Topeng

topengSebagian orang berpendapat bahwa manusia memakai “topeng” setiap hari. Sikap yang ditunjukkan seseorang belum tentu sama di waktu dan tempat yang berbeda. Dan akhirnya kita cuma bisa berkomentar apakah tindakan orang tersebut munafik atau tulus. Padahal kita nggak bisa mengharapkan dunia nyata ini seperti sinetron. Yang baik ya baik terus, yang jahat ya jahat mulu.

Menurut saya tindakan memakai “topeng” atau persona merupakan sekedar usaha yang berasal dari niat, situasi, ego dan gagasan tertentu (kata saayaa).

Kita mampu menilai sebuah situasi dan memutuskan tindakan yang kita ambil, serta menentukan tujuan yang ingin kita dapatkan dari situasi tersebut.

Kita sebagai manusia punya kebutuhan dan keinginan. Kita boleh jadi berkualifikasi untuk punya jabatan dalam sistem yang mengorganisir hak orang sipil. Tapi belum tentu ego kita membuat semua orang mendapatkan haknya secara adil. Kita boleh jadi menginginkan sesuatu yang baik untuk diri kita, tapi belum tentu ego mendorong kita menjalani usaha yang halal dan sehat untuk mendapatkannya.

Kalo boleh jujur, saya pikir kita sebagai manusia belum cukup humanis dan empatetik untuk otomatis jujur dengan emosi dan perasaan kita terhadap sesama, terutama orang asing. Kita nggak bisa baca pikiran satu sama lain dan masih takut sehingga harus bertaktik agar tidak dirugikan orang lain. Apalagi kenyataannya nggak semua orang punya tingkat kesejahteraan yang sama. Sehingga yang “lebih” takut dirampok oleh yang “kekurangan”, yang merasa tidak punya apa-apa takut di-bully dan dieksploitasi orang yang punya kepentingan.

Jadi memakai ‘topeng’ menurut saya adalah gejala yang biasa. Kita juga nggak perlu terlalu menyorotnya sebagai watak yang tak bermoral atau munafik. Kita semua descent dan berkelas dengan cara yang berbeda-beda, memiliki kualitas dan watak positif yang baik dan bisa menyenangkan orang lain dengan cara yang unik. Meski di sisi lain kita juga tak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Itulah yang membuat kita manusia…sejauh ini.

Iklan

Manic

Sebenernya saya ini lagi episode manik (energi berasa berlebih), makanya rajin banget nulis-nulis. Ini dan beberapa tulisan belakangan sebenernya tulisan terjadwal. Hari ini aja saya udah nulis dua postingan, sama yang ini jadinya tiga. Cuman nggak mau dipublish sakblas, emang pengen biar blognya kelihatan update satu tulisan satu hari.

Itu kalo ngomong enaknya episode manik. Negatifnya, episode ini juga bikin kita gampang kesel, gelisah dan nggak bisa diem. Ada hal yang dirasa nggak pas aja langsung bawaannya pengen ngomel-ngomel atau marah. Kayak pas di jalan, ada pengendara motor yang bunyiin klaksonnya intens banget. Padahal dia bunyiin itu supaya ngasih tanda karena dia lagi merayap melawan arah di pinggir aspal. Bagi saya itu tuh nyebelin banget! Walau mungkin dalam keadaan normal hal kayak gitu udah biasa terjadi di jalanan setiap hari. Saya nggak habis pikir dan mulai ngomel-ngomel sendiri tentang keegoisan itu orang dan seterusnya… Hadeh.

Walau gitu, tetap ada yang bisa mendinginkan hati lagi. Salah satunya adalah dengerin musik. Saat ini saya lagi seneng sama lagu Raindrops Keep Falling On My Head yang dinyanyiin B.J. Thomas, dan musik klasik yang bikin santai, Gymnopédie No.1 oleh Erik Satie.

 

>> Tips Mengatasi Rasa Kesal

Curcol: Berusaha Menjadi “Manusia” Lagi

DSC01222

Sejujurnya saya iri dan ‘patah hati’ melihat banyak orang-orang dengan Bipolar yang tetap mampu membawakan kehidupan yang cukup sukses bagi standar saya. Menyelesaikan pendidikan, menjalani pekerjaan tetap, bahkan membesarkan sebuah keluarga.

Kalau membahas kenapa begini-begitu sebenernya bisa aja ditelusuri, tapi saya rasa sebelum itu saya coba sajikan, penjelasan-penjelasan itu nggak akan penting lagi bagi orang lain. Karena tentu saja yang terpenting adalah bagaimana tindakan saya selanjutnya.

Intinya saya punya banyak pekerjaan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan nyata dengan kapasitas saya. Saya selalu berusaha melakukannya sejak kecil dan selama beberapa tahun ini saya sedang menyerah dan lelah serta memilih menjadi diri sendiri yang bebas tapi tak stabil dan tak terarah.

Mungkin kali ini saya harus mencoba lagi berusaha “menjadi diri saya versi manusia nyata” dengan cara yang benar dan tepat, serta lebih giat. Karena dokter saya dan orang lain juga mengatakan semua itu bisa dilatih dan dibiasakan. Dan saya, tentu saja ingin percaya bahwa masih mungkin jika saya memiliki kehidupan yang lebih baik, meskipun nggak sebaik orang kebanyakan.

Mungkin fokus yang harus saya lakukan bukanlah bagaimana agar bisa memiliki kehidupan itu. Melainkan fokus pada hal-hal yang harus saya lepaskan agar alirannya dapat berjalan secara alami.

Memberitahu Keluarga Tentang Masalah Kejiwaan

DSC01221Sedikit ironis jika memikirkan bahwa saya lebih terbuka disini, kepada kalian teman-teman blogger sekalian soal kondisi saya dengan Bipolar, ketimbang di dunia nyata kepada keluarga saya sendiri.

Satu-satunya keluarga yang tahu dan mengerti soal kondisi saya adalah kedua orangtua saya. Sementara saya nggak yakin apakah keluarga dekat paham soal kondisi saya. Selain itu ada dua teman yang pernah secara terbuka saya beritahu soal Bipolar.

Yang pertama sebenernya saya beritahu dengan cara yang bikin saya pengen lompat ke jurang berapi kalo ngingetnya. Karena waktu itu saya kumat dong marah-marah sama si temen lewat telepon, sehingga akhirnya mau nggak mau saya “membela diri” menjelaskan tentang kondisi kejiwaan saya. Saya nyesel se-nyesel-nya hingga sekarang karena saya sayang sama sahabat SMS saya itu. Saya tahu dia sudah melewati banyak hal dan saya hanya berharap dia mendapat hal-hal yang memang layak dia dapatkan untuk merasa bahagia.

Belakangan saya juga cerita soal kondisi saya kepada seorang sahabat. Dan sejak itu saya masih suka curcol dan diskusi sama dia soal apapun, soalnya anaknya emang pinter, baik, rajin shalat dan murah hati (kayak slogan majalah anak muslim ha ha).

Saya nggak yakin seberapa penting jika orang tahu dan aware terhadap kondisi saya. Tapi ada aja saat-saat kita berharap keluarga dekat mengerti kondisi kita dan memberikan sikap dukungan.

Ketika kita memiliki gangguan kejiwaan dan sadar akan hal itu, kita nggak mau selamanya bersembunyi dan harus berusaha berkali-kali lipat untuk menghandle diri sendiri dan orang lain yang nggak aware terhadap kondisi kita. Kita akan sangat senang jika orang paham dan bersikap positif, tapi juga bukan mengasihani dan malah menjauhi kita karena dianggap merepotkan atau nggak bisa diandalkan.

Sebagai ODMK saya berharap keterbukaan oleh semua pihak dan semua orang, meningkatkan kesadaran tentang masalah kejiwaan yang dialami banyak orang ini. Kita nggak bisa naif dan berpikir, “Ah itu nggak mungkin terjadi sama saya atau orang dekat saya.” Kita harus menerima dengan hati terbuka bahwa kondisi kejiwaan sama layak untuk diberi perhatian serius dengan penyakit-penyakit lain yang lebih umum.

