(Fiksi) Pulang

Daya sudah ikut pamannya yang seorang yogi sejak ia masih berumur 2.5 tahun. Orangtua Daya berpikir bahwa dengan menjadi yogi putranya akan terbebas dari kesusahan hidup dan kekurangan makanan yang mereka derita di desa Fanna.

Setelah pamannya meninggal dunia, Daya meninggalkan hutan tempat ia bermeditasi selama 18 tahun. Ia berniat pulang ke desanya untuk menemui orangtuanya. Ia kangen pada mereka meski apapun keadaan yang akan ia saksikan nanti.

Setelah sampai di desa, orang-orang Fanna memerhatikan penampilan Daya yang mencolok, dengan jubah putihnya yang lusuh dan rambut yang panjang seperti orang liar. Daya tetap berjalan dengan tenang dan mencoba mencapai rumah orangtuanya secepat mungkin.

Ia bertanya pada orang-orang dimana rumah keluarganya. “Tuan, dimanakah rumah Adithya Paley?” Daya bertanya pada seorang bapak.

“Maaf, aku tidak mengenalnya. Cobalah tanya orang-orang di kedai teh itu.” Pria itu kembali mengayuh sepedanya yang disesaki rumput untuk ternak.

Daya datang dan bertanya pada pemilik kedai yang seorang Muslim bernama Habib. “Hai, sudah lama aku tidak melihat seorang yogi dalam hidupku,” kata pria berkumis itu.

“Aku sedang mencari rumah keluarga Paley. Adithya Paley dan istrinya Asha.”

“Paley? Aku rasa aku tahu nama itu. Tapi mereka sudah tidak ada disini.”

“Bagaimana?” Daya mencoba mencerna jawaban Habib. “Mereka pindah?”

“Ya, aku rasa begitu.” Habib menggosok gelas teh dengan celemeknya. “Fanna mengalami kekeringan terburuk hingga sepuluh tahun yang lalu. Banyak orang yang memutuskan pergi dari desa untuk mencari lahan pertanian baru.”

Daya pergi ke rumah yang ditunjukkan sebagai bekas rumah orangtuanya dulu. Kini pondok reot itu telah menyatu dengan kandang kambing milik seorang saudagar.

“Tuan saudagar, kemanakah orang-orang pindah saat masa kekeringan?” tanya Daya pada sang saudagar.

“Aku rasa kebanyakan dari mereka pergi ke Gujarat. Itu Ashram Sabarmati.”

“Ashram?”

“Itu adalah sebutan untuk desa yang dibimbing oleh Gandhiji.”

Daya melamun sejenak.

“Kau mau susu kambing, anak muda?” pria itu menawari sambil menyodorkan segelas susu.

“Tidak, terimakasih.”

“Bagaimana kalau potongan rambut baru?” Pria itu tertawa. Kemudian mereguk susu kambing dari gelas di tangannya.

Daya berlalu pergi. Pikirannya menjadi semakin tidak beraturan. Ia butuh bermeditasi sebentar.

Dalam meditasinya, ia melepaskan semua kotoran kekhawatiran, ketidaksabaran, harapan, dan nafsu. Malam harinya ia berjalan dan menemukan dirinya berada di pusat kota yang ramai.

“Lihat, ada pertapa gila…” kata anak-anak remaja sambil menunjuk kearahnya.

“Berikan aku uang yang banyak dengan doamu, rabi,” ejek seorang wanita yang memakai sari hijau dan tas pinggang kulit, sambil berdiri di dekat tumpukan sayuran yang dijualnya.

Daya menghampiri seorang sopir bajaj. “Permisi tuan, aku mencoba pergi ke Gujarat, tapi aku tidak memiliki uang.”

“Heh? Kau pikir kau ini siapa? Mahatma Gandhi?! Tidak ada yang gratis di dunia nyata, Nak. Bangunlah dari pertapaanmu sekarang juga dan pergi sebelum kesabaranku habis!” repet sopir bajaj itu.

“Terimakasih,” ujar pemuda itu.

Daya tidak dapat memikirkan cara agar ia bisa pergi ke tempat dimana kemungkinan orangtuanya berada. Sampai ia teringat pada perkataan wanita tadi.

Ketika wanita penjual sayuran itu sudah pulang, Daya duduk di tempat dimana wanita tadi berjualan. Ia pun mulai melantunkan doa-doa kepada Sang Pencipta dengan khusyuk hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tapi lama-kelamaan mereka pun bosan dan berlalu pergi.

Subuhnya, wanita yang bernama Priya itu terkejut mendapati orang berjubah yang dilihatnya kemarin berbaring tidur di lantai lapaknya. “Hey, kucing kurap, bangunlah! Seenaknya saja tidur di tempat milik orang!”

Priya mengomel sambil mengusir Daya pergi. Pemuda itu bangkit dan menyingkir ke sebuah gang. Disana ia menemukan ceruk sempit dari sebuah pintu dimana ia kemudian duduk dan bermeditasi.

Siang harinya terjadi kehebohan di pasar kota itu. Seseorang memborong semua sayuran Priya untuk keperluan hajatan. Bahkan orang itu membayar lebih untuk bumbu kari siap pakai yang juga dijualnya.

Priya begitu girang, memberitahukan semua orang di toko-toko di sekitarnya tentang rejeki nomplok yang baru memberkahinya.

Saat itulah seorang lelaki kurus penjaja rokok memberitahukan apa yang terjadi semalam. “Pertapa muda itu berdoa semalaman di lapakmu. Aku tidak pernah melihat seorang manusia bisa berdoa sekhusyuk itu.”

“Astaga…” ujar Priya. Kali ini ia merasa bersalah atas sikap kasarnya pada Daya. Hatinya bergetar oleh pancaran kasih dan energi spiritual yang diwariskan dari tubuh dan jiwa pemuda itu. “Rabi, atau siapapun kau,” kata Priya menghampiri Daya. “Bangunlah. Aku minta maaf atas sikap jahatku padamu. Berkat doamu, hari ini aku mendapatkan keberuntungan. Ayo, katakan apa yang bisa kulakukan untuk membalas dermamu.”

“Sesungguhnya aku telah mengotori niatku dengan berharap balasan darimu. Tapi aku butuh menemui orangtuaku di Gujarat. Kerinduanku pada mereka telah melampaui semua pencapaian spiritualku. Semoga aku diampuni oleh-Nya,” Daya bertutur lembut.

Priya menyerahkan sejumlah uang dari tas pinggangnya. “Ini, pergilah menggunakan bajaj menuju stasiun kereta. Lalu mintalah taksi untuk mengantarmu ke tempat tujuanmu.”

“Terimakasih, nyonya.” Daya tersenyum pada Priya.

Aku tidak pernah menyaksikan senyuman yang menerangi hati seperti itu. Pikir wanita itu.

Setelah melewati perjalanan yang penuh kerinduan, Daya akhirnya tiba di Ashram Sabarmati. Tapi Gandhi sedang tidak berada disana.

Daya menemui kepala kelompok masyarakat yang bernama Sanjit Chakravarty. Ia menanyakan mengenai orangtuanya. Tak disangka-sangka, Daya meneteskan airmata menceritakan betapa inginnya ia berjumpa dengan orangtuanya lagi walau hanya sekali. Namun jawaban pak Chakravarty justru semakin membekukan hati Daya.

“Asha ibumu, sudah meninggal… Dalam perjalanan menuju Ashram, rombongan mereka menghadapi pertikaian dengan kelompok gerakan nasionalisme karena ada sepasang Muslim diantara mereka,” ujar Sanjit.

Daya tidak dapat menahan tangisannya. Ia merasa sesuatu direnggut darinya dan jiwanya menjadi begitu berat oleh hasrat yang gagal dan kenestapaan.

“Apakah abu mereka dibuang ke sungai Gangga?”

“Tentu saja. Tapi…Nak…sebenarnya ayahmu masih hidup. Dia ada disini.”

Daya menatap Sanjit dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa harus mengatur ulang harapan di hatinya.

Sanjit mengajak Daya ke sebuah rumah. “Adithya! Keluarlah, ada seseorang yang ingin menemuimu.”

Daya jatuh berlutut menyaksikan ayahnya yang buta dan kehilangan sebelah kakinya. Lelaki tua itu berjalan dengan bantuan tongkat dan ditemani seekor anjing hitam. “Siapa? Apakah itu Gandhiji?”

“Ini aku, Ayah. Aku Daya, putramu…” Pemuda itu berlutut dan menciumi tangan ayahnya sambil berurai airmata.

“Daya… Putraku…” suara Adithya menjadi parau oleh keharuan.

“Aku disini, Ayah. Aku sudah pulang…”

Daya hidup damai bersama ayahnya di Ashram. Ia menjadi salah satu guru spiritual dan memiliki banyak pengikut dari kalangan remaja serta dewasa.

Ditulis untuk #WriterChallenge, tema: “Pulang”.

Waduh nggak nyangka jadinya panjang. Intinya, kisah ini menceritakan tentang kembalinya seorang anak ke pelukan orangtuanya. Tidak peduli meski keadaan orangtuanya sudah tidak lengkap dan sempurna, Daya menemukan rumah pada apa yang tersisa dari orangtua yang dikasihinya. Setinggi apapun ilmu seorang anak, kemanapun ia telah berpetualang, rumah yang paling layak untuk tempat ia berpulang di dunia ini adalah pelukan kedua orangtuanya.

Dongeng Dunia

Apakah kamu suka baca cerita dongeng? Kalo gitu mungkin kamu suka 3 situs berikut ini.

Situs-situs dibawah ini dulu sering saya kunjungi untuk “dicuri” ceritanya buat blog saya yang lain.

Fairy Tales of The World

Situs ini punya cerita-cerita rakyat dari berbagai negara seperti Asia, Afrika, Eropa, dan lain-lain. Beberapa ceritanya juga dihiasi gambar-gambar ilustrasi yang bagus.

Pitara Kids Network

Pitara kids network adalah situs khusus anak usia sekolah dasar. Selain cerita-cerita rakyat, di situs ini juga ada berbagai games dan fitur edukasi. Selain dongeng juga ada koleksi puisi dan cerita pendek dengan tema-tema yang dekat dengan dunia anak.

Planet Oz Kids

Situs ini punya tema ala Lord of The Rings dan sejenisnya. Oban The Knowlegde Keeper, Agor the Dragon dan Sanjit, keponakan Oban adalah tiga karakter yang akan menceritakan kembali dongeng-dongeng tentang mitos seputar hewan.

Dongeng pada situs-situs diatas mungkin nggak semuanya terkenal atau ada dalam masyarakat tertentu, alias (kemungkinan) ada yang sengaja dikarang. :D Tapi tetap cerita-ceritanya menarik dan pesan-pesan moralnya sangat kaya, cocok untuk hiburan anak-anak sekalian belajar Bahasa Inggris juga dari situsnya. :)

Kalo mau baca beberapa dongeng yang pernah saya terjemahkan, silahkan klik gambar dibawah. (Ujung-ujungnya tetep promosi blog hehe.) :razz:

Cerita Rakyat Jepang: Ubur-Ubur Yang Pandir

Kisah ini berawal dari pernikahan Raja dan Ratu Naga. Belum sebulan setelah pernikahan mereka, Ratu Naga jatuh sakit. Semua tabib telah memberinya berbagai macam obat tanpa membawa hasil. Akhirnya mereka pun menyerah.

