Hujan-Hujan Begini

Selama seminggu setelah obat-obat saya habis pol, saya bener-bener nggak bisa tidur normal. Rasanya gelisah terus setiap hari. Perut mules dan pikiran serta mood tidak keruan. Tapi saya merasa JAUH lebih lega setelah curhat dengan Mamak saya. 😉

Akhirnya malam ini pun saya menyerah berusaha tidur malam. Walau terus ‘ditempeli’ perasaan gelisah atau restless yang tidak mau hilang.

Sebenarnya tadi pengen nonton film-film koleksi lama. Saya sempat lumayan hobi mengoleksi VCD dan DVD. Tapi DVD-Drive laptop saya udah nggak sanggup membaca CD apapun. Dengan sadisnya dia nge-reject sendiri pas saya masukin VCD Looney Tunes: Back In Action. 😥 Entah kenapa bisa begitu.

Akhirnya dengan putus asa saya kembali nonton koleksi yang udah ada di hardisk. Saya pun nonton Green Lantern sambil makan nasi pake tumis kangkung (nggak ada popcorn).

Hujan diluar turun deras, walau sekarang sudah mulai mereda. Tapi saya harap sih hujan kembali deras supaya bisa membantu saya tidur atau paling nggak, ya biar suasananya ayem (nyaman) aja. Kan enak kalo hujan-hujan begini sambil ngelaptop atau ngemil, ataupun nonton TV.

Fokus saya lagi kurang bagus buat nerusin baca novel Daughter of Fortune-nya Isabel Allende. Mau makan udah kenyang. Tapi masih pengen ngemil yang ringan-ringan.

Tadi saya senang sekali bisa hujan-hujanan sambil naik motor saat pergi menyetor deposit pulsa. Kakak yang jaga sampe mengomentari saya yang hujan-hujanan. Saya cuma bisa bilang “iya” sambil ketawa garing.

Sebenernya saya pengen bisa lebih akrab dengan kakak itu. Apalagi saya setor deposit di tempat itu udah lumayan lama. Tapi saya nggak tahu mau ngomong apa ke dia. Saya selalu takut kalo dia menganggap saya aneh dan membenci saya. Dia membuat saya ingin menjadi pemuda yang lebih baik. Hloh, hloh, kenapa jadi ngomong gini. 😆

Ohya entah kenapa seharian ini nafas saya berasa asam dan bau. Haha. Sepertinya ada yang salah dengan mulut atau pencernaan saya.

How’s your day?

gambar: http://prieblandoje.blogas.lt; herocomplex.latimes.com

Dua Sisi Amal Perbuatan

ImageTerkadang bisa mengejutkan (sekaligus mengharukan) ketika mengetahui perbuatan kita dipandang dengan cara berbeda oleh orang lain.

Selama ini saya sering membangunkan Emak saya untuk shalat malam sesuai permintaannya. Tapi itu juga kadang-kadang saya lupa atau saya sendiri ketiduran. Saya tidak tahu bahwa perbuatan seperti itu juga ada pahalanya (Insya Allah). Walau sayangnya, saya sendiri jarang shalat malam, padahal saya selalu yang melek malam dan bangunin si Emak…

Beberapa waktu lalu saya mengutarakan kegelisahan saya kepada Emak, bahwa saya tidak/belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan, justru membuat susah dengan kondisi dan perangai saya. Saya terenyuh ketika mendengar bahwa Emak saya justru masih merasa bangga karena saya masih mau shalat dan membangunkan beliau shalat malam… 😥 Beliau menyimpan kebanggaan pada saya meskipun saya tidak sesukses orang lain.

