Bicara Horor

mirandaKalo misalnya ditanya kenapa saya suka film horor, mungkin jawabannya sama jika saya ditanya kenapa udah tua masih doyan nonton kartun/animasi? Saya suka spesial efek. Saya suka cerita yang bagus dan kreatif.

Selain animasi dan drama, menurut saya film horor juga memiliki keanggunan dan keindahan, terutama (harus diakui) film-film horor Asia. Walau tahu bakal kaget dan jantungan sampe parnoan, tetep aja penasaran sama ide-ide yang mau ditawarkan sang pembuat cerita; skenario apalagi yang bisa dibuat dari satu tema horor, “gaya kemunculan dan gangguan” seperti apalagi yang bisa dibuat, bagaimana motivasi si hantu bisa menginspirasi dan terhubung dengan penonton, dan mengapa itu mungkin saja terjadi di dunia nyata, yang disajikan secara alami tanpa dramatisasi yang berlebihan. Setidaknya dari hal-hal itulah saya menilai apakah film horor bisa dinikmati atau tidak.

Saya sih bukan kritikus film (cuma ceplas ceplos penggemar awam), tapi dari saya pribadi nggak semua film horor yang saya tonton memuaskan. Ada juga tentunya yang menurut saya kurang berhasil menyajikan cerita yang dalam sekaligus natural disamping penampilan hantu yang “indah” tadi.

Terkadang ada film-film horor yang lebih mengedepankan make up seram, dengan cara kemunculan hantu yang ngagetin dan sound yang bikin jantung copot, ketegangan yang jadi kurang tegang karena terlalu lambat, lebih banyak akting ketakutan ketimbang action-nya dalam berusaha mengungkap misteri, atau sebaliknya, si tokoh utama digambarkan agak terlalu tangguh dan bisa mengatasi masalah diluar logika dengan serangkaian aksi dan akhirnya semua kembali normal.

Saat nonton film horor, yang biasanya saya tunggu-tunggu adalah gaya kemunculan hantu/pembunuh/makhluknya. Ada yang biasa aja, tapi nggak jarang juga yang janggal, aneh dan diluar dugaan. Salah satu yang terkenal mungkin adalah kemunculan Sadako dalam film Ringu/The Ring. Yang sebenarnya mereka merekam sang aktris berjalan mundur, tapi kemudian diputar secara terbalik sehingga menghasilkan cara jalan Sadako yang khas.

Tapi sebenarnya teknik kemunculan hantunya itu juga nggak terlalu penting asal nggak berlebihan dan terlalu diserem-seremin dengan efek yang terlalu banyak.

Mungkin agak berbeda dengan kehidupan nyata dimana hantu biasanya nongol begitu aja, ketegangan dalam film horor lebih bisa dibangun ketika tokoh yang mau ditakut-takutin lebih dulu dan secara bertahap ditunjukkan tanda-tanda, motif atau dan pengetahuan bahwa si hantu/makhluk/pembunuh berantai itu nggak sejauh yang dia kira dan bisa muncul dari tempat, waktu dan dengan syarat dan kondisi tertentu. Dan perbuatan yang memicu kemunculan itu tidak terelakkan lagi, misalnya karena dendam, kutukan, ritual, karma, cinta, dan sebagainya.

Cast yang pas juga penting. Karakter cewek emang sering jadi langganan film horor. Menurut saya karena cewek bisa tetap terlihat anggun ketika beraksi mengatasi masalah. Tetap indah dilihat walau sedang berlari di lorong rumah sakit dengan darah di sekujur badan. Mereka bisa bersikap tangguh, tapi juga punya intuisi yang kuat.

Karakter cowok juga bagus sebenarnya. Tapi karakter cowok mungkin cenderung ingin mengatasi masalah secepatnya dan mudah emosional. Reaksi kaget atau ketakutannya juga kurang bikin simpati karena image laki-laki yang biasanya lebih kuat. Hehe. Sekali lagi ini hanya kesotoyan saya. Film seperti Secret Window yang dibintangi Johnny Depp termasuk favorit saya walau film itu lebih ke genre thriller. Tapi cuma itu yang saya tahu yang jagoannya cowok selain Mirrors dan 1408. Karakter laki-laki di film horor mungkin akan lebih menarik jika karakternya anak-anak seperti Dorm (Dek hor) dan The Devil’s Backbone.

Apakah kamu suka film horor?

“Dear Mum”

#DearMum

This is dedicated to every mother that ever walked the face of this Earth. It’s so easy for us children to forget all that you went through to raise us. So often we slip and disobey you, for that we’re sorry and we thank you for being there for us in the good times and the bad.

Dear Mum adalah film pendek berdurasi 7 menitan yang bakal bikin kamu nangis termehek-mehek. Asli.

Film yang bertema Islami ini berkisah tentang kasih sayang seorang ibu terhadap putranya, dan perintah agama untuk mengasihi orangtua sebagaimana mereka mengasihi kita saat masih kecil. Pesan yang mungkin sederhana, klise dan sering dihimbau. Tapi sering kita lupakan.

Selamat menonton.

BlinkyTM (2011)

BlinkyTM.mp4_000188233

Blinky Directed by Ruairi Robinson. With Max Records, Jenni Fontana, James Nardini, Joe Childs.

Film pendek ini bercerita tentang seorang anak laki-laki dan robotnya, serta konsekuensi dari kekacauan rumah tangga orangtuanya. Agak serem dan gory, tapi setidaknya film ini mengajarkan kita bagaimana perilaku dan kata-kata kita, terutama orangtua memengaruhi anak dan lingkungannya.