Kemudian sang Ratu berkata pada suaminya, “Aku tahu apa yang bisa menyembuhkanku. Berikan saja aku hati kera yang masih hidup untuk kumakan, dan aku akan segera sembuh. Ingatlah, harus dari kera yang hidup!” Ia menegaskan.

Raja terheran-heran mendengar permintaan istrinya. “Apa yang ada di pikiranmu, sayangku? Apa kau lupa kita para Naga hidup di laut, sementara kera hidup di hutan jauh dari sini.”

“Aku hanya meminta hal kecil,” ia merengek. “tapi kau tidak mau memberikannya padaku, mungkin kau tidak benar-benar mencintaiku. Oh! Seandainya aku tinggal di rumah dengan ibu dan ayahku…!” Ratu menangis.

Karena tidak ingin dianggap buruk oleh istrinya yang cantik, maka Raja Naga memerintah pelayan setianya, si Ubur-Ubur dan berkata, “Aku tahu tugas ini agak berat, tapi aku ingin kau mencoba menyeberang ke daratan, dan membujuk seekor kera hidup untuk ikut bersamamu. Katakan padanya bahwa di Negeri Naga lebih baik daripada tempatnya tinggal. Meski sebenarnya aku hanya ingin memotong hatinya, dan menggunakan sebagai obat untuk Permaisurimu yang sedang sakit.”

Maka si Ubur-Ubur berangkat menjalankan tugasnya. Di masa itu, ia masih tampak seperti ikan-ikan lainnya, memiliki mata, sirip dan ekor. Dia juga memiliki kaki-kaki kecil yang berguna untuk berjalan di darat.

Ketika ia sampai di tujuannya, Ubur-Ubur segera melihat seekor kera yang berlompatan diantara cabang-cabang pohon. Maka si Ubur-Ubur berkata, “Tuan Kera! Aku kesini untuk memberitahumu tentang negeri yang jauh lebih indah dari ini. Tempat itu ada dibawah ombak, dan disebut Negeri Naga. Cuacanya menyenangkan sepanjang tahun, ada banyak buah dan pohon, dan tidak ada makhluk jahat yang disebut Manusia. Jika kau ikut bersamaku, aku akan membawamu kesana. Naiklah ke punggungku.”

Si Kera berpikir pasti menyenangkan bisa melihat negeri baru. Maka ia melompat ke punggung si Ubur-Ubur dan mereka pun mulai melintasi air. Namun ketika mereka telah sampai setengah jalan, si Kera takut akan adanya bahaya tersembunyi.

Maka ia bertanya pada Ubur-Ubur, “Mengapa kau terpikir untuk menjemputku?”

Si Ubur-Ubur menjawab, “Majikanku, Raja Naga, ingin memotong livermu, dan memberikannya sebagai obat untuk istrinya, sang Ratu yang sedang sakit.”

“Oh! Jadi begitu rupanya tipu dayamu, ya.” Benak si Kera. Namun ia tidak menyuarakan pikirannya dan hanya berkata, “Tidak ada yang bisa membuatku senang lebih daripada melayani Para Yang Mulia. Tapi sayangnya aku meninggalkan hatiku di ranting pohon kastanye tadi. Hati itu berat, maka biasanya aku melepaskannya, dan bermain tanpanya sepanjang hari. Kita harus kembali untuk mengambilnya.”

Ubur-Ubur menyetujui rencana itu. Makhluk pandir itu tidak menyadari bahwa si Kera berbohong agar tidak terbunuh dan hatinya menjadi obat bagi Ratu Naga.

Ketika mereka mencapai daratan lagi, si Kera melompat dari punggung Ubur-Ubur ke puncak pohon kastanye. Kemudian ia berkata, “Aku tidak bisa melihat hatiku disini. Mungkin seseorang telah mengambilnya. Tapi aku akan mencarinya. Sementara kau lebih baik kembali dan katakan pada Majikanmu apa yang terjadi. Ia mungkin mengkhawatirkanmu jika kau tidak kembali sebelum gelap.”

Maka si Ubur-Ubur kembali pulang. Dan ketika ia sampai di Negeri Naga, ia menyampaikan pada Raja Naga semua yang telah terjadi.

Sang Raja amat berang atas kebodohannya, dan berteriak kepada pengawal-pengawalnya, “Bawa dan pukuli Ubur-Ubur ini hingga ia menjadi lembek! Jangan biarkan sepotong tulang pun tersisa di tubuhnya tanpa dipukuli!”

Maka para pengawal pun menangkap dan memukuli si Ubur-Ubur seperti yang diperintahkan. Itulah mengapa hingga hari ini, ubur-ubur tidak memiliki tulang dan lembek seperti bubur.

Sementara Ratu Naga, ketika dia mengetahui dia tidak dapat memperoleh hati Kera yang diinginkannya, memutuskan satu-satunya cara adalah berusaha sembuh tanpa itu.

Disarikan dari:

Author: Chamberlain, Basil Hall, 1850-1935
Publisher: London : Griffith, Farran & Co. ; Sidney
Possible copyright status: NOT_IN_COPYRIGHT
Language: English
Call number: srlf_ucla:LAGE-3065067
Digitizing sponsor: msn
Book contributor: University of California Libraries

Ketika Di Bukit Gembala

Mereka masih sangat muda waktu itu. Heron Jacobs 14 tahun, Juni Loki 15 tahun menjelang 16. Mereka akan duduk berdua di bukit penggembalaan domba, dibawah desiran angin dan sengatan matahari. Bicara lucu tentang bagaimana hidup mereka berjalan.

Sekolahku lumayan, kata Heron. Aku belajar menyajikan kudapan hari ini, kata Juni membalas cerita.

Dua tahun kemudian, Heron lulus dari sekolahnya. Dia tidak melanjutkan ke sekolah ke tingkat atas. Malah, dia mengikuti ayahnya bekerja di pelabuhan. Mengumpulkan ikan, mendorong perahu, bahkan sesekali ikut berlayar di malam hari. Heron terkena flu parah hari berikutnya. Tapi itu layak, anggapnya. Dia ingin menabung untuk menikahi Juni suatu hari nanti.

Sekarang giliran hidup yang bercerita lucu pada diri mereka. Juni akan pindah bersama keluarganya ke kota yang jauh. Gadis berambut ikal disanggul itu telah lebih dari siap untuk menjadi seorang lady. Agak aneh karena kenyataannya, itu lebih bisa dikatakan bahwa ia telah siap menjadi pelayan tamu-tamu kaya orangtuanya.

Heron baru saja menyelesaikan tes kesehatannya. Ia sudah memiliki modal yang cukup untuk bekerja di tempat lain, seperti kantor pajak atau penyortir surat di kantor pos.

Lalu tiba-tiba Anwar Busta, sahabatnya, menyampaikan berita tentang lowongan pekerjaan di sebuah kapal besar.

“Kapal penangkap ikan milik Rusia,” jelas Anwar penuh antusias.

Heron berkerut dahi pada temannya sejak kecil. “Aku sudah bosan berurusan dengan ikan,” katanya. Usianya sudah 17 saat itu.

“Yang kau butuhkan hanya dua bulan bekerja. Setelah itu kau bebas pergi, atau menetap dan mengumpulkan lebih banyak uang. Kita akan bersenang-senang!”

“Akan kupikirkan,” Heron berkata sambil berjalan menadahului Anwar.

~

“Kau pernah bekerja di pelabuhan?” kata Ivan Yugorvsky pada Heron. “Kau sepucat telur angsa.”

Dua laki-laki muda itu berdiri gelisah.

“Baiklah, kalian masuk. Dan jaga teman Jamaika-mu ini agar tidak berulah,” kata Ivan sambil melotot pada Anwar.

Anwar Busta melangkah masuk sambil melenggang dengan cengiran lebar kepada si pria bertubuh besar.

~

Anwar mungkin berkata benar, bahwa mereka akan bersenang-senang. Nyatanya, Heron menikmati pekerjaannya. Dia melalui banyak hal. Sebagian besar hidupnya terjadi di kapal ini, dan dua kapal lain yang pernah dilayarinya.

Limabelas tahun berselang, sebuah kecelakaan terjadi di kapal tempat mereka bekerja. Se-barel minyak bumi terbakar di sisi kapal. Heron sedang beristirahat di dekat tempat kejadian. Ia melompat dari jaring tidurnya, sebagian karena terlempar oleh ledakan.

Tapi bukan itu yang paling dikhawatirkannya saat itu. Tubuhnya bergetar menatap ke arah ledakan, dimana Anwar, sahabatnya terbakar oleh api menyala di satu sisi tubuhnya.

Lelaki itu berguling di lantai sesaat kemudian bangkit dan menjatuhkan diri ke air. Heron lah yang pertama kali melompat untuk menyelamatkan sahabat karibnya.

~

Mereka mengendarai kereta menuju kota tempat tinggal mereka dulu.

“Kita sudah bersenang-senang,” Heron berkata pada Anwar.

Anwar Busta tersenyum. Sekujur tangan kanannya berbalut perban, dan sebuah tongkat bersandar di sebelahnya. “Kita sudah melakukan lebih dari itu,” balasnya.

Mereka berhenti dari pekerjaan di kapal. Memulai hidup baru di kota kelahiran mereka.

“Kau mau menemui Juni?” tanya Anwar.

Heron tidak menjawab. Ia menatap gelisah keluar jendela kereta.

~

Heron meninggalkan kota setelah memastikan Anwar memiliki tempat bernaung. Keluarganya masih ada disana dan menyambut Anwar dengan haru setelah sekian lama tak mendengar kabarnya.

Dalam dua hari, Heron tiba di sebuah kota yang lebih besar dari tempat tinggalnya. Ia memberanikan diri melangkah masuk ke sebuah rumah yang besar dimana ia mendengar keluarga Juni tinggal.

Setelah memasuki aula rumah yang mewah, ia disambut oleh kakak laki-laki Juni, Kendrick.

“Jadi kau Heron?” tanyanya heran. “Aku kira kau lebih muda.”

Heron cuma tersenyum. “Waktu berlalu begitu cepat, kurasa.”

“Ini waktu yang bagus untuk memanen anggur, kau tahu,” ujar Kendrick dengan sedikit pongah. “Aku duga kau belum memiliki pekerjaan selepas meninggalkan kapal-yang-terbakar-mu itu?”

“Tepat seperti yang kau katakan,” jawab Heron, berusaha tabah.

“Kami punya ladang anggur di pinggir kota, siapa tahu kau mau bekerja disana. Bayarannya bagus. Ada makanan gratis di siang hari.”

Heron tersenyum pahit. “Terimakasih untuk tawarannya. Tapi aku kesini hanya untuk menemui Juni.”

“Ah, sayang sekali, Tuan Jacobs. Tapi Juni sudah tidak tinggal bersama kami.”

“Dia pindah? Kemana?”

“Bersama suaminya, tentu saja. Rumah besar Laurent.”

“Jackie Laurent? Pengusaha karpet itu?”

“Senang kau mengetahui siapa Jackie Laurent,” ujar Kendrick sambil mengangkat cangkir tehnya. “Sekarang jika kau tidak memiliki kepentingan lagi, sebenarnya aku punya banyak sekali pekerjaan.”

