Derealization/Depersonalization

derealization

sumber gambar: imgur.com/GK15Nje

Depersonalisasi (DP) dan derealisasi (DR) adalah perasaan terburuk yang pernah saya rasakan selama menderita Bipolar. DP/DR dipicu oleh anxietas atau kecemasan tinggi dan serangan panik.

Semuanya dimulai ketika Sabtu lalu telinga kanan saya mengalami infeksi sehingga pendengaran saya terganggu. Dalam kondisi yang memang sudah kacau dengan episode manik-depresif dan tidur yang sangat kurang dan tak tentu, saya mengalami semacam serangan panik ketika saya nggak bisa memperbaiki pendengaran saya saat itu juga walau sudah dikorek-korek dengan cotton bud.

Akhirnya saya minta Bapak saya pulang dari acara nikahan sepupu supaya bawa saya ke klinik. Di klinik pertama saya diberi semprotan yang membantu pendengaran saya jadi lebih lega. Walau hingga sekarang pendengaran saya masih belum sempurna betul karena di klinik kedua dokter bilang terjadi infeksi pada gendang telinga saya.

Hal tak menyenangkannya belum berhenti sampai disitu. Karena saya masih mengalami kecemasan dan rasa panik. Nafas saya langsung sesak jika saya memaksa menggunakan tenaga dan emosi. Semuanya terasa nggak nyata, seperti bermimpi, dan saya mulai meragukan mana yang nyata dan mana yang tidak. Saya bisa berpikir, melihat dan menyentuh, tapi semua itu nggak memicu emosi apapun seperti dalam kondisi normal. Dan itu rasanya sangat mengerikan. Saya takut saya tidak bisa mengontrol pikiran dan tubuh saya seperti semula lagi.

Setelah serangan panik, malam harinya Bapak membawa saya ke rumah dokter psikiater yang biasa saya datangi. Sayangnya dokter sedang pergi ke luar negeri dan baru kembali besok malamnya. Kami dirujuk ke rumah sakit jiwa dimana suster yang biasa mendampingi dokter bekerja.

Supaya bisa istirahat malam itu, kami mencoba mendapat pengobatan dari rumahsakit. RS pertama nggak bisa memberikan karena dokter spesialis kejiwaan mereka juga sedang tidak bisa hadir. Akhirnya Bapak membawa saya ke RS Pirngadi dimana saya mendapat serangan panik lagi saat baru meninggalkan lapangan parkir. Seorang bapak-bapak yang sedang naik motor dengan sigap membantu saya dan memberi saya tumpangan hingga ke IGD. Sampai sekarang saya masih ngerasa salut dan berterimakasih sama bapak yang nggak saya kenal itu karena membantu dengan sigap, padahal dia nggak terlihat seperti tenaga medis.

Di IGD saya berbaring sambil menunggu dokter. Saya mencoba menjelaskan kondisi saya dan ternyata si dokter nggak langsung familiar dengan kondisi kejiwaan Bipolar. Akhirnya saya diusahakan mendapat pengobatan dengan diagnosa gangguan kecemasan. Saat itu DP/DR masih terus berlangsung dan saya merasa takut hanya untuk memejamkan mata, karena saya takut terputus dari dunia nyata selamanya. Tapi karena suasana IGD yang cukup ramai saya mencoba merasa nyaman memejamkan mata untuk beristirahat. Beberapa lama kemudian, Bapak saya kembali dari apotek dengan obat yang diresepkan dan kami pun kembali ke rumah.

Malam itu saya beristirahat cukup baik, dan kondisi DP/DR saya rasakan juga sedikit membaik, meski belum pulih total.

Besok paginya Bapak membawa saya lagi menemui suster di RSJ yang lantas memberi saya obat pengganti sementara supaya saya bisa istirahat. Saya merasa lebih baik setiap sehabis istirahat. Tiap terbangun saya mencoba merasakan apakah DP/DR-nya sudah hilang, tapi ternyata saya masih belum pulih total. Leher dan bagian belakang kepala saya masih terasa kejang dan saya mudah sesak/panik jika menggunakan banyak tenaga atau emosi.

Senin sore saya baru bisa menemui psikiater dan saya menceritakan semua yang terjadi. Dokter memberi saya Frixitas dan Abilify dan berharap kondisi saya membaik dalam 5 hari.

Saat ini pendengaran telinga kanan saya masih belum sempurna. Kondisi DP/DR juga masih belum pulih total. Saya masih merasa seperti seperempat bermimpi, tapi saya tahu kondisinya bakal semakin buruk kalau saya terlalu fokus dan mencemaskan hal ini. DP/DR hanyalah gejala anxietas yang bakal membaik dengan sendirinya.

Saya hanya berharap bisa pulih dari kondisi ini dan tak pernah mengalaminya lagi. Dan semoga tak ada orang lain yang mengalaminya.

Jika kamu sedang menderita kondisi ini, sebaiknya fokuskan pikira pada hal-hal lain. Baca artikel, forum atau tonton video tentang DP/DR karena kamu sama sekali tidak sendiri (74% populasi pernah mengalaminya).

15 pemikiran pada “Derealization/Depersonalization

  1. Ping balik: Life Is SO BAD If… | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s