BlinkyTM.mp4_000166066 BlinkyTM.mp4_000177900  BlinkyTM.mp4_000415666
BlinkyTM.mp4_000606333 BlinkyTM.mp4_000608466 BlinkyTM.mp4_000681866

“Can you make my parents stop fighting? Can you do that!?”

Kekerasan itu menular seperti virus. Ketika si anak laki-laki menyaksikan orangtuanya bertengkar setiap hari, dia mulai melampiaskannya pada Blinky dan bersikap kasar pada si robot. Akibat dari tindakannya itu sangatlah fatal ketika si robot berbalik menyerang keluarga tersebut.

Pelajaran lain yang bisa kita petik setelah menonton film ini adalah, tidak ada cara instan untuk menciptakan kebahagiaan, apalagi berkaitan dengan anak. Hanya karena kita mampu, kita tinggal membelikan anak mainan mahal dan berpikir anak-anak akan bahagia. Well, mainan bisa rusak, anak bisa bosan, robot bisa bermalfungsi dan mengubahmu menjadi bakso. 😆

Film berdurasi 12 menitan ini adalah tontonan yang menghibur sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, terutama para orangtua.

>Watch on Youtube

Dracula (1931)

ImageSaya mau bagi film klasik lagi nih. Kali ini film yang diangkat dari novel Bram Stoker, “Dracula”.

Saking klasik dan berharganya, film ini di Amerika dilestarikan oleh United States National Film Registry by the Library of Congress sebagai film yang “culturally, historically, or aesthetically significant”…penting secara budaya, sejarah dan estetik. Waw. 😀

FIlm yang disutradari Tod Browning ini dibintangi aktor yang terkenal sekali di era itu, yaitu Bela Lugosi.

Dari awal, filmnya enak diikuti dengan diiringi musik yang juga enak didengar. Ceritanya tentang count Dracula yang adalah seorang vampir. Ia memiliki tiga istri vampir di istananya di Transylvania. Kemudian ia merambah ke kota London untuk mencari mangsa sekaligus istri baru.

Waktu nonton film ini, saya teringat sama Dracula versinya Van Helsing di tahun 2004.

Di film itu, ketiga istri Dracula dikembangkan menjadi lebih banyak porsinya dalam cerita dan digambarkan lebih seksi sekaligus menyeramkan.

Selain itu tokoh Van Helsing di versi 1931 adalah seorang dokter yang sudah tua namun tetap memegang peranan penting dan yang menentukan ending.

Image

Film berdurasi 71 menit ini bisa kamu tonton/download disini.

Selamat ber-horor ria. Mwahaha.

gambar: en.wikipedia.org; ew.com

Ghost Rider (1982): Film Edukasi Keselamatan Bus Sekolah

Gersang juga rasanya empat hari nggak update blog. Maklum, yang punya blog lagi kering ide. 😆 Saya pengen aja menceritakan hal-hal sederhana yang ada di sekitar saya, tapi otak susah diajak kompromi. Walau ada ide tapi susah amat mengolahnya.

Yah baiklah, maka daripada nggak ada update, saya (lagi-lagi) mau share film/video aja nih yang saya dapet dari Internet Archive.

Judulnya memang mirip dengan karakter komik. Tapi ini bukan cerita tentang superhero. Mungkin judulnya sengaja dibuat demikian biar menarik perhatian anak-anak sekolah.

Film pendek berdurasi 14 menit-an ini memang ditujukan untuk anak-anak sekolah. Isinya tentang panduan keselamatan di dalam bus sekolah. Tapi dibawakan dengan cerita yang sangat bagus sekali. 😀

Ceritanya si Kevin adalah anak baru di sebuah sekolah. Dia dan keluarganya baru pindah ke rumah keluarga Donnelly. Saat di bus sekolah, Kevin bertemu dengan anak perempuan misterius yang muncul secara tiba-tiba.

Kevin membantu memungut pensil yang jatuh dari tempat duduk anak perempuan itu. Tapi ketika dia mau balikin si pensil, cewek tadi udah hilang!

Di pensil itu tertulis nama Tracy Donnelly. Kevin pun jadi tahu ternyata anak cewek itu anak dari pemilik rumah mereka sebelumnya. Sejak kematian Tracy, keluarganya sangat sedih dan akhirnya memutuskan pindah. Lalu mengapa hantu Tracy kembali muncul di menemui Kevin?

Di era 70-80-an, cerita-cerita dan film hantu memang sedang populer, makanya dibuatlah film ini pake hantu-hantuan untuk menarik perhatian anak-anak. Tapi tenang aja, hantunya sama sekali nggak serem kok. Malah imut dan manis. 😳

Kalo di Indonesia mungkin nggak ada bus sekolah yang sejenis di luar negeri. Tapi tetap menarik untuk ditonton. Siapatahu bisa dipraktekin di angkot. (eit amit-amit deh) *ngetok2 meja* >.<

Download disini

Winter: How Are You Gonna Live Your Life?

Supaya nggak lama-lama bingung dengan judulnya, postingan saya kali ini mau menceritakan sosok inspiratif yang saya tonton lewat film Dolphin Tale (2011), Winter.

Winter adalah seekor lumba-lumba betina yang diselamatkan oleh Clearwater Marine Aquarium di Florida. Karena cidera yang cukup parah, Winter harus kehilangan ekornya, alat utama yang digunakan lumba-lumba untuk berenang dan bertahan hidup.