Heron mengangguk. “Terimakasih, Tn. Loki.”

~

Heron tidak bisa tidur di kamar penginapan kecilnya. Ia minum dan menulis surat sepanjang malam. Ia baru dapat tidur ketika matahari telah lama terbit.

Ketika bangun sore harinya, ia memutuskan untuk pergi.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah Laurent, bayangan wajah Juni semakin tajam berputar-putar di kepalanya. Rasanya ia ingin sekali menangis memikirkan apa yang sudah ia lewatkan.

Dia telah bertemu banyak wanita selama perjalanannya. Tapi ia tidak dapat berpaling dari Juni Loki yang sejak kecil dikenal dan dikasihinya.

Mengenang Juni sama saja dengan mengenang dirinya sendiri. Mereka adalah satu jiwa dalam dua tubuh yang terpisah.

Ketika tiba di rumah besar Laurent, jantung Heron berdegupan seakan ingin meledak.

Seorang pelayan yang masih muda mempersilahkannya menunggu di ruang tamu.

Ketika Juni muncul, semua keraguan dan permukaan yang tidak rata yang menyakiti perasaan Heron sekaligus lenyap. Berganti dengan kebahagiaan yang meledak-ledak seperti kembang api pada perayaan negara. “Juni…”

Ia tidak percaya akan dapat menyebut nama itu lagi di depan pemiliknya. Heron dapat merasakan lagi kaki-kaki kecil dirinya sendiri, berlari mendekati Juni diatas bukit gembala, yang telah menunggu dengan sepiring biskuit dan dua gelas susu.

“Heron,” wanita itu tersenyum, kemudian menjabat tangannya. Heron mengecup punggung tangan Juni dengan lembut. Dia sangat ingin memeluk pujaan hatinya, tapi terhalang oleh cincin berlian hitam yang melingkari jari manis wanita itu.

Juni telah berubah menjadi ratu angsa yang anggun nan mempesona. Rambutnya yang ikal ditata dengan gaya rambut yang dewasa serta keibuan. Dia seperti lukisan di dinding aula istana.

“Kau ada disini, artinya kau tahu bahwa aku sudah menikah,” kata Juni.

Heron hanya diam sambil tersenyum.

“Mengapa?” wajah Juni berubah sedih.

“Aku hanya ingin menemuimu,” jawab Heron.

Tiba-tiba tangisan Juni meledak. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Mengapa kau melakukan ini? Aku sudah menikah, Heron.”

“Kau mengatakannya seolah kau melakukan sebuah dosa,” kata Heron. “Tapi…”

“Apa?!”

“Mungkin…mungkin aku telah bersikap berlebihan.”

“Kau pria bodoh! Mengapa kau berpikir dirimu pantas untukku?!” Juni bangkit berdiri dan berlari meninggalkan ruangan.

“Juni! Tunggu! Cintaku padamu tidak akan pernah berakhir seperti ini. Ingatlah itu!” Heron berkata canggung sambil menyaksikan Juni berlari di lorong. Kemudian ia berbisik, “Aku doakan semoga yang terbaik bagimu. Selalu.”

Ia pun meninggalkan tempat itu. Hatinya menjadi terlampau gusar. Tapi dia tidak juga kehilangan rasa cintanya yang justru semakim bertambah setelah menemui Juni yang kini sudah menjadi wanita dewasa.

Sesuatu dalam hatinya mengatakan agar ia bertahan dalam kesabaran. Hanya itu kunci agar ia tidak jatuh dan hancur. Bersabar, untuk waktu yang tanpa batas.

~

Dan limapuluh tahun bukanlah waktu yang lama.

Heron tinggal sendirian bersama tiga anaknya yang belum juga remaja. Janda kecil yang dinikahinya kabur tak lama setelah ia beri uang jaminan, meninggalkan ketiga anak hasil hubungan gelapnya dengan sejumlah pemuda kepada Heron.

Heron berjalan-jalan di kota ketika ia tidak tahan lagi dengan ingatan-ingatannya mengenai Juni. Matahari yang ia tatap hari ini sama dengan matahari yang menatap balik dirinya dan Juni hampir 70 tahun yang lalu. Setidaknya ia masih punya rambut di kepala, pikirnya dengan jenaka.

Pemikiran pun mengembang di benaknya ketika memandangi roda-roda kereta dan mobil motor berklakson terompet kecil.

Dia mengajak ketiga anaknya, dua putri dan satu putra, untuk pergi ke rumah besar Laurent pada hari Minggu pagi.

Ia kembali disambut oleh seorang perempuan muda yang cantik. Dan ia jelas bukan pelayan. Gadis berambut ikal panjang itu memperkenalkan dirinya sebagai, “Steffanie Laurent.” Anak satu-satunya pasangan Jackie dan Juni Laurent.

“Dimana ayah dan ibumu?” tanya Heron.

Steffanie menundukkan kepala sejenak. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum berat, “Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

Hati Heron mencelos. Ia serasa berdiri di tepi jurang.

“Bagaimana dengan ibumu?”

“Um…dia di kamar. Ibuku sakit keras sejak lima bulan lalu.”

Heron duduk di sisi ranjang besar. Ditatapnya wanita yang hampir asing di matanya. Tapi ketika ia menatap balik, dua bola mata itu adalah cahaya yang sama yang menyinari hatinya puluhan tahun yang lalu.

Juni meneteskan airmata. Dia langsung mengenali siapa pria tua yang duduk di sebelah tempatnya berbaring.

“Kau berbau rosemary,” ujarnya dengan suara bergetar.

Heron tertawa ringan. “Usiaku 83 tahun dan kau mengomentari bauku?”

“Baiklah, kau juga tua,” jawab wanita itu.

Heron tersenyum sambil menggenggam erat tangan Juni yang berkeriput.

“Aku menjual mesin-mesin kapal,” Heron bercerita.

Juni menangkupkan satu tangannya lagi diatas tangan Heron. “Apa yang kaupikirkan, Heron sayang? Aku sudah tua. Kita sudah tua.”

“Kita hanya butuh sedikit sinar matahari,” balas Heron, lalu mengecup kening kekasih hatinya.

Juni menangis di bantalnya. Kemudian mengangguk-angguk sambil berurai airmata. “Ya. Aku menjawab ya.”

Setelah sembuh dari sakitnya, Juni masih memiliki sedikit waktu untuk kemudian menikah dengan Heron Jacobs. Mereka dan keempat anak mereka pindah ke rumah lama keluarga Loki yang dulu ditinggali Juni saat masih kecil.

Heron berjalan sambil menyokong pundak istrinya menaiki bukit gembala. Dimana mereka duduk, dengan sepiring biskuit dan dua gelas susu.

Bicara lucu tentang bagaimana hidup mereka berjalan.

#7HariMendongeng

Tema hari ke-7: Everlasting Love Story

—————————————————————

gambar: eganandita.blogspot.com

Roro

Dulu, ada sebuah kejadian di tanah Jawa. Pelangi muncul selama siang dan malam. Orang-orang percaya bahwa ada bidadari yang sedang turun ke bumi.

Pelangi itu sendiri milik Dewi Tasima, atau masyarakat lain di suku Chumash menyebutnya dewi Hutash*.

Namun intinya, ya, memang ada tujuh bidadari yang menghuni khayangan.

Suatu hari, salah satu dari bidadari-bidadari itu terjebak di mayapada atau dunia manusia karena kehilangan selendangnya. Sejak peristiwa itu ia kehilangan separuh kekuatannya. Namanya adalah Nawangwulan.

Dalam kebingungannya, ia kemudian diselamatkan dan kemudian dipersunting seorang lelaki yang disebut Jaka Tarub.

Mereka menikah dan memiliki seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Mereka hidup damai, berkecukupan, dan saling mengasihi.

Namun ini adalah kisah bagaimana Nawangwulan menemukan bahwa suaminya lah yang mencuri selendang saktinya.

Di negeri khayangan, tidak semua orang bersikap tenang atas peristiwa yang menimpa salah satu bidadarinya. Terutama bungsu dari ke-7 bersaudari itu, Roro Nesia.

Roro Nesia adalah seorang bidadari yang sangat cantik. Wajahnya bulat, dagunya kecil, matanya cemerlang berbentuk daun.

Ia adalah bidadari yang bersinar setiap hari bersama matahari pagi. Selendang hijaunya memiliki berkat kemakmuran, kesuburan dan masa panen.

Meski begitu cantik, ia iri pada kakaknya, Nawangwulan.

Semenjak tinggal di mayapada, Nawang mendapatkan berkah yang berturut-turut. Menikah dengan manusia yang gagah, baik hati dan amat mencintainya. Sampai memiliki anak yang rupawan seperti ibunya.

Roro pun menyampaikan kegusarannya ini kepada sang ayah, Panglima Adibangsa. “Mengapa Ayahanda membiarkan Nawang melalaikan tugasnya, sementara ia bersenang-senang dengan keluarganya di bumi?”

Panglima tersenyum. “Keiri-hati-anmu membuatku terhibur, putriku. Bukankah kau memiliki berkah yang jauh lebih melimpah disini? Lagipula, jika sudah waktunya, kau juga akan memiliki keluarga yang kau cintai dan mencintaimu.”

“Tapi bukan pilihanku. Ayah akan menerima lamaran dewa berpangkat kecil dari negeri antah barantah.”

Senyuman Panglima lenyap. “Kau berani meragukan penilaianku?”

“Ananda tidak berani,” Roro Nesia bersimpuh memohon ampun. “Tapi biarkanlah hamba setidaknya membantu Nawang kembali ke khayangan, Ayahanda.”

“Lakumu, tanggungjawabmu,” jawab Panglima Adibangsa. “Aku tidak memberikan titah, tapi aku membolehkanmu menjalankan kehendakmu.”

Setelah mendapat ijin dari ayahnya, Roro pergi mendatangi Dewi Tasima.

“Dewi yang Agung, maukah kau membuatkanku jembatan pelangi menuju bumi?”

Sang dewi yang duduk di singgasana awannya langsung bertanya-tanya. “Katakan padaku, bidadari yang cantik rupawan, mengapa kau membutuhkan bantuan semacam itu dariku? Pelangiku hanya bisa dilalui oleh manusia atas ijinku. Lagipula engkau dapat dengan mudah terbang turun ke bumi untuk melaksanakan keperluanmu.”

“Benar, Dewi. Ayahandaku meminta mendatangkan seorang manusia ke khayangan. Tapi seperti yang engkau tahu, aku tak dapat membawa manusia dalam wujud bertuahku. Kecuali aku melepaskan selendangku dan tak dapat sama sekali terbang kembali ke khayangan.”

Dewi Tasima mengerutkan dahi. “Aku mengenal Panglima Adibangsa, ayahmu. Dan permintaannya sedemikian aneh. Tapi jika itu memang titahnya, maka akan aku mempersembahkan pelangi terbaikku untukmu.”

Roro Nesia senang permintaannya dikabulkan. Ia pun bersiap turun ke bumi mayapada.

~

“Jangan buka kukusan itu sampai aku kembali,” ujar Nawangwulan kepada suaminya tercinta. Ia keluar dari pintu belakang membawa bakul berisi pakaian.

Tidak menyadari ketika kaki telanjang Roro Nesia mendarat tak bersuara di belakangnya.

