Today I Learned: Dua Mitos Tentang Otak

mitos seputar otak

Hari ini saya belajar tentang dua mitos otak. Berikut ceritanya.

1. Orang hanya menggunakan 10% kemampuan otak

Yang pertama adalah mitos yang mengatakan manusia hanya menggunakan 10% kemampuan otak. Saya sempat percaya mitos ini, tapi neurosains membantah ini dan menyatakan bahwa manusia memakai 100% otaknya sepanjang waktu.

Otak menggunakan 20% energi tubuh. Fungsi otak meningkat oleh aktivitas syaraf, baik dalam kegiatan sadar (misal: mengemudi) maupun tidak sadar (misal: detak jantung).

John Henley, seorang neurolog di Mayo Clinic di Rochester, Minnesota mengatakan, “Bahkan saat tidur, area seperti frontal cortex, yang mengendalikan hal seperti berpikir tingkat tinggi dan kesadaran diri, atau area somatosensory, yang membantu orang menginderakan lingkungan mereka, dalam keadaan aktif.”

Bahkan dalam kegiatan sederhana seperti membuat kopi, occipital dan parietal lobe, motor sensory dan sensory motor cortices, basal ganglia, cerebellum dan frontal lobes (lihat gambar: Cerebrum [arahkan mouse pada bagian-bagian otak]) semuanya aktif. Sebuah badai guntur kegiatan syaraf yang terjadi hampir di seluruh otak dalam jangkauan waktu beberapa detik.

2. Otak kanan dan otak kiri

Banyak dari kita masih percaya ada orang yang dominan otak kiri, ada yang dominan otak kanan. Otak kiri diasosiasikan dengan kemampuan logika dan berpikir kritis, sementara otak kanan diasosiakan dengan seni, kreativitas, dan sebagainya.

Para ilmuwan di Universitas Utah telah menguji 1,000 otak partisipan berusia 7-29 tahun, melihat aktivitas dalam 7,000 wilayah otak, dan menguji hubungan syaraf didalam dan antara wilayah-wilayah ini. Meskipun mereka melihat kantung-kantung arus syaraf yang berat dalam wilayah kunci tertentu, rata-rata, kedua sisi otak secara esensial setara dalam jaringan kerja syaraf dan keterhubungannya.

“Kami tidak melihat pola dimana jaringan seluruh otak kiri lebih terhubung, atau seluruh jaringan otak kanan lebih terhubung pada beberapa orang,” ujar Jared Nielse, mahasiswa lulusan dan penulis pertama pada studi baru ini.

Ingin tahu mitos-mitos seputar otak lainnya?

Kalo ada pembaca dari bidang neuropsikologi ataupun kesehatan secara umum monggo beri masukannya. Semoga bermanfaat.

18 pemikiran pada “Today I Learned: Dua Mitos Tentang Otak

  1. Kalau dari sisi linguistik, ada neuro-linguistik, perkembangan-perkembangan kebahasaan seseorang terkait dengan kepandaiannya berbahasa, terkait penting dari pengalaman-pengalaman ia ketika mengenal bahasa sejak awal.

    Masalah pengunaan otak apakah sudah 100% atau belum, gak punya cukup materi tentang itu. Tapi, pada hakikatnya, setiap orang punya potensi yang sama besarnya untuk mengembangkan keterampilan apa pun. Kalau potensi itu sudah ada, lalu dikembangkan, akan menjadi maksimal juga tho.πŸ˜€

    • setuju mas. yang bisa kita pelajari dari sini seperti yang mas teguh bilang, semua orang punya potensi yang sama besar untuk belajar dan mengembangkan berbagai keterampilan. seperti penderita autistik yang dianggap kekurangan tapi justru sering mampu menunjukkan bakat-bakat yang luarbiasa.

      kita bisa menggunakan 100% otak dengan cara2 yang unik.

      • Yang sering kita temukan, adalah keengganan untuk mengembangkan potensi itu saja. Padahal media atau cara untuk pengembangan itu ada di sekitar kita.πŸ˜€

        Kalau ada orang menyebutkan belajar satu bahasa asing itu sulit, mengapa bisa ada yang sampai mampu berbicara 7 bahasa?πŸ˜€ Bukan karena yang kedua itu dia “terlahir jenius”, tapi mungkin karena keengganan itu dikesampingkan, dan dia belajar sampai ke tahapan itu.

      • bener sih mas. mungkin hal-hal yang mem-blok seseorang untuk mengembangkan potensi itu adalah pola pikir dan sikap yang membatasi kemungkinan untuk belajar dan mampu.

        mungkin kita harus menyadari bahwa diri kita bisa menghidupkan banyak potensi yang mungkin belum disadari sebelumnya. (jadi inget divinie message of dna murakami)

      • Dan pengaruh lingkungan juga cukup besar, Ham. Kalau orang-orang di sekitar sudah mengatakan: Kamu tidak akan sukses di bidang A atau B. Itu seperti yang Ilham bilang, langsung mem-blok potensi itu agar berkembang.

      • ah iya. hm kayaknya pekerjaan besar kita sebagai manusia adalah gimana supaya meringankan jalan menuju yang terbaik, nggak terbebani sama hal-hal negatif yang kurang membangun. termasuk dalam mengembangkan bakat.

      • Kalau setiap orang diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Kita akan menemukan keberagaman yang menarik. Tapi, sekarang, kita tengah di-seragam-kan, dan itu kontra-produktif sebenarnya.

      • Sekolah. Salah satunya. Sekarang, orang tua tiba-tiba ingin anak-anaknya bersekolah di tempat “sesuai minat” orang tuanya, bukan anaknya.

        Ketika semua orang merasa menjadi anak IPA adalah segalanya, IPS jadi dikesampingkan. Padahal belum tentu anak yang dimasukkan ke kelas IPA bisa mengikuti.

        Minat orang tua dipaksakan menjadi minat anak. Kalau begitu, yang kesulitan, akhirnya anaknya juga.

      • iya juga sih. orangtua hanya berpikir apa yang “aman” untuk saat ini, bukan untuk jangka panjang. orangtua harus diberi pemahaman bahwa kecintaan dan minat anak itu lebih menentukan keberlangsungan proses dan prestasi belajar. ketimbang sistem dan jurusan mana yang paling dipandang paling unggul.

      • Kalau semua orang memilih teknik sipil dan memilih kedokteran, lalu dimana posisi ahli ekonomi, ahli sosial lainnya.

        Setiap anak, atau lebih jauhnya setiap orang, membawa peranannya masing-masing. Coba kalau anak dengan masing-masing minat dan perannya itu diberikan “maximum treatment and maximum education”. Keberadaan mereka bisa jadi key point di antara orang-orang di sekitarnya.

        Dan bukan satu orang yang menjadi besar, mereka akan saling “membesarkan” satu sama lainnya.

      • orangtua seringkali terlalu canggung untuk terlibat secara personal dengan anak dan memahami minat dan dunianya. jadinya bukannya menilai apa yang terbaik untuk anak, tapi hanya apa yang terbaik untuk terlihat dari luar.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s