Di film Dolphin Tale, ceritanya berpusat pada seorang anak bernama Sawyer Nelson, 11 tahun, yang menjalin hubungan emosional dengan Winter. Dia bersama teman-teman barunya di Clearwater merawat hewan-hewan laut yang cidera hingga sehat dan dilepas kembali ke alam liar. Tapi ada seorang pengusaha kaya yang mau membeli tempat itu untuk dijadikan hotel. Sementara mereka kehabisan dana. Belum lagi mereka harus berusaha mendapatkan pertolongan untuk Winter.

Mereka pun mendapatkan bantuan dari Dr. McCarthy (Morgan Freeman), seorang ahli pembuat anggota tubuh buatan atau prostetik. Dia mencoba berbagai macam model yang membuat Winter akhirnya nyaman menggunakannya.

Lumba-lumba dalam film ini (dan nampaknya semua hewan dan seluruh fasilitas tersebut) berperan sebagai dirinya sendiri. Winter adalah lumba-lumba betina yang menggunakan ekor prostetik untuk berenang. Tapi saya nggak tahu pasti bagian mana saja yang merupakan kejadian nyata dari filmnya. Di akhir film ada cuplikan-cuplikan asli video dari dokumentasi pribadi Clearwater Marine Aquamarine saat menyelamatkan Winter dan mulai merehabilitasinya.

Dalam film, Winter mulai dikenal orang luas ketika Sawyer berinisiatif membuat website dan acara penggalangan dana Save Winter Day dan seewinter.com (ini juga saya nggak tahu apakah dari kejadian asli atau bukan, tapi situsnya sungguhan dan valid sebagaimana saya tautkan di nama Clearwater Marine Aquarium diatas).

Banyak orangtua yang mengajak anak-anak mereka yang memiliki keadaan yang sama dengan Winter, alias anggota tubuhnya nggak lagi sempurna. Ini adalah bagian yang paling mengharukan, ketika ada cuplikan dari kunjungan para anak-anak cacat tubuh yang dipandu para penjaga masuk ke kolam untuk berinteraksi dengan Winter. Mereka kelihatan senang seperti layaknya anak-anak yang main ke taman hiburan lainnya. Namun selain itu ada juga orang-orang dewasa yang difabel yang mengunjungi Winter. It’s so beautiful. <- berkaca-kaca

Di situs seewinter.com kita juga bisa melihat langsung Winter dan teman-temannya melalui kamera webcam.

Winter telah menginspirasi banyak orang. Ia juga memenangkan American Humane Association’s People’s Choice PAWSCAR Award di kanal Animal Planet dari Discovery Channel.

Adegan endingnya sukses bikin dada saya empot-empotan karena nahan airmata. 😆 Adegan ending dimana Sawyer berenang bersama Winter diiringi lagu “Safe” oleh Westlife yang bikin mengharu-biru, gegap-gempita, semua lah bercampur aduk… Disambung dengan montage atau cuplikan tentang Winter dan sepak-terjangnya di dunia nyata dalam menginspirasi orang-orang. 😀

Jorge Ribas interviews the cast and crew to find out how much of the movie remains true to life.

Cuplikan ending film Dolphin Tale dengan lagu “Safe”. (Bukan sekedar film yang heart-warming, tapi juga menginspirasi.)

Di dunia manusia sendiri banyak orang-orang yang inspiratif dimana dengan kecacatan tubuhnya, mereka masih bisa berprestasi dalam berbagai bidang olahraga yang mungkin kesannya mustahil. Inilah bagaimana kisah Winter dan orang-orang hebat ini saling terhubung. Kisah-kisah mereka adalah kisah tentang bagaimana kita menjalani hidup meski dengan berbagai keterbatasan. Bagaimana mereka, kita, bisa membuat mimpi bisa menjadi kenyataan, dengan kekuatan motivasi.

gambar: zap2it.com; msn.com

Sita Sings The Blues (2008)

Film animasi ini sangat unik dan lucu. Diciptakan oleh Nina Paley dibawah naungan Creative Commons dan dengan bujet yang dibiayai audiens (donasi).

Lagu-lagu blues didalamnya dinyanyikan oleh penyanyi jazz lawas era 1920an, Annette Hanshaw.

Dalam animasi ini ada lebih dari satu ciri khas ilustrasi. Gambar-gambar kartun yang memerankan cerita dan yang menyanyi berbeda modelnya. Kalo udah ditonton pasti ngerti deh maksud saya. Hehe.

Film animasi ini cocok buat yang ingin tahu ringkasan cerita Ramayana yang terkenal itu dengan cara yang lebih mudah dipahami dan menghibur.

Selain kisah Ramayana, dalam film ini juga ada alter-story atau cerita sampingan yang berseting masa kini, tentang sepasang kekasih, Nina dan Dave yang terpisah jarak gara-gara pekerjaan, kemudian bertemu, berpisah lagi dan akhirnya putus. Kayaknya sih pengalaman pribadinya mbak Nina Paley. Haha soalnya nama si cewek juga Nina.

Ringkasan kisah “Ramayana” dalam Sita Sings The Blues

Ramayana berkisah tentang Rama, pengeran Ayodhya pada masa abad ke-14 SM.  Atas bujukan jahat istri ke-3-nya Kaikeiy, raja Dasharata memerintahkan agar Rama pergi ke hutan selama 14 tahun sebelum meneruskan tahtanya sebagai raja. Sita istrinya yang setia pun ikut bersama dirinya kedalam hutan.

