Suvenir

Ketika nyari lirik lagu No, Je Ne Regrette Rien saya merhatiin bahwa ternyata dalam bahasa Perancis itu souvenir berarti memory alias kenangan. Hmm mungkin bisa dikaitkan dengan istilah “kenang-kenangan” kali ya. :P

Tapi hampir setiap orang pasti sudah akrab dengan benda-benda suvenir. Mudah didapat di tempat-tempat wisata, atau seperti dibawah ini, dapet dari acara kondangan.

Biasanya di acara pernikahan, pager ayu/bagusnya akan membagikan pernak-pernik pada tiap tamu yang datang. Suvenir ini biasa dibeli di pasar-pasar besar atau pasar sentral. Harganya juga bervariasi. Kalau nggak salah saya pernah lihat liputan di tv harga suvenir pernikahan seperti ini berkisar sangat murah mulai dari dibawah Rp5,000.

Walau tidak bisa dipungkiri—kecuali, mungkin, suvenir dari pesta nikahan yang lebih mewah dan berbujet besar—kualitas kerajinannya tidak terlalu kokoh dan awet. Tapi seringkali surprisingly cute dan kreatif. :P

DSC00906  DSC00908

Jika diperhatikan suvenir yang kiri, itu dibuat dari botol bekas, seperti botol kecil buat minyak angin, lalu dibalut dengan bahan seperti bambu dan benang lalu dilem.

Di dalam botolnya terdapat dua batang tusuk gigi. Sekilas saya bingung apa tujuannya. Saya kira botolnya bisa dibuka dan tusuk giginya digunakan setelah makan nasi berkatnya. Tapi setelah ditelaah dengan saksama, kayaknya cuma pajangan doang, dan tiba-tiba saja nilainya bertambah di mata saya. Keunikannya jadi makin terlihat dan kreatif. :)

Tapi ada juga suvenir yang benar-benar bisa dipakai seperti gantungan kunci atau kipas seperti gambar diatas-kanan.

Jaman SD dulu kalo dapet suvenir gantungan kunci hampir pasti dicantolin di resleting tas sekolah. Dan teman-teman sekelas akan terbiasa melihat ucapan “Terimakasih” atau “Mohon Doa Restu” diatas plat kayu mungil yang dipernis, tergantung di tas sampai suatu hari gantungan itu hilang atau rusak.

Walau nggak begitu awet tapi suvenir seperti ini tetap hidup hingga sekarang dan bentuknya semakin kreatif.

Yang udah nikah, dulu ngasih suvenir apa nih buat tamu undangan? :) Kalo ke kondanga suka suvenir yang kayak apa?

Ali Negro

Ali Negro adalah karakter unik yang sudah tinggal di sekitar kampung kami sejak mata saya baru terbuka. :lol: Entah sudah berapa lama dia tinggal disini. Kemungkinan sejak dia masih kecil.

Kata Bapak saya, dia adalah anak pengungsian dari Papua dan dilindungi pemerintah.

Tak jauh dari rumah saya ada yang menggelar pesta, yang pestanya itu sampai memakan setengah jalan. Saat berkendara naik motor, jalan saya terhalang oleh sosok pria berkulit legam dan berambut kribo seperti brokoli :P yang berjalan dengan santai. Awalnya saya kesal juga, ini orang jalannya kok santai amat, nggak liat apa banyak pengendara motor di belakangnya.

Tapi setelah sadar orang itu Bang Ali, saya malah negur. Dia pun menyahut dengan ramah.

Menurut saya dia orang yang ramah dan menyenangkan, makanya saya suka negur kalo melihat dia di jalan. Padahal dia itu juga dikenal masyarakat kerap melakukan berbagai tindak ‘kejahatan’. Saya banyak mendengar cerita dan rumor (ceila, rumor) tentang hal-hal yang dilakukan Bang Ali sejak saya masih kecil. Tapi kayaknya nggak perlulah saya ceritain disini. Takut salah dan malah menyebar aib. Mending kita cerita yang baik-baiknya aja.

