Memberitahu Keluarga Tentang Masalah Kejiwaan

DSC01221Sedikit ironis jika memikirkan bahwa saya lebih terbuka disini, kepada kalian teman-teman blogger sekalian soal kondisi saya dengan Bipolar, ketimbang di dunia nyata kepada keluarga saya sendiri.

Satu-satunya keluarga yang tahu dan mengerti soal kondisi saya adalah kedua orangtua saya. Sementara saya nggak yakin apakah keluarga dekat paham soal kondisi saya. Selain itu ada dua teman yang pernah secara terbuka saya beritahu soal Bipolar.

Yang pertama sebenernya saya beritahu dengan cara yang bikin saya pengen lompat ke jurang berapi kalo ngingetnya. Karena waktu itu saya kumat dong marah-marah sama si temen lewat telepon, sehingga akhirnya mau nggak mau saya “membela diri” menjelaskan tentang kondisi kejiwaan saya. Saya nyesel se-nyesel-nya hingga sekarang karena saya sayang sama sahabat SMS saya itu. Saya tahu dia sudah melewati banyak hal dan saya hanya berharap dia mendapat hal-hal yang memang layak dia dapatkan untuk merasa bahagia.

Belakangan saya juga cerita soal kondisi saya kepada seorang sahabat. Dan sejak itu saya masih suka curcol dan diskusi sama dia soal apapun, soalnya anaknya emang pinter, baik, rajin shalat dan murah hati (kayak slogan majalah anak muslim ha ha).

Saya nggak yakin seberapa penting jika orang tahu dan aware terhadap kondisi saya. Tapi ada aja saat-saat kita berharap keluarga dekat mengerti kondisi kita dan memberikan sikap dukungan.

Ketika kita memiliki gangguan kejiwaan dan sadar akan hal itu, kita nggak mau selamanya bersembunyi dan harus berusaha berkali-kali lipat untuk menghandle diri sendiri dan orang lain yang nggak aware terhadap kondisi kita. Kita akan sangat senang jika orang paham dan bersikap positif, tapi juga bukan mengasihani dan malah menjauhi kita karena dianggap merepotkan atau nggak bisa diandalkan.

Sebagai ODMK saya berharap keterbukaan oleh semua pihak dan semua orang, meningkatkan kesadaran tentang masalah kejiwaan yang dialami banyak orang ini. Kita nggak bisa naif dan berpikir, “Ah itu nggak mungkin terjadi sama saya atau orang dekat saya.” Kita harus menerima dengan hati terbuka bahwa kondisi kejiwaan sama layak untuk diberi perhatian serius dengan penyakit-penyakit lain yang lebih umum.

Memberi pengertian tentang hal semacam itu nggak mudah memang. Apalagi dengan keluarga yang sifat serta karakternya berbeda-beda dalam menanggapi masalah kejiwaan. Akan sulit jika keluarga bersikap terlalu konservatif dan menganggap tabu untuk membahas masalah kejiwaan yang dialami anggota keluarganya.

Saya pernah melakukan kecerobohan yang berakhir dengan penyesalan lainnya ketika berusaha memberi gambaran tentang kondisi saya kepada keluarga. Saya bertengkar dengan salah satu keluarga saya dan saat itu saya berpikir, ternyata memang nggak mudah berusaha membuat keluarga mengerti tentang gangguan kejiwaan. Tapi saya paham semua itu 99,9%-nya adalah kesalahan saya dan gangguan kejiwaan saya. Sisanya hanyalah sikap yang tidak siap dari orang lain terhadap “cara-cara” saya.

Contoh yang paling sering membuat saya merasa terbentur batasan pemahaman ini adalah ketika ngobrol soal “rencana masa depan”. Keluarga saya selalu berpikir saya sama sepertiย  anak lain dan bisa melakukan hal-hal yang dilakukan orang lain seperti menyelesaikan pendidikan dan bekerja layaknya orang normal. Mereka berusaha membantu saya dan mengarahkan saya sesuai dengan bakat dan kapasitas saya.

Tapi sayangnya, ketidakpahaman mereka secara penuh tentang kondisi saya itu justru membuat saya tertekan. Saya sempat merasa mereka mendorong saya untuk mencapai standar-standar yang terlalu baik dalam pandangan dan standar kapasitas saya.

Saya dekat dengan keluarga saya sejak kecil, dan saya ingin bisa memercayai mereka terhadap isu saya. Keluarga saya ingin melihat saya dalam imej yang mereka lihat, tapi sayangnya itu bukan seluruhnya diri saya yang sebenarnya. Dan itu dilematis karena saya juga orangnya bukan tipe yang selalu mampu membela dan menyokong prinsip pribadi. Saya masih terlalu kekurangan secara emosional untuk memenuhi keinginan siapapun termasuk diri saya sendiri.

Pengen sebenernya merenung lebih panjang tentang kenap saya sulit berhasil di dunia nyata. Tapi sampai disini, saya hanya berharap lebih banyak keluarga Indonesia lebih terbuka terhadap masalah kejiwaan dan bahwa ini bukan tabu atau aib, tapi merupakan peluang untuk mempererat kekeluargaan dengan sikap terbuka dan kemanusiaan serta kasih sayang. Plis jangan ada lagi yang dipasung karena menderita gangguan kejiwaan. Semua orang layak mendapat pengobatan yang layak, dan pada akhirnya, kehidupan yang lebih baik.