Setelah Nawang menghilang kedalam hutan, Roro menyelinap kedalam rumah untuk mengambil Nawangsih secara diam-diam.

Roro Nesia mengubah dirinya menjadi asap tipis dan merasuk kedalam tubuh Jaka Tarub. “Bukalah penutup kukusan itu,” bisiknya kedalam batin Jaka Tarub.

Kemudian Roro meninggalkan tubuh si pemuda dan berpindah ke kamar dimana Nawangsih tidur.

Ketika Roro sudah berada di luar rumah membawa Nawangsih, si ibu telah kembali dan mendapati anaknya berada dalam dekapan orang yang telah dikenalnya. “Roro!” pekiknya.

Karena terkjut, Roro Nesia meninggalkan Nawangsih dan bergegas terbang kembali ke khayangan.

Nangwulan berlari dan mengangkat anaknya dari tanah, kemudian bergegas menuju rumah. “Kakanda, bukankah sudah kubilang agar jangan membuka kukusan itu….”

Jaka Tarub terkesima menyadari bahwa hanya dari sebatang padi itu Nawangwulan setiap hari mengubahnya menjadi sebakul nasi. Pantaslah persediaan beras mereka tidak lekas habis.

Sekarang karena suaminya sudah mengetahui rahasianya, Nawangwulan kehilangan seluruh kekuatan sihirnya.

Nawang menjadi sangat sedih. Ia keluar dan menangis memandangi bulan. Saat itulah Roro Nesia, adiknya muncul.

“Roro, mengapa kau mau melakukan pengkhianatan kepadaku, kakakmu?” tanya Nawang sambil bersedih.

“Ketahuilah, kakangmbok, kau tidak pantas berada di tempat ini,” jawab Roro pongah.

“Tapi aku sangat mencintai suami dan anakku.”

“Sekarang kekuatan sihirmu sudah sirna. Kau sama tidak berguna seperti manusia yang paling lemah.”

“Pengabdianku pada keluargaku tidak memerlukan semua sihir di dunia,” kata Nawang. “Selama aku masih memiliki cinta di hatiku, apapun kulakukan untuk menjaga mereka.”

“Kembalilah ke khayangan.”

“Tidak, aku tidak mau.”

Roro Nesia menjadi berang. “Dengarlah, kakangmbok. Aku memiliki jembatan pelangi Dewi Tasima dan bisa dengan mudah menculik putrimu dari mayapada. Aku akan melakukannya di depan matamu jika kau tidak segera meninggalkan suamimu dan kembali ke khayangan bersamaku.”

Nawangwulan menjadi semakin sedih. Tapi ia sadar itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa kembali memiliki kekuatan untuk menjaga keluarga yang dicintainya.

“Baiklah,” kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke khayangan bersamamu. Tapi aku tidak dapat menemukan selendangku yang telah hilang.”

Dengan kekuatan saktinya, Roro Nesia dapat melihat dimana selendang ungu itu disembunyikan.

Nawangwulan sangat terkejut ketika Roro memberitahu bahwa suaminya, Jaka Tarub lah yang mencuri selendangnya dan menyembunyikannya dibawah tumpukan padi.

Nawang mengenakan selendangnya dan berpamitan pada Jaka Tarub. “Kakanda, kau telah menyebabkanku kehilangan kekuatan untuk menjagamu dan anakku. Sekarang aku akan kembali ke khayangan. Tolong laksanakanlah satu hal untukku. Bangunlah sebuah dangau** kecil di dekat rumah. Setiap malam aku akan menemui Nawangsih disana untuk menyusuinya. Tapi engkau tidak boleh menemuiku.”

Jaka Tarub menelan ludah, merasa kalah sekaligus menyesal. Ia tidak bisa membayangkan berpisah dari istri yang dicintainya.

Demikianlah Nawangwulan menemui putri kecilnya setiap malam, menyusui dan bermain-main dengannya. Sementara Jaka Tarub hanya bisa memandangi mereka lewat jendela.

Panglima Adibangsa murka mengetahui kebohongan yang dilakukan Roro Nesia dan mengatasnamakan dirinya. Ia pun menghukum putri bungsunya itu menjadi pelayan Dewi Tasima.

Oleh karenanya, Nawangwulan diberi tanggungjawab menjalankan dua tugas sekaligus untuk menggantikan adiknya. Sebagai penjaga kesuburan sekaligus melindungi para pasangan yang saling mencintai.

Sejak itu ia berhenti menemui putrinya yang sudah beranjak besar. Akan tetapi, dari khayangan ia selalu melindungi keluarga yang dicintainya, dan memberikan mereka bantuan saat  dalam kesusahan.

—————————————-

#7HariMendongeng

Tema hari ke-6: (Remake) Dongeng

*Hutash adalah dewi dalam kepercayaan suku Chumash, sebuah suku kuno yang mendiami kawasan yang sekarang adalah California, Amerika Serikat. Menurut cerita, suatu hari Hutash membuat jembatan dari pelangi untuk menyeberangkan penduduk menuju tanah utama untuk tinggal. Anak-anak dari penduduk itu menyeberang sambil bermain-main hingga beberapa dari mereka terjatuh ke laut. Karena kasihan, Hutash mengubah anak-anak itu menjadi lumba-lumba. (dikutip dari adegan film “Dolphin Tale” oleh Disney)

**Semacam gubug kecil

Magick

Demi menghidupi dirinya dan adik laki-lakinya, alih-alih menjalankan bisnis atau bekerja di kantor, Bagus bekerja sebagai peramal dan praktisi spiritual.

Pekerjaan yang tak ‘wajar’ itu setidaknya dapat memberi mereka makan. Dan membiayai sekolah Taura yang masih duduk di kelas VIII.

Masalahnya hanya satu, atau dua. Bagus sering meninggalkan adiknya sendirian untuk berkumpul bersama teman-teman komunitasnya. Ketika kakaknya pulang, mereka akan bertengkar atau tidak saling bicara sama sekali.

“Jangan pikir aku yang egois,” Bagus berkata, dengan sikap meremehkan. “Kamulah yang lebih egois. Menghabiskan waktu untuk dirimu sendiri. Bukannya bersosial seperti anak-anak normal!”

“Normal?! Tidak ada yang pernah mengajariku hidup normal! Kakak sendiri berteman dengan dukun dan hantu!”

Kejadian setereotipikal selanjutnya adalah mereka selalu berbaikan jika sudah waktunya…

“Makan malam,” kata Bagus di depan pintu kamar adiknya.

Untuk yang ke-seratus-sekian kalinya, menu makan malamnya adalah nasi goreng yang biasa dijual di persimpangan. Seperti biasa pula, Bagus membeli nasi goreng kambing untuk dirinya dan nasi goreng seafood untuk Taura.

Bagus tahu adiknya suka potongan tomat, timun atau lalapan selada. Maka dia memindahkan potongan-potongan sayuran itu dari bungkus nasi gorengnya ke pinggir nasi goreng Taura. Si adik memandang sekilas sebagai isyarat berterimakasih.

“Lama-lama kamu bisa jadi kelinci,” kata kakaknya.

“Aku suka jadi kelinci,” ujar Taura pelan. Kemudian senyumannya mengembang, malu-malu sembari menyuap makanannya. Bagus mendorong pelan kepala adiknya.

“Aku tidak ingat sejak kapan kakak mulai…” Taura tidak menyelesaikan kata-katanya.

Ia duduk dengan kaki menyilang diatas kursi di depan meja kerja kakaknya yang penuh dengan barang. Buku-buku, dek kartu Tarot, lilin, benda-benda yang Taura tidak kenal, dan sebuah laptop hitam yang sedang digunakan si empunya.

“Kamu masih terlalu kecil waktu itu,” jawab kakaknya. “Kamu sudah tahu Ayah dan Ibu juga kerjaannya sama seperti kakak sekarang. Mereka bahkan lebih hebat lagi.”

Bagus melanjutkan, “Orangtua kita adalah orang-orang yang sangat dihormati di komunitas kami. Orang bilang Ayah kita orang yang baik, humoris, dan bijaksana tutur-katanya. Ibu, selalu ikut kemanapun suaminya pergi, tapi juga tak jarang ikut memberi kontribusi dalam diskusi ataupun arahan. Khususnya kepada yang muda-muda.” Ia melirik sekilas pada Taura yang mendengarkan sambil mencoret-coret kertas. “Setidaknya itu yang diceritakan temen-temenku yang lebih senior.”

Taura memandang kakaknya. “Jadi sepertinya cuma aku yang nggak-…” ia berhenti sejenak. “…Begitu-begitu.”

Bagus menjawab, “Mungkin belum.”

“Aku setahun lebih tua dari usia kamu sekarang ketika pertama kali menyadari bakatku,” lanjutnya. “Aku bisa melihat mimpi orang lain, lalu pikiran mereka, sampai apa yang mereka lakukan meski berada di tempat yang jauh. Clairvoyance istilahnya.”

Taura mendengarkan tanpa berkomentar.

Lalu ia memungut sebuah buku dari meja. Alisnya berkerut. “Buku ini salah cetak atau apa? How To Do Magick. Ada huruf k-nya di…’magic’-nya.”

“Itu bukan salah cetak, memang seperti itu,” kata Bagus menjelaskan. Ia minum kopi dari cangkir di sebelahnya lalu kembali pada laptopnya sambil bicara, “Magic dan magick yang pake ‘k’ itu berbeda, Taura. Magic itu seperti sulap yang sering kamu lihat di TV. Magic yang pakai trik. Kalau magick dengan ‘k’…”

Bagus berhenti sejenak karena berkonsentrasi pada layar laptopnya. “Magick adalah hasil dari pikiran dan keinginan yang kuat. Orang yang melepaskan mantra kemudian mengikuti kehendak alam hingga ia mencapai tujuannya.”

“Kedengarannya mudah.”

“Tapi nyatanya, tidak semua orang bisa mendapatkan keinginannya. Biasanya, karena ada terlalu banyak pengalihan dan gangguan. Godaan, rintangan, pikiran takut gagal… Itu membuat orang jadi tidak fokus. Tapi kalau berlatih, sebenarnya setiap orang pasti bisa melakukan magick. Dari yang sederhana hingga yang membutuhkan energi besar.”

Taura mengangkat aliasnya. “Oke, kedengarannya sulit.”

Bagus tersenyum sekilas pada adiknya.

~

Taura terbangun di malam hari oleh teriakan dari kamar kakaknya.

“Kak! Ada apa??” ia buru-buru menjenguk Bagus di tempat tidurnya.

Sang kakak terbaring diam seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu tiba-tiba dia membelalakkan mata seolah menahan sakit yang amat sangat.

Bagus berguling dari tempatnya dan menjatuhkan diri ke lantai.

“Kak!” Taura mencoba mengangkat tubuh kakaknya.

“Ada klien yang mencelakaiku,” kata Bagus diantara pekikan tertahan.

“Apa?? Bagaimana bisa?” Taura sangat takut dengan apa yang ada di pikirannya.

Jress! Listrik tiba-tiba padam.

Taura hendak beranjak untuk menyalakan lilin, tapi Bagus mencegahnya. “Jangan. Tunggu. Dia datang.”

Dalam keheningan yang mengerikan, di ruangan itu muncul sesosok bayangan hitam yang memancarkan pendar kemerahan seperti api yang menyala. Taura mendelik menyaksikan pemandangan di depan matanya.