Hal ini diketahui seorang raja Lanka (Sri Lanka), Ravana (yang kepalanya ada 9 😯 ). Atas bujukan jahat saudari perempuannya, Surphanaka, Ravana pun mencoba menculik Sita dari Rama.

Ia mengutus adik laki-lakinya, Mareecha untuk berubah menjadi rusa emas untuk mengalihkan perhatian Rama.

Sita pun diculik ketika Rama berusaha menangkap si rusa emas atas permintaan istrinya.

Untuk mendapatkan kembali Sita, Rama bekerjasama dengan Hanuman, kera prajurit.

Setelah mendapatkan kembali Sita, Rama sempat meragu apakah istrinya itu masih ‘suci’ karena sudah disekap di istana Ravana.

Kemudian ia mencobakan Sita untuk masuk kedalam api. Jika ia terbakar, maka artinya Sita tidak lagi suci dan murni. Dan ternyata Sita, secara ajaib, selamat dari kobaran api.

Mereka pun kembali ke Ayodhya dan Rama menerima tahtanya sebagai raja.

Namun keraguan Rama datang kembali gara-gara salah satu rakyatnya, Dhobi yang suka memukuli istrinya. “Aku tidak seperti Rama yang sudi bersama istri yang tak lagi suci.”

Dengan alasan itu, Rama tega mengusir Sita yang tengah hamil ke hutan belantara. Karena ia tidak ingin menjadi contoh buruk bagi rakyatnya.

Di dalam hutan, Sita bertemu seorang guru atau orang bijak bernama Valmiki. Dialah yang membimbing Sita hingga akhirnya melahirkan putra kembar, Luv dan Kush.

Valmiki mengajari kedua putra Siat itu lagu-lagu pujian terhadap Rama. Ketika mendengar nyanyian itu di hutan, Rama menemui kedua putranya. Namun ia masih belum bisa menerima Sita.

Lagi-lagi dia mencobakan Sita, kali ini dengan media air. Jika Sita tidak tenggelam, maka Rama akan menerimanya kesuciannya. Sedih dan marah, Sita memutuskan untuk kembali ke perut bumi,…yang bisa diasumsikan sebagai kematian. 😦

Akhirnya Rama pun menyesali tindakannya.

Film berdurasi 1 jam 21 menit ini dibawakan oleh tiga karakter yang mirip wayang kulit yang saling berdiskusi dengan gaya lucu dan logat India mengomentari jalan ceritanya.

Alter-story atau cerita sampingannya juga punya ending yang cukup bisa dijadikan pelajaran khususnya buat yang lagi galau karena baru putus. Tagline-nya aja “the Greatest Break-Up Story Ever Told”. 😆

Kalau penasaran, silahkan download gratis disini.

Mohon maaf kalo di postingan terlalu banyak gambar dan bikin lambat loading. Soalnya saya suka gambar-gambarnya. 😆

(Novel) “Biarkan Aku Masuk”

Let The Right One In atau dalam bahasa aslinya Låt den Rätte Komma In adalah novel karya penulis berkebangsaan Swedia, John Ajvide Lindqvist (mboh kepiye lah mbocone). 😥 Novel ini adalah novel pertamanya yang rilis pada tahun 2004.

Lindqvist yang menghabiskan masa kecilnya di Blackeberg menceritakan sebuah masa di era awal 1980-an yang kelam di tengah kehidupan normal penduduk pinggir kota itu. Oskar, 12 tahun, tinggal di apartemen bersama ibunya yang sudah bercerai. Ia menghadapi hari-harinya sebagai anak kelas 6 SD  yang sering mengalami penyiksaan oleh anak-anak yang lebih besar.

Lalu ada anak perempuan bernama Eli yang baru pindah bersama ayahnya, Håkan bersebelahan dengan apartemen Oskar. Eli adalah vampir berusia 200 tahun yang membutuhkan darah untuk hidup. Dan Håkan sebenarnya adalah… semacam asisten yang membantu Eli mendapatkan darah dengan cara membunuh. Håkan rela melakukan semua itu karena ia sangat mencintai Eli. Dia adalah seorang mantan guru bahasa Swedia yang dikeluarkan dari sekolah karena orientasi seksualnya yang membuat guru serta orangtua ‘tidak tenang’.

Sementara itu Eli bersahabat dengan Oskar meski mereka hanya bisa bertemu di malam hari.

Selain kedua bocah tersebut, ada banyak karakter menarik lainnya yang diceritakan dalam novel ini. Jocke, Lacke dan teman-temannya adalah sekelompok pria yang bersahabat dan senang minum-minum, ada Tommy yang ibunya tengah berpacaran dengan polisi muda, Virginia, mantan pacar Lacke yang kemudian ‘terinfeksi’, Jonny, Micke dan teman-teman berandalannya yang suka mem-bully Oskar di sekolah, Gösta yang hidup dengan kucing-kucingnya… Tiap karakter yang berbeda-beda ini terhubung oleh serangkaian pembunuhan yang dilakukan Eli dan Håkan.

Vampir versi Lindqvist

Dalam cerita ini Lindqvist menggambarkan vampir sebagai efek dari semacam infeksi yang hidup di jantung seseorang.