14 pemikiran pada “Memberitahu Keluarga Tentang Masalah Kejiwaan

  1. Masyarakat kita memang belum paham dengan penyakit kejiwaan. Akui saja, kita masih menganggap penyakit kejiwaan itu penyakit yang aneh dan belum bisa menerima ada yang namanya penyakit kejiwaan. Ya begitulah, kita masih kekurangan informasi akan penyakit tersebut. Jadi, jika ada sanak saudara yang punya penyakit kejiwaan, dianggap gila, langsung deh dipasung.๐Ÿ˜ฆ

    • iya itu emang kenyataan yang sedih. butuh usaha dari kita sendiri untuk memberikan pandangan yang lebih baik. karena itu saya nyoba nulis blog supaya pelan2 menghapus stigma negatif tentang penyakit kejiwaan.

  2. Ngerasa jadi beban gak sih buat keluarga?
    Ada keinginan untuk berubah? Atau sudah pasrah menerima keadaan?
    Selama ‘kelainan’ kejiwaan tidak mengganggu orang lain yang kejiwaannya masih ‘biasa’ aja sih itu tidak masalah. Tapi bagaimana malah membuat orang lain, orang yang kita sayang memikul beban karna diri kita? So sad.

    Saya ngomong gini karna saya ngerasa’in.
    Bukan. Bukan saya yang punya kelainan kejiwaan. Abang saya. Abang yang saya cintai saya sayangi, harapan keluarga kami. Hanya gara-gara masalah ‘sepele’ seperti ah anggaplah keinginannya tak tercapai, dia menjadi ‘berbeda’. A big big stone have crushed his mentality. Dan dia gak pernah cerita karna dia mmg tidak pernah mau cerita masalah kejiwaan apa yg sedang dia hadapi. Tau-tau sudah parah, tiba-tiba sudah terkena Schizophrenia akut. Sedih sih, tapi kami (keluarga) tetep ‘memeluknya’ di saat dia tiba-tiba ‘berteriak’ sekeras-kerasnya. Tapi yah namanya manusia, kadang sisi ego-nya muncul, kami (kecuali mama) lama-lama merasa sangat terganggu, dan menyerah.

    Intinya sih: Memberitahu Keluarga Tentang Masalah Kejiwaan is a early good point. Berarti ada yang tau dan mengerti kita selain kita sendiri. Lawan terus, bang. Lawan semampu-mu. Jangan sampai kamu berpikiran bahwa bipolar, mental illness, kelainan jiwa atau apalah itu menjadi sesuatu hal yang normal dan memang begitu adanya.

    Keep on rocking! \m/

    • Wah trims ya semangatnya!๐Ÿ™‚

      Tentu saya terus berusaha untuk memperbaiki diri. Saya berusaha me-mastery kekurangan saya seperti sebuat keahlian.

      Momen2 seperti yang mbak/mas gambarkan diatas juga terjadi di rumah saya. ibu atau Mamak saya yang biasanya selalu jadi ‘korban’๐Ÿ˜• sekaligus wadah saya mencurahkan seluruh isi pikiran. kalau dibilang durhaka saya ini udah durhaka banget. tapi life goes on dan mamak saya selalu let go semua sikap buruk saya terhadap beliau saat kumat. saya tahu kondisi saya seperti ini, jadi saya hanya berusaha meminimalisir kecenderungan destruktif saya paling nggak jangan sampai menyakiti orang lain.

      keluarga penderita gangguan kejiwaan memang dituntut ekstra sabar. selain sabar ada baiknya kita juga mendidik diri tentang kondisi yang diderita anggota keluarga kita, menanyakan keadaan dan kondisi perasaannya, mendengarkan pendapat dan aspirasinya. mudah2an dengan begitu mereka merasa bisa memercayai keluarganya sebagai sosok-sosok yang bisa dia andalkan dan merasa aman di tengah kondisi diri yang sulit diprediksi.

      Thnx again buat sharing dan semangatnya.

    • thnx ya linknya. saya dapat diagnosa bipolar dari psikiater mas yudhis. kemaren dulu saya pernah juga ikut hipnoterapi. dibarengi sama obatan herbal dan akpuntur.

      • saya udah baca mas (nggak setiap kata sih hehe) dan saya setuju kalo dokter itu bisa punya diagnosa yang beda-beda. yang hipnoterapi itu sebenernya juga sama psikolog yang berbeda dan dia diagnosa saya dengan depresi.

        sejujurnya saya punya cara pandang sendiri terhadap diagnosa2 ini mas. saya sadar ini adalah ketidakseimbangan kimiawi di otak, jadi sama saja seperti flu yang disebabkan virus, atau stres yang disebabkan kelelahan syaraf, dsb. saya percaya semua ada akar masalahnya. dan saya tentu mau coba berbagai hal untuk membantu diri saya atau self-help.

        saya sebenernya lagi tertarik sama CBT atau cognitive behavioral therapy mas. itu juga berhubungan sama mengubah cara dan kebiasaan berpikir. tapi saya agak kesulitan nyari contoh latihannya seperti apa. do you know about this stuff?

      • Nah… saya belum tau CBT. Saya taunya EFT aja mas. Emotional Freedom Tehnique. I think it will work for u…. Melancarkan energi / emosi mengalir dalam tubuh. Kemudian penerimaan kepada diri. I think you have to learn and try it…

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s