Memberi pengertian tentang hal semacam itu nggak mudah memang. Apalagi dengan keluarga yang sifat serta karakternya berbeda-beda dalam menanggapi masalah kejiwaan. Akan sulit jika keluarga bersikap terlalu konservatif dan menganggap tabu untuk membahas masalah kejiwaan yang dialami anggota keluarganya.

Saya pernah melakukan kecerobohan yang berakhir dengan penyesalan lainnya ketika berusaha memberi gambaran tentang kondisi saya kepada keluarga. Saya bertengkar dengan salah satu keluarga saya dan saat itu saya berpikir, ternyata memang nggak mudah berusaha membuat keluarga mengerti tentang gangguan kejiwaan. Tapi saya paham semua itu 99,9%-nya adalah kesalahan saya dan gangguan kejiwaan saya. Sisanya hanyalah sikap yang tidak siap dari orang lain terhadap “cara-cara” saya.

Contoh yang paling sering membuat saya merasa terbentur batasan pemahaman ini adalah ketika ngobrol soal “rencana masa depan”. Keluarga saya selalu berpikir saya sama seperti  anak lain dan bisa melakukan hal-hal yang dilakukan orang lain seperti menyelesaikan pendidikan dan bekerja layaknya orang normal. Mereka berusaha membantu saya dan mengarahkan saya sesuai dengan bakat dan kapasitas saya.

Tapi sayangnya, ketidakpahaman mereka secara penuh tentang kondisi saya itu justru membuat saya tertekan. Saya sempat merasa mereka mendorong saya untuk mencapai standar-standar yang terlalu baik dalam pandangan dan standar kapasitas saya.

Saya dekat dengan keluarga saya sejak kecil, dan saya ingin bisa memercayai mereka terhadap isu saya. Keluarga saya ingin melihat saya dalam imej yang mereka lihat, tapi sayangnya itu bukan seluruhnya diri saya yang sebenarnya. Dan itu dilematis karena saya juga orangnya bukan tipe yang selalu mampu membela dan menyokong prinsip pribadi. Saya masih terlalu kekurangan secara emosional untuk memenuhi keinginan siapapun termasuk diri saya sendiri.

Pengen sebenernya merenung lebih panjang tentang kenap saya sulit berhasil di dunia nyata. Tapi sampai disini, saya hanya berharap lebih banyak keluarga Indonesia lebih terbuka terhadap masalah kejiwaan dan bahwa ini bukan tabu atau aib, tapi merupakan peluang untuk mempererat kekeluargaan dengan sikap terbuka dan kemanusiaan serta kasih sayang. Plis jangan ada lagi yang dipasung karena menderita gangguan kejiwaan. Semua orang layak mendapat pengobatan yang layak, dan pada akhirnya, kehidupan yang lebih baik.

5 Tanda Kamu Kesepian Kronis

kesepian kronis

Berikut 5 tanda kamu mengalami Kesepian Kronis. (Sebenernya ini agak-agak nggak penting banget tapi yah lumayan buat nambah-nambah postingan ha.)

1. Lintasan Mood

Ketika kamu menderita kesepian kronis, kamu menghadapi lintasan mood seorang diri. Ketika mood kamu cuma pengen ngeremin telor alias diem nggak beraktivitas, kadang kamu berharap ada yang nanya kenapa kamu diem aja dan nggak kemana-mana. Tapi kamu juga terlalu malas untuk mencari seseorang yang peduli. Ketika kamu gelisah nggak bisa diem dan mood-nya selalu pengen ngelakuin sesuatu, itu bisa sangat menyiksa karena kamu nggak punya siapa-siapa untuk bisa diajak menyusun jadwal atau rencana kegiatan. Paling bagus ujung-ujungnya kamu jalan-jalan sendirian di mall, trus mendadak statis bak patung saat browsing-browsing celana dalem dan mempertanyakan makna eksistensimu.