Bang Ali sering terlihat menggowes becak barang, tapi saya nggak tahu pasti apa nama pekerjaannya. Saya juga nggak tahu dimana dia tinggal, apakah dia pernah sekolah, atau apakah dia punya orangtua angkat disini. Tapi saya yakin, selama hidupnya sebagai anak pengungsian yang jauh dari tanah kelahirannya, dia pasti mendapat banyak bantuan dari orang-orang sekitar. Dan kehidupan seperti itu rasanya agak menyedihkan kalau dibayangkan. Saya merasa bersyukur karena ada rumah untuk berteduh, makanan setiap hari, dan orangtua yang masih lengkap.

Saya bertanya-tanya apakah Bang Ali Negro pernah berpikir untuk memiliki keluarga, baik dulu sebagai seorang anak atau sebagai orang dewasa saat ini. Kata Bapak saya, sampai saat ini dia belum menikah, tapi dia sudah memiliki rumah sendiri di pinggir sungai Deli. Hidupnya sudah lebih baik, nggak seperti masa-masa mudanya dulu. Well, sekarang dia juga masih muda sih, mungkin masih 30an.

Ali Negro memang sosok yang benar-benar unik. Terkadang kita ngeri jika melihatnya sebagai kriminal, terkadang kita kasihan karena dia sudah kehilangan orangtua sejak kecil, tapi secara umum dia adalah sosok yang ramah dan rajin.

Adakah “karakter unik” di sekitar tempat tinggalmu?

gambar: coolmenshair.com

Random Post Roundup

Sekedar kumpulan tulisan dari blog-blog saya yang lain. Sayang kalo nggak dibagi, sekalian nambah-nambah kunjungan juga hehe.

Foto Hewan Lucu Bisa Memicu Produktivitas

Oala Magz - Menurut studi di Jepang, gambar-gambar kucing, anak anjing dan bayi-bayi hewan lainnya dapat membantu seseorang agar lebih produktif. Sekelompok psikolog di Hiroshima University melakukan tiga eksperimen untuk menguji hipotesis mereka.

Menemukan Mobilnya Setelah 2 Tahun Lupa Dimana Parkir

Oala Magz - Seorang pria di Berlin, Jerman bertemu kembali dengan mobilnya setelah dua tahun lupa dimana dia parkir.

Pasangan Yang Bertunangan Selama 32 Tahun Tapi Tidak Pernah Menikah

Oala Magz - George Brown, 58 tahun, dan Glynis Johnstone, 55 tahun, berhubungan sejak tahun 1977. Pasangan asal Skotlandia tersebut bertunangan 32 tahun lalu pada tahun 1980.

3 Cara Mengatasi Writer’s Block, Sekarang!

1. Buanglah pikiran negatif. Pikirkan keuntungan yang kamu dapatkan dari menulis postingan. Kamu mendapat trafik, dan mungkin komentar serta respon positif dari pengunjung, belum lagi orang-orang yang tertarik menjadikan tulisanmu sebagai referensi dan memberikan backlink.

Cara Agar Tetap Termotivasi Ngeblog

Masa yang paling berat dalam negblog biasanya adalah minggu dan bulan-bulan pertama. Di masa itu kita sering kehilangan motivasi dan tujuan ngeblog.

Cara Mengembangkan Gaya Tulisan

Menulis secara reguler saja tidak cukup untuk membangun audiens. Kamu harus menemukan cara-cara untuk merengkuh lebih banyak pengunjung dan mengembangkan kontenmu agar lebih menarik.

16 Tips Ngeblog Untuk Pemula (Part 1)

Baik blog baru maupun yang sudah lama berjalan selalu butuh mengembangkan blognya ke tahap yang lebih tinggi.
Tingkatkanlah kesempatanmu untuk sukses dengan 16 tips berikut ini.

16 Tips Ngeblog Untuk Pemula (Part 2)

Lanjutan dari 16 Tips Ngeblog Untuk Pemula (Part 1)

Silahkan dibaca jika dirasa ada yang menarik. Saat ini saya lagi nggak ide soalnya. Mood sedang nggak mendukung, tapi saya akan berusaha dan semoga bisa segera menerbitkan tulisan baru.

Semoga menghibur dan bermanfaat.

The Decemberists: Kisah Hantu Dalam Lagu

Dari Wikipedia: The Decemberists are an indie folk rock band from Portland, Oregon, United States, fronted by singer/songwriter Colin Meloy. The other members of the band are Chris Funk (guitar, multi-instrumentalist), Jenny Conlee (Hammond organ, accordion, melodica, piano, keyboards, harmonica), Nate Query (bass guitar, string bass), and John Moen (drums, backing vocals, melodica, guitar).

