Topeng

topengSebagian orang berpendapat bahwa manusia memakai “topeng” setiap hari. Sikap yang ditunjukkan seseorang belum tentu sama di waktu dan tempat yang berbeda. Dan akhirnya kita cuma bisa berkomentar apakah tindakan orang tersebut munafik atau tulus. Padahal kita nggak bisa mengharapkan dunia nyata ini seperti sinetron. Yang baik ya baik terus, yang jahat ya jahat mulu.

Menurut saya tindakan memakai “topeng” atau persona merupakan sekedar usaha yang berasal dari niat, situasi, ego dan gagasan tertentu (kata saayaa).

Kita mampu menilai sebuah situasi dan memutuskan tindakan yang kita ambil, serta menentukan tujuan yang ingin kita dapatkan dari situasi tersebut.

Kita sebagai manusia punya kebutuhan dan keinginan. Kita boleh jadi berkualifikasi untuk punya jabatan dalam sistem yang mengorganisir hak orang sipil. Tapi belum tentu ego kita membuat semua orang mendapatkan haknya secara adil. Kita boleh jadi menginginkan sesuatu yang baik untuk diri kita, tapi belum tentu ego mendorong kita menjalani usaha yang halal dan sehat untuk mendapatkannya.

Kalo boleh jujur, saya pikir kita sebagai manusia belum cukup humanis dan empatetik untuk otomatis jujur dengan emosi dan perasaan kita terhadap sesama, terutama orang asing. Kita nggak bisa baca pikiran satu sama lain dan masih takut sehingga harus bertaktik agar tidak dirugikan orang lain. Apalagi kenyataannya nggak semua orang punya tingkat kesejahteraan yang sama. Sehingga yang “lebih” takut dirampok oleh yang “kekurangan”, yang merasa tidak punya apa-apa takut di-bully dan dieksploitasi orang yang punya kepentingan.

Jadi memakai ‘topeng’ menurut saya adalah gejala yang biasa. Kita juga nggak perlu terlalu menyorotnya sebagai watak yang tak bermoral atau munafik. Kita semua descent dan berkelas dengan cara yang berbeda-beda, memiliki kualitas dan watak positif yang baik dan bisa menyenangkan orang lain dengan cara yang unik. Meski di sisi lain kita juga tak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Itulah yang membuat kita manusia…sejauh ini.

Iklan

15 pemikiran pada “Topeng

  1. saya juga berpikir bahwa memakai topeng itu berada di ‘grey area’ tergantung dari sudut pandang, situasi dan kepentingan. Sehingga warna abu-abu itupun bergradasi dari putih sedikit abu hingga abu-abu menjelang hitam. Misalnya seorang ibu yang menutupi penderitaan dirinya di depan anaknya mungkin masuk ke abu-abu putih – bagiamanpun ia tetap tidak berterus terang, bukan? Berarti pake topeng? Sebaliknya misalnya yg menggunakan topeng untuk mendapatkan harta orang lain, tentu skala abu-abunya jauh lebih gelap.

    • cara pandang yang menarik mbak. iya tergantung menggunakan topeng untuk tujuan apa. bisa untuk menjaga kedamaian semua orang, atau malah merugikan hak orang lain.

  2. Coba kalau Ilham sempat, mampir baca puisi “We Wear the Mask”-nya dari Paul Lawrence Dunbar. Menarik sekali tulisannya. πŸ˜€

    Terkait masalah topeng, setuju dengan perkataan Kimi, sebenarnya kita juga secara tidak sadar sering “menggunakan” itu.

    • iya menarik dan bagus puisinya. perlu penelusuran panjang mungkin, untuk mengetahui mengapa kita cenderung menggunakan topeng atau persona, padahal kita masing2 sudah punya watak yang berbeda2.

      mungkin juga karena dorongan untuk mengelabui orang lain dari kerapuhan yang kita rasakan di dalam kali ya. entah supaya orang nggak ikut khawatir, atau supaya orang berpikir kita lebih baik dan besar dari kenyataan. bagaimanapun, memakai topeng itu adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari2.

      • Kemarin sempat buat esai mengenai itu, untuk mata kuliah sastra Afrika Amerika.

        Kalau mau dilihat lebih jauh, puisi itu punya representasi yang jauh lebih besar dibanding hanya sekedar puisi.

        Orang seringkali menggunakan topeng, karena “kebenaran sejati” pun terkadang bukan satu hal yang ingin kita lihat.

        Pertanyaan sederhana: apa Ilham siap menerima semua realita dari kebohongan yang ada di sekitar? πŸ˜€

        Itu menakutkan terkadang.

      • iya itu dia mas. mungkin kita sadar orang mungkin nggak akan nyaman jika mengetahui semua kerapuhan dan kekurangan moral yang kita punya, jadinya kita berusaha melindungi dan menutupi itu.

      • Karena sebenarnya kita sama-sama punya “rahasia”, begitulah akhirnya kita menutupi wajah kita dengan topeng-topeng yang membaguskan fisik dan “jiwa” kita. πŸ˜€

      • mungkin gak jika kita bisa menghapus itu semua? coba mas Teguh bayangin seandainya kita bisa membaca pikiran satu sama lain. mungkin nggak akan ada lagi yang berani memikirkan hal2 buruk. lama2 orang akan terbiasa percaya pada orang lain, nggak ada lagi prasangka. apakah itu hal yang baik seandainya terjadi? what do you think?

      • Membaca pikiran orang itu tidak selamanya bisa menghindarkan kita dari masalah, Ham. Malah seringkali lebih sering membuat masalah-masalah baru.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s