Disiplin Mental Sebagai Anak Tunggal Dengan Bipolar

disiplin mental

Hari ini 30 Maret 2014 ditetapkan sebagai HARI BIPOLAR SE-DUNIA. Tapi saya disini bukan mau cerita tentang Bipolar secara khusus. Melainkan sesuatu yang nggak kalah pribadi maknanya bagi saya, yaitu disiplin mental sebagai anak tunggal.

Mungkin ini salah satu efek menjadi anak tunggal: saya terbiasa berusaha melakukan semuanya sendiri.

Meski saya canggung secara sosial, sebagai orang yang terbiasa sendirian jujur aja saya masih suka punya penilaian yang agak nyinyir terhadap “ketergantungan” orang terhadap orang lain dalam kehidupan sosial. Karena kadang orang mudah terpengaruh dan menjadi lemah karena bergantung pada opini, tren dan standar orang lain.

Kadang saya berpikir kenapa orang nggak berusaha menyokong kebahagiaannya sendiri dengan memanipulasi atau menerapkan disiplin pada mental. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa sebenernya saya yang memiliki mental yang lemah karena saya takut, nggak mau membiasakan dan akhirnya nggak mampu meng-handle berbagai jenis manusia, situasi dan keadaan.

Dalam situasi yang terlalu menyita emosi, saya bisa benar-benar pergi meninggalkan situasi dan tempat tersebut dan nggak kembali lagi. Saya lebih mudah berada di sekitar orang-orang yang “mampu menghargai dirinya sendiri” dalam arti orang-orang yang berhati besar yang mampu dan terbiasa menghandle orang-orang lemah dan insecure seperti saya.

Namun kebanyakan waktu saya lebih suka sibuk sendiri dengan pikiran sendiri. Kalau disimpulkan, mungkin saya bukan mencoba menerapkan disiplin mental, tapi saya hanya berusaha terlalu keras melindungi diri dan mengendalikan segalanya secara sadar karena takut gangguan mental saya mengacaukannya. Walau mungkin bisa juga dibilang sebaliknya, bahwa gangguan kejiwaan saya membuat saya lebih waspada terhadap tidakan-tindakan saya.

kognitif

Semua berawal dari pikiran.

Intinya, disiplin mental itu adalah kebiasaan yang sangat bermanfaat. Semua tindakan, kebiasaan dan perasaan berasal dari pikiran (lihat grafik diatas). Kita bisa mulai mengolah mental dari situ. Jika biasanya kamu gampang curiga atau patah hati jika hal-hal nggak terjadi sesuai keinginan, kamu bisa memikirkan kemungkinan lain dari situasinya yang lebih mendamaikan, supaya kamu bisa ngerjain hal lain yang lebih bermanfaat. Ingat aja, lebih baik merasa damai daripada merasa benar.

Apalagi jika kamu adalah rekan penderita gangguan kejiwaan. Jangan biarkan gangguan kejiwaan ‘mendefinisikan’ cara pandangmu. It’s not you. Karena pada dasarnya kita nggak pernah mau menyakiti atau membuat siapapun sedih.

Penyakit ini hanyalah ketidakseimbangan kimiawi di otak, trauma masa lalu yang tak lagi bisa menyentuh dan menyakitimu. Jangan biarkan dia menjadi kelemahan pribadi, meski dia ingin kita begitu. Sebaliknya, jadikan diri kamu ahli dalam menjinakannya.

Sementara itu, saya masih harus belajar hidup bersama orang lain.

WBD Logo

Iklan

14 pemikiran pada “Disiplin Mental Sebagai Anak Tunggal Dengan Bipolar

  1. Hampir sama denganku.
    Aku juga lebih sering menetapkan standar buat diriku sendiri dan agak gimanaa gitu sama orang yang terlalu bergantung pada orang lain untuk mengambil keputusan buat dirinya sendiri.
    Selamat Hari Bipolar Sedunia! Semoga tidak ada lagi stigma negatif untuk mereka yang mengalaminya πŸ™‚

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s