu adalah sebuah buku catatan bergaris coklat terang. Sisa halamannya kosong kecuali satu yang paling depan. Aku menutup mulutku dengan tangan saat menahan emosi yang meluap dan membaca lagi dua baris kalimat itu.

Selamat menulis.
Kau sudah sembuh.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s