Selalu ada sisi lain disamping cara kita melihat segalanya. Kita mungkin melihat suatu perbuatan dari jendela yang sempit dan pahit. Namun orang lain menyaksikan melalui pintu keikhlasan yang terbuka lebar. Sebaliknya, terkadang kita dibutakan oleh perbuatan kita yang sebenarnya dinilai buruk atau menyakiti orang lain. Saya sendiri sadar bahwa sengaja maupun tidak saya menyinggung perasaan orang lain, bahkan keluarga saya sendiri, dengan sikap dan perilaku saya…

Mengingat kesalahan memang bisa membuat kita merasa sangat ‘lusuh’. Namun terkadang orang masih menghargaimu melalui sekedar kehadiranmu di sekitar mereka atau amal perbuatanmu meskipun terhitung sepele di mata kita sendiri.

Pernahkan kamu melakukan kesalahan yang sangat ingin kamu ubah? Dan bagaimana cara kamu untuk mengikhlaskannya?

gambar: haisobat.com

The Romance of Restless Nights

Satu hal yang menyenangkan adalah ketika menyadari bahwa aku bisa melewati suatu malam tanpa harus tidur. Itu seperti ide yang cukup gila yang bisa benar-benar kulakukan begitu saja tanpa ada yang menghentikan. Setidaknya bagi orang payah sepertiku yang jarang terikat dengan aktivitas rutin.

Sebelumnya aku mungkin berpikir bahwa menyenangkan menjadi ‘warga yang baik’ yang menikmati istirahat malam dan bisa benar-benar tidur; merealisasikan konsep tidur normal tersebut. Dan kurasa itu tetap merupakan hal yang direkomendasikan. Dalam kasusku, aku menggunakan obat. Dan aku segera sadar bahwa efek itu tidak permanen. Ketika aku melepas obat itu aku merasakan perasaan yang mengerikan. Dan aku pun sadar betapa aku merindukan malam-malam ketika aku bisa menikmati kesunyian dengan ‘kepentingan’-ku sendiri—ngelaptop, nonton TV dengan volume kecil, minum kopi instan, atau makan makanan sisa.

Lalu ketika obatku diganti, aku menemukan bahwa obat ini seperti the happy medium, jalan tengah dari masalahku dengan obatku sebelumnya yang mulai terasa seperti sejenis ketergantungan atau semacamnya. Dan yay! Aku bisa menikmati lagi malam-malam tanpa tidur tanpa efek samping yang tidak mengenakkan. Aku bisa minum obat kapanpun aku ingin/butuh istirahat di malam hari.

Romantisme malam-malam tanpa istirahat ini semakin terasa ketika malam ini aku ditraktir sepupu makan lontong yang seksi dengan sate kerang berbumbu eksotis. Ketika sampai kembali di rumah, aku bersikap seolah siap beristirahat. Aku mencoba membaca buku, mendengarkan mp3 brainwave, sampai aku sadar, “Hey, aku bisa nggak harus tidur malam ini.” Walau kepala sedikit puyeng karena alasan yang tak jelas, aku meletakkan buku-buku, menurunkan laptop ke kasur, dan menulis post indah ini dengan pose bak mermaid seksi yang terdampar di pantai. Merencanakan secangkir kopi dan makanan yang bisa kumakan; dan Bioskop TransTV yang mungkin menarik ditonton dalam gelap.

Seakan-akan masa mudaku kembali lagi…

The Romance of Restless Nights
(a pleonastic poetry by moi)

Oh, restless nights…
You acquire my mere presence to guide enjoyment dropping on your land lips.
You put me up like a prisoner of cup of coffee and pajamas made of oil…
And such creativity my moon head tingles and rings quite frequent at his mighty, precious golden hours, as you may say…

For the rest, I rely on your noble heart of chilling glow,
that marks an entrance of the one of many of such.

In conclusion, I love you…

Aku tidak pernah benar-benar berpikir aku mengalami/menderita Insomnia. Jadi aku lebih suka menyebutnya momen ‘restless night’.

Apa yang biasanya kamu lakukan selama begadang dan tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan? Sebutkan hal-hal yang paling menyenangkan atau mungkin ekstrim, gokil yang kamu lakukan ketika melewatkan jam tidur.