Infeksi tersebut memiliki ‘pikiran dan nyawa’ sendiri serta memaksa orang bertahan hidup dengan cara meminum darah. Vampir di cerita ini tidak tahan dengan sinar matahari (mereka bisa terbakar, bukan karena takut kelihatan berkerlap-kerlip :mrgreen: ) dan bisa tidur di siang hari tanpa bernafas. Mereka harus beristirahat di ruang yang sangat tertutup seperti peti, lemari atau menenggelamkan diri di bak mandi seperti yang dilakukan Eli. Selain untuk mengisi ulang tenaga, tindakan ini berguna untuk mencegah suara-suara yang masuk ke telinga vampir yang pendengarannya lebih tajam dari manusia normal. 😎

Vampir nggak bisa masuk kedalam sebuah rumah atau kamar begitu saja: mereka harus dipersilahkan masuk terlebih dahulu. “Bilang bahwa aku boleh masuk.” Vampir tidak tahu mengapa ia harus melakukan itu. Namun dorongan hati menyuruhnya demikian. Jika mereka masuk tanpa diundang/dipersilahkan, darah akan merembes keluar dari pori-pori tubuhnya. 😯

Vampir dalam cerita juga dilengkapi dengan gigi-gigi taring, kuku-kuku tajam, memiliki bobot tubuh yang sangat ringan untuk memudahkannya melompat dan menerkam mangsa. Jika dibutuhkan, vampir juga bisa menumbuhkan sayap mirip selaput dibawah lengannya untuk terbang.

Infeksi terjadi ketika liur vampir becampur dengan darah manusia. Jika korban tidak dihisap darahnya hingga habis, maka sudah pasti orang yang bertahan hidup itu akan segera berubah menjadi vampir juga.

Kisah perubahan karakter Virginia menjadi vampir digambarkan secara cukup menyedihkan. 😥 Om Lindqvist sangat mahir menggambarkan bagaimana hidup seseorang berubah selamanya ketika ia tidak bisa lagi berdekatan dengan keluarga yang dicintainya. Skema cerita ini ia angkat lebih dalam pada novelnya yang lain

Novel

Meski banyak menggunakan karakter anak-anak, novel ini bukanlah bacaan buat anak-anak dan remaja. Karena ada unsur kekerasan dan seksualitas yang cukup kental di dalamnya. Selain itu novel ini juga menceritakan masalah-masalah umum, seperti perceraian dan anak-anak yang hidup diantara orangtua yang berpisah, kisah cinta, persahabatan, dan ‘kisah abadi’ penganiayaan (bullying) yang masih sering terjadi di sekolah-sekolah.

Novel setebal 600-an halaman ini nggak kerasa dibaca. Dalam artian nggak sepanjang yang terlihat dari ketebalannya.

Film

Let The Right One In (Sweden - 2008)

Ada dua versi yang sudah dibuat berdasarkan novel ini. Yang pertama adalah versi Swedia yang dibuat tahun 2008 berjudul Let The Right One In dan versi Amerika yang dirilis tahun 2010 lalu dengan judul Let Me In.

Let Me In (2010)

Sayangnya sampai detik ini saya belum nonton salah satu film itu, kecuali cuplikannya yang sepotong-sepotong lewat Youtube. 😦

Satu hal yang saya tahu pasti, tidak satupun dari film tersebut menggambarkan Oskar sebagai anak yang bertubuh gemuk seperti dalam novelnya.

Sekarang saya sudah selesai baca novelnya, nggak pol rasanya kalo belum nonton filmnya. Harus nonton nih walau kata temen saya filmnya (Let Me In) “nggak enak”. Yah, moga-moga masih ada di rentalan… 😉

Attack of The Monsters (1969) – Gamera vs. Guiron

image: pellecreepy.blogspot.com

Film ini adalah film kelima keluaran Daiei tentang Gamera. Monster berbentuk kura-kura-roket itu terkenal di eranya sebagai monster yang baik hati dan “teman semua anak-anak dimanapun”. Walau kayaknya cuma anak-anak di Jepang doang. Haha.

Mungkin karena itu di film ini melibatkan orang Barat, dan suaranya juga uda didubbing jadi bahasa Inggris. Tapi kalo diperhatiin, aktor-aktris bulenya kayaknya emang bisa bahasa Jepang dengan lancar.

Sinopsis

Dua sahabat Tom dan Akio bersama adik perempuannya Tomoko menemukan UFO tak berawak. Kedua anak cowok itu penasaran dan masuk kedalam UFO. Pesawat luar angkasa itu kemudian membawa mereka terbang meninggalkan Bumi. Tapi nggak ada yang percaya sama Tomoko waktu dia bilang abangnya dan Tom dibawa pesawat luar angkasa.

Di luar angkasa, mereka ketemu Gamera yang membantu mereka lolos dari terjangan asteroid. Gamera mengisyaratkan supaya mereka berhenti dan berbalik, tapi anak-anak itu nggak tahu gimana mengendalikan pesawat itu.

Akhirnya mereka menemukan diri mereka terdampar di sebuah planet asing bernama Terra.

Di planet itu mereka menyaksikan ada monster terbang yang mirip pterodon purba bernama Gyaos. Lalu monster lain bernama Guiron muncul dari dalam tanah dan mengkonfrontasi si Gayus, eh, Gyaos.

Kedua bocah itu kabur menggunakan sebuah alat teleportasi yang mengirim mereka ke sebuah pangkalan di planet itu.