2. Penampilan

Kamu berhenti memerhatikan penampilan diri. Kamu mungkin bakal makan sesuka kamu, sebanyak atau sesedikit yang diinginkan mood. Kamu bisa jadi kegemukan atau malah kekurusan. Rambut kamu dibirkan mbiak-biak kayak Suketi baru bangkit dari kubur. Kamu juga berhenti pake parfum, dandan dan membeli pakaian baru, karena kamu nggak tahu mau menunjukkan itu semua sama siapa. Rasanya nggak ada gunanya, jadi ya, prinsip “jadi diri sendiri” berarti lepas tanggungjawab terhadap penampilan dan jadi apa adanya seperti saat kamu masih bayi (yang berarti kemungkinan kamu juga seliweran di rumah tanpa busana [semoga nggak]).

3. Percakapan Imajiner

Ini satu hal yang mungkin agak aneh tapi terjadi pada saya sendiri. Kamu mungkin bakal mulai banyak bicara sendiri di dalam pikiranmu. Terkadang cuma monolog, terkadang seolah bicara dengan seseorang, yang bisa jadi orang khayalan atau seseorang yang kamu kenal seperti teman atau saudara. Dan setiap kamu melakukan tindakan tertentu, kamu akan berfantasi orang itu meminta penjelasan pada kamu mengapa kamu melakukan apa yang baru saja kamu lakukan. Dan kamu akan mulai menjelaskan panjang lebar alasan dan motivasi dari tindakanmu. Silahkan terkikik geli atau mengernyit tapi itulah yang saya lakukan hampir setiap hari. (Oh God I need friends.)

4. Semakin Introvert

Kamu merasa semakin introvert setiap harinya. Dan ketika dihadapakan pada situasi sosial, kamu merasa kemampuan kamu dalam berinteraksi dengan orang lain telah banyak berkurang. Kamu jadi mudah gugup, nggak fokus dan susah nyambung sama obrolan. Apalagi kalau orangnya ngobrol soal hal-hal sederhana tentang dunia nyata seperti pekerjaan, tempat/lokasi/alamat, cuaca, dan sebagainya.

5. Merindukan Sisi Komedi Dari Konsep Kesepian

Kalo dulu kamu bisa bilang dengan setengah bercanda, “Buat apa gaul banyak-banyak, ane udah punya temen kok, dua orang.” atau “Ane males keluar. Ada manusia diluar sana.” Sekarang kamu cuma bisa nyengir-nyengir merindukan saat komentar-komentar kamu itu terasa lucu dan imut. Karena saat ini kamu nggak yakin lagi apa yang kamu inginkan. Pengen punya temen banget, tapi kemampuan bersosial kamu terlanjur menurun dan kamu takut cuma bakal bikin suasana jadi garing atau canggung, dan akhirnya temen kamu nggak menikmati kehadiranmu. Ujung-ujungnya kamu malah mengecewakan diri sendiri dengan ‘performa’ yang buruk.

Kamu adalah jiwa malang yang tangguh dan mandiri

Tapi tidak ada kata terlambat untuk melatih kembali artikulasi pikiran dan tubuhmu agar kembali siap bersosialiasi. Kamu bisa mulai menarik satu atau dua temen untuk menemani kamu di rumah atau kosan. Buat rencana untuk main bersama yang santai dimana mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau tapi hasilnya bisa dinikmati sama-sama. Misalnya masak bareng, nonton DVD bareng, dan sebagainya.

Takut gagap atau salah ngomong? Berlatihlah dengan membaca dengan bersuara lantang seperti saat berlatih pidato. Menyuarakan ide atau pikiran bakal membantu kamu menaruh kepercayaan pada dunia luar di sekitarmu sehingga kamu nggak akan canggung atau ragu-ragu lagi.

Salah satu faktor yang membuat kamu gugup adalah kamu selalu takut kamu tidak siap ketika orang lain menginginkan sesuatu darimu. Modifikasilah pemikiran itu. Berpikirlah “selalu siap menerima” dan bukannya “harus siap melayani” ataupun “selalu meminta”. Kenali dan hargai kehendakmu sendiri demi kebahagianmu sendiri. Hargai pula hak dan kebahagiaan orang lain.

