[Fiksi] Liam

liam short story

“And my Mom starts to never talk to him anymore. I mean, I guess, at least my Dad got what he wants, right? THEY got what they want.” Atdhe drew a small circle on the ground using a twig he found. Fire cracked five feet after his shoes.

“And your sister?” Liam asked softly next to him.

“She doesn’t help. Being caught up all the time with her stupid friends. She’s lucky to be a 16 year old.”

“I’m 17 and I don’t feel like that.”

“Hey, you’re an orphan, I get that, really. And I respect that, okay?”

“Not like that. What I meant was I feel lucky all the time. You know I’ve been places, met different people… I’m just trying to have fun every time.”

The 13 year old looked at him in a flash. “I don’t know why I’m trying to put weight on my mind. I should give no crap on a crap.”

“You want to rationalize your inner pain. That’s normal.”

“What’s that mean?”

“Uh, you know…you want to feel like the problem all came from the outside… Because…it’s more sustainable than inner pain. It’s sort of your defense mechanism to prevent your mind going too deep down and losing control.”

Atdhe took a second to think. “So why can’t I just switch from caring to NOT caring and thinking about something else?”

“Because your real problem is yourself. You can try to reduce the symptoms of your anxiety upon whatever is happening in your family… You can sit here by the woods with me, light up a bonfire and get some good ol’ fresh air… That’s how you let yourself become less tensed for a while. But eventually, you also gotta find a method to let yourself go of the current issue and get yourself liberated in peace. You could go from trying to solve your problem, or not at all and just get yourself out there. Let it go. Stop taking it personally and just continue only your favorite parts of life.”

“That sounds impossible to me. Can people really do that?” Atdhe broke the twig into two and threw one piece to the fire.

“Sure. All the time. You’ve done a lot of things because you believed in yourself on doing them.”

“Like what?”

Liam raised his shoulders. “I don’t know. Simple things like learning to use the toilet when you’re little, how to eat, where to get the fruit punch in a party, talking to people…”

“That’s common stuffs. I can do that because I saw everybody does it. I’m no ahead-of-the-curve type.”

“You did learn from past experiences of others. But then you believed that those would be new experiences for you. Because, if you wanna find out what’s good for you, you simply gotta try.”

“Yeah, okay, but how can that solve my family’s problem?”

“I’ve said it and I’ll say it again. It’s up to you which way you wanna go. The question is: what do you WANT to do? What’s your idea? Talk? Then talk to them. Tell them what you think and how you feel these days.”

“I just want us to go to Disney Land again like when I was 6? Do you remember that?”

“Yeah, I remember. You got pretty excited about seeing Peter Pan.”

“I know. I noticed he’s being so kind and supportive to visitors. Like this one girl who had cuts on her arm from self harming. And eventually he made her promise to stop cutting because, he said, every time she cuts, a fairy dies. She hugged him and cried in joy. Do you remember that, Liam?”

Liam smiled.

Atdhe stared at the ground. “What if it doesn’t work?”

“You’d be sort of sad.”

The boy looked at his best imaginary friend and sported a bitter smile. “Do you think I really gotta try?”

“Letting it out of your chest in an actual action will get you feeling so much better.” Liam touched the boy’s shoulder. “I’m not lying.”

The next dinner time, Atdhe talked it out on the table. He just said that it’d be nice if they can go to Disney Land again. He didn’t necessarily hang his hope on anyone. Simply saying what he believed would be good for him. Because, at this point, he came to understand his self-worth as a young kid who deserved having fun. That’s all.

After that, the stuffed chest lost its huge amount of tension. The boy went up to his room and smiled at what he’s done. And that’s liberating.

His parents started to talk again in a couple of weeks. By summer, they talked about going to Disney Land within the first month of the season. The house was warm and alive again. Atdhe’s sister secretly stared at her little brother and smiled in gratitude.

The next evening, Atdhe took off of the chair, leaving the glowing laptop screen and stared outside the window. He turned around and found a teenage guy sitting on the edge of the bed, didn’t age ever since Atdhe saw him in the first grade. The kid sat next to him and watched Liam’s pony tailed light brown hair and tan jacket. Those pale blue eyes were always Atdhe’s favorite physical feature. He decided the color of those eyes in 2nd grade.

“Liam?”

“What?”

“You’re not real, are you?”

Liam looked at Atdhe in the eyes and smiled. “I don’t have to be real to be your friend.”

Atdhe smiled lightly and whispered, “Thanks.”

You’re Beautiful

Everyone is beautiful.

Menurut saya cantik/indah itu adalah vitalitas. Lakukan apa yang menjadi passion-mu dan teruslah bergerak, then you’ll always be beautiful.