Saya sengaja masukin kutipan dari Wikipedia-nya duluan biar pembaca yakin ini bukan cerita ngarang atau fenomena misteri yang nggak jelas. Hehe. Yoi, The Decemberists adalah band indie rock yang memiliki lirik-lirik lagu yang selalu unik dalam menyampaikan cerita.

Hingga saat ini TDs sudah merilis tujuh album. Saya sendiri baru punya lima diantaranya di hardisk, yang menurut saya udah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran keunikan dan ke-khas-an band yang baru-baru ini ngisi soundtrack film Hunger Games. :cool:

Sulit mengatakan mana yang album favorit saya, karena masing-masing album punya cerita sendiri-sendiri yang diangkat. Contohnya adalah album The Crane Wife. Di album ini TDs mengangkat dongeng atau cerita rakyat yang sudah kuno dari Jepang. Dongeng ini bercerita tentang seorang pria miskin yang menikahi jelmaan burung bangau. Mengetahui bahwa istrinya memiliki kesaktian, pria itu menjadi serakah dan akhirnya ‘istri bangau’-nya pun meninggalkannya.

Dalang dibalik lirik-lirik “nyastra” lagu-lagu The Decemberists tak lain adalah sang vokalis sendiri, Colin Meloy. Banyak yang memuji karya-karya TDs sebagai gabungan kemampuan menulis dan membuat musik. Dan ya, yes, oui, inggih, na’am, itu bener banget!

Colin Meloy sendiri juga sudah menulis buku berjudul Wildwood Chronicles. Buku pertamanya, Wildwood rilis tahun 2011 kamarin. Nah buku keduanya diberitakan bakal rilis September tahun ini, dengan judul Under Wildwood. Ilustrasi dalam buku-bukunya dikerjakan oleh istrinya, Carson Ellis. (Tapi kayaknya terjemahan Indo-nya belum ada sih. :? ) Yang pasti, menurut situs pitchfork, gambar-gambar ilustrasinya ‘The Decemberists banget’. :)

Lagu-lagu TDs sangat khas dengan kisah-kisah tragis percintaan dalam situasi susah atau cinta yang tak sampai. Seperti pasangan kekasih yang bekerja sebagai penghibur jalanan dalam lagu “On The Bus Mall”, sampai kisah-kisah HANTU seperti “Leslie Anne Levine” yang menceritakan tentang arwah seorang janin yang hanya sempat hidup beberapa jam, udah gitu lahirnya di selokan kering pula. :(

My name is Leslie Anne Levine
my mother birthed me down the dry ravine
my mother birthed me far too soon
born at night and dead at noon…

Cukup kentara bahwa, baik sengaja maupun tidak, “Leslie Anne Levine” menyenggol topik atau fenomena free sex dan keguguran di kalangan anak muda.

Kisah seram lainnya ada dalam album The Hazards of Love pada lagu berjudul “The Harazards of Love 3 (Revenge!)”, yang kalo disimak liriknya tuh bisa bikin merinding. Hihihi. Lagu ini menceritakan tentang kematian arwah anak-anak perempuan yang kembali dari kematian untuk membalas dendam pada sang ayah yang telah membunuh mereka. Hiii…

Penggalan lirik awalnya seperti ini:

Father I’m not feeling well
the flowers me you fed
tasted spoil and suddenly
I found that I am dead…

But father don’t you fear
Your children are all here
singing, oh…
The hazards of love…

Tapi banyak juga cerita-cerita cinta yang disajikan secara unik dan komedik, seperti di lagu “O Valencia”. Lagu ini ceritanya kayak Romeo-Juliet-nya jaman moderen. Bapak, abang dan keluarga si cewek nggak suka banget sama si cowok, saat pasangan itu merencanakan pelarian diem-diem, eh kakak si cewek berkhianat dan melaporkan ke ortu mereka. Tragis tapi dibawakan dengan nada yang sama sekali nggak sedih, malah kesannya lucu, padahal ceritanya lumayan tragis. Hehe.