“Dia ingin memerangkap jiwaku,” bisik Bagus, masih kesakitan. “AAAHHH…!!!”

“Kak…!” Taura menarik-narik kaos kakaknya.

Dia mulai menangis ketika tiba-tiba sebuah tangan dingin mencengkeram lengannya. Nafas Taura tercekat.

“Taura, pakai ini, cepat,” Bagus menyerahkan sebuah benda, sebuah kalung dengan mata berbentuk prisma sepanjang dua senti.

“Apa ini?” tanya Taura sambil buru-buru mengalungkannya ke leher.

Bagus tidak menjawab. Taura melihat ketika bayangan hitam itu bergerak mendekati. “Kak…! Apa yang harus kulakukan??”

Taura menyaksikan bayangan itu mendekat hingga hanya berjarak satu meter darinya. Tiba-tiba dia melihatnya.

Lapisan dimensi yang lain, di mata batinnya. Semuanya terhubung. Semuanya… Taura menunduk untuk menatap dadanya. Kemudian ia mendongak dan memejamkan mata.

Magick. Benaknya.

Pertama dia harus tahu apa yang dia inginkan. Kedua…

Taura bangkit berdiri. Di tengah kegelapan yang hening, ia dapat melihat jiwa kakaknya ditarik keluar oleh bayangan hitam itu, yang perlahan mulai tampak sebuah wajah padanya. Wajah manusia biasa. Laki-laki, berwajah bulat, lebih tua dari kakaknya. Dengan mata mendelik ke arah calon korbannya.

Dada Taura mengembang saat ia menghirup nafas dalam-dalam. Kemudian dengan satu gerakan cepat, ia membuka jari-jari tangannya dan menhantarkan sebuah pukulan tepat ke wajah bayangan hitam itu. Gelombang kejut berwarna putih terang berpijar sekejap ketika pukulan Taura mengenainya.

Ia mempertahankan pukulan dan tenaganya selama beberapa saat. Dalam pikirannya, Taura sedang membayangkan dirinya sendiri ketika kecil bersama kakaknya, yang mungkin tak bisa diingatnya dengan jelas saat sadar. Jadi apakah ini? Apa yang terjadi pada dirinya? Kekuatan apa yang merasukinya?

Apakah ini magick? White atau dark? Haruskah ia tahu?

Senyuman terkembang di wajah Taura ketika ia mencapai puncak kebahagiaan yang ia rasakan ketika membayangkan kakaknya, Bagus, dalam keadaan normalnya, sehat, jauh dari bahaya; dengan wajah melankoli yang sangat kentara terutama ketika ia sedang khawatir; sangat mirip foto Ayah yang sering dipandanginya setiap malam.

“Hei!” Taura berkata pada bayangan hitam yang berpendar merah itu. “Jauhi kakakku!”

Gelombang kejut yang lebih besar berpijar terang memenuhi ruangan ketika Taura melompat dan menerjang raga sukma orang jahat itu dengan bahunya.

Lampu berkedip-kedip sebelum menyala seluruhnya.

Bagus menatap wajah adiknya yang menatap balik sambil berbaring di dekat kakinya.

“Taura, maafkan kakak. Kamu…baik-baik aja kan?”

Dengan nafas terputus-putus, Taura menjawab, “Sekarang? Ya.”

~

“Apa karena kalung ini?” tanya Taura keesokan harinya.

Bagus berkerut dahi. “Pastinya bukan. Ini cuma kristal quartz. Bentuk perlindungan yang terbilang sangat minimal mengingat peristiwa semalam.” Ia kemudian menatap adiknya. “Kamu memang punya bakat, Taura. Tapi kakak tidak mengharapkan sebesar itu. Itu…”

Taura menggeleng. “Apa?”

“Yang kamu lakukan semalam adalah…the real magick,” Bagus mengisyaratkan tanda kutip dengan jarinya. “Magick yang menggunakan prinsip kunonya. Sesuatu yang sangat sulit dilakukan tanpa menggunakan medium atau ritual.”

“Yang jelas,” Bagus melanjutkan, “kamu punya bakat yang sangat besar, Taura. Lebih besar dari kakak dan semua orang yang kakak kenal di komunitas spiritual.”

“Aku takut terjadi apa-apa pada kakak.”

“Hei, itu sudah lewat. Dan berkat kamu, kakak masih bisa ada disini.”

Taura menelan ludah. “Jadi, kenapa seorang klien yang kakak bantu mau mencelakai kakak seperti itu?”

Bagus menghela nafas. “Tidak semua klien kakak orang awam, Taura. Sebagian dari mereka adalah praktisi spiritual juga…yang membeli jasa orang lain hanya untuk membanding-bandingkan kemampuan dengan dirinya sendiri.”

“Wah,” Taura berkomentar singkat.

~

Di kelasnya, Taura sedang melamun memikirkan kata-kata kakaknya dan kejadian semalam.

Ia melirik pada pena diatas bukunya yang terbuka. Sebuah ide yang ‘lucu’ hinggap di pikirannya.

Taura terus menatap benda itu, mengangkat dua buah jarinya, dan pena itu pun bergerak hingga bergulir turun keatas meja.

Anak itu tersenyum simpul.

#7HariMendongeng

Tema hari ke-5: Sihir

“The strongest magick is in your WILL.

————————-

Saya baru sadar kalau cerita saya makin melenceng dari konsep ‘dongeng’. Malah lebih mirip cerpen yang random kayaknya… :? Semoga dapat dimaafkan… :(

Si Kancil & Sang Penyihir

Baba Romeo adalah seorang pesulap yang tinggal sendirian di pinggir desa, dekat dengan kanal kecil yang jernih. Di pondok kecilnya, ia hidup di kelilingi pajangan-pajangan dinding yang ‘biasa-biasa saja’. Sebuah lingkar sepeda, tengkorak kerbau bertanduk, rak berisi piramida-piramida kecil yang ia sebut orgonite, dan juga lemari kayu yang menyimapan peralatan sulapnya.

Hari ini dia akan memberikan pertunjukan spesial di kota. Putri gubernur sedang berulangtahun yang ke-16 dan ia diminta untuk mempersembahkan penampilan terbaiknya.

Setelah mandi dan mencukur berewoknya yang beruban, Baba memilih-milih diantara deretan jubah kebanggannya. Ukuran mereka semua besar-besar sesuai dengan postur Baba Romeo.

Jubah satin biru dengan pinggiran emas… Jubah hitam dengan hiasan berbentuk mozaik berwarna perak… Nah, ini dia! Baba mengambil jubah satin hijau yang berkilau-kilau dibawah cahaya.

Pertunjukan Baba Romeo selalu menakjubkan. Tak terkecuali hari ini. Sang putri sangat senang saat menerima sebuket bunga berwarna-warni yang ditarik Baba dari udara kosong. Dan penonton dibuat menahan nafas ketika sang penyihir mengubah burung merpati menjadi butiran berlian merah muda, lalu mengubahnya mengubahnya lagi menjadi seekor kera capuchin yang langsung melompat ke bahu gubernur di barisan depan kursi penonton. Semua orang tertawa termasuk sang gubernur sendiri.

Sementara itu, di belakang panggung, seorang pria berwajah sinis tersenyum licik membayangkan rencana jahat yang ada di kepalanya. Dia adalah Petra, si tukang. Laki-laki pendek namun kekar dengan hidung mancung dan rambut yang separuh botak. Ia telah lama bekerja membangun set dan dekorasi panggung berbagai pertunjukan. Meski demikian ia masih hidup dalam kemiskinan dan tinggal berpindah-pindah bersama pekerjaannya.

Mendengar pertunjukan khusus Baba Romeo, ia menjadi sangat tidak sabar. Bukan karena ingin melihat pertunjukannya, tapi untuk mencuri benda berharga yang menjadi rahasia pertunjukan ajaib sang penyihir. Ia mengetahui rahasia itu dari seorang peramal yang ia temui di pekan raya.

Sementara itu, tidak banyak yang tahu bahwa yang ditunjukkan Baba Romeo bukan hanya sekedar trik. Sebagiannya benar-benar peristiwa keajaiban. Sihir. Dan semua itu berkat sebuah instrumen yang melebihi topi tinggi atau tongkat. Benda bertuah itu adalah sebuah sarung tangan.

Alih-alih menggunakan sarung tangan putih seperti kebanyakan pesulap lainnya, Baba hanya menggunakan sebelah sarung tangan berwarna coklat dari bahan sejenis kulit di tangan kanannya. Sarung tangan itulah yang membawa benda-benda dan menukar dengan benda lainnya.

Momen itu pun datang seusai pertunjukan Baba. Petra menyelinap ke ruangan itu sebelum si penyihir tiba, lalu bersembunyi di belakang kotak-kotak berisi properti pertunjukan.

Lalu saat Baba pergi ke kamar mandi, Petra menyelundupkan sarung tangan yang digeletakkan di meja dan keluar seperti musang yang licik.

Tak butuh waktu lama bagi Baba Romeo menyadari hilangnya sarung tangan ajaib itu. Dia menjadi panik karena tahu ia tidak dapat meminta bantuan siapa-siapa.

Tiba-tiba seorang pria masuk ke ruangan tersebut sambil membawa semacam kandang yang ditutupi kain hitam.

“Apa itu?” tanya Baba Romeo.

Laki-laki yang ditanya menyingkap kain hitam yang menutupi kandang. “Ini kancil. Dari Borneo.”

“Hewan kecil itu mau diapakan?”

“Pameran ilmiah Dr. Dominik.”

“Apa yang akan mereka lakukan padanya?”

“Aku melihat peralatan bedah yang belum diangkut kedalam. Jadi kurasa…”

“Astaga, itu kejam!” sergah Baba hingga bangkit dari kursinya. Oh seandainya aku masih memiliki sarung tanganku, aku pasti bisa membebaskan makhluk malang itu.

Baba Romeo pulang dengan perasaan sedih yang berlipat-lipat. Kehilangan sarung tangannya dan memikirkan si kancil malang.

Di kandangnya, si kancil kecil berbaring meringkuk seperti anak kucing yang ketakutan. Kaki-kaki kurusnya bersilangan seperti tumpukan korek api. Tubuhnya gemetar.

Ia diambil dari induknya ketika mencari makanan di hutan Borneo. Dia sangat kebingungan karena menyadari ia berada di negeri yang berbeda, lingkungan yang samasekali asing baginya. Dan ia sangat takut.

Kancil merindukan ibunya. Dia menghabiskan malam membayangkan hutan dan serangga-serangga kecil di batang-batang pohon di sekitar tempat tinggalnya; burung-burung bersuara merdu hingga ular yang mendesiskan bahaya yang berasal dari diri mereka sendiri.

Lamunan sendu si kancil terganggu oleh suara-suara di dekatnya. Ia bangkit berdiri. Tiba-tiba ada yang membuka penutup kandang kecilnya. Seorang manusia berwajah bundar dan berambut putih. “Sssstt…” kata Baba Romeo sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. “Aku akan mengeluarkanmu dari sini.”

Baba Romeo berjalan keluar dari gedung aula melewati beberapa pria yang masih bekerja mempersiapkan acara. Ia membawa salah satu kopernya untuk menyembunyikan si kancil, dan mengatakan pada  penjaga bahwa ia meninggalkan peralatan sulapnya.