“The opposite of depression is not happiness, but vitality…” – Andrew Solomon

Passion

passion

Tulisan inspiratif mas Ryan yang ini sudah membuat saya bersenang-senang dengan visulisasi yang tujuannya adalah untuk menemukan passion atau hasrat. Seperti yang diinstruksikan dalam tulisannya, saya pun menutup mata dan membayangkan sebuah tempat yang nyaman dimana saya melakukan pekerjaan yang saya nikmati. Kemudian membayangkan melakukan pekerjaan itu di tempat yang tidak terlalu nyaman, apakah masih menikmati mengerjakannya?

Pertama-tama, saya sadar passion saya nggak jauh-jauh dari menulis. Saya kemudian membayangkan sebuah tempat di dekat alam terbuka, bisa jadi dekat sebuah danau, atau diatas perbukitan yang berangin. Saya menulis berbagai macam tulisan. Fiksi, non fiksi, hingga sekedar menulis dan membalas email.

Dan kedua, jika lingkungannya diubah menjadi tempat yang tidak begitu menyenangkan, saya melihat itu sebagai tantangan untuk mencari inspirasi tulisan dari tempat-tempat baru.

Mungkinkah terwujud visualisasi ini? Pastilah butuh usaha besar dan waktu yang panjang (bagi saya) untuk mewujudkannya. Bagaimanapun saya akan berusaha mencari cara untuk melebarkan jalan untuk passion saya ini. Karena memiliki passion itu seperti juga mencintai seseorang. Ada tahap perkenalan, eksplorasi hingga menemukan titik nyaman.

Jadi tidak ada kata terlambat untuk menemukan passion-mu dan menjalankannya dengan caramu sendiri. Itu adalah hak istimewa yang patut kita syukuri.

Apa passion-mu?

Ngeblog: Apa Yang Kau Cari?

ngeblog

Apa yang kamu cari dari ngeblog?

Saya mulai ngeblog sekitar 2008. Sejak itu udah gonta-ganti blog entah berapa kali dan juga mencoba tema yang berbeda-beda. Semua itu adalah proses pencarian apa yang sebenarnya saya mau, atau lebih tepatnya, bisa saya nikmati dari ngeblog. Karena pada dasarnya saya suka nulis sehingga saya terus mencari cara yang lebih baik untuk menyalurkannya.

Hingga akhirnya saya memutuskan berbagi pengalaman dan ide di The Moon Head sebagai blog utama sejak dua tahunan ini. Saya masih punya beberapa blog lain yang memang sengaja nggak terlalu diurus. Saya cukup percaya aja orang masih bisa menemukan blog-blog tersebut dan mengambil manfaatnya.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman ngeblog selama ini adalah, semua orang punya karakter dan minat yang beda-beda. Dan dalam ngeblog, kedua hal itu bisa jadi sumber yang sangat powerful untuk memulai kebiasaan menulis blog yang menyenangkan dan bermanfaat.

Nggak masalah apakah akhirnya kamu menikmati menulis dalam niche tertentu, atau campur-campur kayak blog ini. Apapun yang kamu tuliskan nantinya bakal memperkaya hidup kamu dengan kepuasan berkarya dan pelajaran bahwa memperbaiki diri itu nggak kenal waktu dan terus berkelanjutan.

Kamu bisa coba berbagai persona, karakter, gaya menulis, topik, tapi jangan palsukan identitas ya hehe. Kamu akan menciptakan sebuah dunia disini dan itu akan jadi sesuatu yang menyatukan kita melalui gagasan yang berbeda-beda. Misalnya kita jadi tahu gimana kehidupan dan ekspresi orang yang suka traveling, yang suka menulis, fotografi, dan sebagainya. Dan itu adalah wawasan yang bisa diberikan secara eksklusif lewat media personal bernama blog.

Disiplin Mental Sebagai Anak Tunggal Dengan Bipolar

disiplin mental

Hari ini 30 Maret 2014 ditetapkan sebagai HARI BIPOLAR SE-DUNIA. Tapi saya disini bukan mau cerita tentang Bipolar secara khusus. Melainkan sesuatu yang nggak kalah pribadi maknanya bagi saya, yaitu disiplin mental sebagai anak tunggal.

Mungkin ini salah satu efek menjadi anak tunggal: saya terbiasa berusaha melakukan semuanya sendiri.

Meski saya canggung secara sosial, sebagai orang yang terbiasa sendirian jujur aja saya masih suka punya penilaian yang agak nyinyir terhadap “ketergantungan” orang terhadap orang lain dalam kehidupan sosial. Karena kadang orang mudah terpengaruh dan menjadi lemah karena bergantung pada opini, tren dan standar orang lain.

Kadang saya berpikir kenapa orang nggak berusaha menyokong kebahagiaannya sendiri dengan memanipulasi atau menerapkan disiplin pada mental. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa sebenernya saya yang memiliki mental yang lemah karena saya takut, nggak mau membiasakan dan akhirnya nggak mampu meng-handle berbagai jenis manusia, situasi dan keadaan.

Dalam situasi yang terlalu menyita emosi, saya bisa benar-benar pergi meninggalkan situasi dan tempat tersebut dan nggak kembali lagi. Saya lebih mudah berada di sekitar orang-orang yang “mampu menghargai dirinya sendiri” dalam arti orang-orang yang berhati besar yang mampu dan terbiasa menghandle orang-orang lemah dan insecure seperti saya.

Namun kebanyakan waktu saya lebih suka sibuk sendiri dengan pikiran sendiri. Kalau disimpulkan, mungkin saya bukan mencoba menerapkan disiplin mental, tapi saya hanya berusaha terlalu keras melindungi diri dan mengendalikan segalanya secara sadar karena takut gangguan mental saya mengacaukannya. Walau mungkin bisa juga dibilang sebaliknya, bahwa gangguan kejiwaan saya membuat saya lebih waspada terhadap tidakan-tindakan saya.

kognitif

Semua berawal dari pikiran.

Intinya, disiplin mental itu adalah kebiasaan yang sangat bermanfaat. Semua tindakan, kebiasaan dan perasaan berasal dari pikiran (lihat grafik diatas). Kita bisa mulai mengolah mental dari situ. Jika biasanya kamu gampang curiga atau patah hati jika hal-hal nggak terjadi sesuai keinginan, kamu bisa memikirkan kemungkinan lain dari situasinya yang lebih mendamaikan, supaya kamu bisa ngerjain hal lain yang lebih bermanfaat. Ingat aja, lebih baik merasa damai daripada merasa benar.

Apalagi jika kamu adalah rekan penderita gangguan kejiwaan. Jangan biarkan gangguan kejiwaan ‘mendefinisikan’ cara pandangmu. It’s not you. Karena pada dasarnya kita nggak pernah mau menyakiti atau membuat siapapun sedih.

Penyakit ini hanyalah ketidakseimbangan kimiawi di otak, trauma masa lalu yang tak lagi bisa menyentuh dan menyakitimu. Jangan biarkan dia menjadi kelemahan pribadi, meski dia ingin kita begitu. Sebaliknya, jadikan diri kamu ahli dalam menjinakannya.

Sementara itu, saya masih harus belajar hidup bersama orang lain.

WBD Logo

Jalan-Jalan Nyasar

jjn

Pikiran saya terasa berkabut. Padahal tidurnya udah kenyang kayak bayi (raksasa). Ini ngetik rasanya kayak nggak ngetik… Rada-rada takut juga ngalamin derealisasi lagi. Tapi mungkin ini efek “Alpra” yang saya minum malam harinya.

Sebenarnya dua obatan yang tersisa mau disayang-sayang, disimpen-simpen buat keadaan darurat aja. Tapi kenyataannya kondisi saya memang masih gampang nggak stabil. Saya cuma nggak mau berakhir bikin ‘kerusuhan’ apalagi melakukan hal nggak menyenangkan terhadap orang lain.

Malem Kamis saya pergi keliling naik motor, seperti biasa kalau saya lagi nggak betah di rumah atau galau de es be. Kalo kali ini sih karena lagi sensi banget sama suara keras. Gara-gara episode manik nih. Jadinya saya gampang kesel kalo ada suara-suara orang yang ngobrol keras banget sampe kedengeran sak-kampung. Hadeh. Tapi saya ngerti kok yang paling pantas disalahkan itu ya kondisi saya, toh nggak mungkin kita maksa ngubah cara bicara orang lain.

Sedikit ‘info penting’, kalau di jalan saya itu salah satu orang yang suka nyanyi-nyanyi atau ngomong-ngomong sendiri. Nyanyi; lagu barat, lagu durmo; ngapalin dialog dari film, sampe praktek sesi pelajaran bahasa Norsk yang saya pelajari iseng (iseng banget) dari Internet (Hvordan går det, bloggers?). 🙂

Kadang saya pergi beberapa jam, kadang sampe tengah malem kalo energi cukup. Dan saya jarang banget berhenti, kecuali kalo sesak pipis trus berhenti di toilet pom bensin. Atau pas mau pulangnya, kadang saya mampir ke minimarket jajan kopi instan buat stok di rumah, buat meneruskan malam-malam tanpa tidur setelah jalan-jalan galau.

Sebenernya sih cerita ini mau dihubung-hubungkan sama topik yang lebih rada serius. Tapi saya nggak mau pembaca (atau saya sendiri) bosen. Jadi mungkin akan saya tulis untuk postingan berikutnya.

Sementara itu, siapa yang suka jalan-jalan? Pasti seru kalo yang hobi fotografi, jalan-jalan buat bikin gambar bagus. Atau jurnalis buat nemuin cerita menarik. Atau yang hobi traveling secara spontan.

Saya harap saya bisa jadi salah satunya. Atau kesemuanya.