Talk About It

mother adult sonDalam kondisi yang terbilang buruk, saya berada diantara banyak kemungkinan dan saya bingung harus fokus kemana. Di satu sisi saya tertarik dengan ide-ide negatif, tapi di satu sisi lain saya hanya ingin merasa tentram.

Dan ternyata, semuanya jadi terasa lebih ringan ketika kita membicarakannya. Saya menghabiskan sepanjang malam mencurahkan pikiran dan perasaan saya kepada Mamak, đŸ˜› begitu juga Mamak saya menceritakan banyak hal kepada saya, yang membuat saya semakin memahami situasi dari sisi Mamak maupun Bapak sebagai orangtua saya.

Terkadang memang lebih baik merasa tentram ketimbang merasa benar.

Kalau terus memikirkan masalah, pikiran tidak akan puas mencari-cari cara agar kita bisa lolos sebagai pihak yang tidak bersalah.

Padahal yang terbaik itu bukan mengubah kesalahan yang kita lihat pada sekitar, melainkan mengubah diri kita agar bisa tetap berfikir dan bersikap positif dalam segala masalah.

Masalah bisa terasa mustahil dan berat untuk dilewati. Dan kita takut ini tidak akan berakhir. Tapi ada imbalan untuk setiap cobaan yang kita alami. Entah itu sekedar pengimbang dosa, atau hadiah yang lebih besar di akhirat kelak.

Yang jelas, Allah tidak pernah salah atau membenci umat-Nya tanpa alasan. Yang pantas kita khawatirkan adalah apakah cobaan ini merupakan ladang pahala, ataukah untuk menutupi dosa-dosa kita di masa lalu terhadap orang lain dan diri sendiri.

Semoga kita semua menjadi orang yang lebih ikhlas dan sabar. Amin.

Kepada siapa biasanya kamu curhat ketika ada masalah?

gambar: allposters.com

Hujan-Hujan Begini

Selama seminggu setelah obat-obat saya habis pol, saya bener-bener nggak bisa tidur normal. Rasanya gelisah terus setiap hari. Perut mules dan pikiran serta mood tidak keruan. Tapi saya merasa JAUH lebih lega setelah curhat dengan Mamak saya. đŸ˜‰

Akhirnya malam ini pun saya menyerah berusaha tidur malam. Walau terus ‘ditempeli’ perasaan gelisah atau restless yang tidak mau hilang.

Sebenarnya tadi pengen nonton film-film koleksi lama. Saya sempat lumayan hobi mengoleksi VCD dan DVD. Tapi DVD-Drive laptop saya udah nggak sanggup membaca CD apapun. Dengan sadisnya dia nge-reject sendiri pas saya masukin VCD Looney Tunes: Back In Action. đŸ˜¥ Entah kenapa bisa begitu.

Akhirnya dengan putus asa saya kembali nonton koleksi yang udah ada di hardisk. Saya pun nonton Green Lantern sambil makan nasi pake tumis kangkung (nggak ada popcorn).

Hujan diluar turun deras, walau sekarang sudah mulai mereda. Tapi saya harap sih hujan kembali deras supaya bisa membantu saya tidur atau paling nggak, ya biar suasananya ayem (nyaman) aja. Kan enak kalo hujan-hujan begini sambil ngelaptop atau ngemil, ataupun nonton TV.

Fokus saya lagi kurang bagus buat nerusin baca novel Daughter of Fortune-nya Isabel Allende. Mau makan udah kenyang. Tapi masih pengen ngemil yang ringan-ringan.

Tadi saya senang sekali bisa hujan-hujanan sambil naik motor saat pergi menyetor deposit pulsa. Kakak yang jaga sampe mengomentari saya yang hujan-hujanan. Saya cuma bisa bilang “iya” sambil ketawa garing.

Sebenernya saya pengen bisa lebih akrab dengan kakak itu. Apalagi saya setor deposit di tempat itu udah lumayan lama. Tapi saya nggak tahu mau ngomong apa ke dia. Saya selalu takut kalo dia menganggap saya aneh dan membenci saya. Dia membuat saya ingin menjadi pemuda yang lebih baik. Hloh, hloh, kenapa jadi ngomong gini. đŸ˜†

Ohya entah kenapa seharian ini nafas saya berasa asam dan bau. Haha. Sepertinya ada yang salah dengan mulut atau pencernaan saya.

How’s your day?

gambar: http://prieblandoje.blogas.lt; herocomplex.latimes.com

To Speed Things Up

Warning: curhatan geje.

4 tahun yang lalu adalah terakhir kali saya aktif di ‘dunia nyata’. Saya sudah lupa bagaimana rasanya. Saya mungkin tidak akan pernah siap untuk bentuk kehidupan normal semacam itu lagi. Otak saya sudah lelah membagi fokus pada hal-hal lain selain mengatasi ketegangan atau hal-hal sepele lain yang berkaitan dengan kondisi mental saya.

Namun apa yang saya pelajari selama ini terutama adalah kesabaran, baik dalam menjalani ketidak-sempurnaan, ketidak-sesuaian kenyataan dengan keinginan, dan menahan ‘ledakan’. Saya tidak marah lagi, tapi menangis di pelukan Mamak saya. Saya mengatakan dengan bersuara  jelas apa yang menganggu perasaan saya. Saya menahan dorongan self-harm. Bagi saya itu perkembangan, bukan sekedar kebiasaan yang norak atau memalukan.

Apa yang saya pikirkan saat ini adalah memampatkan waktu, mempercepatnya untuk melihat seperti apa saya nanti. Apakah tetap menjalani waktu-waktu yang sama, dengan momok yang sama, atau pada akhirnya ‘pecah’ dan melakukan sesuatu yang bermanfaat sebagai ‘manusia normal’. Tidak menarik diri, tidak kaku, tidak egois; tapi fokus, bersyukur dan antusias. Itu impian saya.

Apa impianmu saat ini?

gambar: jupiterimages.com