Di dalam pangkalan yang ‘canggih’ itu, mereka ketemu dua alien cantik (aslinya serem kayak Piccolo temennya Goku, tapi mereka iso malih, alias bisa merubah diri). Eh nggak tahunya alien-alien seksi itu berniat membunuh dan memakan otak kedua bocah itu untuk diambil pengetahuannya. 😯 Mereka berniat hijrah ke Bumi meninggalkan planet mereka yang sekarat, jadi pengetahuan dari sel otak anak-anak itu akan memudahkan mereka beradaptasi ketika di Bumi nanti.

Tapi tenang, Gamera datang menolong. Walau dia nyaris tewas karena melawan anjing penjaga planet Terra, si Gyaos. Gyaos ini unik (atau aneh), selain kepalanya yang berbentuk kayak piso dapur, 😛 kepalanya itu juga bisa melontarkan shuriken (senjata ala Samurai yang berbentuk bintang). 😯 Kok bisa coba. Apa budaya di planet Terra dan di Jepang kebetulan mirip? Lebih jauh lagi, darimana Gyaos dan monster-monster ini berasal??

Singkat cerita, Gamera berhasil menolong Tom dan Akio pulang ke Bumi dengan selamat. Bagaimana caranya? Silahkan tonton sendiri. Hehehe.

Kalo mau bernostalgia dengan monster-monster ala Ultraman jaman dulu, film ini boleh banget disimak.

(Tonton atau unduh film Attack of Monsters disini.)

Stereotip

Ada beberapa unsur stereotip yang muncul di pikiranku ketika menonton film fiksi-ilmiah ini.

Pertama, meskipun para aliennya adalah ras yang amat maju dan bisa menciptakan teknologi-teknologi tinggi, mereka kerap digambarkan agresif dan liar dengan memakan manusia atau suka menjajah planet-planet dan semacamnya.

Kedua, ada adegan dimana salah satu anak dibotakin rambutnya, dan obviously anak yang dibotakin itu adalah Akio, yang menurutku adalah the smartest kid in the movie. Why it’s always the Asian or the African, never the white kids? Padahal Jepang adalah tuan rumahnya di film ini. Sedikit kecewa dan berduka untuk Akio yang dibotakin.

Tapi ibunya Akio dan Tomoko cantik lho. 😉 Bahkan lebih cantik dari Elsa, ibunya Tom. 😛

Ohya, ada lagi yang menurutku cukup keren, yaitu jaket yang dipake Tom itu modelnya mirip sama jaketnya Renton Thurston (anime Eureka 7)! 😀 Yah nggak persis plek sih, cuma model dasarnya sama. Jaket replika yang ada dijual online justru kelihatan kurang bagus, menurutku. Walau modelnya dibuat persis, tapi detil dan bahannya kayak nggak kelihatan nyaman dipake, seolah sengaja dibuat untuk cosplay doang.

Mungkin nggak ya jaket seperti yang dipake Tom itu masih diproduksi sekarang. (Dan mungkinkah desain karakter Renton terinspirasi dari Tom?)

13 Ghosts (1960)

Mau cerita-cerita film klasik lagi nih. Hehe. Kalo sebelumnya aku cerita tentang film klasik bergenre drama, kali ini filmnya bergenre horor berjudul 13 Ghosts.

Nampaknya film ini bukan public domain. 😳 Jadi, hak ciptanya masih dipegang oleh Columbia Pictures Industries, Inc. dan William Castle’s Productions.

William Castle dikenal telah banyak melahirkan film-film horor terkenal pada jamannya, seperti House on A Haunted Hill, I Saw What You Did, The Night Walker, dan lain-lain.

Seperti yang mungkin kalian ingat, film 13 Ghosts ini juga pernah ada versi modern-nya (remake) yang udah beberapa kali diputar di tv swasta. Versi remake itu dibuat tahun 2001 lalu.

13 Ghosts versi 1960 dan 2001 memang memiliki sejumlah perbedaan, dari alur hingga jumlah karakter. Namun secara garis besar, ceritanya sama.

Perabotan

Di awal film diceritakan keluarga Cyrus Zorba yang tinggal di Los Angeles lagi mengalami masalah ekonomi. Karena tak mampu membayar hipotek, perabotan rumah mereka pun akhirnya disita.

Cyrus yang bekerja sebagai ahli paleontologi di museum tak mampu berbuat apa-apa.

Padahal hari itu (atau besoknya, ya…? kurang nangkep. :?) adalah hari ulangtahun anak bungsunya, Buck. Jadilah mereka menggelar acara ultah anaknya di lantai, berempat dengan Medea, si putri sulung.

Harapan Buck

Bersama tiupan lilin ulangathunnya, Buck berharap agar mereka bisa punya perabotan lagi. Tapi siapa sangka, takdir punya cerita sendiri buat mereka.

Tepat setelah itu, mereka menerima sebuah telegram yang isinya meminta mereka bertemu di kantor seorang pengacara bernama Benjamin Rush.

Rush memperkenalkan dirinya sebagai pengacara almarhum paman Cyrus, yaitu Dr. Plato Zorba, seorang ilmuwan. Rush, atau biar gampang sebut aja dengan nama panggilannya, Ben, mengatakan bahwa paman Cyrus mewariskan mereka sebuah rumah miliknya.

Hilda, istri Cyrus sangat senang sekaligus tak percaya. Karena harapan anaknya, Buck, terkabul. Tak hanya perabotan, malahan sak-rumah-rumahnya sekalian. Hehe.

Hantu-hantu di rumah Dr. Zorba

Dengan nada memperingatkan, Ben menceritakan tentang obsesi Dr. Zorba yang nyentrik.