Pokoknya banyak lah cerita cinta yang unik di lagu-lagunya The Decemberists. Kalo mau donlot lagunya, saya nggak akan kasih ‘link hidup’-nya yah. Tapi kamu bisa search sendiri di situs mp3crank.com*. Hehe. :)

Bagi yang koneksinya “Alhamdulillah ya” :razz: silahkan buffer videonya:

*password untuk file hasil download: “mp3crank.com” (tanpa tanda kutip)

sumber gambar: wttsfm.com; pitchfork.com

Kejadian & Pengalaman Unik Semasa Sekolah

Sekolah emang gudangnya pengalaman yang mengesankan hingga tak terlupakan. Ketika hari ini kita bertemu kawan-kawan lama, duduk lalu mengobrol seputar ini-itu, dan sampailah pada cerita-cerita masa lalu, hampir pasti akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan sekolah.

Kejadian-kejadian yang mau kuceritakan dibawah ini mungkin masih terbilang tipikal alias banyak terjadi pada SISWAers lainnya. Tapi ada juga beberapa yang mungkin tidak biasa, “jarang-jarang” :?: dan bahkan…memalukan. :oops:

Patricia

image: librarising.com

Kalo kamu di SMP angkatan 2000-an awal, pasti tahu ada serial telenovela Yo Soy Betty, la Fea. Nah kalo kamu cukup apal sama karakter-karakter utamanya, mungkin ingat dengan salah satu tokoh antagonis yang ‘menonjol’ karena keseksiannya, Patricia.

Waktu serial itu diputer, aku masih duduk di kelas 1 SMP. Di akhir-akhir tahun ajaran itu, aku sempet lumayan terpesona oleh salah seorang temenku, cewek yang menurutku mirip-mirip sama Patricia… :oops: Kecuali temenku ini lebih cantik-manis dan penampilannya nggak seseronok Patricia. :mrgreen: Satu-satunya hal ‘seksi’ yang sering dia lakukan adalah menggulung lengan kemeja seragamnya hingga menunjukkan lengannya yang putih mulus. Hihiy… Cuit cuit… :razz:

Menurutku dia, sebut saja inisialnya, Melanie (d’oh!) cantik dan sensual. :razz: Walau mungkin saat itu aku belum ngerti bilangnya. Tapi yang jelas aku ‘suka’ sama dia. Baik secara kepribadiannya yang luwes dan ramah, maupun secara yah bisa dikatakan monkey lope-nya anak abege lah. Xixixi. :mrgreen:

Gempa

Nah pas kelas 3, suatu hari tiba-tiba terjadi gempa. Gempanya nggak kuat sebenernya, tapi itu adalah pertama kalinya aku ngerasain gempa secara sadar. Waktu itu sekitar tahun 2003. Jadi ini sebelum gempa-tsunami Aceh.

Aku inget waktu itu lagi pelajaran olahraga. Tapi pas belajar teori, jadi lagi di dalem kelas semua. Saat mulai terjadinya gempa, seperti banyak dirasakan orang lain aku ngerasa kayak pusing. Aku sempet mikir jangan-jangan aku mau demam. Eh rupa-rupanya semua juga merasakan. Bisa dibayangin gimana rusuhnya ketika guru olahragaku yang lumayan tinggi-kekar menginstruksikan (dengan sama paniknya dengan anak-anak muridnya) untuk segera keluar dari kelas.

Saking paniknya, aku sampe narik rambut temen cewek yang lagi lari di depanku. :lol: Di depan teras kelas itu ada selokan, jadi aku spontan meraih apapun yang ada di depan supaya nggak kejeblos.

Dan ini adalah satu hal yang sering dilakukan orang ketika terjadi gempa: semua orang memandang langit. Gak terkecuali guru olahragaku yang ngeliatin langit sambil baca-baca doa yang aku nggak ngerti.

Tapi ada yang lebih super dari peristiwa itu. Dari seluruh ruangan di sekolah, cuma satu kelas yang sama sekali nggak berlarian keluar seperti yang lainnya, baik guru maupun murid-muridnya. Malah kegiatan belajar di kelas itu terus dilanjutkan dengan normal, seperti tidak terjadi apa-apa. :shock:

Kelas itu adalah kelas 3-5, kelas ‘unggulan’.

