Minggu Basah

Cuaca lagi nggak menentu. Kemarin panas, hari ini hujan deras disertai angin kencang.

Hari Minggu pagi salah satu nenek saya meninggal dunia. Orangtua saya melayat dan saya sendiri tinggal di rumah. Nenek Rokok, sebagaimana saya menyebut mendiang (karena emang hobinya merokok), adalah kakak dari nenek saya, alias bibinya Mamak saya.

Kemarin dulu saya pernah bermimpi beliau. Dalam mimpi itu nenek Rokok duduk di kursi rodanya, melambai-lambai pada saya menyuruh datang. Sekarang ada rasa nyesel karena nggak nyempetin dateng dan ketemu nenek Rokok untuk terakhir kalinya. Hanya doa yang bisa saya panjatkan agar nenek Rokok ditempatkan di tempat yang terpuji bersama orang-orang yang beriman di sisi-Nya.

Sementara ditinggal di rumah, saya pergi keluar sekitar jam 2 siang. Restless di rumah, ngapa-ngapain nggak enak. Ujung-ujungnya saya keliling dan berhenti makan bakso di samping Gramedia. Rada random sebenernya. Saya nggak biasa melakukan hal seperti ini, apalagi sendirian. Dan lagi bakso dan es kelapa yang saya santap sebenernya nggak terlalu enak.

Akhirnya saya pulang tepat saat waktu Ashar di Medan.

Malam ini hujan deras lagi. Lumayan bikin suasana jadi adem.

Bagaimana cuaca di tempatmu? Apa yang enak dilakukan saat hujan deras?

Hujan

Hujan

Hujan bergemuruh
Meski berpeluh
Penatku luruh
Jiwamu sembuh

random

Hadeh saya nggak tahu siapa yang paling tersiksa, apakah saya atau yang baca, karena blog ini jadi banyak banget puisi-puisi geje dan jelek karena nggak ada ide postingan lain. ๐Ÿ˜› Malam ini pun masih puisi-puisian dalam rangka Napowrimo. Pendek aja deh, badan saya masih berasa belum nyaman betul karena masalah perut.

Kalo cerita perut saya memang gampang gassyย alias masuk angin dan sebangsanya. Gara-garanya makan urap nih tadi. Gas dari sayuran yang tercerna ngumpul di dalem bikin sensasi mual dan pusing.

Akhirnya saya paksain minum air putih biar muntah. Kalo cuma sakit-sakit ringan seperti ini saya males nurutin, jadi dipaksain minum air banyak-banyak biar langsung muntah, trus biasanya lebih plong deh. Walau tetep, nenggak obat macem-macem seperti paramex dan antangin jrg.

Sekarang lagi hujan dengan syahdunya. Mudah-mudahan bikin badan, pikiran dan perut jadi nyaman kembali…

Semoga pada sehat semuanya biar bisa berwiken ria besok… ๐Ÿ˜‰ Yuk mari.

Berteduh Dari Hujan

Sepertinya disini baru mulai musim hujan yang lumayan deras plusย mati lampu. Ini memang baru terjadi dua hari ini, nggak sebanding dengan kota dan daerah lain yang bahkan sampai menderita kebanjiran.

Mudah-mudahan sih Medan nggak sampai mengalami musibah yang sama. Membayangkan korban banjir di TV pasti berat sekali menghadapi kehilangan sekaligus berusaha bertahan hidup.

Seusai memberi makan ikan sore tadi, saya menemukan Big Mamaย sedang bertengger bersama seorang juniornya, anak kucing berwarna hitam-putih yang saya nggak tahu pasti jantan atau betina.ย Tapi menilai dari keagresifannya kayaknya sih cowok.

junior

Mereka berteduh menghindari hujan yang turun tadi sore. Si junior tampak berlindung di belakang ibunya sambil takut-takut ketika saya coba pegang. Sempet saya gendong juga dia, tapi langsung melompat lagi mendekati ibunya.

Pengennya sih si junior saya bawa kedalem, tapi saya tahu Mamak nggak suka ada anak kucing di dalem rumah, soalnya suka pipis dan eek sembarangan. ๐Ÿ˜›

Siluet Mati Lampu

Pura-puranya fotografi.

Sejak kemarin disini mati lampu sudah tiga kali. Sebenarnya pernah terjadi yang lebih buruk. Tapi tetap aja, rakyat nggak akan pernah terbiasa dengan mati lampu.

Hujan yang mengguyur adalah salah satu alasan mengapa PLN mematikan listrik. Karena takut dengan cuaca buruk. Herannya di luar negeri kok kayaknya nggak pernah gara-gara hujan deras listrik dimatikan sekampung. Atau mungkin sayanya yang nggak tahu, wong belum pernah ke luar negeri.

Saya cukup bersyukur karena mati lampunya cuma sebentar-sebentar. Setidaknya hujan bisa menghalau suara-suara yang tidak enak dan membuat nyaman.