Ilmuwan itu menghabiskan sisa hidupnya meneliti dunia supernatural. Dr. Zorba terobsesi untuk menangkap dan mengendalikan hantu! 😯 Sebab dia yakin kalau kita bisa melihat hantu, mereka bisa dikontrol layaknya hewan peliharaan.

Keluarga Zorba diberitahu bahwa rumah yang akan mereka tempati itu dihuni oleh 12 hantu. 11 diantaranya adalah hantu-hantu ‘hasil tangkapan’ Dr. Zorba selama penelitiannya. Dan yang ke-12 adalah, well, Dr. Zorba sendiri.

Ben juga menyerahkan sebuah kotak yang berisi sebuah kacamata berdesain aneh. Kacamata itu adalah kacamata khusus yang dibuat oleh Dr. Zorba buat ngeliat hantu.

Pindahan…

Singkat cerita mereka pun pindah ke rumah itu. Di rumah itu ada seorang pengurus rumahtangga yang misterius bernama Elaine.

Di hari pertama, mereka menemukan sebuah papan ouija yang biasa digunakan untuk melakukan kontak dengan makhluk halus. Pasti udah tahu kan… Kalo di kita mah sekerabat sama Jaelangkung.

Peristiwa horor terjadi ketika lukisan potret Dr. Zorba tiba-tiba jatuh dan bilah kayu penunjuk huruf papan permainan itu tiba-tiba melayang trus menunjuk Medea. Itu setelah dia dan Buck mengajukan pertanyaan siapa yang akan mati di rumah ini.

Mereka juga menemukan sebuah buku yang dicetak dengan bahasa latin. Karena nggak mudeng sama artinya, Cyrus berniat menyerahkan buku itu ke atasannya di museum untuk diteliti.

Di malam pertama, Cyrus menyaksikan sendiri bagaimana ‘kacamata hantu’ itu bekerja.

Ketika mengikuti sebuah suara erangan misterius, ia tiba di sebuah ruangan rahasia dimana di dalam ruangan itu ia bertemu dengan hantu-hantu penghuni rumah itu. Plus dia mendapat ‘kenang-kenangan’ berupa luka bakar berbentuk angka 13 di punggung tangannya.

Hantu ke-13

Atasan Cyrus di museum bagian paleontologi menjelaskan tentang buku berbahasa latin yang mereka temukan di rumah itu.

Buku itu adalah buku jurnal milik Dr. Zorba tentang hantu-hantu yang berhasil ia tangkap dalam rangka penelitiannya. Ia bahkan menuliskan tentang hantu ke-12, yaitu dirinya sendiri. Disitu dia menyebut-nyebut tentang kejahatan yang dilakukan terhadap dirinya, dan bahwa dia akan terus gentayangan jika dendamnya belum terbalas.

Selanjutnya di buku itu terdapat bagian untuk hantu ke-13, tapi halaman itu dibiarkan kosong.

Di rumah, peristiwa poltergeist semakin menjadi-jadi. Hilda ketakutan sekaligus kesal ketika barang-barang di dapur pada berantakan, hancur; kaleng tepung dan botol susu melayang-layang… Rempong deh! 😆

Buck lalu memberitahu orangtuanya bahwa di dapur itu ada hantu bernama Emilio. Hantu Emilio selalu tampak membawa-bawa pisau daging. Pisau itu dulu dia pakai untuk membunuh isterinya, ibu mertua dan juga kakak iparnya yang juga jadi hantu di rumah itu.

Buck diberitahu tentang itu sama Elaine, si pengurus rumah. Nggak ada yang nyangka ternyata wanita itu tahu banyak tentang hantu-hantu di rumah Dr. Zorba.

Elaine kemudian mengakui bahwa dia dulu membantu Dr. Zorba dengan penelitiannya.

Menurut cerita Elaine, di masa-masa terakhir hidupnya, Dr. Zorba sangat dekat dengan pengacaranya, Ben. Dia bahkan tidak menghiraukan nasehat Elaine untuk menghentikan penelitiannya yang menguras banyak uang.

Dr. Zorba sampai menjual semua aset yang dimilikinya, menarik seluruh uangnya di bank untuk membiayai penelitiannya.

Elaine mengatakan ia menemukan Dr. Zorba sudah tewas pada pagi hari saat ia masuk ke kamarnya. Menurutnya Dr. Zorba tewas karena dibunuh oleh hantu-hantu di rumah itu. Sementara orang terakhir yang ada bersamanya hanyalah dirinya dan Ben yang sudah pergi pada malam harinya…tepat setelah ia mengurus surat wasiat Dr. Zorba. Hmm…

Di kamar itu, setelah ditinggal Elaine, Cyrus mengalami hal mistis lagi. Kejadian di kamar itu sebenernya merupakan petunjuk tentang bagaimana pamannya tewas, tapi kayaknya dia belum begitu ngeh dan langsung ngacir sesudahnya.

Malam itu juga, Medea diteror oleh penampakan hantu menyeramkan di kamarnya. Sementara Buck malah asik sendiri ketika bertemu hantu pemain sirkus tanpa kepala dan singanya di ruang bawah tanah.

Uang dibawah tangga

Salah satu kebiasaan Buck di rumah itu adalah merosot diatas pegangan tangga.

Dia nggak sadar ketika uang 200 dolar jatuh dari bawah tangga itu sampai dia kembali dari dapur. Penemuan uang itu kemudian diketahui Ben yang kebetulan datang ke rumah.