Selain masih bisa bersenang-senang dengan teman-teman, kamu akan selalu dikenal sebagai orang yang mandiri dan menjadi sosok yang menguasai baik dunia nyata maupun dunia imajinasi. 😉 Dan siapa tahu di masa depan kamu akan jadi sosok yang diandalkan teman-temanmu ketika mereka butuh pertolongan atau ‘pundak untuk menangis’.

Ada lagi ciri-ciri orang kesepian? Jangan lupa klik Suka, komen dan +Ikuti karena…yah itu bikin saya seneng. *tepok jidat pake piring terbang*

Rahasia Sains Periklanan

 

Mau tahu bagaimana cara kerja iklan memengaruhi calon pelanggannya? Berikut saya coba rangkum isi video diatas.

Perusahaan-perusahan di Amerika menghabiskan $170 triliun per tahun.

Iklan menggunakan teknik-teknik yang menanam memori positif serta merangsang emosi penonton sehingga tergerak untuk membeli produk mereka. Hal yang mendasari ini adalah level atau tingkatan bawah sadar manusia.

MODEL

Pada dasarnya kita cenderung tidak ingin mudah dipengaruhi untuk melakukan sesuatu. Tapi kita cenderung memerhatikan apa yang dilakukan oleh orang lain sehingga model digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara tersebut.

Ekspresi senang paling sering digunakan dalam iklan sebab kita memiliki “syaraf cermin” dimana kita cenderung meniru ekspresi yang ditunjukkan orang lain.

Pupil yang melebar tampak lebih ataktif sehingga foto-foto model iklan seringkali di-Photoshop agar pupil mata mereka tampak lebih lebar.

Para ahli juga mengatakan posisi tangan tangan saat memegang produk dalam iklan juga berpengaruh. Dalam hal ini tangan yang dominan yaitu kanan.

WARNA

Warna digunakan perusahaan dalam logo mereka untuk mewakili pesan yang ingin mereka sampaikan tentang produk mereka. Merah menandakan tindakan, semangat dan masa muda.

Hijau menunjukkan kesegaran, pertumbuhan dan kesehatan. Sementara biru menunjukkan kepercayaan, percaya diri dan kenyamanan.

BAHASA

Teknik lainnya adalah klaim yang tidak benar-benar teruji. Misalnya “lebih harum” atau “lebih nikmat” meskipun tidak ada perbandingan resmi yang dilakukan. Selain itu juga testimoni palsu yang mereka klaim berasal dari tokoh publik atau selebriti.

PERTANYAAN RETORIS

Iklan terkadang menggunakan pertanyaan-pertanyaan retoris untuk membuat orang tergerak menggunakan produk mereka. Contohnya: “Got Milk?”, “Mau?”, “Sudahkah Anda Minum Yakult Hari Ini?”

Nah, udah tahu ‘kan gimana perusahaan menggoda kita melalui iklan-iklan mereka? Tertarik membuat perusahaan dan iklan untuk produkmu?

How To Be Young Again

Daily Prompt: What are your thoughts on aging? How will you stay young at heart as you get older?

quote

Aging is an amazing and scary at the same time to me. You feel like you can do a lot more things with more energy, longer limbs, stronger heart, brain, skill, etc. But you’d also feel like have missed a lot in your life.

I  experienced my life mostly in the ‘inside’ where emotions and ideas collide. I didn’t and don’t really get out a lot. As an only child who likes reading ghost stories more than playing soccer with my cousins, I felt like it would be amazing to be able to create my own world, my own kingdom. It doesn’t have to be a medieval-themed kingdom, it can be as mystical and impossible as you want. I would create portal or magical wooden door appears in my room’s wall and someone would beg me to go in there for a quest involving magical items and wizardy or psychic powers that would possess me.

But then even at the time, I felt like I had not enough time and space to live in my own dream world. I enjoyed reading before bed. I liked it when I had to add another collection into my shelf. I still feel the same about books. I like to read, though ye classic attention span decreasing almost stopped me from reading at all.