Baba melepaskan si kancil ketika ia mencapai pinggir hutan dekat desa. Si kancil menoleh kepada penolongnya, berdiri diam di depan pepohonan yang gelap. “Pergilah. Hush! Semoga kau berumur panjang di dalam sana…” Lalu ia tertawa menyadari kekonyolan perkataannya sendiri. Ia pun meninggalkan si kancil yang terpaku menatap ‘sang mantan penyihir hebat’ menjauh.

Ketika Baba Romeo tiba di pondoknya, ia kaget bukan main karena menemukan seorang pria tengah berdiri di depan perapiannya yang menyala. “Hey! Siapa kau ini?!” sergah Baba Romeo.

“Hehehehe…” lelaki pendek berpakaian dekil itu terkekeh sambil berbalik menghadap si empunya rumah.

Tanpa menunggu lama, Petra menunjuk ke arah Baba dan secara ajaib jeruji besi muncul mengurung dirinya.

“Astaga!” Baba berlari hingga ke tepi kurungannya. Matanya menangkap benda familiar di tangan lelaki aneh itu. “Kau yang mencuri sarung tangan ajaib!”

Petra terkekeh lagi. “Sekarang aku lah yang memiliki kekuatan tak terbatas.”

“Kau salah! Kau tidak mengerti cara kerja sihir,” kata Baba Romeo. “Setiap makhluk hidup, hewan dan bunga yang aku munculkan sebenarnya dipindahkan dari suatu tempat di alam liar. Dan setiap kali, aku harus mengembalikannya atau menukarnya dengan makhluk lain, mengirim mereka kembali ke habitat alaminya. Jika tidak, keseimbangan alam akan terganggu.” Baba memukul jeruji dengan penuh amarah. “Demi Tuhan. Bahkan aku harus mengirimkan benda-benda mati kembali ke tempatnya seusai pertunjukan. Kau jangan bertindak bodoh!”

“Kaulah yang bodoh! Kau pernah memiliki kekuatan yang tiada tanding tapi kau menyia-nyiakannya.” Saat itu tiba-tiba Petra merasakan sakit di jemari tangannya. “Auw! Setan sungai, apa yang menggigitku?!”

Si kancil kecil melompat-lompat di samping lutut Petra, berusaha kembali menggigit tangan pria jahat itu. Petra menendang hewan itu tapi si kancil berhasil mengelak.

Baba berlari ke sisi seberang kurungannya dan berusaha meraih pegangan pintu dari kayu. Ia menariknya hingga putus, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah Petra hingga mengenainya.

Lelaki pendek itu terjungkal ke belakang sambil mengaduh keras. Tubuhnya jatuh menabrak tembok perapian. Si kancil buru-buru menyerang tangan si pria jahat sampai ia berhasil melepas sarung tangan itu dari jemari Petra.

Hewan cerdik itu kemudian berlari dan menyusup kedalam kurungan Baba Romeo.

“Astaga, kau adalah hewan yang sangat pintar rupanya!” seru Baba senang.

Ia segera mengenakan sarung tangan ajaib itu dan membebaskan dirinya dari kurungan.

“Baba! Baba!” pekik Petra dengan wajah ketakutan. “Baba tolong jangan bunuh aku… Tolong…”

“Aku tidak akan membunuhmu,” balas Baba Romeo. “Tapi aku tidak harus menyelematkanmu…dari singa-singa lapar di Afrika!”

Dalam sekali ayunan tangan, tubuh Petra menghilang dari tempatnya.

“Kesinilah, pahlawan kecil…” Baba berlutut memanggil si kancil. “Kau pasti merindukan rumahmu. Aku akan memulangkanmu, jangan khawatir.”

Baba Romeo bangkit sambil menggendong kancil kecil itu seperti bayinya sendiri. Kemudian ia mengelus-elus bulu halus kecoklatan yang menutupi tubuhnya. “Borneo…” bisik Baba sambil meneteskan sebulir airmata. “Pulanglah ke Borneo…”

Maka si kancil kecil lenyap dari pelukan Baba Romeo.

~

Petra menemukan dirinya jatuh diatas semak-semak kering. Sekawanan singa yang sedang berbaring dibawah pohon akasia mengangkat kepala mereka karena terkejut.

Yang terbesar diantaranya bangkit mendekati si manusia yang ketakutan, kemudian mulai mengambil langkah besar dan kuat menuju kearahnya. Petra berteriak dan menangis seperti gadis kecil sambil berlari susah payah.

~

Si kancil bertemu kembali dengan ibunya. Keterkejutan yang membahagiakan dirasakan sang induk yang ditunjukannya dengan melompat dan berlari mendekati anaknya yang sempat hilang.

Ia berjalan memutari si kecil selama beberapa saat lalu keduanya berbaring meringkuk berdekatan dalam kehangatan cinta dan kasih sayang.

———————————————

Tantangan hari ke-4 dalam #7HariMendongeng ini sebenernya bikin kancil sebagai tokoh utamanya. Tapi dalam cerita saya ini sepertinya saya gagal bikin kancil jadi jagoannya dengan segala kecerdikannya. Haha susah ternyata. :lol:

Yang pasti ini jadi pembelajaran buat saya dalam menulis. Dan semoga apapun jadinya, cerita ini bisa menghibur. ;)

gambar: izisimlie.com

Rumah Mutiara

Segerombolan anak perempuan berlari menyeberangi lapangan. Dua diantaranya tiba lebih dulu di ujung garis finish, memungut pakaian dalam keranjang yang disediakan, kemudian berlari lagi kembali ke garis awal.

Mereka masih harus memakaikan pakaian-pakaian itu kepada teman mereka yang menunggu di belakang garis start. Yang paling cepat selesai memakaikan pakaian dialah yang menang.

Bu Nuryatin dan guru-guru lainnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat menyemangati anak-anak. Panas matahari membuat semua orang berkeringat, termasuk yang tidak ikut pertandingan. Tiara berteduh dibawah payung penjual esksrim sambil mengipas-ngipas dagunya dengan beberapa lembar daun pandan. Dia mendapatkan daun-daun itu dari dapur, sisa dari bahan pembuatan kue.

Acara 17-an di panti asuhan Mutiara Bunda tidak pernah semeriah sekaligus sepanas hari ini.

Anggi kecil mendekati Tiara untuk memegangi kipas dari daun pandan di tangannya. Dia tidak berkata apa-apa, cuma nyengir-nyengir senang memamerkan gusi depannya yang tak bergigi.

“Apa? Apa?” gertak Tiara. Anggi berhenti mencoba memegang kipas nyentrik itu. Tapi dia tetap menempel pada rok Tiara sambil kembali mengawasi perlombaan.

Gadis yang lebih besar melirik ke bawah sikunya, kemudian menyerahkan kipas daun pandan itu pada Anggi. “Nih.”

Anggi mendongk dan menerimanya dengan wajah sumringah.

“Ambilin kakak minuman lah dek,” pinta Tiara. “Sirup markisa yang di meja situ. Sana.”

Gadis kecil itu berlari dengan rasa kesetiaan terhadap orang yang juga menyayanginya.

Semua anak-anak disini bertingkah nakal, aneh, dan hidup seperti pelangi yang berkibar-kibar di punggung mereka. Kau mencintai mereka, mereka mencintaimu lebih. Itu yang orang cari dari diri mereka.

Orangtua-orangtua datang untuk mengadopsi adalah pemandangan yang jarang. Tapi ketika seorang anak diadopsi dan keluar dari panti, tiba-tiba semua orang menjadi sangat diam. Lorong-lorong panti menjadi sedingin malam-malam hujan badai. Anak-anak bermain di struktur-struktur permainan dari logam di halaman depan. Dengan aura mereka menjadi hitam-putih. Mungkin satu atau sepuluh diantara mereka berusaha merespon pikiran-pikiran yang bercampur-aduk; kemungkinan bahwa hal itu bisa terjadi di tempat ini, pada orang yang mereka kenal, dan mungkin pada diri mereka sendiri nanti.

Semua guru dan pembimbing di panti selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa setiap dari mereka punya masa depan yang baik meskipun mereka tidak punya orangtua. “Kalian bisa kok jadi apapun yang kalian mau,” kata Bu Nuryatin. “Apapun yang kalian capai kalau sudah besar nanti, itu bukan cuma buat diri kalian sendiri. Tapi juga merupakan balasan kepada Tuhan, untuk anak-cucu, serta orang-orang lain yang membutuhkan.”

Merupakan kebiasaan sesuai pelajaran anak-anak mencium tangan sebelum meninggalkan kelas. Tiara lah yang paling tidak sabar mencium tangan guru, karena ia ingin segera bermain lagi bersama teman-temannya.

~

Tiga anak perempuan duduk di lantai, bersandar di meja lobi pada suatu malam.

“Kalau kamu udah besar mau jadi apa, In?” tanya Tiara pada Intan.

Anak di sebelah kanannya menjawab, “Dokter di rumahsakit. Kamu?”

“Aku mau jadi penari Bali. Eh, tapi jadi dokter mau juga deh.” Tiara beralih ke gadis mungil di sebelah kirinya. “Kalau kamu, dek?”

“Anggi mau punya rumah yang besar!” jawabnya sambil cengengesan.

Tiara senang mendengar jawaban anak itu. Ia tersenyum dan mendorong tubuh Anggi.

“Eh, anak-anak udah malem… Ngapain disitu?? Ayo masuk!” suara serak dan tepukan tangan Bu Ratmi bergema di lorong. Anak-anak peremuan itu bergegas bangkit sambil saling menggandeng tangan. Sendal jepit mereka berkepak-kepak dengan semarak saat ketiganya berlari menuju Bu Ratmi.

~

20 tahun kemudian.

“Ma, Ma, lihat aku, Ma!” seru Ariel, anak kedua Tiara yang berusia 6 tahun. Ia melakukan salto ke belakang ketika ombak setinggi setengah meter menerpanya.

Tiara cuma melambaikan tangan. “Hati-hati,” ujarnya.

Usianya 30 tahun. Karirnya sebagai desain interior berujung pada pernikahan yang berkah dan bahagia. Pada titik ini, ia seperti berjalan lebih lambat setelah sekian lama berlari. Dan ia mulai memikirkan awal kehidupannya.

Di mata hatinya tergambar kaki-kaki anak perempuan dan laki-laki yang berlarian kesana-kemari. Ibu-ibu berjilbab yang bersorak-sorak tanpa lelah, mendorong anak-anak asuh mereka untuk berani menghadapi hidup dan untuk menyingkirkan kesendirian karena tidak memiliki orangtua.

Lorong-lorong yang bergema; Pak Reza yang sibuk dengan barang-barang donasi; Anggi… Intan… Bu Nuryatin… Orang-orang itu. Ya, terutama mereka.

Tiara bangkit dari pasir dan berjalan mendekati putranya. “Ayok, udah sore.” Ia kembali ke pondok sambil menggendong Ariel di punggung. Namira, si sulung sedang asyik memainkan ponsel ibunya di sofa.

“Aku masih mau main di pantai…” rengek Ariel.