Ben lalu mengatakan supaya Buck menjaga rahasia itu, tanpa ada yang boleh tahu.

Seancé

Atasan Cyrus di museum menyampaikan ide untuk melakukan Seancé atau ritual pemanggilan roh halus untuk berkomunikasi dengan roh Dr. Zorba.

Ternyata si Elaine juga berbakat sebagai medium. Jadilah mereka mengadakan ritual Seancé malam itu.

Sementara orangtua dan kakaknya sibuk dengan ritual yang dipimpin Elaine, Buck kembali menemukan uang dibawah tangga setelah memerosotinya. :mrgreen: Bahkan kali ini lebih banyak. Akhirnya dia menemukan darimana asal uang-uang itu.

Ben muncul dan mengatakan supaya Buck merahasiakan itu dari keluarganya sampai besok pagi. Padahal, bisa ditebak, sebenernya dia sendiri yang menginginkan semua uang itu. 😡

Kemudian terungkap bahwa Ben juga lah yang waktu itu menyamar jadi hantu dan menakut-nakuti Medea di kamarnya.

Tapi niat jahatnya tidak berhenti disitu. Diam-diam, dia membawa Buck yang tengah tidur terlelap, ke tempat tidur almarhum Dr. Zorba. Disanalah ia berniat untuk membunuh Buck!

Tapi roh Dr. Zorba tak tinggal diam. Dia datang dan menggagalkan rencana Ben. Buck terbangun dan melompat turun dari tempat tidur yang bisa njepit orang itu. :mrgreen: Dan akhirnya justru Ben yang terperangkap dibawahnya, sambil dicekek sama hantu Dr. Zorba…

Dan tewaslah ia.

Lalu kacamata hantu itu melayang dari kotaknya, lalu hancur dengan sendirinya. Kayaknya sih hantu Dr. Zorba sendiri yang menghancurkan benda ciptaannya. (Catatan: tulisan ‘Kablooey’ di gambar hanya rekayasa. :razz:)

Ringkasan cerita

Benjamin Rush, pengacara muda yang licik membunuh kliennya sendiri, Dr. Zorba, sebelum ilmuwan itu menghabiskan semua uangnya. Tapi setelah membunuhnya pun, Ben masih nggak tahu dimana uang itu disimpan.

Ben menakut-nakuti Medea supaya dia dan keluarganya meninggalkan rumah itu. Eh nggak tahunya Buck menemukan uang yang selama ini dicari-carinya. Karena Ben nggak mau si bocah memberitahu keluarganya tentang uang itu, dia pun berusaha membunuh Buck.

Tapi rencana itu digagalkan oleh hantu Dr. Zorba. Dia menghabisi Ben dengan tangan hantunya sendiri. :mrgreen:

Dendam sang ilmuwan terbalas, dan Ben pun sukses terdaftar sebagai hantu ke-13. Keluarga Cyrus mendapatkan uangnya dan mereka hidup bahagia.

Lalu, di adegan akhir, Elaine yang kemudian bekerja jadi pelayan keluarga Zorba, bilang kepada Buck bahwa “hantu-hantu itu masih ada dan akan kembali lagi.”

Jreng-jreng…

Habeess….

Versi 2001

Jujur aku udah nggak inget secara detil tentang film 13 Ghosts versi 2001. Dengan bantuan mbah gugel, berikut aku coba jabarkan perbedaan antara 13 Ghosts versi asli dengan Thir13een Ghosts versi modern.

image: futuregamez.net

Di film ini, keluarga yang diwarisi rumah berhantu bernama Kriticos. Arthur yang seorang duda, dua anaknya Kathy dan Bobby, beserta pengasuh mereka, Maggie.

Desain rumahnya lebih canggih tapi juga rumit seperti labirin. Menurut Wikipedia, rumah ini berfungsi seperti mesin yang dirancang untuk mengurung 12 hantu berdasarkan Black Zodiac dan untuk membuka Ocularis Infernum atau Mata Neraka.

Alur ceritanya juga dibuat lebih seperti game. Dimana tiap karakternya harus bertahan hidup dari serangan hantu-hantu yang hanya bisa dilihat dengan kacamata khusus yang disebut spectral viewer.

Perkembangan zaman - Di 13 Ghosts (1960), Buck digambarkan hobi menggunakan roller-skate. Di Thir13en Ghosts, Bobby terlihat suka naik skuter.

12 hantu di film ini juga diberi ‘perhatian lebih’; diberi nama beserta latar-belakangnya; keterangan bagaimana mereka mati dan sebagainya.

Selain beberapa karakter tambahan, di film ini tokoh antagonisnya justru si paman sendiri, Cyrus Kriticos yang ternyata masih hidup.

Ia memalsukan kematiannya, mengatur supaya Arthur menjadi hantu ke-13 untuk mengaktifkan mesin goib itu dan memberi Cyrus kekuatan besar, bisa melihat masa lalu dan masa depan.

Sayangnya, Thir13een Ghosts versi modern ini mendapat ulasan yang kurang bagus.

Film 13 Ghosts (1960) ini digarap dengan baik. Walau menurutku durasinya kurang lama, cuma sekitar 80 menit-an. 😦

Seperti yang kubilang di awal, film 13 Ghosts (1960) ini sebenernya masih memiliki hak cipta. Jadi, silahkan donlot at your own risk. Hehe. 😛

Selamat menonton. 🙂

————————————————-
sumber lain gambar: fanforum.com, imdb.com