Mungkin itulah ya bedanya orang pintar dengan orang kurang-pintar seperti yang lagi cerita nih *menyodok pipi dengan lidah ke kiri-bawah*. Orang pintar nggak lantas ‘heboh’ dengan hal-hal yang tidak perlu. Mungkin, dengan kejeniusan guru dan murid-murid di kelas itu, mereka sudah bisa memperhitungkan besar kekuatan gempanya sehingga mereka nggak takut celaka karena kelasnya ambruk atau apa. Dan nyatanya gempa itu memang nggak besar dan hanya berlangsung sebentar.

Dengan kekuatan otak, akan menghitungmu! JEDAG! *menyatukan kepala beramai-ramai* Hm… Mungkin ilustrasinya kurang tepat… :?

‘Tersentuh!

Kembali ke saat pertama kali masuk SMP. Yaitu saat MOS pertama dalam hidupku. Halah-halah… :D

Sebenarnya kejadian ini sangat, sangat, sangat memalukan. :oops: Tapi sekaligus terlalu menarik untuk tidak dibagikan. :lol:

Salah satu kegiatan MOS saat itu adalah kita main kayak…gimana ya bilangnya. Pokoknya matanya ditutup dan kita harus ngeraba-ngeraba sampai menyentuh orang yang sudah ditentukan, dengan bantuan arahan dari temen-temen tim kita. Sederhana kan.

Tapi yang bikin ‘tidak sederhana’ itu adalah pas giliranku dibutakan dan harus mencari seseorang yang tepat. Halah. Orang yang harus kutemukan itu adalah seorang cewek, yang kebetulan aku kenal karena satu SD.

Mungkin udah bisa kebayang apa yang kemudian terjadi. Ya, aku tanpa sengaja nyentuh bagian dada temenku itu yang langsung disambut dengan sorakan dan tawa ngakak yang meledak-ledak.

Karena tahu ada yang nggak beres aku langsung buka penutup mataku dan melihat ekspresi kecut yang samar di wajah anak itu. Dia berdiri terpaku di depanku dengan pose seperti habis menyilangkan tangan di depan dadanya. Ke-random-an macam apa itu coba?? :lol:

Sejak kejadian itu aku terus diledekin soal ‘kontak dengan benda asing itu’ dan setiap kali, aku harus menahan malu yang menusuk-nusuk kalbu. Halah…

Tapi makin random lagi ketika kemudian diketahui bahwa temenku yang cewek itu, lama nggak masuk sekolah karena ternyata dia mau segera nikah! Ya, nikah. Ini adalah kedua kalinya aku mengetahui temen sebayaku, cewek, menikah di usia yang sangat muda. Miris dan amat, amat disayangkan… :(

Awan yang menjadi terkenal

Kalo diingat-ingat, masa SMA adalah masa dimana ada lebih banyak lagi kenangan yang tidak bisa dilupakan, dari yang indah-indah sampai yang mengecewakan. Dari yang unyu sampai mematahkan hati. Hahay… :D

Kalau diibaratkan, SMA sudah seperti sebuah kehidupan alternatif disamping kehidupan nyata di rumah atau luar komplek sekolah.

image: myquran.org

Kalau soal kegiatan dan teman-teman mungkin ada banyak pengalaman yang serupa. Tapi kalau yang satu ini nih terbilang unik.

Terlepas dari tanggapan-tanggapan subjektif yang kemungkinan muncul, yang jelas kejadian ini sempat menjadi berita yang lumayan ‘terkenal’, nggak terkecuali hingga merambah dunia maya. :D Mungkin ada yang pernah baca beritanya meski hanya selentingan. Berita tentang awan yang berbentuk mirip lafadz Muhammad diatas sekolahku tercincha, SMAN 3 Medan.

Aku tekankan bahwa ini sama sekali bukan hoax atau rekayasa. Aku sendiri menyaksikan dengan kepala mataku (eh bukannya kebalik, tong…). Tapi kalau soal percaya atau enggak, itu kembali ke keyakinan masing-masing. :)

Aku inget hari itu adalah hari Senin dan kita semua baru aja selesai upacara. Aku nggak inget tanggal persisnya. Tapi yang jelas saat itu aku udah kelas 3 (XII) alias sekitar tahun 2005-2006. Salah satu temen deketku juga ikut mengambil foto itu dengan kamera hapenya. Dia pula yang kemudian meneruskan file foto itu ke pihak sekolah dan akhirnya, sampai ke headline koran besok-besoknya, hingga, seperti yang kubilang, diangkat di berita-berita online. Asek… :cool:

Sesuatu bangetlah ketika ngeliat sesuatu di Internet dan ternyata itu adalah hal yang sama kita lihat dengan mata kepala sendiri. Unyu-unyu gimana gitu… :razz:

Mungkin masih banyak lagi hal-hal unik yang terjadi semasa aku bersekolah. Tapi saat ini aku nggak bisa inget yang bener-bener menonjol, dan aku juga nggak mau bikin pembaca bosen karena ceritanya kepanjangan. Jadi, segini aja dulu cerita yang rada-rada random ini. :mrgreen:

Ini ceritaku, yang mahal, banyak kan…? :razz:

80% Play. 20% Sleep. 0% Work.

Kesampean juga beli notebook baru. Plus, dapet yang polos/tanpa garis seperti yang kuinginkan. Hore.

Waktu ke Gramedia kemaren sebenernya niat mau cari buku. Life Without Limits dan Disguised atau Sang Penyamar. Tapi kedua buku itu nggak ada. Akhirnya aku turun ke bagian stationery dan langsung cari-cari notebook, dan ketemu notebook ini.

Nama produk: Daiichi Filex Notebook 906N, B5 80% Play

Notebook ini punya tiga varian warna. Dan masing-masing covernya diberi judul berbeda dan unik seperti dibawah ini:

Sumber gambar dan deskripsi: disini.

Konsep covernya memang rada unik. Bahkan ketebalan notebook-nya juga beda. Yang merah, seperti yang aku pilih, lebih tebal dibandingkan yang lain. Seolah menyesuaikan dengan karakter penggunanya yang 80% play, 20% sleep, 0% work. Wakakak. :lol:

Cover biru bertuliskan 100% Action 0% Talk. Sementara yang hitam 0% Action 100% Talk. Bisa diimajinasikan sendiri bagaimana karakter pengguna kedua notebook ini. Haha. Namun bagaimanapun notebook-notebbok ini adalah pilihan yang menyenangkan untuk keperluan mencatat sekaligus berkreasi.

Bahan kertas dalamnya cukup tipis, sehingga kalo ditulisi pake pulpen bisa membekas sampai ke belakang. Tapi nggak begitu masalah sih. Justru itu bakal bikin notebook terlihat kreatif ketika diisi penuh dengan catatan dan/atau gambar. Halahaha…

Harga yang dibanderol oleh situs yang ku-link diatas adalah Rp 19.030. Tapi di Gramedia, seperti biasa, harganya lebih mahal. Yaitu 21ribuan. Sementara yang merah, karena lebih tebal, harganya jadi 24ribuan.

Selamat mengoleksi notebook. :)

Quick Tutor: Mbikin Pembatas Buku Super Ringkas

Aku dapet tip ini udah agak lama juga, tapi nggak terlalu lama sih, dari sebuah blog WordPress-nya wong bule (via Freshly Pressed!) tapi udah lupa nama/alamat blognya. Sementara broswer-ku udah beberapa kali ku-clear cookies. Nggak maksud mbajak isi blog orang. Cuma sekedar merangkum dan mengkreasi ulang, sebagai sesuatu yang aku pelajari dari luar.

Oke, langsung aja, bisa disimak dengan mudah melalui gambar dibawah.

Pembatas buku super ringkas dan imut ini dibuat dari ujungnya amplop. Tinggal gunting salah satu sudutnya, dengan besar dan bentuk sesuai selera. Maka jadilah pembatas buku super ringkas. Pemakaiannya: tinggal sarungkan di sudut halaman buku yang sedang kamu baca.

Kamu juga bisa mengkreasikan bentuk dan gambarnya sesuai keinginan.

Aku suka bikin dari amplop ukuran kecil. Amplop-amplop itu sendiri nggak jelas kegunaannya untuk apa, ada di laciku bertahun-tahun. Haha. Jadi kepake buat bikin pembatas beginian, yang biasanya setiap buku selesai dibaca, kebuang entah kemana. Toh bisa bikin lagi. Tinggal sekali gunting. Jadi. Hehe. Rada boros, yah.

Karena itu ada baiknya kalo kamu bikin pembatas buku ini seunik mungkin, sehingga layak untuk disimpan dan dikoleksi.

Sori ya kalo gambar ilustrasinya kurang bagus.

Selamat berkreasi! :D