It Makes Me Think

Ketika memikirkan posisiku dalam kehidupan yang kujalani sejak kecil hingga detik ini, biasanya itu selalu berakhir dengan menunjuk-nunjuk: “siapa yang melakukan kesalahan apa”. Hampir tak ada ujungnya.

Dengan kondisiku, aku cenderung berdebat terlalu keras dengan diriku atau sosok-sosok lain, dalam kepalaku. Aku menyesali yang satu itu, seperti aku menyesali banyak hal lainnya yang tampak seolah-olah bisa kuubah. Aku harap aku selalu tahu bahwa aku bisa menghentikan semua ilusi itu dan mulai menghadapi realitas yang seperti permen besar dengan rasa sangat asam. Tapi kenapa oh kenapa aku tidak pernah melakukannya.

Meski aku suka ketika teman-temanku mengapresiasi karyaku, sekecil atau sebesar apapun itu, aku tidak pernah menganggap diriku sebagai ‘imajinatif’. Malah, aku lebih cenderung ‘psikologis’ ketika mencoba mendalami sebuah gagasan atau pemikiran. Imajinatif yang membosankan, mungkin bisa disebut. Seperti ketika sebagian orang terjebak pada konotasi yang keliru bahwa semua orang yang suka membaca harusnya sangat pintar (atau lebih tepatnya, lebih pintar dari orang yang menilai). Orang-orang semacam itu hanya didorong oleh rasa takut bahwa semua yang mereka lihat pada orang lain mengindikasikan bahwa orang tersebut lebih baik dari dirinya. :oops:

Setidaknya itulah satu hal mendasar yang membedakanku dengan anggota-anggota keluargaku yang lain. Aku cenderung berpikir bebas-namun-mendalam dengan caraku sendiri. Tapi akulah yang paling kaku dalam bersosial/bergaul bahkan dengan sesama keluarga. Awkward, ponderous, ugly.

Kenyataannya, aku termakan oleh cara berpikirku sendiri. Aku kira semua yang kupahami melalui ‘analisaku’ benar-benar berlaku pada realitanya. Namun akhirnya, setelah bertahun-tahun, baru aku disadarkan bahwa semuanya tidak pernah serumit yang kubayangkan. Yang membuat orang tetap ‘hidup’ adalah kesederhanaan dan menjauhi masalah yang tidak perlu, sesuatu yang mengherankan pikiran delusifku. Tapi itu adalah bentuk kebenaran yang sangat baru aku mulai latih terhadap diriku sendiri. Think simple! adalah mantra baruku dengan harapan bisa lebih berbaur. Seperti kata-kata yang pernah kujadikan tagline blog ini, “Whatever your brains ever say to you, they aren’t always right.”

Aku ingin menikmati semua emosi tanpa kemudian mencoba merumuskan segalanya untuk mengenyangkan pikiran ilusif yang menghisap dari dalam seperti lubang hitam dan mencari tahu apakah batin dan emosiku bisa dibuat babak-belur olehnya; bodohnya aku; lupa bernafas; kesal karena terpotong oleh hal-hal remeh dari sekitar…

Dan maka sebenarnya dapat dimengerti ketika ye classic suicidal thoughts kembali menyerangku ketika aku gagal lagi dalam usaha bersosial. Itu artinya keseimbangan lamaku masih berlaku dalam diriku. Aku harus mengendalikan ilusiku untuk menciptakan keseimbangan baru.

Ini adalah hidupku dengan apa yang kutahu kemudian sebagai Bipolar. Dan aku masih (akan terus) mencoba menjadi lebih baik.

Tiga buah titik berikut ini berarti aku bersungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan…