Life Is SO BAD If…

i create my lifeApa yang saya pelajari dari pengalaman dengan derealisasi dan depersonalisasi ini adalah: HIDUP BEGITU BURUK jika kita BERFOKUS PADA HAL-HAL NEGATIF-nya saja.

Maksudnya, hampir setiap hari dan setiap saat saya selalu menemukan hal/alasan yang saya keluhkan atau menjadi alasan bagi saya mengeluarkan komentar buruk. Mulai dari tayangan televisi, perilaku orang-orang di tempat umum hingga orang-orang di sekitar termasuk diri saya sendiri.

Saat mengalami derealisasi saya mudah menjadi panik oleh hal-hal kecil. Bagaimana jika saya benar-benar kehilangan akal saya alias gila, bagaimana jika saya akan seperti ini selamanya, bagaimana jika saya tak bisa lagi merasakan emosi, bagaimana jika ini semua adalah azab Tuhan atas semua dosa-dosa saya…

Saya pun mulai mengingat semua hal-hal yang saya sudah saya lalui, pernah saya punya, kemudian mempertanyakan apakah semua kenangan itu nyata.

Semua “bagaimana jika” ini justru memperburuk perasaan saya dan memicu panik. Tapi untunglah saya berinisiatif mencari informasi di Internet (dan saya bersyukur karena masih bisa mengakses Internet) sehingga saya jadi tahu kalau saya tidak sendiri dan gejala ini akan berlalu.

Saya belajar bahwa derealisasi dan depersonalisasi (DPD) merupakan gejaka anxietas atau kecemasan. Dalam kasus saya, kecemasan saya dipicu oleh masalah pendengaran saya yang disusul dengan serangan panik. Beberapa tanda yang saya rasakan adalah adanya tekanan di dada (depan hingga belakang), kekakuan pada leher dan kepala belakang yang tak bisa segera hilang. Tubuh terasa lemah dan motivasi untuk melakukan apapun menghilang, sehingga terkadang gejala ini disalah diagnosa sebagai depresi.

Setelah tiga hari pengobatan dengan Alprazolam dan Aripiprazole berangsur-angsur saya merasa lebih baik. Setiap bangun tidur saya berusaha meyakinakan diri saya bahwa DPD saya sudah membaik dan nyaris hilang.

Selain menjalani pengobatan sesuai rujukan dokter, ada beberapa hal lagi yang bisa saya sarankan:

  • Jangan hanya diam dan merasakan gejala DPD karena itu hanya akan mengacaukan pikiran dan memperburuk suasana hati. Beraktivitaslah secukupnya. Cobalah membaca meski sedikit. Berkendaralah sebentar, tapi hindari situasi sosial yang rumit karena itu justru bisa memicu ketegangan dan rasa panik.
  • Lakukan hal-hal yang biasanya memicu dirimu menjadi sangat emosional. Misalnya melihat foto-foto lama kamu dan keluargamu, atau seperti saya menulis fiksi dimana kamu bisa membayangkan emosi-emosi yang berbeda dari karakter-karakter dalam cerita, mendengarkan musik dengan genre yang berbeda-beda, membaca komik. Pokoknya hal-hal dan kegiatan-kegiatan yang memicu emosi yang signifikan.
  • Coba ajak ngobrol teman atau sahabatmu. Ceritakan pada mereka tentang kondisimu dan ajak mereka membahas hal-hal ringan dan menyenangkan untuk membangkitkan mood.
  • Belajarlah mengatasi emosi negatif seperti marah dan kesal, karena itu bakal memperburuk keadaan dan membuatmu lekas panik. DPD ini mengajari saya supaya lebih bersabar dan menjaga pikiran dari pikiran-pikiran negatif dan destruktif lebih getol dari yang biasa saya harus lakukan. Karena saya tahu marah dan kesal hanya akan membuat saya panik dan memperburuk keadaan.

Saat ini telinga saya masih sesekali sakit dan pendengaran dari teling kanan saya ini belum sempurna. Tapi secara mental, saya sudah bisa mulai ngerasa “kaget”, πŸ˜† kesal, risih, gelisah, mondar-mandir, senyum karena nginget sesuatu… Sementara saat awal-awal DPD menyerang saya ngerasa seperti zombie yang nggak memiliki emosi dan jiwa. Meski belum sepenuhnya berenergi dan fit yang sebagiannya mungkin karena efek obat-obatan yang bikin lemes. Tapi tekanan di dada sudah nyaris hilang dan saya bisa bernafas lebih lancar.

Semoga semua teman dianugerahi kesehatan dan umur panjang. Amin.

Iklan

9 pemikiran pada “Life Is SO BAD If…

  1. ane baru kemaren nemenin sodara ane di RS yang katanya udah berobat sana sini buat nyembuhin kegelisahannya. ane tanya kenapa dan ane dengar ceritanya, kalo menurut ane itu karena sugesti dan mindset dia, ya sama kaya cerita ente ini sob. ya ujungnya dia ngira macam2 lah tu ma penyakitnya. entah itu diganggu jin atau apa lah, padahal ane liat dia baik-baik aja.

    ane kasih masukan sesekali, dan dia berobat juga ke dokter. ternyata dia cuma kena maag dan asam lambungnya naik aja. tapi karena dia berfikir yang aneh-aneh akhirnya ngrasa penyakit tu nyebar kemana-mana.

    ini sama ngga ya kaya kasusnya ente. hehe :p πŸ˜€

    • oalah iya mas orang memang suka bersugesti negatif soalnya kita emang gak bisa langsung ngerti ada kejadian apa dalem tubuh. ane malah kesel kalo suka dikasih ‘air putih’ yang didoain begituan. gak tau kenapa kurang yakin aja. πŸ˜•

      kalo ane emang didiagnosa bipolar mas. jadi anxietas atau kecemasan itu udah satu paket, sesuatu yang udah jadi ‘temen’ dari dulu. jadi kemaren ini takut aja ada sesuatu yang kebablasan trus ngerusak otak dan nggak bisa balik lagi. tapi untunglah ane nggak sendiri yang pernah mengalami hal kayak gini dan mudah2an kondisinya membaik.

    • iya jo. berpikir positif itu sangat membantu meringankan keadaan nggak menyenangkan. walau terkadang untuk berpikir positif pun perlu diusahakan.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s