Apa yang biasanya kamu lakukan saat mati lampu?

Hujan-Hujan Begini

Selama seminggu setelah obat-obat saya habis pol, saya bener-bener nggak bisa tidur normal. Rasanya gelisah terus setiap hari. Perut mules dan pikiran serta mood tidak keruan. Tapi saya merasa JAUH lebih lega setelah curhat dengan Mamak saya. ๐Ÿ˜‰

Akhirnya malam ini pun saya menyerah berusaha tidur malam. Walau terus ‘ditempeli’ perasaan gelisah atau restless yang tidak mau hilang.

Sebenarnya tadi pengen nonton film-film koleksi lama. Saya sempat lumayan hobi mengoleksi VCD dan DVD. Tapi DVD-Drive laptop saya udah nggak sanggup membaca CD apapun. Dengan sadisnya dia nge-reject sendiri pas saya masukin VCD Looney Tunes: Back In Action. ๐Ÿ˜ฅ Entah kenapa bisa begitu.

Akhirnya dengan putus asa saya kembali nonton koleksi yang udah ada di hardisk. Saya pun nonton Green Lantern sambil makan nasi pake tumis kangkung (nggak ada popcorn).

Hujan diluar turun deras, walau sekarang sudah mulai mereda. Tapi saya harap sih hujan kembali deras supaya bisa membantu saya tidur atau paling nggak, ya biar suasananya ayem (nyaman) aja. Kan enak kalo hujan-hujan begini sambil ngelaptop atau ngemil, ataupun nonton TV.

Fokus saya lagi kurang bagus buat nerusin baca novel Daughter of Fortune-nya Isabel Allende. Mau makan udah kenyang. Tapi masih pengen ngemil yang ringan-ringan.

Tadi saya senang sekali bisa hujan-hujanan sambil naik motor saat pergi menyetor deposit pulsa. Kakak yang jaga sampe mengomentari saya yang hujan-hujanan. Saya cuma bisa bilang “iya” sambil ketawa garing.

Sebenernya saya pengen bisa lebih akrab dengan kakak itu. Apalagi saya setor deposit di tempat itu udah lumayan lama. Tapi saya nggak tahu mau ngomong apa ke dia. Saya selalu takut kalo dia menganggap saya aneh dan membenci saya. Dia membuat saya ingin menjadi pemuda yang lebih baik. Hloh, hloh, kenapa jadi ngomong gini. ๐Ÿ˜†

Ohya entah kenapa seharian ini nafas saya berasa asam dan bau. Haha. Sepertinya ada yang salah dengan mulut atau pencernaan saya.

How’s your day?

gambar: http://prieblandoje.blogas.lt; herocomplex.latimes.com

Hujan, Puasa Dan Prototipe Nomor 3

Hujan dan mati lampu sebentar tadi justru menghidupkan kembali suasana siang puasa yang sepi.

Sementara saya nggak ada kerjaan, Bapak saya selalu rajin mengerjakan mesin Pencukur Gelas Plastik-nya.

Prototipe nomor 3 mesin pencukur gelas pastik buatan Bapak.

Selama puasa ini saya merasakan kondisi yang kurang baik. Dari hari pertama sampai sekarang saya kerap mengalami episode mania hingga panic attack. Padahal sebelumnya saya jarang sekali mengalami hal ini.

Namun untuk sementara saya belum bisa ‘ngelapor’ lagi sama pak dokter. Belum ada rejekinya. ๐Ÿ˜› Jadi saya harus fight dengan diri sendiri dan doa.

White Light Light

Malam ini entah kenapa terasa seperti malam Minggu bagi saya. Bukan karena ada acara atau kegiatan liburan. Tapi mungkin karena cuacanya sedang ‘basah’. Terasa menyenangkan di malam hari seperti ini.

Biasanya kalo ujan-ujan ini langsung saya manfaatkan untuk ngemil atau buat mi instan sama secangkir kopi, tapi karena ceritanya saya harus nurunin berat badan, jadinya yah keinginan itu terpaksa ditahan.

Saya juga sebenernya merasa agak gelisah. Saya nggak tahu apakah saya sedang senang atau lesu. Nah lho. Perasaan macam itu! *gaya sule*

Tapi untungnya, apapun situasi dan kondisinya, lagu-lagu yang tepat dari koleksi MP3 bisa meng-cover itu semua.

Dua lagu yang ada di playlist saya saat ini adalah Corrinne May – Journey dan All My Days dari Alexi Murdoch. Pas buat suasana yang adem dan tenang seperti saat ini.

Mungkin juga suasana ‘adem’ ini dipengaruhi karena udah deket-deket puasa. Kalo kalian menandai, pasti tahu kalo mau deket-deket Ramadhan itu turun hujan yang bikin suasana adem. Saya sampai menamai perasaan yang saya rasakan sebagai “White Light Light”. Iya, light-nya dua kali. ๐Ÿ˜› Itu untuk menggambarkan suasana yang tenang, adem dan mengenakkan. Halah bahasanya.