“Kamu udah bau cumi-cumi. Mandi sana sama kakak.” Ariel terkikik geli mendengar dirinya disebut berbau cumi-cumi. Tiara mengambil ponsel dari putrinya yang berusia 9 tahun. “Kak, bawa adek mandi.”

Saat itulah ia melihat halaman Facebook-nya terbuka dan ada sebuah notifikasi permintaan pertemanan. Permintaan itu datang dari orang bernama Ranggita Shihab. Mata Tiara mendelik, ia menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya segera berkaca-kaca karena menyadari siapa pemilik nama tersebut.

Anggi kecil dari masa kanak-kanaknya berhasil menemukannya di jejaring sosial. Anggi! Anggi yang tak bergigi…

Tiara tidak bisa menggambarkan kegembiraan yang ia rasakan.

Beberapa minggu kemudian, mereka akhirnya dapat bertemu muka. Tiara memperkenalkan keluarganya, suami dan anak-anaknya, meski hanya lewat foto-foto di ponselnya.

Anggi yang sudah berusia 25 tahun adalah sarjana Ekonomi yang cantik, bertubuh mungil, tapi kali ini bergigi lengkap. Kuciran rambutnya mempermanis karakternya yang dewasa-muda.

“Kamu manis sekali, Nggi…!” pekik Tiara. “Ya ampun, aku nggak nyangka kita bisa ketemu.”

“Iya, Kak. Dan momennya pas sekali sebenernya,” jawab Anggi.

“Hah?” Tiara berpikir sejenak. “Kamu mau nikah??”

Anggi tertawa. “Kak Tiara ini nggak berubah. Tetap blak-blakan seperti dulu. Bukan, aku ada rencana yang berkaitan dengan cita-cita masa kecilku dulu.”

Tiara mengerutkan dahi. “Cita-cita masa kecil dulu…? Apa ya?”

~

Tiara meletakkan kedua tangannya di depan mulut ketika Range Rover itu berhenti di depan kompleks yang keduanya kenali. “Nggi…” ujar Tiara, tak sanggup berkata-kata. “Kamu merenovasi panti asuhan kita??”

“Kakak ingat nggak cita-citaku waktu masih kecil yang pengen punya rumah besar?” kata Anggi ketika mereka berdua duduk diatas bangku di bawah pohon, menyaksikan para tukang melakukan pekerjaan mereka.

Tiara memandang Anggi dengan tatapan kagum. “Kamu dapet uang darimana?”

“Saat ini aku kerja sebagai akuntan di firma hukum pamanku. Yah, paman dari pihak ayah angkatku. Dia bilang aku boleh menggantinya kapanpun aku bisa. Jadi yah…aku rasa ini saat yang tepat untuk mewujudkan impianku.” Anggi tersenyum. “Bagiku, rumah terbesar dan terindah itu adalah panti yang dulu aku tinggali. Dengan anak-anaknya. Dan Kakak.”

“Ini lebih dari itu, Nggi!” ujar Tiara, tak berhenti merasa kagum.

Anggi bergeser untuk memandang Tiara lebih lekat. “Ini semua juga karena Kakak. Kak Tiara selalu baik sama aku, selalu berbagi sama aku.” Senyum di wajahnya mengembang. “Karena itu aku mau menamai panti asuhan yang baru ini dengan nama Rumah Mutiara. Kakak setuju?”

Tiara memandang Anggi. Matanya berkaca-kaca karena haru. Kemudian airmatanya pun menetes.

Tiara memberikan Anggi pelukan paling hangat lalu berkata, “Inilah warisan kita untuk anak-anak lain dengan kehidupan yang sama seperti kita dulu. Inilah bentuk balasan kita pada kehidupan, seperti yang dikatakan Bu Nuryatin. Apa kamu ingat?”

Anggi tersenyum. “Ya. Aku ingat.”

——————————————————–

Warisan tidak (selalu) tentang membagikan harta dan kekayaan; namun tentang memberikan kembali kepada kehidupan yang sudah mengantarmu pada pencapaian-pencapaian hingga titik ini.

#7HariMendongeng

De Schat van Zwart Groef*

Pindah rumah bukan hal yang mudah bagi Robin. Terlebih jika pindah rumah sehari sebelum ulangtahunnya yang ke-11.

Ibu bilang ini hanya sementara. Mereka bisa kembali ke rumah yang lama jika Robin dan adiknya tidak betah. Tapi Kartika kan baru 8 tahun, gerutu Robin, dia akan ikut kemanapun orangtua mereka pergi tanpa mengeluh.

Dua tahun lalu, Paman dan Bibinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Mereka meninggalkan rumah ini tanpa ada yang mengurusnya. Mereka tidak punya anak, jadi rumah itu diserahkan pada satu-satunya keluarga Paman Rudi yang tersisa, yaitu ibu Robin, adik perempuannya.

Robin tahu mengapa mereka pindah kesini. Mereka sedang mengalami masalah keuangan. Ayah mengelola produksi makanan beku. Sekitar dua minggu lalu, ada pencuri yang membobol rumah tempat produksi dan mencuri bahan-bahan mentah serta mesin pengolah makanan. Mereka tidak bisa lagi menutupi kerugian, dan terpaksa menggadaikan rumah untuk berusaha mengembalikan keadaan.

Keadaan rumah yang ini masih sangat baik, tapi sangat berdebu. Rumah ini adalah tempat dimana dulu ibunya menghabiskan masa kecil. Orangtua mereka adalah campuran Belanda dan Jawa. Sang ayah, kakek Robin adalah seorang mantan insinyur sistem pengairan.

Meskipun agak kecil, ada dua lantai dengan empat ruangan pada lantai atas. Robin dan Kartika mendapatkan dua kamar di lantai atas, bersama satu kamar mandi dan sebuah ruangan kecil lain yang tampaknya adalah sebuah gudang.

“Hei,” ibu mendekati Robin yang sedang duduk di anak tangga didepan teras, mendengarkan musik dari pemutar mp3. “Kamu suka kamar barunya?”

“Lumayan,” jawab anak itu sambil mengangkat bahu. Ia mencopot earpiece dari telinganya.

Ibu merangkul bahu putranya. “Kamu akan betah disini.”

Robin menatap ibunya yang tersenyum lebar. “Aku tidak akan bilang kalau aku tidak betah, jika itu yang Ibu mau.”

“Robin, bukan seperti-…”

Robin bangkit berdiri dan meninggalkan ibunya.

Dari jendela manapun, yang terlihat diluar hanyalah pepohonan dan beberapa bagian rumah-rumah lain. Tidak ada suara anak-anak kecil yang bermain atau kegiatan apapun.

“Mas, temenini aku ke kamar mandi, dong… Tika takut…” pinta adiknya.

Robin menuruti permintaan adiknya. “Mas tunggu diluar, oke?”

“Jangan tutup pintunya…”

“Iya, ya.”

Ketika Robin bersandar di dinding luar kamar mandi, ia memerhatikan ruangan di sebelah kamar adiknya.

Penasaran, ia melangkah mendekati pintu dan memutar kenopnya. Terkunci. Tapi ketika ia berbalik, tiba-tiba terdengar bunyi ceklek! Dan di hadapannya, pintu itu berderat terbuka. Sesaat ia hanya memandangi sambil berpikir. Kemudian ia mendorong pintunya hingga terbuka seluruhnya.

“Sudah kuduga,” pikirnya. “Gudang.”

“Mas Bobo…” Kartika lari mendekatinya.

“Tika! Jangan panggil aku seperti itu lagi! Itu nama kecilku, dan cuma Ayah dan Ibu yang boleh menyebutku…”

“…Bobo?”

Robin memandang adiknya dengan tatapan kesal.

“Mas, ini apa?” Kartika melongok kedalam gudang yang gelap gulita itu.

“Gudang. Udah sana,” Robin mendorong adiknya menjauh. Kemudian ia menutup pintu gudang itu dan meninggalkannya.

Jam 12 malam, Robin belum juga bisa tidur. Ia mencoba memainkan PSP-nya. Saat itulah ia mendengar suara berisik dari dalam rumah. Suaranya mirip serangga, yang disusul suara benturan teredam.

Robin nekad keluar dari kamar untuk mencari tahu asal suara berisik itu. Suaranya datang dari arah kamar Kartika. Ia berjalan mendekati kamar adiknya sambil agak berjinjit.

Robin menempelkan telinganya di pintu.

Rrrrr…. Duk! Duk!

Tidak, suara itu bukan berasal dari kamar Kartika. Tapi dari ruangan di sebelahnya.

Robin memutar kenop gudang itu dengan jantung berdebar. Haruskah dia membangunkan Ibu? Tidak, dia tidak takut. Sejak malam ini, dia kan sudah 11 tahun, benaknya.

Dengan ujung-ujung jemarinya, Robin mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ya, sudah pasti suara itu berasal dari sini.

Ketika melangkah masuk, tangan Robin menyentuh saklar lampu model lama yang berwarna hitam dan berbentuk seperti benjolan. Ia menjentikannya keatas. Cahaya kuning kemerahan memenuhi ruangan.

Ada sebuah meja besar tua, foto-foto tua, dan cermin yang juga tua, ditandai dengan permukaannya yang sudah kekuningan dan sulit memantulkan bayangan.

Robin berlutut di depan tumpukan kardus, memeriksa satu yang menimbulkan suara berisik itu. Ia menariknya sedikit keluar. Kemudian membuka dan memasukkan tangannya ke dasar kardus, sampai ia menemukan benda yang menimbulkan suara berisik itu: sebuah mainan bebek.

Ia meletakkannya di lantai, menyaksikan ketika bebek itu mencoba berjalan dengan satu kakinya yang sudah tidak dapat bergerak sempurna. Kunci putar di punggungnya pun sudah berkarat. Robin mengusapnya dengan jari, lalu tiba-tiba kunci itu lepas dari lubangnya. Anehnya, ujung kunci itu berbentuk seperti kunci pintu. Robin mengamati kunci itu di depan wajahnya.

Dari sudut matanya, ia menangkap sebuah kotak kayu yang terhimpit oleh tumpukan kardus lainnya.

Robin mencoba menariknya keluar, tapi tidak berhasil. Ia mencoba sekali lagi dengan mengangkat sedikit tubuhnya, hingga kotak itu terbebas. Benar saja, ada lubang kunci di tengah kotak itu. Ia membuka kotak kayu kehitaman itu dengan kunci dari mainan bebek, dan menemukan isinya kosong. Kecuali…

Sebaris tulisan dalam bahasa asing, tercetak di dasar kotak, dalam tinta emas yang mulai pudar.

“Vephar, laat de…duisternis vallen optwijfels en verdriet…**” Robin membaca dengan patah-patah.

Tiba-tiba muncul hembusan angin yang menerpa dirinya. Robin menjatuhkan kotak itu ke lantai karena takut.

Lalu entah dari mana datanganya, seekor burung gagak hitam bertengger diatas sebuah lemari tua.

Kekagetan Robin belum pulih ketika di tengah-tengah ruangan itu muncul bercak hitam yang secara ajaib melebar dengan cepat. Hingga akhirnya lutut anak itu menyentuh kekosongan dari permukaan lubang hitam itu, dan ia pun terjatuh kedalamnya.

“…Bobo…!” suara kecil Kartika membangunkannya.