Yet, realizing I wasn’t in a kind of environment that support so much imagination and impractical way of thinking, I ended up trying to hard to be “normal” which then became one of the reason why I’m having a few mental problems today. Oh yeah, I’m telling this with all dignitiy and respect. I don’t mind. So don’t worry.

I started to feel young “again” actually just recently when I hit 25. I don’t know why, I just kinda feel like, like I said in the first part, that I’ve missed a lot in my early years of life. I didn’t go out enough, I didn’t touch and interact with enough people, I didn’t talk and stand for my voice enough…everything isn’t enough! Yes, that makes me pretty emotionally insufficient to support my own security and happiness.

But then suddenly…I learned to laugh again, I learned to cry again, I learned to smile that feels like for the very first time in my life. I think this is generally what is called “growing up”. The shirt fits better on your growing body. The soul gets more room to elaborate and use everything you’ve learned so far and burns it into a sum of energy for another business of life. I know, I’ve had this type of deal each year. But this, at this quarter of century of my age, I learned a lot to use ME. To function myself FOR myself. To live a little more than just, “Ah…I’m glad I learned to do this better.” I felt that I started to live for the first time. How did I do it?

I’m still doing it now. Smile. Laugh. Cry. A LOT MORE. Be more receptive and empathetic towards your surrounding. Watch it in alert. They’re all around you. Trees, sun light, trunks, river, kids, boys, girls, and old lady, 90s used Toyota, your mother on the couch, a bowl of salad on her hand… They’re there to be functional and activated by your loving gesture.

Go out and lurk inside. You can jump and you’ll survive. You can hug and you’ll grow love and not everyone has to understand that feeling. You can smile to laugh and clear your mind from negative judgments about the world.

If you think growing up is scary. It is. In a way that you would see things you could have been done earlier. Things you still can do now in any way. You can start with recalling your dreams and fantasies, smile at them and say, “Remember when we used to hang out and have fun? Wanna start again?”

  1. Secrets of the universe | Perspectives on life, universe and everything
  2. Child’s play 🙂 | Perspectives on life, universe and everything
  3. Coffee-drinking on a bench, in a Sunny Morning | НЕКОИ МАЛИ НЕШТА ПИСАТЕЛСКИ
  4. Age is relative… | Hope* the happy hugger
  5. Forever Old | Musings | WANGSGARD
  6. Forever Young | Knowledge Addiction
  7. Daily Prompt: Young At Heart | The WordPress C(h)ronicle
  8. The Daily Prompt & Being First | The Jittery Goat
  9. Young at Heart | Kate Murray
  10. HIGH HOPES | Seif Salama Karem
  11. Seconds | INKLINGS
  12. Daily Prompt: Young At Heart | seikaiha’s blah-blah-blah
  13. The Click-Over | jigokucho
  14. Daily Prompt: Young At Heart | Awl and Scribe
  15. “Young at Heart” | Relax
  16. Aging With Grace | The Giardino Journey
  17. Daily Post: Young at heart | Love your dog
  18. Daily Prompt: Young At Heart | Life is not for everyone.
  19. DP Daily Prompt: Young At Heart | Sabethville
  20. Daily Prompt: Young At Heart: When I am an old woman I shall wear purple | Healthy Harriet
  21. Daily Prompt: Young At Heart | tnkerr-Writing Prompts and Practice
  22. Daily Prompt: Young At Heart | littlegirlstory
  23. Aging is Seen Clearest, in the Mirror! | meanderedwanderings
  24. Young At Heart Forever? | Awake & Dreaming
  25. “Emotionally Subnormal”: Comic Book Culture and its Intended Audience | A Wiser Fella Than Myself Once Said…
  26. Young At Heart | Lisa’s Kansa Muse
  27. Daily Prompt: Young at heart. | A cup of noodle soup
  28. Daily Prompt: Young At Heart | wisskko’s blog
  29. Daily Prompt: Young at Hearts- psychology and phylosophy behind getting old | Journeyman
  30. Staying Young… | Haiku By Ku
  31. How To Be Young Again | The Moon Head
  32. Didn’t Die Before I Got Old | I’m a Writer, Yes I Am
  33. I Will Never Grow Old | Flowers and Breezes