Apa yang biasa kamu lakukan saat cuaca hujan? Di rumah aja atau joget-joget India diluar? ๐Ÿ˜†

sumber gambar: zazzle.com

Kolam Lele on Rainy Day

Di hari hujan seperti ini, kolam-kolam lele di samping rumah jadi kelihatan seger dan enak dipandang. Hehessehh… ๐Ÿ˜€

Tapi karena debit air yang bertambah, harus dijaga juga supaya ketinggian air nggak lebih dari 40-50 sentimeter. Untuk itu air bisa dikurangi setelah hujan reda.

Biasanya saya justru suka ‘menjenguk’ kolam saat hujan masih turun. Apalagi pas hujan badai kemaren. Kalo nggak takut kesamber petir aja saya pasti udah main-main hujan di sekitar kolam. Atau didalem kolam sama ikan-ikan lele. ๐Ÿ˜€ Pasti seru.

Petir Menyambar-Nyambar

Cuaca semalem memang mirip seperti syair puisi-puisi cinta jaman dulu. Anginnya kenceng banget, petir menyambar-nyambar, hujan deras… Kayak ada kucing raksasa yang lagi berantem diatas seng. ๐Ÿ˜ฏ

Ketika saya melihat pagar dari seng pembatas kolam ikan kami ambruk, saya langsung heboh ngajakin Bapak saya buat benerinnya. Soalnya jatuhnya ke gang sebelah, takutnya jadi ngalangin jalan.

Bapak saya nyaranin supaya nunggu dulu, karena takut masih banyak petir. Jadi kita nunggu sambil duduk-duduk di teras, nonton pagelaran cuaca ekstrim yang bikin pohon-pohon gede terhempas-hempas kayak lagi joget “Iwak Peyek”. ๐Ÿ˜›

Saat itulah tepat di depan mata kami, pohon nangka di seberang jalan depan rumah ambruk diterpa angin kencang. Padahal, cerita Bapak saya, nggak lama sebelumnya yang punya pohon itu membangga-banggakan pohon nangkanya yang kata dia berbuah bagus dan sebagainya. Tapi kenyataannya, sekali tiup oleh angin kencang pohon kebanggan itu pun langsung roboh…

Karena masih hari Minggu, malam itu masih ada orang yang niat ngadain pesta kawinan. Tapi karena cuaca nggak mendukung sepanjang malam, akhirnya ya bisa dibayangkan apa jadinya…batal. Ditambah lagi mati listrik yang berlangsung selama beberapa jam. Dua kali listrik berkedip, ingin menyala tapi padam lagi, nggak tahu apa sebabnya.

The Tower & pesta dangdutan

Pohon yang tumbang itu mau nggak mau mengingatkan saya pada kartu Tarot (cerita perdukunan lagi nih hehe) yang ke-16, The Tower (Menara). Kartu ini sering menjadi momok yang menakutkan dalam pembacaan Tarot, karena ia mengindikasikan sebuah shock teraphy yang dialami seseorang akibat hal yang diyakininya terbukti salah atau merupakan penipuan. Keyakinan seseorang bisa runtuh oleh satu persistiwa penyingkapan yang membongkar semua kebohongan. Perasaan down yang datang tiba-tiba setelah menyaksikan apa yang diyakini dan disanjungnya runtuh oleh ‘kilat kebenaran’.ย  Namun tentu saja peristiwa ini bertujuan untuk memberikan pandangan dan cara berpikir yang lebih baik. Dalam hal ini yang runtuh adalah pohon nangka ๐Ÿ˜† dan, kebanggaan yang punya pohon.

Selain itu cuaca buruk ini seolah menjadi teguran buat keluarga-keluarga yang tengah berbahagia yang menganggap menggelar pesta itu seolah wajib menyusul akad pernikahan. Budaya seperti ini kesannya rada materialistik, dan malah menimbulkan hal-hal lain yang sifatnya negatif. Seperti penampilan biduanita yang seronok dan seksi sementara para tamu undangan kan nggak jarang yang bawa anak kecil. Yang pokoknya begitu deh.

Kalo saya jadi nikah sama Freida Pinto nanti, kita nggak perlu lah ngadain pesta. Tapi kita akan mentraktir para tamu untuk belanja sepuasnya di mall. Bwakakak. ๐Ÿ˜Ž

Lilin Graffiti

Selagi mati lampu semalem, saya iseng mainain kamera. Ecek-eceknya jadi kayak light graffiti. Tapi karena pake lilin, jadinya lilin graffiti… ๐Ÿ˜†

Biasanya apa yang kalian lakukan saat cuaca hujan dan mati lampu?