Robin membuka mata. Di sekelilingnya hanya kegelapan. Tidak ada apapun kecuali sebuah kursi, di hadapannya. Kursi berbantal keperakan dan berkerlip-kerlip seperti sisik ular. “Duduklah, dan kau akan menerima banyak uang untuk mengganti kerugian orangtuamu,” sebuah suara parau muncul dari kegelapan dan dari dalam kepalanya secara bersamaan.

“Tapi aku tidak mau itu,” ujar Robin dalam hati. “Aku hanya ingin bersama orangtuaku, dan adikku.”

Dengan sekuat tenaga, Robin menghempaskan kursi itu ke samping. Kilatan cahaya membutakan matanya. Tubuhnya serasa melayang.

Ketika sadar, Robin sedang terbaring diluar gudang.

Kartika berlutut di sampingnya dengan wajah basah oleh airmata. “Mas Bobo…”

“Jangan panggil aku Bobo…”

Kartika membelalakkan mata, ia segera memeluk kakaknya.

Derap langkah di tangga terdengar menyusul kemunculan Ayah dan Ibu yang mendengar teriakan Kartika. Mereka datang dan memeluk kedua buah hatinya. “Ada apa, sayang?” tanya ibu khawatir.

Robin memeluk ibunya erat.

“Hei,” bisik sang ibu. “Happy birthday. Ini hari ulangtahunmu…”

“Aku tidak ingin hadiah apapun,” kata Robin. “Aku sudah menemukan harta karun. Di rumah ini. Bersama kalian.”

“Robin…” Anne memeluk putranya lebih erat.

————————————————-

Ditulis untuk meramaikan hajatan #7HariMendongeng

Cerita ini ditulis 1000 kata lebih sedikit, soalnya lumayan susah kalo mau bikin pas seribu.

Semoga bisa menghibur anak-anak di seluruh negeri (hoyoooh…). >.<’

————————————————

*The Treasure of Black Pit (Harta Karun Lubang Hitam)

**“Vephar, let the darkness fall on doubts and sadness…” (“Vephar, jatuhkanlah kegelapan diatas keraguan dan kesedihan…”) Mantra ini cuma karangan semata (menggunakan Google Translate). Sementara Vapar/Separ/Vephar dikenal dalam sejarah, khususnya demonologi, sebagai nama Iblis ke 42 dari 72 Iblis yang disegel oleh Raja Sulaiman di masa lalu. Wew. :shock:

[Dongeng] Salim Dan Bola-Bola Ajaib

Jaman dahulu ketika manusia dan hewan saling berbicara, hiduplah seorang anak laki-laki kecil bernama Salim. Ia tinggal di rumah kecil bersama ibunya di dekat hutan.

Salah satu kegiatan Salim setiap hari adalah mengambil air di sungai yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.

Pada suatu malam, ibu Salim sakit keras. Anak itu sangat takut akan terjadi apa-apa pada ibunya.

“Maukah kau merebuskan rempah-rempah untuk ibu, Salim?” pinta ibunya.

Salim bergegas pergi ke dapur untuk melaksanakan perintah ibu yang ia sayangi. Tapi ada satu masalah, air dalam kendi hampir tandas, tidak cukup untuk merebus selembar daun ara sekalipun.

Salim menengok keluar jendela. Malam sudah hampir larut dan bulan purnama bersinar terang.

“Bu, aku mau mengambil air dari sungai dulu,” Salim pamit pada ibunya.

“Tidak! Kau tidak boleh keluar di malam bulan purnama. Kau bisa tertimpa musibah dan tak ada seorangpun yang bisa menolongmu,” ibunya memperingatkan.

“Aku tetap akan pergi. Aku mau menyembuhkan ibu.” Airmata mengurai dari kedua mata kecilnya.

“Baiklah,” jawab sang ibu, memegang tangan puteranya. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam gulungan ikatan sarungnya. Sebuah kantong berwarna hitam. “Di dalam kantong ini ada dua buah bola. Keduanya berguna saat kau menghadapi bahaya. Lemparkan yang merah ke arah musuhumu agar ia menjadi lumpuh selama beberapa saat. Yang satunya lagi, bola yang biru, kau harus menelannya untuk membuat tubuhmu menghilang dari pandangan musuh. Apa kau mengerti, Salim?”

Salim mengangguk sambil menerima kantong hitam itu dari tangan ibunya. Ia memeluk ibunya lagi sebelum pergi meninggalkan rumah.

Di perjalanan, tiba-tiba Salim mendengar suara keras dari kejauhan.

Buumm… Buumm…

Salim menghentikan langkahnya sambil mendengarkan.

Bummm… Bumm…

Kemudian suara itu menghilang. Salim meneruskan langkahnya.

Ketika sadar, kaki Salim menginjak tanah yang lembek dan licin. Ia mengucek-ngucek matanya. Sekonyong-konyong, ia mengenali suara aliran sungai yang dikenalinya. Hatinya begitu gembira. Ia meraup segenggaman air dan minum beberapa kali.

Salim mulai mengisi kendinya dengan air ketika suara berdebum itu terdengar lagi, tapi kali ini lebih keras dan terasa lebih dekat.

BUUMM!

Salim menegakkan badan, berusaha melihat ke seberang sungai. Dia nyaris tidak bisa melihat apa-apa. Urat-urat lehernya menegang. Ia bersiap lari atau bersembunyi.

“Psstt!” tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Secara naluriah Salim menjauhi sisi kirinya. Ada makhluk hidup dibalik batu besar itu. Manusia atau hewan kah?

Suara berkecipak beberapa kali membuat Salim mengerutkan dahi karena penasaran. Ia mengangkat lenteranya dari tanah dan mengarahkannya ke balik batu besar. Ada genangan air, dan seekor ikan berwarna hitam berenang-renang gelisah.

“Psstt! Anak kecil. Tolong. Tolong aku,” ujar ikan berkumis itu.

“Ikan lele…,” bisik Salim. “Kenapa kau bisa disini? Kau mau aku kembalikan ke sungai?”

“Tunggu! Kita harus sembunyi,” ujarnya tergesa-gesa.”Situasinya sangat berbahaya.”

“Bahaya apa?” Salim memandang ke kegelapan di seberang sungai. “Suara yang tadi? Apa itu bahayanya?”

Ikan lele itu mengeluarkan mulutnya dari permukaan air, membuka dan menutup seperti kehabisan nafas. “Buto Abang. Hap-… Hop-…”

“Kau kekurangan air?”

“Bi-..bisakah kau memasukkanku kedalam kendimu? Tolong.”

Salim melirik kendinya. “Ibuku butuh air di kendi ini. Dia sedang sakit. Maafkan aku.”

“Tolonglah. Jika kau tidak membantuku, bahaya bisa mengancam seluruh negeri.”

BUMM!!

Salim menoleh dengan wajah ketakutan.

“Cepat, sembunyikan aku didalam kendimu!” perintah ikan lele itu.

Salim mendengar suara pepohonan di seberang sungai diterobos oleh sesuatu yang besar. Dengan cepat, ia memindahkan ikan lele itu kedalam kendinya.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Salim, panik.

“Larilah sekencang yang kau bisa!” jawab ikan lele itu.

Salim bangkit dan berlari menuju hutan. Nafasnya terengah-engah, kakinya sakit, beberapa kali ia nyaris terjatuh. Sampai akhirnya ia benar-benar jatuh karena tersandung batang kayu tua besar. Kendinya melayang dan jatuh di depannya. “Oh, Tidak!”

Ia buru-buru menegakkan kendinya yang terguling. Sebagian air di dalamnya tumpah, tapi masih cukup bagi ikan lele itu untuk bergerak leluasa dan bernafas. “Kau tidak apa-apa, Anak Kecil?”

“Namaku Salim, bukan Anak Kecil,” ia mengoreksi dengan kesal.

BUM!! “Graaahhh…!!!”

Salim berbalik. Di depannya, pepohonan tampak bergoyang, sebagian terdengar jatuh atau patah. Kemudian muncul di hadapan Salim, sosok setinggi pohon-pohon di sekitarnya, berkulit merah dan berbadan besar. Bahunya sebesar kepala manusia. Kepalanya sendiri seperti tertutupi rambut hitam panjang dengan sebuah tanduk mencut di depan dahi. Mata bulat merah menyala, seperti beruang yang kelaparan. Bibirnya hitam dan tebal. Ketika ia membuka mulutnya, barisan gigi kekuningan yang semuanya adalah taring berkilat-kilat tajam. “Gandha! Gandha!!” geramnya.

Salim buru-buru mengeluarkan kantong hitamnya. Ia mengeluarkan bola seukuran batu sungai kecil berwarna merah lalu melemparkannya ke arah Buto Abang. Ketika bola itu mengenai perutnya, raksasa itu mengaduh kesakitan dan seketika jatuh berlutut di tanah.

“Ayo!” teriak si ikan lele.

Salim bangkit dan mulai berlari lagi. “Bola merah itu tidak akan bertahan lama. Bagaimana jika dia mengejar kita lagi?”

“Sebenarnya dia mengejarku. Aku Pangeran Gandha dari kerajaan seberang. Ketika berburu sendirian di hutan, aku bertemu Buto Abang. Dia ingin menculikku untuk meminta tebusan berupa kekayaan. Buto Abang bukanlah pemangsa manusia. Dia hanya tertarik pada harta dan barang-barang berharga. Aku mengubah diriku menjadi ikan untuk bersembunyi darinya, tapi makhluk itu tetap bisa mengenaliku.”

Bum…! BUM…!

“Dia sudah memulihkan kekuatannya.” Salim berusaha mempercepat larinya. Tapi ia malah berhenti karena kelelahan. “Aku tidak sanggup… lagi…”

“Gandha…!” seruan makhluk itu semakin terdengar keras. Sampai akirnya ia muncul lagi di hadapan sang bocah.

“Pangeran, telanlah bola ini,” bisik Salim kedalam kendi sambil memasukkan bola berwarna biru.

“Dimana Gandha? Serahkan ia padaku,” kata Buto Abang. “Aku tahu dia ada bersamamu, manusia kecil!”

“Dia tidak ada bersamaku,” ujar Salim, taku-takut.

Buto Abang merampas kendi dari sisi tubuh Salim dan membuka tutupnya.

Makhluk itu menunjukkan gigi-giginya yang tajam saat menatap air jernih yang kosong. Dengan marah ia melemparkan kendi itu. Salim berhasil menangkap kendi itu tepat sebelum menyentuh tanah. Ia langsung lari meninggalkan Buto Abang.

“Terimakasih, Salim,” ujar Pangeran Gandha ketika ia telah kembali ke wujud manusianya. Pangeran itu adalah seorang pemuda yang gagah. Usianya pastilah belum 30 tahun. “Ini, aku membawa kantung air bersamaku ketika malih wujud saat menghindari kejaran Buto Abang. Semoga ibumu sehat kembali. Besok, aku akan menjemput kalian untuk tinggal bersamaku di istana.”

Salim dan ibunya mendapatkan kehidupan yang lebih baik semenjak tinggal di lingkungan istana. Seluruh negeri mengenang Salim sebagai pahlawan muda yang menyelamatkan putra mahkota serta kerjaan mereka.

—————————————-

Judulnya kayak dongeng-dongeng di tipi aja ya, haha. Tapi nggak apa-apalah namanya juga dongeng. <- ngeles

Semoga bisa meramaikan tantangan #7HariMendongeng.